NovelToon NovelToon
Menyingkirkan Gundik Suamiku

Menyingkirkan Gundik Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi / Pelakor jahat
Popularitas:177.3k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Di balik senyumnya yang lembut dan rumah tangga yang terlihat harmonis, Kiandra menyimpan luka yang tak kasat mata. Lima tahun menikah, pengorbanan dan cintanya pada Adam Mahendra, suaminya, seakan tak berarti.

Nadira, wanita manipulatif yang datang dengan sejuta topeng manis dan ambisi untuk merebut apa yang bukan miliknya.

Awalnya Kiandra memilih diam, berharap badai akan berlalu. Namun ketika suaminya mulai berubah, ketika rumah yang dibangunnya dengan cinta hampir runtuh oleh kebohongan, Kiandra sadar diam bukan lagi pilihan.

Dengan hati yang patah namun tekad yang utuh, Kiandra memulai perjuangannya. Bukan hanya melawan Gundik yang licik, tapi juga melawan rasa sakit yang suaminya berikan.

Di tengah air mata dan pengkhianatan, ia menemukan kekuatan baru dalam dirinya. Harga diri, dan cinta yang layak di perjuangkan.

Kiandra kembali membangun karirnya, membuat gundik suaminya semakin tidak setara dalam segala hal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

"Nyonya Kiandra...." Pandu terpaku melihat sosok wanita yang berada di dalam ruangannya. Dia tidak menyangka bahwa wanita itu akan datang ke perusahaan Mahendra, pasalnya selama ini Kiandra jarang datang ke perusahaan suaminya, karena sibuk mengurus si buah hati.

Kiandra tersenyum sinis menatap pria itu. Dia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Pandu.

"Jadi begini permainan kalian? Kau bilang kemarin ikut ke Jerman, tetapi ternyata kau masih berada di sini" sindir Kiandra sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

Pandu menunduk, mendadak lidahnya kelu tidak tahu harus menjawab apa, dia terciduk melakukan kebohongan di hadapan istri bosnya sendiri.

Kiandra berhenti tepat di hadapan Pandu. Tatapan matanya dingin, menusuk, seolah mampu merobek semua kebohongan yang selama ini disembunyikan pria itu dengan rapi.

Aroma parfum kantor yang biasanya terasa netral kini justru membuat dadanya sesak. Di ruangan ini, di balik meja kerja asisten suaminya, semua potongan kecurigaan itu perlahan mulai menunjukkan kebenarannya.

Pandu menelan ludah. Keringat dingin merembes di pelipisnya meski pendingin ruangan bekerja maksimal. Ia tak berani mengangkat wajah, bahunya menegang seakan sedang menunggu palu hakim dijatuhkan.

“Saya… saya bisa jelaskan, Nyonya,” ucapnya lirih, suaranya nyaris tak terdengar.

Kiandra terkekeh kecil, namun tak ada sedikit pun kehangatan di sana. Tawa itu justru terdengar getir, kecewa karena di khianati oleh mereka.

“Menjelaskan?” ulangnya pelan. “Menjelaskan kebohongan yang mana dulu, Pandu? Yang kau bilang ke Jerman, atau tentang perselingkuhan tuanmu dengan wanita itu?"

Ia memutar tubuhnya, berjalan mengelilingi Pandu perlahan. Sepatu haknya beradu dengan lantai marmer, setiap langkah terasa seperti ketukan waktu yang kian menekan.

“Kau tahu, aku hampir mempercayaimu. Aku pikir, setidaknya masih ada satu orang di perusahaan ini yang benar-benar baik, yang bisa aku percaya" ucap Kiandra.

Pandu mengepalkan tangannya. Dadanya naik turun tak beraturan. “Saya hanya bekerja, Nyonya. Saya tidak punya pilihan selain menuruti semua perintah tuan Adam.” ucapnya akhirnya, tidak ada gunanya juga dia menyanggah semuanya.

Langkah Kiandra terhenti. Ia berbalik dengan cepat, menatap Pandu tajam.

“Tidak punya pilihan? Setiap orang selalu punya pilihan, Pandu. Kau memilih berbohong, kau memilih melindungi mereka yang sudah berkhianat di belakangku.” suaranya meninggi, namun tetap terkontrol.

Ia melangkah mendekat lagi, jarak mereka kini hanya sejengkal.

"Kau datang ke Bandara, seakan benar-benar ikut ke Jerman, tapi ternyata semua itu hanya sebuah permainan yang kalian rancang sedemikian rupa, agar tidak membuatku curiga” Kiandra tersenyum tipis.

Pandu mengangkat wajahnya perlahan. Matanya berkaca-kaca, bukan karena penyesalan yang dalam, melainkan karena ketakutan.

“Nyonya, Tuan Adam—”

“Jangan sebut namanya! Aku datang ke sini bukan untuk mendengar pembelaan suamiku lewat mulutmu.” potong Kiandra tajam. Tangannya bergetar, namun ia segera mengepalkannya kuat-kuat. Ia menolak terlihat rapuh di hadapan pria ini.

Kiandra menunjukkan wallpaper ponselnya yang menunjukkan foto Zayyan yang sedang tersenyum bahagia.

“Lihat ini, Aku memperjuangkan rumah tangga ini demi anakku. Tapi kalian semua bermain di belakangku seolah aku tak lebih dari wanita bodoh.” ucap Kiandra lirih.

Kiandra mematikan ponselnya dan kembali menggenggamnya.

“Sekarang jawab! aku ingin kejujuran darimu” katanya tegas.

“Di mana Adam sebenarnya? Berapa lama dia mengurus pekerjaannya di Jerman? Dan sejak kapan kau menutupi semua ini?” cecar Kiandra.

Pandu terdiam lama. Detik terasa berjalan lambat. Akhirnya, ia menghembuskan napas berat, seolah menyerah.

"Sejak dua tahun yang lalu nyonya. Saat ini tuan Adam benar di Jerman nyonya, hanya saja untuk urusan pekerjaannya sudah selsai, dan sekarang beliau sedang berlibur dengan Nayla"

Kata-kata itu menghantam Kiandra lebih keras daripada tamparan mana pun. Dadanya terasa perih, napasnya tertahan sesaat. Ternyata sudah lumayan lama, di saat dia sedang hamil Zayyan, sang suami sudah mulai menyukai wanita lain. Sungguh, dia seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa.

Namun wajahnya tetap tenang, terlalu tenang untuk seorang wanita yang baru saja dikhianati.

“Baik, itu sudah cukup untuk mengetes kejujuran mu” ucap Kiandra akhirnya, suaranya datar. Ternyata semua bukti yang di kirim Jaret benar adanya.

Ia mengambil tasnya, lalu melangkah menuju pintu. Sebelum keluar, Kiandra berhenti dan menoleh.

“Pandu,” panggilnya pelan.

Pandu spontan menegakkan tubuhnya. “Ya, Nyonya?”

Kiandra berdiri tegak di hadapan Pandu, sorot matanya datar tanpa sedikit pun celah emosi. Wajahnya tenang, tetapi ketenangan itu justru menekan, seolah ada badai besar yang sengaja ia kurung rapat-rapat di dalam dada.

“Mulai hari ini, kau bukan lagi bagian dari permainan mereka.” ucap Kiandra dengan suara rendah namun tegas.

Pandu menelan ludah. Tubuhnya kaku, kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Kata-kata Kiandra terasa seperti palu yang menghantam kesadarannya. Ia tahu, sekali perempuan itu berbicara dengan nada seperti ini, tak ada ruang untuk tawar-menawar.

“Jika kau masih ingin mempertahankan pekerjaanmu di sini, kau harus menjaga rahasia ini. Jangan pernah, sekali pun, memberitahu mereka bahwa aku sudah mengetahui semuanya.” lanjut Kiandra tanpa mengalihkan pandangannya.

Hening menyelimuti ruangan. Hanya detik jam dinding yang terdengar, berdetak perlahan namun menyiksa. Pandu merasa napasnya semakin pendek. Keringat dingin merembes di pelipisnya.

“Dan jangan coba-coba mengkhianatiku, aku tidak akan segan melakukan apa pun jika kau berani bermain di belakangku.” ancam Kiandra, rahangnya mengeras.

Nada suaranya tidak meninggi, justru terdengar sangat terkendali. Namun di situlah letak menakutkannya. Kiandra bukan tipe wanita yang berteriak atau merusak barang saat marah. Ia adalah tipe yang tenang, menyusun langkah dengan rapi, lalu menghancurkan lawannya tanpa meninggalkan jejak.

“Kau hanya perlu satu hal,” lanjutnya dingin. “Tetap tenang, bersikap seperti biasa, dan beritahu aku semua informasi tentang mereka. Sekecil apa pun. Jangan ada yang kau sembunyikan.”

Pandu menundukkan kepala. Tidak ada pilihan lain. Semua jalan keluar terasa tertutup rapat.

“Baik, Nyonya,” jawabnya lirih. Suaranya bergetar, namun ia tidak berani membantah.

Kiandra menghela napas pendek, dia memutuskan untuk tetap mempertahankan Pandu di perusahaan Mahendra, karena dia masih membutuhkan informasi dari laki-laki itu.

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan melangkahkan kaki menuju pintu.

Sesaat sebelum keluar, Kiandra berhenti. Ia menoleh kembali ke arah Pandu, menatapnya untuk terakhir kali hari itu. Tatapan itu tajam, penuh peringatan.

“Katakan pada bagian keuangan untuk datang ke ruangan Adam sekarang juga,” perintahnya. “Aku tunggu kalian di sana.”

Tanpa menunggu jawaban, Kiandra membuka pintu dan keluar dari ruangan. Pintu tertutup perlahan di belakangnya, meninggalkan Pandu sendirian dengan perasaan takut dan cemas yang menggerogoti dadanya.

Sementara itu, di balik langkahnya yang tenang, Kiandra sudah menyusun langkah berikutnya. Permainan ini baru saja dimulai, dan kali ini, ia memastikan dirinya berada di posisi pengendali.

1
Linda Liddia
Kalo adam masih mau sama nayla alangkah bodohnhmya..udah tau nayla deket sama mertuanya..udah cerein aja si adam itu kiandra toh masih banyak yg mau sama kamu biarin aja dia balik sama nayla biar kena HIV biar mampus sekalian bareng gundiknya
Agus Tina
Akhirnya .... jika Adam tahu apa yg dialami olwh Nayla sekarang masihkah ada setitik raßa disanq?
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
mampus lah kau ...semoga si Adam itu tau Nayla kena HIV ..biar dia ikut takut 🤭....padahal kan kena HIV nya sesudah gak di pake sama dia sih 🤣
Lee Mba Young
Dah mau mati tp gk tobat bner bner semoga mati nya tdk husnul khotimah, mati dng cara pling mnjijikkan dan AIB yg menyebar luas.
Brown choco
Udah ga mutu ceritanya, jalan cerita muter di tempat ga ada perkembangan karakter sama jalan cerita. Bungkus aja
Dini Anggraini
Yang aku heran zayyan saja melihat wajah nayla tante galak kayak monster tapi kok bisa2nya adam lihat nayla cantik darimananya anak kecil kan bicara jujur gak bohong. 🙏🙏😍😍😍
Dini Anggraini
Yang aku heran zayyan saja melihat wajah nayla tante galak kayak monster tapi kok bisa2nya adam lihat nayla cantik darimananya anak kecil kan bicara jujur gak bohong. 🙏🙏😍😍😍
Yantie Narnoe
jadi penasaran...pa kiandra ma adam pisah ya...semangat outhor up nya...💪💪
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
Adam tuh dah menikmati perselingkuhan..pasti akan berulah lagi ... kecuali dia mati baru sadar 🤣
Ambo Nai
Adam akan hancur kalau kembali berulah
Lee Mba Young
Bener kan Adam itu udah gk 100% Cinta ma kiandra. hatinya dah terbagi.
ibarat kata Nayla sisa banyak lelaki pun masih mau 🤣.
pasti nnti kl Nayla menghub dan merengek minta di temani krn sisa umur akn Adam temani yakin lah 🤣🤣.
laki sempat di puaskan dan berbagi peluh smp puas pasti gk akn lupa 🤣. Adam selingkuh nya bukan Nafsu saja tp Cinta juga. Kiandra saja yg masih mau ma bekas an nayla.
Ovha Selvia: setuju 1000%, adam selingkuh sama nayla itu pake hati.. bukan sekedar berbagi ranjang, dia milih kiandra hanya pakai logika.. Bukan karna memiliki perasaan cinta yg besar, lihat adam masih berdebar ketemu nayla aja udah tau klo adam masih punya rasa utk nayla. Kiandra ini bodoh apa gimana ya, bisa2nya masih mau sama adam yg bekas nayla. Malahan skrg hamil lagi, dirayu dikit sama adam langsung luluh wkwkwwk.. Pdhl dia orkay, gak kekurangan duit. Tapi bisa2nya milih bertahan sama suami yg sudah bekas org 🤔
total 2 replies
Dini Anggraini
Nayla hanya butuh uangnya adam saja untuk membiayai penyakitnya nanti bila sakitnya sembuh dia menguasai adam dasar licik ya nayla kak author
mama
lepasin aj adam ki,drpd pikiran ny adam masih ke nayla trs.. biar di urus sm adam tu nayla yg penyakit n..karna percm adam bertahan sm km toh pikirany masih sm nayla..klu udh gk ad hubungan apa2 sm nayla dan mutusin semuanya harus ny gk udh peduli sm keadaan nayla,.mai muka pecat kek,badan ny kurus kek itu sudah bukan urusan km dam🤣
Daulat Pasaribu
tobat nayla tobat
uda di kasih penyakit bukannya tobat malah menjadi
Yana Phung
entah kpn drama si kuman akan berakhir 🤣🤣🤣
Yana Phung
ini ya yg dinamakan kesalahan yg efeknya seumur hidup
yg si cewek bukannya tobat tapi seperti merasa ada kesempatan kedua utk menarik simpati laki org
Yana Phung
udah di part 101
kalo adam masih ingat2 nayla,, udah bagusnya pisah aja
Yana Phung
si nayla ini sakit tapi sifatnya nggak mau berubah
Yana Phung
ish.. gemesnya kamu zayyan
Yuli Yulianti
nay nay emang kamu nya nggak ad harga diri mu deh meminta suatu hal bikin diri mu murahan ...Adam mungkin masih ad rasa tapi rasa kasian saja ke nay
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!