Padmini, mahasiswi kedokteran – dipaksa menikah oleh sang Bibi, di hadapan raga tak bernyawa kedua orang tuanya, dengan dalih amanah terakhir sebelum ayah dan ibunya meninggal dunia.
Banyak kejanggalan yang hinggap dihati Padmini, tapi demi menghargai orang tuanya, ia setuju menikah dengan pria berprofesi sebagai Mantri di puskesmas. Dia pun terpaksa melepaskan cintanya pergi begitu saja.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Benarkah orang tua Padmini memberikan amanah demikian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35 : Menjemput Laba-laba
Rinda bergegas melangkah keluar menuju dapur, diambilnya daun kelor yang masih segar dan bertangkai.
“Ini Buk!”
Nisda merebut daun tersebut, dia membaca mantra yang dipercaya dapat mengusir setan. Sedangkan daun kelor konon katanya memiliki energi positif dapat menolak energi negatif dari makhluk halus.
Sabetan pelepah dan daun mengenai punggung Juned – ibu mertuanya terus memukulkan jimat seraya bibirnya bergerak-gerak.
Tubuh Juned menegang, kedua tangannya tidak lagi memukuli kepala, tapi terkulai di sisi tubuh. Perlahan wajahnya mendongak menatap ring kayu penyangga atap seng.
Nisda pun berhenti memukul, dia dan putrinya mengikuti arah pandang Juned. Saat melihat Ular Weling menggantungkan badan dengan kepala terjulur ke bawah, bersamaan mereka menjerit.
Tanpa aba-aba, Ular jelmaan Wening terjun bebas, terjatuh tepat di bahu Juned yang seperti orang linglung.
Kepala ular merambat melingkari leher sembari mendesis menjulur lidah terbelah.
Sesuatu pun terjadi, pria yg yang cuma mengenakan celana kolor diatas lutut dan kaos singlet – dari mulai punggung jari kaki merambat ke atas, pembuluh darah Juned terlihat jelas. Urat-urat sampai menonjol seperti garis halilintar membelah langit, wajahnya memerah.
"Uh _ uk!”
Belitan Ular Weling bertambah kencang, membuat Juned kesulitan napas.
Kepala Ular hitam putih itu berdiri tegak, mata kecilnya bertemu tatap dengan sorot hampa.
Rinda memekik kala melihat Ular menyeramkan menyemburkan bisa pada kedua mata suaminya.
Nisda yang katanya mau membunuh si Keparat, berakhir dia yang terkapar bak orang sekarat. Kakinya lemas, dan tubuhnya terjatuh.
Dari telinga Juned, keluar Laba-laba punggung merah, berjalan menaiki badan Ular masuk ke dalam mulutnya. Kemudian belitan di leher si pria sedikit dikendorkan.
Juned mengeluarkan suara seperti orang dicekik. “Gelap, mengapa semuanya hitam total?”
"Kang Juned.” Kaki Rinda seperti agar-agar, suaranya sangat lirih. Rasa takut itu kian menghantui apalagi melihat ibunya tidak sadarkan diri.
Ular Weling turun dari badan mangsanya, melata cepat keluar dari kamar lalu menembus dinding tembok.
“Mataku! Ada apa dengan penglihatanku? Mengapa aku tak bisa melihat apapun?!” Kedua tangannya terulur, bergerak seperti orang buta mencari arah.
Netra Juned berair, terasa perih kala membuka mata sehingga dia memejamkan erat. Semua terlihat sama, gelap menghitam tanpa ada seberkas cahaya sedikitpun.
Rinda seperti orang bodoh tidak tahu harus berbuat apa – ibunya pingsan, suaminya menggila berteriak seperti orang kesurupan.
Mau mencari bantuan dirinya ketakutan. Takut kalau di tengah jalan di teror hantu ataupun makhluk buas, pikirannya benar-benar kacau.
“Dek, dek! Kau dimana?!”
Pyarrr
Gelas kaca diatas lemari pendek pecah kala tangan Juned tidak sengaja menggeser nya. “Rinda! Rinda!”
“Aku takut, Kang! Ibuk tak sadar diri, dirimu pun memprihatinkan. Aku tak tahu mesti berbuat apa!” jeritnya sambil menutup kedua telinga. Tubuhnya luruh di samping lemari memeluk lututnya sendiri.
Juned berjongkok, mengesot mencari sumber suara wanita yang dia kasihi. Dirabanya kulit wajah terasa dingin, lalu digenggamnya tangan sedingin embun pagi. “Tolong pergilah keluar, cari bantuan! Panggil para pemuda agar dapat menolong kita. Panggil juga_”
Arghh!
Belum sempat kalimatnya terselesaikan, dia menjerit kesakitan – seperti ada jarum menusuk kulit area mata, dan terasa panas sekaligus perih.
Pria itu terkapar, terlentang di lantai. Jari-jari tangan layaknya Harimau yang bersiap menerkam mangsa, mencakar lantai supaya tidak menggaruk area mata.
“Cepat Rinda! Cari bantuan!”
Teriakan itu seperti cambukan bagi Rinda. Dia beranjak mencoba menepis rasa takut yang membuat tubuhnya menggigil. Menyambar santer di atas meja ruang tamu, berlari menghempaskan pintu dan menerjang malam gelap.
Jarak rumah Rahardi dengan tetangga sekitar tiga puluh meteran. Rinda menjerit sekuat-kuatnya!
“Tolong! Tolong Ibuk dan suamiku! TOLONG!!”
Tak ada tanda-tanda para warga memberikan pertolongan.
Rinda berlari dengan sorot senter seperti terguncang. Dia sampai di rumah tetangga sebelah kanan, mengetuk kuat pintu rumah.
Brak!
Brak!
“Tolong aku! Mengapa kalian seolah tuli, hah?!” Dia geram, digebraknya pintu kayu, handle nya pun di goyang.
“Keluar kalian! Jangan macam orang mati! Kami butuh bantuan!” Rinda frustasi, menjerit diiringi suara tangisan.
Bukan tidak mendengar, tapi para tetangganya menyamar jadi orang tuli. Mereka takut keluar malam hari, takut dikejar-kejar Kuntilanak biru.
“Sialan kalian! Tak punya hati!” Ditendangnya pintu rumah sang tetangga, lalu dia berlari pulang kerumahnya sendiri.
Saat menaiki undakan tangga teras, jari kakinya menginjak kain sarung yang dikenakan. Kebiasaannya kalau tidur tidak bisa memakai celana maupun rok.
Bugh!
Akhh!
Buah dadanya terasa sakit kala menghantam lantai keramik sampai dirinya sesak napas.
“Akhh! Aku benci keadaan seperti ini! Aku muak dengan kehidupan gila ini! Akhh!” suara tangisnya bertambah kencang, dia benar-benar layaknya orang depresi.
“Rinda, Nak ….” dari dalam rumah terdengar suara Nisda. Wanita tua itu sudah siuman.
Seperti hujan turun di musim kemarau, perasaan Rinda sedikit membaik. Dia bangkit dan tertatih masuk ke dalam rumah. “Buk, tak ada satupun orang yang mau membantu kita!”
Nisda memandang kasihan pada putrinya lalu menoleh ke sang menantu yang tidak sadarkan diri. “Dasar pengecut semua! Awas saja bila suatu saat nanti meminta bantuan, kita balas sama seperti yang mereka lakukan!”
Ibu tiri Rahardi tidak sadar diri, dia sering mengabaikan ketukan pintu di malam hari kala tetangganya meminta bantuan.
“Ambil air hangat dalam baskom dan handuk bersih, kau kompres area bawah mata yang melepuh itu!” Dagunya terarah ke wajah Juned. “Besok pagi, kita paksa warga membawanya ke puskesmas!”
***
“Apa sekarang kau telah mengerti artinya putus asa? Lebih memilih mati daripada tersiksa secara perlahan-lahan, Mirna?” nadanya tenang, setenang air sungai tidak mengalir.
Gadis berumur 21 tahun lebih itu cuma mampu mengedipkan mata. Dia sudah tidak berdaya sekedar menelan air ludah pun kesulitan. Tubuhnya lemah, sekarat, berbau tak sedap. Cekungan mata terlihat dalam – wajah seperti mayat hidup, pucat pasi.
Kondisi Mirna begitu memprihatinkan, area dada dipenuhi bercak merah pekat yang sudah berkerak. Pucuknya nyaris putus.
“Baru dua hari, tapi kondisimu layaknya orang tak makan berminggu-minggu! Tidak sepadan dengan mulut yang suka menyebarkan fitnah, mengatakan aku gadis murahan, hobinya tebar pesona. Sampai pernah kau bilang kalau diri ini sudah tak perawan, ditiduri oleh kang Adi. Ingin rasanya kupotong lidahmu, tapi begini sudah sangat menyenangkan hati.” Ia bersedekap tangan, ujung kakinya masuk ke bawah punggung tidak mengenakan busana.
“Ku beri tahu satu hal, Mirna … disini dirimu tersiksa, sementara di warung kopi – kekasih jelekmu itu tengah meremas bokong seorang pelayan seksi.”
Mirna menggeleng nyaris tidak terlihat pergerakannya. Dia tidak percaya perkataan Padmini.
Kaki Padmini terdorong kedepan sampai badan Mirna berbaring miring. “Lihatlah lekat-lekat air jernih itu!”
.
.
Bersambung.
ngeri ngeri sedap 😁😁😁
thorr
sdh sembuh
apa masih sakit
di bawa ke dokter Korea aja thor.biar ganteng kembali sperti dlu
angkat 1 1
blm cukup sampai di situ bambangg
itu baru pembalasan Padmini
yg buat kang Adi mana padmi
ayok rapel sekalian hutang nya Bambang sdh banyak itu
bentar kita jait pakai benang knor yaa tapi jadi beda letak, ...
sabar bentar lagi kau jadi makhluk paling unik dan tiada dua nya....
pulang dari "KLINIK PADMINI" kau masih punya nafas hanya saja semua akan aneh dan raib keangkuhanmu ...
rasa percaya diri lenyap ...dan rupamu layaknya gelandangan compang camping ,dengan tangan kerinting gagal bonding