NovelToon NovelToon
Menyingkirkan Gundik Suamiku

Menyingkirkan Gundik Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Terlarang / Obsesi / Pelakor jahat
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Di balik senyumnya yang lembut dan rumah tangga yang terlihat harmonis, Kiandra menyimpan luka yang tak kasat mata. Lima tahun menikah, pengorbanan dan cintanya pada Adam Mahendra, suaminya, seakan tak berarti.

Nadira, wanita manipulatif yang datang dengan sejuta topeng manis dan ambisi untuk merebut apa yang bukan miliknya.

Awalnya Kiandra memilih diam, berharap badai akan berlalu. Namun ketika suaminya mulai berubah, ketika rumah yang dibangunnya dengan cinta hampir runtuh oleh kebohongan, Kiandra sadar diam bukan lagi pilihan.

Dengan hati yang patah namun tekad yang utuh, Kiandra memulai perjuangannya. Bukan hanya melawan Gundik yang licik, tapi juga melawan rasa sakit yang suaminya berikan.

Di tengah air mata dan pengkhianatan, ia menemukan kekuatan baru dalam dirinya. Harga diri, dan cinta yang layak di perjuangkan.

Kiandra kembali membangun karirnya, membuat gundik suaminya semakin tidak setara dalam segala hal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

"Nyonya Kiandra...." Pandu terpaku melihat sosok wanita yang berada di dalam ruangannya. Dia tidak menyangka bahwa wanita itu akan datang ke perusahaan Mahendra, pasalnya selama ini Kiandra jarang datang ke perusahaan suaminya, karena sibuk mengurus si buah hati.

Kiandra tersenyum sinis menatap pria itu. Dia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Pandu.

"Jadi begini permainan kalian? Kau bilang kemarin ikut ke Jerman, tetapi ternyata kau masih berada di sini" sindir Kiandra sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

Pandu menunduk, mendadak lidahnya kelu tidak tahu harus menjawab apa, dia terciduk melakukan kebohongan di hadapan istri bosnya sendiri.

Kiandra berhenti tepat di hadapan Pandu. Tatapan matanya dingin, menusuk, seolah mampu merobek semua kebohongan yang selama ini disembunyikan pria itu dengan rapi.

Aroma parfum kantor yang biasanya terasa netral kini justru membuat dadanya sesak. Di ruangan ini, di balik meja kerja asisten suaminya, semua potongan kecurigaan itu perlahan mulai menunjukkan kebenarannya.

Pandu menelan ludah. Keringat dingin merembes di pelipisnya meski pendingin ruangan bekerja maksimal. Ia tak berani mengangkat wajah, bahunya menegang seakan sedang menunggu palu hakim dijatuhkan.

“Saya… saya bisa jelaskan, Nyonya,” ucapnya lirih, suaranya nyaris tak terdengar.

Kiandra terkekeh kecil, namun tak ada sedikit pun kehangatan di sana. Tawa itu justru terdengar getir, kecewa karena di khianati oleh mereka.

“Menjelaskan?” ulangnya pelan. “Menjelaskan kebohongan yang mana dulu, Pandu? Yang kau bilang ke Jerman, atau tentang perselingkuhan tuanmu dengan wanita itu?"

Ia memutar tubuhnya, berjalan mengelilingi Pandu perlahan. Sepatu haknya beradu dengan lantai marmer, setiap langkah terasa seperti ketukan waktu yang kian menekan.

“Kau tahu, aku hampir mempercayaimu. Aku pikir, setidaknya masih ada satu orang di perusahaan ini yang benar-benar baik, yang bisa aku percaya" ucap Kiandra.

Pandu mengepalkan tangannya. Dadanya naik turun tak beraturan. “Saya hanya bekerja, Nyonya. Saya tidak punya pilihan selain menuruti semua perintah tuan Adam.” ucapnya akhirnya, tidak ada gunanya juga dia menyanggah semuanya.

Langkah Kiandra terhenti. Ia berbalik dengan cepat, menatap Pandu tajam.

“Tidak punya pilihan? Setiap orang selalu punya pilihan, Pandu. Kau memilih berbohong, kau memilih melindungi mereka yang sudah berkhianat di belakangku.” suaranya meninggi, namun tetap terkontrol.

Ia melangkah mendekat lagi, jarak mereka kini hanya sejengkal.

"Kau datang ke Bandara, seakan benar-benar ikut ke Jerman, tapi ternyata semua itu hanya sebuah permainan yang kalian rancang sedemikian rupa, agar tidak membuatku curiga” Kiandra tersenyum tipis.

Pandu mengangkat wajahnya perlahan. Matanya berkaca-kaca, bukan karena penyesalan yang dalam, melainkan karena ketakutan.

“Nyonya, Tuan Adam—”

“Jangan sebut namanya! Aku datang ke sini bukan untuk mendengar pembelaan suamiku lewat mulutmu.” potong Kiandra tajam. Tangannya bergetar, namun ia segera mengepalkannya kuat-kuat. Ia menolak terlihat rapuh di hadapan pria ini.

Kiandra menunjukkan wallpaper ponselnya yang menunjukkan foto Zayyan yang sedang tersenyum bahagia.

“Lihat ini, Aku memperjuangkan rumah tangga ini demi anakku. Tapi kalian semua bermain di belakangku seolah aku tak lebih dari wanita bodoh.” ucap Kiandra lirih.

Kiandra mematikan ponselnya dan kembali menggenggamnya.

“Sekarang jawab! aku ingin kejujuran darimu” katanya tegas.

“Di mana Adam sebenarnya? Berapa lama dia mengurus pekerjaannya di Jerman? Dan sejak kapan kau menutupi semua ini?” cecar Kiandra.

Pandu terdiam lama. Detik terasa berjalan lambat. Akhirnya, ia menghembuskan napas berat, seolah menyerah.

"Sejak dua tahun yang lalu nyonya. Saat ini tuan Adam benar di Jerman nyonya, hanya saja untuk urusan pekerjaannya sudah selsai, dan sekarang beliau sedang berlibur dengan Nayla"

Kata-kata itu menghantam Kiandra lebih keras daripada tamparan mana pun. Dadanya terasa perih, napasnya tertahan sesaat. Ternyata sudah lumayan lama, di saat dia sedang hamil Zayyan, sang suami sudah mulai menyukai wanita lain. Sungguh, dia seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa.

Namun wajahnya tetap tenang, terlalu tenang untuk seorang wanita yang baru saja dikhianati.

“Baik, itu sudah cukup untuk mengetes kejujuran mu” ucap Kiandra akhirnya, suaranya datar. Ternyata semua bukti yang di kirim Jaret benar adanya.

Ia mengambil tasnya, lalu melangkah menuju pintu. Sebelum keluar, Kiandra berhenti dan menoleh.

“Pandu,” panggilnya pelan.

Pandu spontan menegakkan tubuhnya. “Ya, Nyonya?”

Kiandra berdiri tegak di hadapan Pandu, sorot matanya datar tanpa sedikit pun celah emosi. Wajahnya tenang, tetapi ketenangan itu justru menekan, seolah ada badai besar yang sengaja ia kurung rapat-rapat di dalam dada.

“Mulai hari ini, kau bukan lagi bagian dari permainan mereka.” ucap Kiandra dengan suara rendah namun tegas.

Pandu menelan ludah. Tubuhnya kaku, kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Kata-kata Kiandra terasa seperti palu yang menghantam kesadarannya. Ia tahu, sekali perempuan itu berbicara dengan nada seperti ini, tak ada ruang untuk tawar-menawar.

“Jika kau masih ingin mempertahankan pekerjaanmu di sini, kau harus menjaga rahasia ini. Jangan pernah, sekali pun, memberitahu mereka bahwa aku sudah mengetahui semuanya.” lanjut Kiandra tanpa mengalihkan pandangannya.

Hening menyelimuti ruangan. Hanya detik jam dinding yang terdengar, berdetak perlahan namun menyiksa. Pandu merasa napasnya semakin pendek. Keringat dingin merembes di pelipisnya.

“Dan jangan coba-coba mengkhianatiku, aku tidak akan segan melakukan apa pun jika kau berani bermain di belakangku.” ancam Kiandra, rahangnya mengeras.

Nada suaranya tidak meninggi, justru terdengar sangat terkendali. Namun di situlah letak menakutkannya. Kiandra bukan tipe wanita yang berteriak atau merusak barang saat marah. Ia adalah tipe yang tenang, menyusun langkah dengan rapi, lalu menghancurkan lawannya tanpa meninggalkan jejak.

“Kau hanya perlu satu hal,” lanjutnya dingin. “Tetap tenang, bersikap seperti biasa, dan beritahu aku semua informasi tentang mereka. Sekecil apa pun. Jangan ada yang kau sembunyikan.”

Pandu menundukkan kepala. Tidak ada pilihan lain. Semua jalan keluar terasa tertutup rapat.

“Baik, Nyonya,” jawabnya lirih. Suaranya bergetar, namun ia tidak berani membantah.

Kiandra menghela napas pendek, dia memutuskan untuk tetap mempertahankan Pandu di perusahaan Mahendra, karena dia masih membutuhkan informasi dari laki-laki itu.

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan melangkahkan kaki menuju pintu.

Sesaat sebelum keluar, Kiandra berhenti. Ia menoleh kembali ke arah Pandu, menatapnya untuk terakhir kali hari itu. Tatapan itu tajam, penuh peringatan.

“Katakan pada bagian keuangan untuk datang ke ruangan Adam sekarang juga,” perintahnya. “Aku tunggu kalian di sana.”

Tanpa menunggu jawaban, Kiandra membuka pintu dan keluar dari ruangan. Pintu tertutup perlahan di belakangnya, meninggalkan Pandu sendirian dengan perasaan takut dan cemas yang menggerogoti dadanya.

Sementara itu, di balik langkahnya yang tenang, Kiandra sudah menyusun langkah berikutnya. Permainan ini baru saja dimulai, dan kali ini, ia memastikan dirinya berada di posisi pengendali.

1
Arka Zaidan
bagus ceritanya ka
Dini Anggraini
Mama ina coret adam dari ahli waris dan ambil semua barang di nayla pelakor dan usir adam dari perusahaan dan rumah itu apa selingkuhannya masih mau bila adam miskin gak punya apapun yang di banggakan. 👍👍😍😍😍
pink blossoms
ini kowh ga lanjut2 pdhal seru lho thor
Sunarmi Narmi
lnjutt thor
Sunarmi Narmi
Fi blokir Adam...ngapain cuma dimatikan...🥴🥴
Sunarmi Narmi
Demi moment ini kita memang hrs berjuang bertahan Kiandra....Semangat hempaskan pelakor 💪💪💪💪
Sunarmi Narmi
Kiadra..klo kmu pngen menang permainan Ranjangmu hrs lebih binal dri pelakor..toh suami SAH..aman ngak usah malu " Gass kan....sampai menttok dn milik suamimu kebas dn kenyang ...ngak ada wktu melirik yg lain🤣🤣🤣
Sunarmi Narmi
Perjuangan yg amat berat bagi seorang berstatus istri dan seorang ibu..klo demi ego jelas males buat kembali sama suami..tpi klo demi anak dn keluarga hrs jdi prioritas..disitulah kdang kita merasa berat buat memilih..rata" EGO yg dominan..baca kisah ini jujur jiwa dn hatiku tersentuh Thor....pokoke karyamu is the best 👍👍👍👍♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Sunarmi Narmi
Kata" tulisanya keren Thor...mengena di hati dn bermakna dlm...👍👍👍👍
louis
dasar gundik tak tahu malu dan tidak ada akhlak
louis
dasar laki2 bejat. lihatlah karma akan menimpamu karena telah mengkhianati istrimu.
Sunarmi Narmi
Blm mau Coment karena cerita ino terlalu bagus..cuma satu kata untukmu Thor LANJUTKAN💪💪💪💪
Isabela Devi
laki laki gitu buat dia menyesal seumur hidup aja thor, apa lagi ga menghargai wanita gitu
Isabela Devi
lanjut thor, buat laki laki itu jadi gembel aja thor
Bunda Kevin
Lanjut
Sunarmi Narmi
Wah keren karyamu Thor..kita di sini bila berhadapan dgn pelakor balasnya hrs elegan,cantik dn kontrol emosi....berat jg ya...lanjut thor 💪💪💪💪😘😘😘😘😘😘😘😘😘🤔♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!