Dua ego yang bersinggungan. Dua imperium yang beradu. Satu perasaan yang dilarang.
Every adalah sang penguasa kampus, River adalah sang pemberontak yang ingin menggulingkannya. Mereka menyebutnya rivalitas, dunia menyebutnya kebencian.
"...semua yang terjadi di gubuk ini, jangan pernah lo anggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar cara lo membayar utang.."
River hanya menyeringai, "... gue tetap orang yang tahu persis gimana rasanya lo gemetar ketakutan di pelukan gue semalam."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diktator di Balik Lumpur
Every benar-benar tidak memberikan ruang bagi rasa terima kasih.
Alih-alih melunak, kepulangannya dari ambang kesadaran justru memicu sisi diktatornya keluar lebih kuat. Ia merasa posisinya terancam karena sempat terlihat lemah, dan Every Riana tidak akan membiarkan itu terjadi lagi.
Satu jam setelah terbangun, Every sudah berdiri di atas gundukan tanah yang lebih tinggi, memegang megafon dengan tangan yang masih gemetar namun tatapan yang sangat mengintimidasi.
Ia sudah mengganti pakaiannya dengan kemeja putih cadangan yang ia minta dari anggota BEM—kemeja itu terlalu besar, tapi ia memakainya seolah itu adalah jubah kebesaran tapi sekali lagi, Every adalah majalah Fashion.
"Dengar semuanya!" suara Every menggema melalui megafon, memotong pembicaraan para relawan dan anggota komunitas motor River. "Gue sudah meninjau laporan sementara. Distribusi logistik kalian berantakan! Terlalu banyak barang yang menumpuk di satu titik sementara warga di sektor utara belum makan!"
River yang sedang membagi beban muatan bersama anak buahnya, mendongak. Ia melempar tali tambang ke tanah dan berjalan mendekati Every dengan wajah yang memerah karena kesal.
"Eve, turun dari sana. Lo baru saja pingsan sejam yang lalu. Sektor utara itu medannya paling parah, anak-anak gue lagi usahain jalur aman!" teriak River dari bawah.
Every menatap River dari ketinggian, bibirnya tersenyum sinis—senyum antagonis yang sangat meremehkan. "Anak-anak lo terlalu lamban, River. Kalian terlalu banyak main-main dan merokok daripada bekerja. Mulai detik ini, semua distribusi logistik harus melalui persetujuan gue. Satu dus mi instan pun nggak boleh keluar tanpa tanda tangan gue!"
"Lo gila?" Aluna muncul dari balik truk, berteriak kencang. "Warga lapar, dan lo mau kita birokrasi dulu? Lo pikir ini kantor bokap lo?!"
Every mengarahkan megafonnya tepat ke arah Aluna. "Iya, ini aturan gue. Kalau lo nggak suka, silakan angkut barang-barang lo sendiri dan cari warga lo sendiri. Tapi semua barang yang ada di truk berlogo BEM dan donasi keluarga Riana adalah milik gue. Dan siapa pun yang berani membagikannya tanpa izin, gue anggap sebagai pencuri."
"Every!" River membentak, ia melompat naik ke gundukan tanah itu dan merampas megafon dari tangan Every. "Jangan jadi monster di saat kayak gini. Orang-orang butuh makan, bukan butuh prosedur kaku lo!"
Every tidak gentar. Ia justru maju hingga dadanya hampir bersentuhan dengan River, menatap mata pria itu dengan kobaran api. "Justru karena mereka butuh makan, gue nggak mau logistik ini habis cuma karena kelompok lo yang nggak terorganisir itu membagikannya sembarangan! Gue nggak peduli lo benci cara gue, River. Gue ketua BEM, dan lo di sini cuma 'tukang angkut' yang gue sewa. Paham?!"
River mencengkeram megafon itu hingga tangannya memutih. Kebenciannya pada Every mencapai puncaknya. "Tukang angkut? Setelah semua yang gue lakuin buat lo semalam, itu sebutan lo buat gue?"
"Gue nggak pernah minta lo lakuin apa pun semalam, River Armani," desis Every, suaranya pelan namun sangat menyakitkan. "Lo lakuin itu karena lo mau merasa hebat, kan? Lo mau merasa jadi pahlawan buat cewek kaya yang lo benci. Well, guess what? Gue tetap benci lo, dan gue tetap pemegang kendali di sini."
River tertawa sinis, tawa yang terdengar sangat berbahaya. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Every. "Oke, Tuan Putri. Kalau itu mau lo. Kita main pakai aturan birokrasi lo yang sampah itu. Tapi jangan harap gue bakal nangkep lo lagi kalau lo jatuh untuk kedua kalinya. Karena kali ini, gue sendiri yang bakal pastiin lo terkubur di bawah lumpur ini."
River melompat turun dan berteriak pada anak buahnya, "Semua berhenti! Jangan ada yang gerak sampai 'Ketua' kita yang terhormat ini kasih izin tertulis! Biarin warga nunggu, biarin mereka lapar, itu kan yang di mau si bidadari ini?!"
Suasana desa menjadi sangat tegang. Para penduduk yang melihat perdebatan itu mulai ketakutan. Aluna tersenyum puas melihat River akhirnya kembali membenci Every dengan sangat nyata, sementara Axel hanya menonton dari kejauhan, bingung harus memihak siapa.
Every berdiri sendirian di atas gundukan tanah itu, dikelilingi oleh tatapan benci dari hampir semua orang. Namun ia tidak peduli. Ia lebih memilih dibenci sebagai penguasa daripada disayangi sebagai orang yang lemah.
......................
Every benar-benar mengubah desa bencana itu menjadi zona militer pribadinya. Dia tidak peduli dengan tatapan benci para relawan; baginya, efisiensi adalah segalanya, dan perasaan adalah hambatan.
"Mulai sekarang, tidak ada makanan untuk relawan sebelum semua korban mendapatkan porsi mereka!" teriak Every sambil menunjuk ke arah tenda dapur umum.
Ia baru saja mengeluarkan keputusan paling ekstrem: Sistem Poin Distribusi.
Setiap warga harus memiliki kartu tanda terima yang ia stempel sendiri. Siapa pun relawan yang memberikan bantuan tanpa kartu itu, akan Every depak dari lokasi dan ia ancam akan dilaporkan ke pihak kampus atas tuduhan penggelapan logistik.
"Every, lo keterlaluan! Anak-anak gue sudah kerja dari subuh, mereka butuh makan!" River menghampiri Every, wajahnya merah padam.
Every menatap River datar sambil menyesap kopi hitamnya yang pahit. "Relawan lo punya cadangan lemak di tubuh mereka, River. Warga di sini nggak. Kalau logistik ini habis karena kalian makan dua kali porsi mereka, itu kegagalan manajemen. Dan gue nggak mentoleransi kegagalan."
"Manajemen? Ini kemanusiaan, Every! Bukan perusahaan tekstil bokap lo!" River menendang kotak kosong di dekatnya.
"Justru karena ini kemanusiaan, gue harus jadi monster supaya semuanya adil," balas Every tajam.
Sementara di beberapa menit berikutnya, lapangan semakin kacau.
Aluna tidak bisa menahan diri lagi. Melihat River terus-menerus ditekan dan teman-temannya kelaparan sementara Every duduk manis memegang stempel, emosinya meledak. Saat Every sedang berjalan menuju gudang logistik, Aluna mencegatnya di jalan setapak yang sempit dan berlumpur.
"Tuan Putri Penjilat!" teriak Aluna.
Every berhenti, menatap Aluna dengan pandangan meremehkan yang biasa. "Minggir, Aluna. Gue nggak punya waktu buat ngeladenin pengikut yang nggak tahu posisi."
"Pengikut?" Aluna tertawa sinis, langkahnya semakin mendekat. "Lo itu cuma cewek manja yang haus kuasa. Lo pikir dengan stempel sampah itu lo hebat? Lo cuma sampah yang kebetulan lahir di kasur emas!"
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Aluna. Every tidak ragu-ragu. Tangannya yang mungil ternyata memiliki tenaga yang mengejutkan.
"Jangan pernah sebut keluarga gue dengan mulut kotor lo itu," desis Every, matanya berkilat mengerikan.
Aluna yang kaget dan merasa terhina langsung menerjang Every. Ia mendorong Every hingga keduanya jatuh ke dalam kubangan lumpur. Aluna mencengkeram kerah kemeja Every, namun Every bukan tipe gadis yang akan menjerit minta tolong. Ia membalas dengan menjambak rambut pendek Aluna dan mendorong wajah gadis itu ke tanah basah.
"Lo pikir gue takut kotor?!" Every berteriak di depan wajah Aluna sambil menekan pundak gadis itu ke lumpur. "Lo cuma pengecut yang bersembunyi di balik nama River! Tanpa dia, lo itu bukan siapa-siapa!"
Aluna meronta, ia berhasil menendang perut Every hingga Every terhempas ke belakang. Mereka berdua kini berlumuran lumpur dari kepala hingga kaki. Aluna kembali menerjang, namun kali ini Every menangkap kedua tangan Aluna dan menguncinya dengan teknik yang tampaknya ia pelajari dari kelas bela diri privatnya.
"Lo mau main kasar?" Every berbisik di telinga Aluna, suaranya dingin dan mematikan. "Gue bisa bikin lo dikeluarkan dari kampus ini sebelum matahari terbenam. Jangan pernah tantang orang yang punya segalanya saat dia nggak punya apa-apa lagi buat dilepaskan."
"LEPASIN GUE!" teriak Aluna histeris.
"DIAM!"
Suara gelegar River menghentikan perkelahian itu. River berlari mendekat, diikuti oleh Axel yang tampak syok melihat 'bidadarinya' berlumuran lumpur.
River menarik Aluna menjauh dengan kasar, sementara Axel mencoba membantu Every berdiri. Namun, seperti sebelumnya, Every menepis tangan Axel.
River menatap Every yang kini tampak sangat berantakan, namun sorot mata Every masih penuh kemenangan dan arogansi yang tak tergoyahkan.
"Lihat ini, Riv! Dia duluan yang nampar gue!" Aluna mengadu .
River tidak melihat ke arah Aluna. Matanya terkunci pada Every. "Lo benar-benar monster, Every Riana. Gue nyesal pernah mikir lo punya sisi manusiawi."
Every menyeka lumpur di pipinya, lalu memperbaiki kerah kemejanya yang robek. Ia menatap River dan Aluna dengan senyum antagonisnya yang paling mengerikan.
"Simpan penyesalan lo, River. Dan buat lo, Aluna..." Every menunjuk lumpur di kaki mereka, "cuci muka lo. Lumpur itu cocok banget sama kepribadian lo yang rendah."
Every berbalik dan berjalan pergi dengan langkah angkuh, meski tubuhnya gemetar karena amarah dan lelah. Di belakangnya, River menahan Aluna yang ingin menyerang lagi, namun hatinya sendiri sedang berkecamuk hebat antara rasa benci yang murni dan pengakuan bahwa Every adalah lawan paling tangguh yang pernah ia temui.
River mulai menyadari bahwa Every sengaja membuat dirinya dibenci agar semua perintahnya ditaati tanpa debat ala strategi "Machiavellian".
"