Perhatian–perhatian cerita ini beralur lambat. Harap bersabar menanti ceritanya ya .... 😁
Gea Agatha adalah seorang wanita berusia 21 tahun yang hidup mandiri. Gea berusaha hidup menjauh dari keluarganya yang membencinya. Wanita mandiri itu memiliki seorang kekasih bernama Davin Angkara.
Suatu hari, mereka mengikrarkan janji sehidup semati. Namun naas, Gea malah dikhianati oleh kekasihnya di hari pernikahannya yang membuatnya harus berada pada keadaan yang lebih mengecewakan. Hari itu juga, ia bertemu dengan Briel, seorang laki-laki yang juga harus menikah di hari itu juga yang sama sekali tidak Gea kenal, memaksa Gea untuk menikah dengannya karena suatu kesalahpahaman.
Mereka berdua mengarungi bahtera rumah tangga yang diterpa berbagai macam musim.
Akankah Gea dan Briel bisa melewati semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asabernisletih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Diatur Ulang
"Damn it !! Kalau benar dia adalah calon pengantinku, lalu siapakah wanita yang aku nikahi?"
Briel mematung, badannya menegang. Ia benar-benar tercengang mengetahui fakta-fakta yang terkuak di depan matanya.
"Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana ini?"
Pertanyaan itu berulang kali muncul dalam benaknya seperti lagu yang diputar berulang-ulang.
Adam yang ada di dekat Briel pun heran. Ia menatap Briel dengan sorot mata yang penuh dengan tanda tanya. Kenapa bosnya seperti itu? Kenapa Briel hanya berdiri mematung di depan pintu dan tak kunjung masuk?
"Bos, Bos Briel!!"
Karena penasaran dan bingung dengan apa yang terjadi, Adam memberanikan diri untuk memanggil Briel agar Briel tak hanya berdiri mematung di sana. Bahkan ia memanggil Briel dengan suara yang cukup mengagetkan bagi orang yang tengah melamun.
Briel berdecak kesal. Asli, dia kaget karena mendengar suara Adam. Ia menatap tajam sang asisten pribadinya itu.
"Apa Bos?"
Bukannya merasa takut, Adam malah memperlihatkan raut wajah polosnya. Ia tidak merasa bersalah sedikitpun. Bahkan malah menggoda Briel dengan bertanya lagi.
Briel memutar bola matanya malas.
"Dosa apa aku, Tuhan? Bahkan punya asisten pribadi aja kelakuannya seperti itu."
Briel menepuk dahinya lalu meraup wajahnya sendiri dengan tangan kirinya. Sedangkan Adam menahan tawanya agar tidak kelepasan.
"Dam, selidiki penyebab kecelakaan Ayah dan Bunda!"
"Sudah Bos. Anak buah kita baru menyelidikinya," ucap Adam sopan.
"Bagus! Segera laporan kepadaku!"
"Baik, Bos."
Briel menghirup napas dalam. Ia mempersiapkan diri dan menata hatinya untuk menghadapi apa yang akan ia hadapi ketika ia masuk ke dalam ruang perawatan kedua orang tuanya.
"Kenapa lagi, Bos?" tanya Adam lagi. Ia heran kenapa Briel tak kunjung masuk juga.
Briel menoleh. "Tidak papa."
Briel membuka pintu itu. Ia berjalan masuk, diikuti dengan Adam.
Ketika pintu dibuka, semua pasang mata tertuju padanya. Tapi tidak dengan kedua orang tuanya. Mereka masih terbaring dengan mata yang tertutup. Briel tersenyum simpul. Ia menyapa keluarga calon istrinya yang kini telah menjadi mantan. Tak lupa ia menyapa Dokter Sam, sahabatnya sewaktu SMA. Seusai memeriksa pasiennya yang lain, Dokter Sam kembali ke ruang perawatan di mana orang tua Briel dirawat.
"Wah ini dia calon mantu kita Dad," ucap Selly antusias.
Kemal tersenyum. Apalagi Ayu terlihat begitu senang melihat Briel secara langsung. Ia langsung terpukau melihat ketampanan Briel yang benar–benar lebih tampan aslinya.
"Dari mana saja kamu Briel?" tanya Kemal.
Briel mulai memerankan perannya. Ia juga melemparkan senyum.
"Maaf, Tuan. Tadi saya ada urusan yang harus segera saya selesaikan," ucap Briel dengan sopan.
"Baiklah." Kemal tidak ambil pusing ke mana Briel pergi. Ia mengangguk–angguk kecil.
"Oh iya, ini dia calon istrimu Briel. Dia Ayu, anak kami."
Kemal memegang kedua pundak Ayu dari samping. Ia memperkenalkan anaknya itu kepada calon mantunya.
Briel mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Ayu sambil tersenyum. Dengan gemetar, Ayu menyambut uluran tangan itu.
"Oh my god! Tampan sekali dia. Apalagi dilihat dari dekat seperti ini! " batin Ayu bersorak. Jantungnya berdebar kencang.
Bagaimana tidak? Ketampanan Briel sungguh memukau siapapun wanita yang berinteraksi dengannya bahkan hanya dengan sekali melihat saja.
Cukup lama mereka berjabat tangan. Sebenarnya hal itu membuat Briel risi. Ia berusaha melepaskan tangannya, namun Ayu menggenggamnya erat.
"Maaf, Nona," ucap Briel sambil tersenyum, agar tangannya segera dilepaskan.
Ayu segera melepaskan tangannya. Wajahnya tersipu malu. Tingkah laku Ayu membuat semua yang ada di sana tertawa lepas, kecuali Briel. Ia hanya tertawa canggung. Bahkan suasana yang ia rasakan saja teramat canggung baginya.
"Maafkan putri kami ya, Briel. Dia anaknya memang seperti itu."
"Tidak apa, Tuan."
"Hei hei hei … jangan panggil saya 'tuan'. Panggil saya 'daddy' saja dan juga panggil istri saya 'mommy' seperti Ayu memanggil kami."
"Baiklah, kalau begitu, saya akan memanggil 'Om dan Tante' saja karena saya bukan suami anak kalian," ucap Briel berusaha agar tidak menyinggung perasaan mereka. Dan memang benar ucapannya. Ia sudah menjadi suami orang.
"Baiklah kalau begitu," ucap Selly.
"Astaga!"
Briel kaget ketika ada seseorang yang menyentuh lengannya. Ternyata ia adalah Ayu. Ayu langsung bergelayut manja di lengan Briel. Ia tersenyum manis sedangkan Briel merasa risi. Namun tidak mungkin dia bersikap kasar di sana apalagi kepada wanita. Ia berusaha agar tidak kelepasan.
Briel mengalihkan pandangannya ke arah kedua orang tuanya. Ia menatap orang tuanya sendu. Ia tak habis pikir, kenapa orang tuanya bisa kecelakaan seperti itu.
Tiba-tiba ia melihat kelopak mata ayahnya bergerak. Dan benar saja, kelopak mata itu akhirnya terbuka. Betapa bahagianya Briel melihat ayahnya akhirnya tersadar juga. Dokter Sam yang masih ada di sana pun langsung menghampiri Frans untuk memeriksa keadaan Frans kembali. Briel segera mendekat.
"Sam, bagaimana keadaan Ayahku?"
"Tuan tidak apa-apa. Namun Tuan membutuhkan beberapa bulan untuk masa pemulihan kakinya yang patah."
Briel mengangguk mengerti akan ucapan Dokter Sam.
"Tapi kenapa bundaku belum bangun, Sam?"
Briel memanggil Sam tanpa embel-embel Dokter, karena ia sudah terbiasa memanggilnya seperti itu.
"Ditunggu saja. Semoga beliau segera sadar."
Setelah berkata demikian, Dokter Sam meninggalkan ruangan itu.
"Yah, aku bersyukur, akhirnya Ayah bangun juga."
"Astaga, pasti bangunlah! Kan ayah belum menimang cucu darimu Bri. Lagian ayah cuma patah tulang. Kenapa ayah harus tiada?" ucap Frans diselingi tawa.
"Astaga terserah Ayah sajalah," ucap Briel malas.
Frans terkekeh melihat raut muka anaknya itu. Kemudian ia beralih menatap istrinya yang masih terbaring.
"Cepatlah sadar sayang."
Frans merapalkan doa itu di dalam hatinya dengan tulus. Sungguh ia tidak tega melihat 'nafasnya' terbaring lemah seperti itu.
"Eh Bunda Tere! Tangan Bunda bergerak!" seru Ayu ketika melihat jari tangan Tere yang bergerak. Tanpa menunggu lama, Adam segera menekan tombol darurat untuk memanggil dokter.
Dokter Sam pun kembali lagi ke ruangan itu untuk memeriksa Tere. Setelah selesai, ia pun pamit untuk menyelesaikan kewajibannya yang belum usai.
"Bunda …." panggil Briel sambil mendekat ke ranjang yang Tere pakai.
"Siapa kamu?" ucap Tere. Ia menatap Briel seperti orang asing.
Bagaikan tersambar petir (namun ternyata tidak gosong 😂), mata Briel membulat tak percaya.
"Dam panggilkan Samuel lagi!!"
Adam berlari keluar. Namun saat ia ingin membuka pintu, niatnya ia urungkan tatkala ia mendengar gelak tawa mereka.
"Astaga Briel. Lihatlah dirimu, kena prank." Frans menertawakan kepanikan Briel. Sedangkan Briel menatap mereka kesal.
"Pantesan tadi Bunda nglirik Ayah terus dan Ayah gak ikutan panik!" geruntunya.
Bunda hanya menggelengkan kepalanya. Ia turut tertawa.
"Maafkan Bunda Bri." Tere merasa bersalah juga melihat raut muka Briel yang cemas seperti itu.
"Eh di sini ada Tuan Angkara dan keluarga. Maafkan kami yang tidak menyadari kehadiran Anda dan keluarga."
"Hahaha tak apa Tuan Frans." Kemal pun tersenyum.
"Bunda …. "
Ayu menghampiri Tere. Ia memeluk Tere. Tere menyambut hangat pelukan itu.
"Gimana Sella Sayang?"
Sella adalah panggilan sayang dari Tere untuk Ayu.
"Aku khawatir sama Bunda dan juga Ayah." Tere tersenyum tulus melihat Ayu khawatir dengan keselamatan mereka.
"Bagaimana—"
"Bun, bagaimana keadaan Bunda?"
Briel memotong ucapan Tere karena ia tahu, sang bunda akan bertanya tentang pernikahannya dengan Ayu.
"Bunda tak apa. Hanya luka kecil di kepala. Nanti juga sembuh. Jangan khawatir Bri!"
"Tapi, Bun—"
"Bagaimana pernikahan kalian tadi?" tanya Frans tiba-tiba. Ia memotong ucapan Briel yang belum selesai. Ia tahu kalau Briel tengah mengalihkan pembicaraan. Menjadi seorang pemimpin membuatnya paham dengan maksud lawan bicaranya.
"Aduh kenapa sih Bunda sama Ayah kompakan sekali bertanya tentang pernikahan? " geruntu Briel dalam hati.
"Pernikahan mereka diundur saja. Kita tunggu sampai Tuan dan Nyonya pulih. Sekalian kan, kita bisa memberi kesempatan bagi Ayu dan Briel untuk mengenal lebih dalam lagi. Kan mereka baru bertemu hari ini."
"Baiklah, kalau begitu nanti kita atur ulang kapan pernikahan anak–anak kita akan diselenggarakan."
"Baiklah."
Kemal menyetujui usulan Frans. Ia melihat ke arah jam tangannya lalu menatap istrinya. Mereka saling melempar isyarat yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.
"Berhubung Tuan Frans dan Jeng Tere sudah sadar, kami mohon pamit. Ada hal yang harus segera diurus oleh suami saya."
"Oh silahkan. Terimakasih telah meluangkan waktunya untuk menjenguk kami."
🍂
Setelah kepergian mereka, hati Briel sudah lebih tenang walaupun ia sadar pasti ada kemungkinan orang tuanya akan mengungkit lagi. Tapi lebih baik dari pada Keluarga Angkara ada di sana.
"Briel … kamu kenapa sih Bri?" tanya Tere. Ia merasa ada yang aneh dengan sikap anaknya itu.
"Aku tidak apa, Bun. Memangnya aku kenapa, Bun?" Briel malah balik bertanya.
"Sikapmu itu aneh Bri. Apa jangan–jangan ada yang kamu sembunyikan?" Tere menatap Briel dengan tatapan menyelidik.
"Iya betul tuh kata Bundamu. Ayah juga merasakannya."
Frans juga merasa ada yang aneh. Pasalnya beberapa kali Briel terlihat seperti mengalihkan pembicaraan.
"Bun, Yah, jangan aneh-aneh. Lebih baik Ayah sama Bunda istirahat, fokus saja untuk memulihkan kondisi kesehatan kalian …." kilah Briel.
"Dan Bunda, jangan asal bicara lagi Bun. Briel benar–benar takut Bun. Bagaimana kalau ucapan Bunda diamini malaikat? Kita bisa apa Bun? Bunda gak kasihan sama Briel, sama Ayah? Untung benturan di kepala Bunda tidak parah dan Ayah hanya patah tulang!"
Briel mulai meluapkan keluh kesahnya. Ia teringat ucapan Tere waktu itu dan ia benar–benar takut seandainya apa yang Tere bicarakan waktu itu benar–benar terjadi.
"Aduh anak kita satu ini, Bun. Sudah jangan marah–marah. Katanya kami harus istirahat. Eh kamu malah ngomel dari tadi," ledek Frans. Ia cukup terkejut melihat respon anaknya yang demikian. Ia juga terharu ternyata anak semata wayangnya ini begitu menyayangi dirinya dan juga istrinya.
Briel mengusap wajahnya kasar. Sedangkan Adam hanya diam menyaksikan perdebatan keluarga atasannya. Walaupun sebenarnya ia juga melihat ada yang tidak beres di sini.
"Astaga, dikhawatirkan malah ngledekin!" gumam Briel lirih.
"Baiklah. Bunda dan Ayah istirahatlah. Briel mau keluar sebentar," pamit Briel. Ia ingin memberikan waktu untuk kedua orang tuanya beristirahat. Ia juga ingin menenangkan pikirannya.
"Baiklah Son, hati–hati!" ucap Frans. Ia tidak menginginkan hal buruk dialami Briel.
Adam membungkukkan badannya, ia juga pamit, untuk mengikuti Briel.
Briel berjalan menyelusuri lorong rumah sakit. Sesekali ia menghela napas kasar.
"Kenapa jadi semakin rumit? " batin Briel.
"Ah iya, wanita itu masih di apartemenku. Aku harus segera ke sana. Kalau dia sampai kabur masalah akan semakin runyam," batinnya lagi. Ia baru ingat kalau Gea ada di apartemennya.
"Dam, aku titip Ayah sama Bunda. Aku mau pergi dulu!"
"Baik Bos. Mau kemana Bos? Apakah Anda butuh bantuan saya?"
Ini dia, penyakit kepo Adam yang meradang, terkadang susah untuk dikendalikan.
"Ada sesuatu yang harus aku selesaikan Dam. Tolong jaga mereka! Mereka lebih membutuhkanmu."
Tanpa menunggu jawaban Adam, Briel berlalu meninggalkan Adam di sana. Adam hanya bisa menatap punggung Briel.
"Kebiasaan! Untung dia Bos."
Begitulah Adam. Sering kali Briel pergi meninggalkannya sebelum Adam menjawab. Setelah punggung Briel tak terlihat, ia segera kembali ke ruang perawaran kedua orang tua Briel.
🍂
//
Hai semua, terimakasih masih setia menanti update terbaru cerita receh ini 🤗🤗
Oh iya. Sambil menunggu cerita ini up lagi, kalian bisa mampir dulu ke cerita kakak–kakak online Asa yang kecee badai. Ini diaa 😁
🍂
Ni juga ada novel Asa yg udah lumayan banyak bab dengan genre teen. Yang berkenan mampir, silahkan mampir. Kalau cocok silahkan difav, kalau nggak cocok cukup dilike saja 🤭😁
🍂
//
Happy reading guys
jangan lupa bahagia 💕💕
Makasi thor ceritanya bagus, meski up nya lama tapi gpp
ditunggu karya selanjutnya
tetap semangat berkarya