karena sakit hati akan perselingkuhan sahabat dan kekasihnya, membuat gadis cantik blesteran inggris Prancis LARASATI AYUNDA. nekat mendatangi club malam untuk menenangkan pikiran dan segala problem yang tengah dialami, hingga tanpa disadari olehnya bahaya tengah mengintai dirinya.
dengan tiba-tiba segerombolan pria berpakaian serba hitam, menyeret-nyeret tubuhnya lalu dibawa ke suatu tempat yang asing, sampai ketika! sesuatu yang sangat berharga direnggut paksa oleh seseorang tanpa identitas.
setelah melewati malam panjang bersama orang asing, hingga menumbuhkan kehidupan baru yang bersemayam dalam rahimnya. apa yang akan terjadi selanjutnya dengan kehidupan LARASATI??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sekarwangi91, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28.
Akhirnya dengan pasrah Laras pun menyetujui keinginan sang ibu untuk segera pindah ke Surabaya.
Ya, memang benar kata sang ibu, kehamilan yang dia alami bukan kehamilan wanita pada umumnya. Melainkan kehamilan unik menurut pandangan matanya. Lantaran dia yang diberikan janin empat sekaligus. Dan mungkin memang benar apa yang ditaksir oleh sang ibu, jika usia kehamilan dia menginjak tiga atau lima bulan. Akan terlihat lebih besar dari kehamilan yang hanya satu bayi. Untuk itulah lebih baik dia menuruti perintah sang ibu demi kebaikan bersama.
Hhhh..
Laras pun hanya menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan matanya lalu berucap.
"Terus aku berangkatnya Sekarang atau besok Bu?"katanya memastikan.
"Mungkin sekitar dua hari lagi kamu berangkat nya. Karena ibu juga harus membicarakan hal tersebut pada kepala sekolah dan wali kelas kamu. Ini Hanya sekedar memberi pengertian dan semoga mereka menerima baik keputusan ibu untuk kebaikan kamu."ujarnya dengan sedikit lesu.
"Bu, maafkan Laras! Ini semua akibat dari kecerobohan aku. Hingga mengalami kejadian seperti ini."sesalnya tak enak hati melihat gurat kekecewaan juga kelelahan yang terlukis dalam wajah sang ibu.
"Ibu sudah memaafkan kamu, yang terpenting jika kamu tinggal di sana jaga diri baik-baik. Jangan muda percaya atau terlena pada sesuatu yang menurut kamu indah dalam pandangan mata. Harus lebih hati-hati dan mawas diri. Karena yang akan rugi dan menyesal pastinya diri kamu sendiri. Faham kan maksud ibu?!"nasehat Bu Laila dengan halus.
"Iya Bu, insyaallah. Makasih bu, makasih masih mau menerima aku yang hina ini. Jika orang lain mungkin tidak seperti, yang ibu lakukan terhadap ku."katanya dengan sendu.
"Ya, semuanya sudah terjadi. Lebih baik menerimanya dengan lapang dada. Kita kan tidak tahu barangkali ke empat calon anak anak kamu adalah jembatan untuk kita meraih kesuksesan dan keberhasilan."tanggap sang ibu dengan tersenyum tipis seraya mengelus lembut rambutnya Laras.
"Iya Bu Amin,"jawabnya sambil masuk kedalam pelukan sang ibu.
Dan mereka pun ibu dan anak berpelukan erat saling menguatkan satu sama lain atas kondisi yang mereka alami.
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
KEDIAMAN BIYANTARA ANDERSON.
"Bagaimana Roland, kau sudah setuju dengan keinginan kakek untuk mencari istri kedua?!"tanya Robert sang papi ketika mereka tengah berkumpul bersama dikediaman kakek biyantara.
Karena memang kedua orangtuanya Roland lebih memilih tinggal bersama pasangan lansia tersebut. Dan untuk mansion pribadinya. Anak-anaknya lah yang menempati. tapi tidak dengan Roland, sebab Roland yang telah memiliki hunian sendiri dan tinggal bersama istrinya.
Degg.
( Tidak! Aku tidak rela jika mas Roland menikah lagi! Apalagi tujuan mereka cuman ingin memiliki cucu. Duhh Bagaimana ini? Apa aku pura-pura hamil saja!? Tapi jika terbongkar bagaimana!? Tamat sudahlah riwayatku.) Ucap Stella berperang dalam hatinya akan kebingungan juga kebimbangan karena tuntutan dari keluarga sang suami.
Seketika Roland pun melihat ke arah sang istri yang hanya menundukan kepala setelahnya menghela nafas panjang dan berkata.
"Kakek dimana pi?"tukas Roland sambil matanya mencari cari keberadan sang kakek yang biasanya tengah duduk di kursi goyang sambil membaca koran.
"Ada dikamar, katanya kurang enak badan."jawab sang mami.
"Roni.."panggil sang kepala keluarga Anderson pada sulung dari kembar tiga.
"Hemm."jawabnya berdehem.
"Tolong kau katakan pada uncle Rendy untuk segera kesini sekarang!!"titahnya tegas.
Degg.
( B b bukankah uncle Rendy adalah dokter SpOG. Bagaimana ini!!? Kalau mereka mengetahui jika aku tak memiliki rahim? Ya ampun apa yang harus aku lakukan?) Kata Stella dalam hati dengan perasaannya yang takut dan cemas. Hingga tanpa sadar sekujur tubuhnya pun sedikit gemetaran.
Dan apa yang tengah dirasakan oleh Stella terlihat jelas oleh Roni dan Romi yang seketika memicing Curiga pada adik iparnya.
Kenapa dengan Stella? Seperti orang yang ketakutan! Apa dia tengah menyembunyikan sesuatu dari Roland? "Roni kau dengar ucapan papi?"katanya memastikan. "Ya papi, katanya sedang dalam perjalanan pulang sekalian mampir ke sini."ucapnya Roni menjelaskan. "M m mas a aku pulang s sekarang boleh? Ada sesuatu yang belum aku kerjakan di butik."kata Stella beralasan. "Yasudah Ayuk sekalian... "Nanti pulangnya! Tunggu kedatangan uncle Rendy!"cegah sang papi datar. "T t tapi u untuk apa aku berada disini? Lebih baik aku ke pergi takut menganggu waktu kalian."ucap Stella tak sabaran. Seketika mereka pun memandang Stella dengan tatapan heran terselip kebingungan. Mengapa seolah-olah Stella terlihat ketakutan seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan! Lalu dengan datar dan dingin sang kakak nomor dua Romi Anderson berkata. "Tujuan papi memanggil uncle Rendy ya untuk memeriksa kalian berdua! Untuk mengetahui Siapa diantara kalian berdua yang bermasalah. Dan kau kenapa terlihat ketakutan seperti itu? Ada sesuatu kah yang kau sembunyikan?!"sarkas Romi seraya memicing sinis pada istri dari adik kembarnya yang terakhir. "T t tapi kami berdua sehat tanpa ada penyakit yang mematikan. Mungkin saja memang belum waktunya bagi kita diberikan momongan."kekeh Stella dengan keras kepalanya. "Lagian juga belum ten... "Diamlah!! Tunggu kedatangan uncle Rendy baru kau boleh pulang."potong cepat sang papi Tanpa mau dibantah. "Tapi papi aku... "Sudahlah sayang kita tunggu saja kedatangan uncle Rendy. Aku juga penasaran dengan kualitas sperma ku. Barangkali aku yang bermasalah bukan kamu. Maka dari itu sampai saat ini kamu belum juga diberi kesempatan untuk mengandung."ujar Roland menyela. Dan Stella pun hanya terdiam membisu tanpa bisa berbuat apa-apa. Karena jika dia terus memaksa sang suami untuk segera pergi dari sini. Itu hanya akan membuat mereka curiga terhadapnya. Dan sepertinya kecurigaan itu telah dirasakan oleh kedua kakak kembar sang suami yaitu Roni dan Romi. Yang sedari tadi terus memperhatikan nya. "Permisi tuan dan nyonya, ingin memberi tahu jika didepan ada tuan Rendy. Katanya hendak bertemu dengan tuan Robert."ujar sang asisten rumah tangga memberi tahu. "Ya, persilahkan untuk segera masuk."jawab Rania tegas. "Baik nyonya."balas sang asisten Seraya memutar tubuhnya untuk kembali kedepan dan mempersilahkan sang tamu untuk segera masuk. "Selamat sore bang, mbak,"kata seseorang yang sudah ditunggu-tunggu kedatangannya oleh keluarga Anderson. Mereka pun gegas menengok ke asal suara dan menjawab. "Sore juga uncle.."ucapnya. "Lama sekali ren, apakah macet?"tanya Robert. "Bukan Jakarta bang namanya kalau tidak macet."kelakarnya. "Haha.. ya kau benar."tanggapnya mangguk mangguk. "Gimana kabarmu mbak, sehat."tukasnya pada kakak kembarnya yang pertama. "Alhamdulillah ren, sehat hanya ada sedikit pikiran."ungkap Rania dengan lesu. "Pikiran! Tentang apa mbak? Apa ketiga anak kembar mu membuat masalah?"katanya ingin tahu. "Bukan bukan mereka."jawabnya geleng-geleng kepala. Sedangkan sang korban pun hanya memutar matanya malas ketika mendapat tuduhan dari adik kembar sang mami. "Ini tentang Riana!?" Ujarnya. "Mbak Riana! Ada apa dengan nya? Oh ya, sebenarnya aku tadi hendak berkunjung kerumah mbak Riana. Tapi tak jadi karena mendapat pesen dari anak sulung mu untuk segera datang ke rumah kakek biyan."jelas nya. "Kau ada kerjasama dengan Abimana?"tukasnya penasaran. "Tidak mbak! Aku hanya ingin menyampaikan jika kemarin sore aku kedatangan seorang pasien yang masih begitu muda. Mungkin usianya sekitar delapan belas atau tujuh belas tahun. Tapi yang membuat aku sungguh tak percaya namun itu kenyataan. Adalah wajah dari pasien tersebut begitu mirip dengan mbak Riana dan mas Abi. Bola matanya yang berwarna biru laut begitu kentara dengan milik mas Abi. Serta tatapan teduh gadis tersebut seperti tatapan mata mbak Riana. Mungkin jika mereka berdiri sejajar bertiga, orang-orang akan mengira jika gadis tersebut adalah putrinya mbak Riana dan mas Abi."terangnya panjang lebar. Degg.. Apa jangan-jangan gadis pembuat kue. yang dimaksud oleh uncle? Tapi kan status dia masih pelajar, kok bisa hamil?< Bathin Roni dan Romi bertanya-tanya.