Siena Hartmann, gadis keras kepala dan sedikit bar-bar, selalu bisa membuat ayahnya pusing tujuh keliling. Tapi siapa sangka, di balik tingkahnya yang bebas, ada pria yang diam-diam selalu ada saat dia butuh.
Bastian Asher Grayson, muncul di hidupnya sebagai bodyguard baru dikeluarga Hartmann. Dia profesional, dingin, tapi entah kenapa selalu berhasil membuat hati Siena berdebar meski dia menolak mengakuinya.
Hingga skandal di malam wisuda membuat mereka terpaksa berada dalam satu atap, dan keputusan mengejutkan pun diambil. Namun, sesuatu tentang pria itu masih disembunyikan. sesuatu yang bila terungkap, bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna_Ama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE TUJUH
Mobil sport berwarna merah menyala dengan logo kuda jingkrak hitam yang dikemudikan Bastian berhenti tepat di tempat parkir cafe Opaline. Siena segera melepas seatbelt nya lalu bergegas turun.
Namun, saat tangan nya hendak meraih handle pintu tiba-tiba lengannya dicekal oleh Bastian. Siena menoleh lalu menatap pria itu dengan alis yang terangkat sebelah.
"Apa?" ujar nya kebingungan
"Waktu anda hanya lima belas menit tidak lebih". Ucap Bastian tegas mengingatkan
"Iya.. Iya aku tau. Kalau sudah tidak ada apa-apa lagi aku turun". Tukas Siena dan hanya dibalas deheman oleh Bastian.
Bergegas Siena segera turun dari dalam mobil lalu berjalan cepat masuk kedalam cafe. Dibelakangnya, disusul oleh Bastian.
Pria itu berjalan dengan jarak 2 meter dibelakang Siena.
Begitu sampai diambang pintu, pandangan mata Siena mengedar menatap sekeliling mencari teman-temannya.
"Sienaa!!!"
Mendengar suara teriakan Dena, salah satu temannya itu Siena segera menoleh kearah sumber suara. Seulas senyuman manis tersungging diwajah cantiknya.
Ia balas lambaian tangan itu dan bergegas melangkahkan kakinya menghampiri Dena dan dua orang temannya yang sudah duduk dikursi pojokan cafe.
"Hai girls..." sapa Siena seraya menjatuhkan tas kecilnya ke atas meja dan menarik kursi kosong di antara mereka.
“Finally muncul juga si ratu skripsi,” goda Dena sambil terkekeh. “Kami kira kamu bakal menghilang lagi.”
Siena mendengus pelan. “Jangan bahas itu. Kepalaku masih penuh dengan angka dan tabel.”
Mendengar itu, Rani dan Livia ikut tertawa, lalu mereka mulai sibuk menceritakan hal-hal ringan. Tentang dosen menyebalkan, rencana liburan yang belum tentu jadi, sampai gosip receh yang membuat Siena perlahan ikut larut.
Bahunya yang tadi tegang kini sedikit mengendur.
Tapi, tanpa Siena sadari sejak ia duduk, Bastian sudah mengambil posisi duduk di dekat dinding kaca dengan sikap santai tapi waspada, kedua tangannya terlipat di depan dada.
Matanya yang berbentuk almond dan selalu terlihat dingin, sesekali melirik ke arah Siena, memastikan setiap gerak-gerik gadis itu berada dalam jangkauan pengawasannya.
Hingga seorang pelayan datang mencatat pesanan. Siena memesan iced latte favoritnya, lalu kembali tertawa saat Dena berbisik sesuatu yang membuat pipinya memanas.
Menit demi menit berlalu, ujung jari telunjuk Bastian mengetuk-ngetuk meja. Sesekali matanya menatap jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Sudah lima belas menit berlalu dan sesuai kesepakatan Bastian harus mengajak Siena pulang. Namun, saat ia baru saja berdiri dari duduknya dan hendak menghampiri Siena tiba-tiba Evan datang. Entah darimana pria itu tau jika Siena sedang berada dicafe, atau memang pria itu membuntuti mereka.
Evan berjalan lurus mendekati Siena. Ia tidak tau jika Bastian juga ada disana. Begitu sampai dibelakang Siena, Evan langsung memberi kode pada Dena, Livia dan Rani untuk diam.
Kedua tangannya terangkat menutupi mata Siena, membuat tawa Siena terhenti seketika.
“Hei-” protes Siena refleks, tangannya terangkat hendak menepis.
“Ayo tebak siapa,” suara Evan terdengar rendah dan akrab tepat di belakang telinganya.
Tubuh Siena menegang sesaat sebelum akhirnya bahunya mengendur. Ia menghela napas panjang, lalu menurunkan tangannya dengan ekspresi sebal bercampur geli.
“Evan? Ini kamu?”
Evan terkekeh pelan lalu menurunkan kedua tangannya. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit, cukup dekat hingga aroma parfumnya tercium jelas.
“Aku pikir sayang bakal salah nebak”. Ujar Evan lalu menggeser tubuhnya menarik kursi mengambil posisi duduk disamping Siena.
Melihat itu, Dena, Rani, dan Livia saling pandang, menahan tawa seperti anak kecil yang baru saja ikut konspirasi kecil.
"Dasar bucin". Celetuk Dena sambil terkikik pelan
"Lebih baik bucin daripada tidak dianggap". Bukan Siena yang membalas ucapan Dena, melainkan Rani. Livia yang mendengar itu sampai tertawa dan tanpa sadar memukul pelan lengan Rani.
Siena menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar celetukan Rani, sementara Evan tersenyum tipis, jelas menikmati situasi itu.
Tangannya bertumpu santai di sandaran kursi Siena, sikapnya seolah-olah tempat itu memang wilayahnya sejak awal.
Namun sebelum Dena sempat menimpali lagi, sebuah suara dingin menyela dari arah belakang.
“Nona, waktu anda sudah habis.”
Sontak saja, mereka berlima langsung menolehkan kepala nya kearah sumber suara. Dena dan Rani menatap Bastian yang berdiri tak jauh dibelakang Siena dengan tatapan kebingungan. Tapi, berbeda dengan Livia.
Perempuan itu menatap Bastian dengan sorot mata penuh kekaguman, nyaris tak berkedip. Bibirnya sedikit terbuka, lalu ia menyenggol lengan Dena pelan.
Bukan tanpa alasan Livia bereaksi seperti itu.
Bastian tipe pria dewasa, berusia 33 tahun dengan tinggi sekitar seratus delapan puluh lima sentimeter, posturnya proporsional dengan bahu lebar yang dibalut kemeja hitam yang pas di badan atletis nya.
Rahang tegas, hidung mancung, dan garis wajahnya yang tajam seolah dipahat dengan sempurna. Namun yang paling mencuri perhatian adalah matanya yang berbentuk almond dengan sorot yang dingin, gelap, dan tenang.
Tatapan mata yang tidak banyak bicara tapi terasa mengintimidasi sekaligus menenangkan.
Bastian tidak tersenyum. Tidak pula berusaha menarik perhatian siapa pun. Justru sikap dingin dan profesional itulah yang membuat auranya terasa menawan, seperti pria yang tahu persis siapa dirinya dan tidak perlu pembuktian.
“Liv?” bisik Dena heran.
Livia sama sekali tidak menjawab. Pandangannya masih terpaku pada sosok Bastian yang berdiri beberapa langkah di belakang Siena, sikapnya santai tapi jelas waspada. Dalam hatinya, sebuah kalimat melintas begitu saja, spontan dan jujur.
Oh damn. He’s my ideal type.
Siena menghela napas panjang, jelas tidak terkejut dengan kehadiran pria itu. Ia memutar bola matanya jengah sebelum akhirnya menoleh ke arah Bastian.
“Lima menit lagi,” ujarnya datar namun bernada menantang. “Aku belum selesai.”
Bastian tidak langsung menjawab. Tatapannya tertuju pada Siena, lurus dan tenang, namun mengandung tekanan samar yang sulit diabaikan.
“Perjanjian tetap perjanjian, Nona. Saya hanya mengingatkan.” Ucap Bastian tegas tak ingin dibantah.
Evan yang sedari tadi diam kini mengangkat pandangan, menatap Bastian dengan sorot mata yang memicing dan tidak suka.
“Ck! Kau lagi?” ujar Evan sambil melirik Bastian dari ujung kepala hingga kaki. “Apa kau tidak lihat Siena masih asyik nongkrong?”
Bastian tidak langsung menjawab. Ia menurunkan pandangannya sebentar ke jam tangan di pergelangan kirinya, lalu kembali menatap Evan dengan wajah datar.
“Yang saya lihat adalah waktu yang sudah habis.” Sahut Bastian tenang.
Evan tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak ramah. “Sejak kapan seorang pengawal merasa berhak mengatur waktu kekasih orang lain?”
“Sejak saya diminta memastikan keselamatannya,” jawab Bastian dengan tegas dan tanpa ragu. “Dan memastikan ia tidak berada di tempat yang tidak perlu lebih lama dari seharusnya.”
Evan terkekeh pelan, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi Siena. “Ck! Kau ini terlalu berlebihan. Siena bukan tahanan.”
Bastian mencondongkan sedikit tubuhnya, cukup dekat untuk membuat Evan menegang tanpa sadar.
“Benar, namun juga bukan seseorang yang bisa anda jadikan pelarian saat suasana hati anda sedang baik.”
.
.
.
Haii jangan lupa dukungannya ... Like, vote dan komen... Terimakasih ♥️🫶🏻
ayo lanjut lagi
secangkir kopi susu manis untukmu
sebagai teman up date
ok👍👍👍
tetap semangat yaaaaa
lanjut