NovelToon NovelToon
Nafkah 500 Ribu Yang Selalu Diungkit

Nafkah 500 Ribu Yang Selalu Diungkit

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:357
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Ayu wulandari yang berusia dua puluh empat tahun ,ia sudah menikah dengan Aris seorang meneger disebuah perusahaan ,setiap bulan ia hanya mendapatkan nafkah 500 ribu untuk kebutuhan rumah tangganya dan itupun selalu Diungkit oleh suami dan mertuanya ,bagaimana Ayu berjuang untuk keluarganya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keberanian yang selama ini terpendam

Pagi yang dijanjikan Aris pun tiba. Sejak pukul enam, rumah sudah riuh dengan perintah-perintah Bu Widya. Aris mengundang rekan bisnis pentingnya, seorang kontraktor kaya yang kabarnya akan memberi Aris proyek besar.

Demi menjaga citra "orang sukses", Aris menyulap ruang tamu menjadi begitu mewah dengan bunga-bunga segar.

"Kirana! Ingat kata Aris semalam!" Bu Widya masuk ke dapur dengan wajah penuh bedak tebal..

"Pakai kerudung dekilmu itu, pakai celemek. Kalau tamu datang, jangan menampakkan wajah di ruang tamu. Kalau mereka tanya, kamu bilang kamu ART yang baru kerja sebulan. Jangan sekali-kali panggil Aris dengan sebutan 'Mas', panggil 'Bapak'!"

Kirana yang sedang mencuci piring hanya terdiam. Ia tidak membantah. Ia tidak menangis. Wajahnya sedatar air di dalam ember.

"Dengar tidak?!" Bu Widya menyenggol bahu Kirana.

"Iya, Bu. Saya mengerti," jawab Kirana pelan, sangat pelan hingga nyaris tak terdengar.

"Bagus. Dan satu lagi, Gio harus kamu kurung di kamar belakang. Jangan sampai dia keluar dan merusak suasana. Anak itu kalau sudah teriak-teriak bikin pusing!"

Setelah mertuanya pergi, Kirana menarik napas panjang. Ia menatap telapak tangannya,tangan yang kasar tidak selembut wanita kota yang kemarin ia liat dengan suaminya di cafe.

----

Pukul sepuluh pagi, tamu yang ditunggu datang. Pak Baskoro, pria paruh baya yang tampak berwibawa, hadir bersama istrinya. Aris menyambut mereka dengan senyum paling manis yang pernah Kirana lihat,senyum yang tidak pernah diberikan kepadanya.

"Silakan masuk, Pak Baskoro, Bu. Wah, kehormatan sekali bagi kami," ujar Aris dengan nada bicara yang dibuat-buat sopan.

Di dapur, Kirana menyiapkan nampan berisi teh melati dan camilan mahal yang dibeli Aris kemarin.

Sesuai perintah, ia mengenakan daster paling kusam dan kerudung yang sudah mulai koyak di pinggirnya. Ia ingin mereka melihat apa yang ingin mereka lihat: seorang pembantu.

Saat Kirana mengantarkan minuman, Pak Baskoro menatapnya sekilas. "Oh, ini asisten baru ya, Ris? Sepertinya saya pernah lihat di mana ya..."

Aris tertawa renyah, meski matanya menatap Kirana dengan kilat mengancam.

"Iya, Pak. Ini orang desa, kasihan nggak punya kerjaan jadi saya tampung buat bersih-bersih. Agak kurang nyambung kalau diajak bicara, jadi harap maklum."

Istri Pak Baskoro mengerutkan kening.

"Tapi wajahnya ayu sekali ya, sayang penampilannya kurang terurus."

Bu Widya menimpali dengan cepat, "Halah, Jeng. Orang desa itu memang aslinya kusam. Mau dikasih sabun mahal juga tetap begini. Makanya saya selalu bilang sama Aris, kalau cari asisten itu yang penting rajin, bukan yang cantik nanti malah melunjak."

Kirana meletakkan gelas terakhir. Tangannya tidak gemetar. Ia berdiri tegak di hadapan mereka semua.

"Mau apa lagi kamu? Sudah, sana balik ke dapur!" usir Aris dengan suara rendah namun tajam.

Namun, bukannya pergi, Kirana justru mengeluarkan sesuatu dari balik celemeknya. Sebuah map cokelat yang sudah ia siapkan.

"Mohon maaf, Pak Baskoro, Bu," suara Kirana tiba-tiba terdengar jernih dan tegas, memecah suasana santai di ruangan itu.

"Saya bukan pembantu di rumah ini."

Aris terbelalak. Wajahnya berubah pucat, lalu merah padam. "Kirana! Apa-apaan kamu? Masuk!"

Bu Widya berdiri, hendak menyeret Kirana, tapi Kirana selangkah lebih cepat. Ia membuka map itu dan meletakkannya di atas meja, tepat di depan Pak Baskoro.

"Nama saya Kirana Dewi. Saya istri sah dari Bapak Aris yang terhormat ini," ucap Kirana dengan penekanan pada kata 'istri sah'.

Pak Baskoro dan istrinya saling

berpandangan, bingung. "Lho, Ris? Tadi katanya..."

"Dia sakit jiwa, Pak! Jangan didengarkan!" teriak Aris sambil mencoba menyambar map itu, tapi Kirana menepis tangannya dengan kasar. Ini adalah pertama kalinya Kirana melawan secara fisik..

"Saya tidak sakit jiwa," lanjut Kirana. "Yang sakit adalah pernikahan ini. Pak Baskoro, Bapak mungkin ingin tahu bahwa 'orang sukses' di depan Anda ini hanya memberi nafkah lima ratus ribu rupiah sebulan untuk istri dan anaknya yang balita, sementara dia membelikan tas mewah seharga tiga setengah juta untuk selingkuhannya."

"KIRANA! TUTUP MULUTMU!" Aris berteriak, tangannya sudah melayang hendak menampar Kirana.

"Tampar saja, Mas!" tantang Kirana, menyodorkan pipinya. "Tampar di depan rekan bisnismu ini agar dia tahu betapa rendahnya moral pria yang akan diajaknya bekerja sama. Tampar, agar dunia tahu bahwa kamu hanyalah pengecut yang beraninya sama perempuan desa yang kamu hina setiap hari!"

Tangan Aris tertahan di udara. Ia gemetar karena malu dan amarah yang meledak.

Istri Pak Baskoro tampak terkejut dan menutup mulut dengan tangan. "Astaga, benar itu, Aris?"

Kirana mengeluarkan ponsel murahnya—ponsel yang ia beli dari hasil keringat di pasar—dan menunjukkan foto-foto Aris bersama selingkuhannya dan Bu Widya di kafe waktu itu.

"Ini ibu mertua saya, yang kemarin menyebut wanita selingkuhan itu sebagai 'menantu idaman'. Dan ini suami saya yang katanya sangat berkelas," ucap Kirana dingin.

Bu Widya terduduk lemas di sofa. "Kirana... kamu... kamu keterlaluan..."

"Keterlaluan mana, Bu? Menghina saya setiap hari atau mendukung anak Ibu berzina?" tanya Kirana tajam.

Kirana kemudian mengambil satu lembar kertas dari map tersebut. Surat gugatan cerai.

"Ini hadiah terakhir saya untukmu, Mas. Aku sudah menandatanganinya. Kamu tidak perlu repot-repot mengusirku atau membuatku jadi pembantu. Detik ini juga, aku pergi. Dan jangan khawatir soal hartamu yang 'mewah' ini, aku tidak butuh sepeser pun uang haram darimu."

Kirana berbalik arah menuju kamar belakang. Ia menggendong Gio yang sudah siap dengan tas kecilnya. Pak Baskoro berdiri, menatap Aris dengan tatapan sangat kecewa.

"Ris, saya paling tidak suka bekerja sama dengan orang yang tidak bisa menghargai keluarganya sendiri. Bagi saya, karakter adalah nomor satu. Proyek kita batalkan."

"Tapi Pak! Pak Baskoro, ini cuma salah paham!" Aris mengejar tamunya, namun Pak Baskoro sudah melangkah keluar dengan wajah masam.

Kirana berjalan melewati Aris dan Bu Widya yang masih syok. Ia berhenti sejenak di depan pintu.

"Mas, satu hal lagi. Uang lima ratus ribu yang kamu bangga-banggakan itu... aku kembalikan di atas meja. Ternyata, harga diriku jauh lebih mahal dari semua nafkah hina yang pernah kamu berikan."

Kirana melangkah keluar dari ruang tamu itu dengan kepala tegak. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, sinar matahari pagi terasa begitu hangat . walupun ia tahu konsekwensinya yang ia dapat setelah kejadian hari ini ,dan Ia sendiri tidak tahu ke mana ia akan pergi setelah ini, tapi satu hal yang pasti: ia tidak akan pernah menoleh ke belakang lagi,ia ingin bebas dari tekanan yang selama ini menumpuk di batinnya .

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!