🍂🍂🍂🍂🍂
Napas gadis itu hangat menyentuh lehernya. Bulu mata Yura tampak basah, alisnya berkerut seolah tengah menahan sesuatu bahkan dalam keadaan tidak sadar.
"Tolong…" suara Yura terdengar lirih, matanya tetap terpejam. "Siapa pun… tolong aku…"
Langkah Alexa terhenti.
"Aku sudah membuat masalah besar… aku malu… seharusnya aku tidak melakukan itu…" gumam Yura terputus-putus. "Sampai Pak Bos mengira dia menyukaiku… padahal itu akibat ajimat… aku salah meletakkannya."
Tubuh Alexa menegang.
🍃🍃🍃🍃🍃
Next.... 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak terduga
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
Yura menutup laptopnya dengan gerakan hati-hati, memastikan semua berkas telah tersimpan rapi. Ia meraih tasnya, menyampirkannya ke bahu, lalu berdiri. Tubuhnya terasa ringan meski lelah masih menempel di tulang-tulangnya.
Alexa berjalan mendekat dengan jasnya kini tergantung di lengan, hanya kemeja putih yang membungkus tubuhnya dengan rapi.
Sikapnya santai, berbeda dari biasanya, seolah malam memang melonggarkan sedikit batas yang selama ini ia jaga.
"Mari," ucap Alexa singkat.
Mereka berjalan berdampingan menuju area lift. Sepatu mereka menghasilkan bunyi langkah yang bergema pelan di lantai kantor yang nyaris kosong.
Lampu-lampu redup memantulkan bayangan mereka di lantai mengilap.
Tanpa sengaja, pandangan Yura jatuh pada tas kerja Alexa yang disandang di bahu kirinya.
Tas itu.
Langkah Yura melambat.
Itu tas yang sangat ia kenal. Warna, bentuk, bahkan lipatan kecil di sudut bawahnya terlalu mirip. Jantung Yura berdetak lebih cepat.
Ini tidak mungkin.
Benaknya langsung melayang ke satu momen ketika ia berniat memelet Rendra.
Saat itu, secara kebetulan, ia bertemu Rendra di area parkiran. Rendra terlihat tergesa dan langsung meminta tolong karena sudah sangat ingin ke toilet.
Tanpa banyak pikir, ia menitipkan tas beserta beberapa dokumen penting kepada Yura.
Di saat itulah ide itu muncul.
Yura ingat betul bagaimana ia, dengan jantung berdebar dan tangan sedikit gemetar, menyelipkan ajimat kecil itu ke dalam tas tersebut.
Gerakannya cepat, nyaris refleks, seolah takut ketahuan. Ia tidak menyangka momen singkat dan ceroboh itu kini kembali menghantam pikirannya dengan begitu jelas.
Keringat dingin merayap di tengkuknya.
Yura berjalan di belakang Alexa, pandangannya terpaku pada tas itu. Tangannya refleks menutup mulut, menahan napas.
Ini tidak mungkin, ulangnya dalam hati.
Mereka semakin mendekati lift. Pintu logam itu berdiri tertutup, memantulkan bayangan wajah Yura yang kini tegang.
"Pak," ucap Yura akhirnya, berusaha menjaga suaranya tetap normal, "Tas Anda… apakah sama dengan tas Kak Rendra?"
Alexa menoleh sedikit, namun tidak menghentikan langkahnya. "Tidak." jawaban itu terlalu cepat. Lalu, seolah tersadar akan sesuatu, sudut bibirnya terangkat tipis. "Akhirnya kau membahasnya sekarang."
Langkah Yura terhenti.
Matanya membesar. Napasnya tercekat. Seolah satu kesalahan besar baru saja ia buat tanpa sadar. Ia segera menahan ekspresinya, memaksa wajahnya kembali netral, meski jantungnya nyaris meloncat keluar.
Pantas saja Alexa berubah akhir-akhir ini. Tatapan yang terlalu lama. Reaksi yang terlalu cepat setiap kali Leo mendekat. Sikap dingin yang terasa… personal.
Jangan-jangan…
Pikiran Yura melompat lebih jauh sebelum sempat ia rem. Jangan-jangan Alexa telah jatuh cinta padanya.
Bayangan rapat siang tadi menyusup ke benaknya. Saat ia dan Leo saling melemparkan kertas kecil, bercanda singkat di sela ketegangan.
Saat Leo menuliskan sesuatu lalu mendorongnya ke arah Yura dengan ekspresi setengah menggoda.
"Tapi yang kulihat tidak begitu. Sepertinya dia menyukaimu secara diam-diam."
Yura menelan ludah. "Pak," ucapnya lagi, kali ini lebih pelan, lebih hati-hati, "Apa… Anda menemukan sesuatu di dalam tas itu?"
Pertanyaan itu keluar sebelum sempat ia tarik kembali. Dan seketika udara di sekitar mereka terasa berubah.
Alexa berhenti melangkah.
Pintu lift tepat di depan mereka, namun ia tidak menekan tombol apa pun. Tubuhnya diam, punggungnya lurus. Keheningan jatuh, berat dan penuh tekanan.
Yura ikut berhenti di belakangnya.
Perlahan, Alexa berbalik. Ia menatap Yura tanpa ekspresi yang jelas. Lalu tangannya bergerak ke dalam saku sepan dasarnya. Gerakannya tenang dan terukur, seolah ia tahu persis apa yang akan ia keluarkan.
Dari dalam saku itu, Alexa mengeluarkan sebuah botol kecil.
Botol kecil berisi sesuatu yang Yura kenali terlalu baik.
"Apakah ini?" tanya Alexa, suaranya datar.
Sontak mata Yura terbelalak.
Yura menelan ludah, memaksa dirinya tetap berdiri tegak meski jantungnya berdentum liar. Botol kecil itu terasa seperti bukti hidup dari kebodohannya sendiri.
Ia menarik napas dalam, mencoba merapikan wajahnya. Jika ia panik sekarang, semuanya akan runtuh.
"Apa…" suara Yura sempat tersendat, lalu ia memaksanya keluar dengan nada setenang mungkin, "Apa Anda menyukainya?"
Pertanyaan itu terdengar konyol bahkan di telinganya sendiri. Namun itulah satu-satunya kalimat yang bisa ia lontarkan untuk menutupi ketakutannya.
Dunianya terasa berputar ke arah yang salah, terlalu cepat. Ia ingin berteriak, ingin lari, namun kakinya seolah terpaku di lantai dingin itu.
Alexa tidak menjawab.
Ia hanya mengangguk sekali. Gerakan kecil. Nyaris acuh.
Tanpa berkata apa pun lagi, Alexa berbalik, menghadap pintu lift, lalu menekan tombolnya. Bunyi mekanis terdengar pelan, memecah keheningan yang menyesakkan.
Yura berdiri kaku di belakangnya.
Anggukan itu terus terputar di kepalanya. Satu anggukan sederhana, namun cukup untuk membuat pikirannya berantakan. Botol kecil itu. Tatapan Alexa. Perubahan sikapnya akhir-akhir ini.
Ia teringat satu momen lain.
Saat jarak mereka begitu dekat. Terlalu dekat.
Saat Alexa tiba-tiba menarik pergelangan tangannya, mendorong tubuhnya ke dinding putih di sudut lorong. Kedua tangan Alexa mengurungnya di kanan dan kiri, napas mereka bertabrakan.
Tatapan pria itu dingin dan tajam, begitu dekat hingga Yura merasa detak jantungnya akan melompat keluar dari dadanya. Namun di balik ketegasan itu, terselip kesedihan yang tanpa sadar Alexa perlihatkan lewat sorot matanya.
"Apa kau memutuskan untuk tidur di sini malam ini?"
Suara Alexa membuyarkan lamunan itu begitu saja.
Yura tersentak. Matanya terangkat.
Alexa sudah berdiri di dalam lift, satu tangan masih menahan pintu otomatis yang hampir menutup. Sikapnya santai, terlalu santai, jauh dari Alexa yang ia kenal selama ini.
Yura segera melangkah masuk, refleks, tanpa sempat berpikir. Mulutnya tertutup rapat, takut jika satu kata saja keluar, semuanya akan terbongkar.
Pintu lift menutup perlahan.
Ruang di dalam lift terasa sempit meski hanya diisi dua orang. Yura berdiri sedikit ke samping, punggungnya kaku, matanya tak berani menatap lurus. Sesekali ia melirik Alexa dari sudut matanya.
Alexa menyadari keganjilan itu.
Ia melirik sekilas, cukup untuk menangkap bahasa tubuh Yura yang tidak biasa. Bahu yang tegang. Tangan yang mengepal lalu mengendur. Napas yang sedikit lebih cepat.
Namun Alexa tidak mengatakan apa pun.
Lift meluncur turun dalam keheningan yang canggung. Angka-angka di panel menyala bergantian, terasa terlalu lambat bagi Yura.
Akhirnya pintu lift terbuka.
Area parkir menyambut mereka dengan udara yang lebih dingin dan bau beton lembap. Lampu-lampu neon menerangi deretan mobil yang tersusun rapi, sebagian besar sudah kosong.
Yura hanya mengikuti langkah Alexa dari belakang. Benaknya terlalu ribut untuk sekadar berpura-pura santai.
Mereka berhenti di depan sebuah mobil hitam. Seorang sopir segera turun dan membukakan pintu belakang.
"Masuk," ucap Alexa singkat.
Yura menurut. Ia menunduk sedikit saat masuk ke dalam mobil, duduk di kursi belakang bersama Alexa. Gerakannya canggung, hampir kikuk. Jari-jarinya meremas tali tas di pangkuannya, sementara keringat dingin kembali muncul di telapak tangannya.
Pintu mobil tertutup rapat. Mesin menyala, lalu kendaraan itu melaju perlahan meninggalkan area parkir. Yura menatap lurus ke depan, pandangannya kosong, napasnya tertahan.
Keberadaan Alexa di sisinya terasa jelas, sunyi, dan menekan.
Jika ajimat bodoh itu benar-benar bereaksi pada Alexa, maka apa pun yang sedang terjadi bukan lagi kesalahpahaman kecil.
Ia sedang duduk berdampingan dengan masalah yang ia ciptakan sendiri, dan Yura benar-benar tidak tahu bagaimana cara melarikan diri.
ak g sabar rose kebuka topengy d dipermalukan alexsa....dan....rendra ahhhh....mgkn akn lbh dr menyesal mgkn..
untung dr awal alexsa sdh pernah melihat rose dg rendra
tega ya kamu Rose kamu dukung kamu kasih support Yuna dgn ide" gilamu se-olah" kamu sahabat yg terbaik yg mendukung Yuna dan tidak tahunya kamu lah musuh dalam selimut merendahkan diri Yuna dgn macam" cara dgn kedok kasihan dan tidak tega 😤😏 Rose kamu tu manusia paling munafik untuk apa berbohong demi apa Rose kalau kamu sendiri sering main kuda"an dgn Rendra 🤮😩 kamu jahat orang seperti mu tidak pantas disebut sahabat di depan so mendukung tapi di belakang menusuk hati sampai ke tulang" kejam 👊🥺