"Jika Bos mengajak kamu berhubungan apa kamu bersedia?" "Berhubungan?""Berhubungan intim. Itu adalah salah satu syarat diterima kerja di sini.""Hah?" Lily Gabriella tak pernah menyangka tempat ia melamar pekerjaan karyawan kecil dan bergaji besar tak ada bedanya dengan orang-orang yang dibayar menyenangkan pelanggannya.
Meski tau persyaratan itu, mau tak mau ia harus menerima demi biaya pengobatan ibunya. Namun dalam sekejap ia langsung menyesal saat tau mantan kekasihnya Axton Fernando adalah bos Hyper itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kinamira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Lily tersenyum sinis sembari bersedekap dada dengan santai berucap. "Aku tidak peduli, aku mau batal kontrak!" ucapnya tegas.
Axton menggelengkan kepala, sembari tersenyum santai, dan berucap. "Kamu tidak baca kontrak sebelum tandatangan? Kalau iya, biar ku perjelas. Kontrak khusus untukmu isinya, 'jika melanggar, atau membatalkan sepihak, maka keluarga pelanggar atau pembatal akan dilaporkan dan masuk penjara, serta denda sebesar satu miliar.' Kamu baca itu kan?"
Axton tersenyum menarik turunkan alisnya, seolah ia telah menang, saat Lily menatapnya tajam dengan ekspresi terkejut.
"Dasar gila!" pekik Lily.
Axton mengedikkan bahu santai. "Persyaratan utamanya kamu hanya perlu patuh melayaniku. Soal pekerjaan office girl itu bahkan berada di persyaratan kedua."
Tangan Lily mengepal, bola matanya menajam hingga memerah menatap Axton. Amarahnya terasa memuncak yang bisa meledakkan kepalanya.
"Khusus untukku? Artinya kau tau aku melamar pekerjaan di sini, dan sejak awal berniat mengurungku."
Axton menyinggung senyumnya. Tatapannya tenang, namun seolah memancarkan kemarahan.
"Tepatnya, untuk menyiksamu," sahut Axton penuh penekanan, membuat Lily terdiam, lalu dalam benaknya, Axton berucap. "Pengkhianat!"
Axton mendongak, menatap wajah Lily dengan lekat, dan senyuman tipis.
Mulutnya perlahan terbuka, mengeluarkan suara penuh penekanan yang seolah tak bisa dibantah.
"Lepaskan pakaianmu!"
Lily meremas ujung pakaiannya. Hatinya teriris mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan itu. Matanya mulai berkaca-kaca dan memerah. Sedih dan marah bercampur menjadi satu.
Ancaman yang diberikan, membuat mulutnya bergetar tak mampu mengeluarkan suara, dan bantahan lagi.
"Lepaskan, atau aku yang lepaskan!" sahut Axton lagi.
Lily menghela nafas kasar. Perlahan ia mengangkat tangannya, membuka satu kancing kemejanya dengan tangan gemetar.
"Tahan saja Lily. Meski ini menentang keinginanmu. Tapi, penyakit Ibu perlu diobati, dan Luna perlu sekolah," batin Lily berusaha menguatkan hatinya, dengan kancing kemejanya yang semakin terlepas menampilkan, tanktop putih yang melekat di tubuhnya.
Axton diam memperhatikan, dengan benaknya yang mengagumi. "Perutnya masih rata, dadanya masih padat, aku benar-benar merindukan menyentuhnya," batinnya.
Namun, detik selanjutnya saat kancing kemeja Lily sudah terlepas sepenuhnya. Axton tiba-tiba berdiri, Lily yang kaget, melangkah mundur. Namun bayangan Axton akan mendekatinya, hanyalah ada dalam benaknya.
Axton tiba-tiba saja berbalik, pergi menuju pintu keluar. "Sayangnya, tubuhnya sudah terlalu menjijikkan!" batin Axton dengan deru nafas yang berat, dan sorot mata yang memancarkan amarah.
Lily terdiam, menatap punggung Axton yang pergi tanpa berucap apapun. Setelah Axton menghilang, tubuh Lily melemas, berjalan pelan ke kursi tempat Axton duduk tadi.
"Kenapa hari ini terjadi?" gumamnya masih tak menyangka akan bertemu dengan Axton yang sudah menjadi masa lalunya.
Belum hatinya terasa tenang. Pintu di buka membuat Lily langsung menoleh dan melihat seorang wanita berseragam office girl.
"Kamu office girl baru kan?"
"Iya," jawab Lily.
"Ini seragammu. Cepat ganti, terus ikut aku," ucapnya sembari memandang pakaian Lily yang terbuka.
Lily menerimanya, saat itu juga wanita itu kembali berucap. "Sudah tidur dengan Bos?" tanyanya.
"Tidak," jawab Lily dengan cepat.
"Axton benar-benar gila. Apa semua wanita di tempat ini sudah tidur dengannya?" batinnya membayangkan dengan rasa ngeri dan jijik.
"Ow, kita office girl memang baru satu yang berhasil tidur dengan bos. Dan dia sudah jadi ketua kita," tuturnya dengan helaan nafas berat, yang bagi Lily itu terdengar sebuah keirian.
"Hm, ya ya," ucap Lily tidak tau ingin merespon apa.
Wanita itu kembali berucap, dengan senyum manisnya. "Kamu cantik, pasti ada kemungkinan dilirik, bos. Apalagi kalau kamu bermain genit padanya. Jika kamu berhasil, jangan lupa padaku ya," ucapnya sembari mengedipkan mata.
Lalu ia melanjutkan. "Oh, ya kenalin aku Vina."
Kening Lily berkerut, dan menggeleng kepala pelan. "Aku Lily, dan memangnya tidur dengan bos adalah suatu kebanggaan?"
"Oh jelaslah. Bos kita yang sangat tampan, siapa yang tidak ingin merasakan keperkasaan dan kehangatannya," ucap Vina mengulum senyum lebar dengan bayangan wajah Axton bermunculan dalam benaknya.
"Eh, sudahlah, ayo cepat ganti baju. Jangan sampai, kita dimarahi Maria nanti."
"Maria?"
"Ketua kita. Semenjak berhasil tidur dengan Bos, dan jadi ketua, dia jadi sangat sombong. Menyebalkan!" gerutunya.
Lily mengangguk. Ia menatap seragam office girl di tangannya dan menggenggamnya kuat. "Tidak ada pilihan lain. Ibu dan Luna butuh uang ini," batinnya mau tak mau harus menerima keputusan yang sudah ia buat.
***
Hari kerja terasa panjang bagi Lily. Pertemuannya dengan Axton setelah 7 tahun tak bertemu, membuat pikirannya terus tertuju pada pria itu.
Namun, hidupnya bukan lagi tentang Axton, membuatnya harus bersikap biasa saja.
Setelah menempuh perjalanan pulang dengan motor metic-nya, Lily berhenti di sebuah rumah sederhana di mana ia lahir dan tumbuh.
Baru saja menghentikan motornya, suara teriakan menyambut kedatangannya.
"Yey, Ibu sudah pulang!"
Suara yang membuat perhatian diisi kepala Lily teralihkan. Wanita itu mengulum senyum, melihat seorang anak perempuan berusia 5 tahun berlari ke arahnya.
"Ibu." Anak itu memeluk Lily sembari mendongak menampilkan senyuman manisnya.
"Luna sayang, cantik banget, habis mandi ya," ucap Lily berjongkok, menyamai tinggi Luna.
"Iya," ucap Luna disertai senyum lebarnya.
"Pinternya. Terus nenek, di mana sayang?" tanya Lily sembari menengok ke dalam rumah, yang tidak terdengar suara sang Ibu.
"Nenek belanja ke warung," jawab Luna cepat, membuat Lily mengangguk pelan.
"Ya sudah, ayo masuk," ajak Lily.
"Ayo," balas Luna dengan semangat.
Obrolan sederhana itu, di perhatikan dari kejauhan oleh Axton yang mengikuti Lily sejak tadi.
Senyum dingin tampak di wajahnya, memancarkan aura dendam yang besar. "CK, andai saja kamu mau menungguku, hidupmu akan lebih baik," gumamnya.
Axton menghela nafas pelan, "Jalan!" perintahnya, membuat sang supir mengangguk, dan mobil yang membawanya segera pergi dari sana.
"Hari ini, belum apa-apa Lily. Hari berikutnya, permainan akan di mulai," batin Axton sembari tersenyum tipis dengan bayangan rencananya yang sudah dipersiapkan.