Cantika yang bekerja sebagai kurir harus menerima pernikahan dengan yoga Pradipta hanya karena ia mengirim barang pesanan ke alamat yang salah .
Apakah pernikahan dadakan Cantika akan bahagia ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu kamar ,seribu Deg -degan
Malam itu, langit Jakarta bermain-main dengan awan kelabu, seolah tahu kalau malam ini akan jadi malam penuh gejolak,atau setidaknya, gejolak kecil dalam hati Cantika.
Acara makan malam keluarga berlangsung seperti biasa: hangat, penuh tanya jawab terselubung, dan sesekali cekikan Bu Ratna dan pak Bram , ayah Yoga, bercanda soal “generasi muda yang terlalu santai soal cinta.”
Tapi malam ini berbeda.
Setelah mangkuk terakhir dikumpulkan dan teh jahe hangat disajikan, Bu Ratna mengambil napas panjang,tanda bahwa sesuatu besar akan turun dari surga… atau malah dari jurang neraka.
“Kami sudah bicara,” katanya, suaranya tenang tapi tegas. “Kamu dan Yoga sudah menikah. Resmi ,walaupun pernikahan kalian dadakan tapi pernikahan kalian sudah resmi ,dan tercatat di KUA, diakui Tuhan dan negara. Jadi… tidak ada alasan kalian masih tidur terpisah.”
Cantika nyaris tersedak teh jahe. Yoga tersedak udara.
“Ma… maksud mama?"
Bu Ratna menatapnya lurus. “Kalian harus tinggal satu kamar. Mulai malam ini.”
Kamar. Satu. Berdua.
Deg.
Jantung Cantika langsung lari maraton.
Yoga menunduk, wajahnya datar seperti biasa, tapi kalau diperhatikan baik-baik,telinganya merah. (Merah banget)Seperti habis digoreng bareng sambal terasi.
“Ma… itu terlalu—” Yoga mencoba protes.
“Tidak ada tapi,” potong Pak Bram, tiba-tiba muncul dari balik koran. “Kalian sudah dewasa. Sudah suami-istri. Ini bukan soal nyaman atau tidak. Ini soal tanggung jawab.”
Cantika ingin berteriak, “Ini pernikahan darurat, bukan karena kami jatuh cinta di taman bunga!” Tapi tentu saja, ia hanya mengangguk kecil sambil menahan napas.
“Baik, ma… Pa,” ucapnya, suaranya nyaris seperti bisikan.
Yoga hanya mengangguk. Matanya menatap lantai marmer seolah berharap bisa meleleh dan menghilang.
Cantika hanya bisa pasrah ,karena apa yang dikatakan kedua mertuanya memang benar ,walupun pernikahannya dengan yoga dadakan ,tapi mereka memang sudah sudah sah sebagai suami istri .
***
Beberapa jam kemudian, Cantika berdiri di depan kamar utama, yaitu kamar Yoga. Sejak pernikahan darurat itu, ia sengaja tidur di kamar kosong sebelah kamar Yoga ,namun kini kamar itu sudah terkunci rapat ,dan barang barang Cantika sudah dipindahkan di kamar Yoga ,atas perintah kedua orang tua yoga .
Cantika masih berdirinya didepan pintu kamar Yoga ,dia tidak ada pilihan lain Sekarang, ia harus masuk.
Pintu terbuka sebelum ia sempat mengetuk.
Yoga berdiri di ambang pintu, rambut masih agak basah,ia baru selesai mandi,dan terlihat sangat tampan mengenakan kaus hitam longgar dan celana training.Penampilannya jauh dari kesan dingin yang ia bawa ke kantor. Di rumah, ternyata Yoga itu… manusiawi banget.
“Kamu… mau masuk atau nunggu sampai jam segini?” tanyanya, nada suara tak enak tapi tidak kasar.
Cantika menelan ludah. “Aku cuma butuh waktu buat nafas dulu.”
Yoga mendengus. “Kamar ini bukan gua beruang, Cantika. Tidak ada yang mau makan kamu.”
“Ah, siapa tau kamu kelaparan malam-malam dan tiba-tiba ngelirik lengan aku…” ledek Cantika, berusaha mencairkan suasana.
Yoga menatapnya, lalu… tersenyum kecil “Kalau aku kelaparan, aku pilih makan bubur Mbok Darmi. Lebih aman.”
Cantika tertawa kecil, lalu berani melangkah masuk.
Kamar itu luas,minimalis, netral, dengan sentuhan kayu hangat dan jendela besar yang menghadap taman belakang. Ranjangnya besar. Bahkan Sangat besar,. Tapi sekarang jadi terasa sempit.
“Tenang aja,” kata Yoga, seperti membaca pikirannya. “Aku tidur di sisi kiri. Kamu di kanan. Ada garis imajiner di tengah. Kalau kamu lewat, aku bakal teriak ‘perang!’”
“Dan kalau kamu mendekat, aku bakal panggil Mbok Darmi biar ngasih kopi pagi jam 3 pagi,” balas Cantika.
Mereka saling pandang. Lalu tertawa pelan.
Tapi tawa itu perlahan mengendap, tertelan oleh kesunyian malam yang tiba-tiba terasa… intim.
Cantika duduk di tepi ranjang, masih memakai kaos dan celana pendek rumahan. Yoga berdiri di dekat lemari, mengelus-elus handuk di rambutnya perlahan.
“Kamu mau ganti baju di kamar mandi?” tanyanya tiba-tiba.
“Eh? Iya, iya. Pasti. Aman banget,” jawab Cantika buru-buru.
“Tapi kalau kamu lama, aku bakal kira kamu kabur lewat jendela.”
“Jendela ini nggak bisa dibuka, Pak Arsitek.”
Yoga menoleh. “Kamu hafal rancangan rumah ini?”
“Duh, aku sering nemenin Mbok Darmi bersihin kamar ini. Jelas hafal.”
Yoga terdiam. Lalu, pelan-pelan, ia berkata, “Terima kasih sudah… menghormati batas selama ini.”
Cantika menatapnya. “Kamu juga. Nggak pernah masuk ke kamar aku tanpa izin.”
Mereka saling pandang lagi. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berubah. Tidak canggung lagi seperti awal. Tapi… NYAMAN, meski dalam hati deg-degan
***
Malam itu, sebelum tidur, Yoga berdiri di depan cermin, membenahi rambutnya yang acak-acakan.
“Besok kamu pulang kerja telat lagi, aku bakal masak sendiri,” katanya tiba-tiba.
Cantika yang sedang mengoleskan pelembap wajah menoleh. “Kamu bisa masak?”
“Nggak,” jawab Yoga polos. “Tapi Mbok Darmi,dan ia pasti ajarin. Aku arsitek, bukan alien. Aku juga bisa belajar.”
Cantika tersenyum. “Kalau masakannya gosong, aku bakal upload ke Instagram.”
“Kalau gitu, kamu yang bakal kena viral karena punya suami gagal,” balas Yoga, tapi matanya berbinar.
Mereka tertawa lagi. Dan kali ini, tawa itu terasa… NYATA.
Ketika lampu dimatikan, dan mereka kembali berbaring di sisi masing-masing, Cantika berbisik pelan:
“MAS Yoga…”
"hmm."
"kamu nggak masalah kalau kita tidur diranjang yang sama ?"
"Nggak ,lagi pula kita juga pernah tidur bersama ,saat malam pertama kita ."
"Tapi beda ,malam ini kita akan tidur diranjang yang sama tiap harinya."
"Memang kamu takut tidur sama aku ?"
Cantika tersenyum dan menggeleng
“Malam ini… aku nggak takut tidur satu kamar sama kamu.”
Ada jeda. Lalu, yoga menyahut dengan suara pelan dari sisi kiri ranjang:
“Kalau aku jujur… aku juga nggak takut. Malah… seneng.”
Deg.
Tapi kali ini, deg-degan itu tidak menakutkan.
Karena untuk pertama kalinya, mereka bukan lagi dua orang asing yang dipaksa hidup bersama.
Tapi dua orang yang mulai merasa… (cukup beruntung) bisa berbagi ranjang yang sama.
Walau masih dengan garis imajiner.
**
Malam itu, mereka tidur dengan jarak aman dengan satu bantal sebagai “batas negara”.
Tapi sekitar pukul dua pagi, Cantika terbangun karena suara
Yoga,yang tanpa sadar ia telah bergeser ke tengah, tangannya menyentuh lengannya.
Cantika menahan napas. Ingin sekali menarik tangan itu. Tapi… ia diam saja. Karena jujur? Rasanya Hangat … enak.
Ia menoleh pelan. Wajah Yoga tenang dalam tidur. Bibirnya sedikit terbuka. Napasnya pelan. Cantika nyaris lupa kalau lelaki ini dulu pernah patah hati karena lamaran pada Marsha ditolak di depan umum,dan sejak itu ia berubah dingin dan jarang senyum.
Tapi sekarang? Ia cuma cowok biasa yang ngiler sedikit dan suka ngorok halus.
Cantika nyengir kecil, lalu menarik selimut pelan-pelan, menutupi Yoga yang mulai kedinginan.
***
Pagi tiba terlalu cepat.
Sinar matahari menyelinap masuk, dan Cantika terbangun dengan posisi… 'agak' tidak seharusnya.
Keningnya nyaris menempel di dada Yoga. Dan lengan lelaki itu,entah sejak kapan bisa melingkar di pinggangnya, seolah melindungi.
Deg! Lagi!
Ia berusaha bergerak pelan-pelan, tapi Yoga malah mengerat pelukannya.
“Jangan pergi…” gumamnya dalam tidur.
Cantika berhenti bergerak. Jantungnya seperti mau lompat keluar.
Tapi detik berikutnya, Yoga membuka mata.
Dan langsung melepas pelukannya, seperti terkena setrum.
“S-sorry! Aku nggak sadar!” katanya buru-buru, wajahnya memerah.
Cantika pura-pura santai. “Tenang. Aku ngerti. Efek mimpi indah?”
Yoga menatapnya tajam. “Aku mimpi lagi makan bakso. Jadi kalau kamu baksonya, aku minta kuahnya doang.”
Cantika tertawa keras. “Dasar!”
Dan mereka berdua nampak tertawa ,dan semalam mereka berdua benar benar sudah tidur di satu kamar ,diranjang yang sama