NovelToon NovelToon
Malaikat Yang Tersakiti

Malaikat Yang Tersakiti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Bullying dan Balas Dendam / Bullying di Tempat Kerja / Putri asli/palsu / Nikah Kontrak / Pernikahan rahasia
Popularitas:27.8k
Nilai: 5
Nama Author: Yenny Een

Keheningan malam yang gemuruh memeluk kota Topaz. Sinar gelap menerobos kegelapan dalam penantian panjang. Sunyi riuh memeluk hati yang gaduh merenung diri. Dhona, wanita berusia 22 tahun, dikurung di dalam ruangan sempit di salah satu rumah sakit jiwa.

Apakah dia gila? Tentu saja tidak. Dhona sengaja dibuat gila oleh saudara angkatnya agar dia bisa diusir dari rumah orang tuanya.

Semenjak kehadiran saudara angkatnya, kehidupan Dhona berubah. Dhona yang berhati bak malaikat, dimanfaatkan kebaikannya oleh Alia, anak angkat yang ditemukan ayahnya di sebuah panti asuhan.

Dhona dijadikan pembantu, difitnah, dibully.
Dalam keputusasaan, Dhona lelah menjadi orang baik. Dhona mematahkan julukan malaikat yang selama ini melekat. Dhona dipengaruhi ilmu hitam.

Apakah Dhona benar-benar terjebak dalam lingkaran kebencian?

Terus ikuti jalan ceritanya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenny Een, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Devi sangat puas dengan kematian Bu Apli. Devi kembali mendapatkan kekuatan setelah menghilangkan nyawa orang. Devi akan membantu Dhona membalaskan dendam.

Dhona terbangun dari tempat tidur yang sangat asing baginya. Dhona keluar dari kamar itu. Dhona memperhatikan isi rumah. Dhona duduk di ruang tamu.

"Rumah siapa ini?"

"Ini rumahku. Untuk sementara kamu tinggal di sini. Dhona di kamar mandi sudah aku siapkan air suci untuk kamu mandi," bisik Devi.

Dhona menurut perintah Devi. Dhona masuk ke dalam kamar mandi. Di sana ada sebuah ember berisikan air.

Dipandangan Dhona saat ini, di dalam ember itu dipenuhi dengan bunga-bungaan yang mengeluarkan aroma wewangian. Padahal sebenarnya, di dalam ember itu air yang dicampur dengan darah Bu Apli yang berbau amis.

Dhona mandi air yang ada di dalam ember kemudian membilasnya dengan air yang ada di bak mandi. Seketika bulu kuduk Dhona berdiri. Dhona takut langsung keluar dari kamar mandi.

"Dhona, Dhona," samar-samar Dhona mendengar ada yang memanggil namanya.

"Bu Apli?" Dhona tidak begitu yakin akan pendengarannya.

Setelah berganti pakaian, Dhona disuguhi makanan yang disiapkan Devi di dapur. Dengan lahapnya Dhona makan. Dhona duduk santai di ruang tamu sambil memikirkan nasibnya.

Dhona sama sekali tidak punya uang. Dhona harus mencari pekerjaan. Dhona memberitahu keinginannya itu kepada Devi. Devi sama sekali tidak masalah, Dhona bebas melakukan apa saja asalkan tidak kembali ke keluarganya.

Dhona setelah berganti pakaian yang ada di dalam lemari Devi, bersiap untuk mencari pekerjaan. Dia keluar dari rumah Devi.

Perlahan tapi pasti Dhona menyusuri jalan. Dhona menghapal dan mengingat jalan agar nanti bisa kembali pulang. Rumah Devi sedikit lebih jauh dari keramaian. Jalan yang dilaluinya penuh dengan batu kerikil. Sejak Dhona berjalan, tidak ada orang maupun kendaraan yang lewat.

Setelah setengah jam berjalan, Dhona melihat jalan aspal di depan sana. Terlihat rumah, toko dan kendaraan di jalan. Dhona mencoba mencari pekerjaan. Dhona masuk ke dalam sebuah toko bangunan. Dhona mencoba melamar pekerjaan tapi sayang toko itu tidak membuka lowongan.

Sudah beberapa buah toko yang Dhona kunjungi dan jawabannya sama, mereka tidak sedang memerlukan karyawan. Dhona sedikit mengalami kesulitan mencari kerja karena Dhona tidak membawa ijazahnya. Ijazahnya ada di rumahnya.

Entah keajaiban dari mana, Dhona tiba-tiba saja tiba di depan rumahnya. Padahal jarak dari daerah rumah Devi ke rumah Dhona sangat jauh. Lama Dhona berdiri di depan pagar. Dhona masih tidak percaya dia kembali ke rumahnya.

Dhona perlahan membuka pagar. Dhona masuk ke halaman rumah, melangkah ke depan pintu yang sedikit terbuka. Tidak ada suara Alia dan ayahnya. Dhona mendengar suara rintihan dari dalam kamar Phia.

Dhona bergegas masuk ke dalam kamar Phia. Betapa terkejutnya Dhona saat melihat Phia berada di lantai kamar tidurnya dalam keadaan tengkurap.

"Ibu, Ibu," perlahan Dhona membalik badan Phia.

Kening dan hidung Phia berdarah. Wajahnya pucat, bibirnya pecah-pecah, tubuhnya terlihat kurus sekali.

"Dho ... Dhona, anak ibu," Phia tersenyum menatap Dhona.

"Ibu, ayo kita ke rumah sakit," Dhona berusaha mengangkat Phia.

"Sayang, ibu sudah tidak kuat," ucap Phia.

Dhona sekuat tenaga mengangkat Phia tapi tidak bisa. Dhona keluar kamar mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk membawa Phia keluar dari rumah. Dhona menemukan kotak penyimpanan yang terbuat dari plastik di dapur, ada roda di bagian bawahnya.

Dhona mengeluarkan isi yang ada di dalam kotak. Dhona membawa kotak itu ke dalam kamar. Kotak penyimpanan itu lumayan besar.

"Ibu, maafin Dhona. Ibu masuk ke dalam sini dulu ya," dengan hati-hati Phia dimasukkan ke dalam box container.

Phia duduk berhimpit di dalam kotak penyimpanan yang sempit. Phia bersyukur masih bisa melihat Dhona. Anak yang selama ini dia besarkan dengan kasih sayang.

Phia meneteskan air mata, Phia merasa tidak berguna saat melihat Dhona ditarik paksa oleh Ardian dan Alia masuk ke dalam mobil ambulans yang membawa Dhona ke rumah sakit jiwa. Phia tidak bisa berbuat apa-apa karena saat itu Phia dalam keadaan sakit.

Dhona perlahan mendorong kotak itu keluar dari kamar. Mereka hampir sampai di depan pintu. Tiba-tiba saja, Alia dan Ardian berdiri di depan pintu dengan pandangan terkejut.

"Ayaaaaaah! Orang gilaaaaaa!" Tunjuk Alia.

Ardian dengan cepat masuk ke dalam rumah. Ardian menarik paksa tangan Dhona. Dhona sekuat tenaga berpegangan di lengan Phia.

"Dho ... Dhona, ingin mem ... bawaku ke ... ke rumah sakit," ucap Phia.

"Ayah, Ibu terluka. Tolong bawa ke rumah sakit," mohon Dhona.

"Yaaaaah, jangan percaya sama orang gila. Siapa tau dia memukuli Ibu dan dia ingin menyingkirkan Ibu!" Alia terus saja memprovokasi Ardian.

Ardian memandangi Phia yang berlumuran darah. Phia susah payah meyakinkan Ardian, Dhona tidak seperti yang dituduh Alia. Tapi Ardian percaya apa yang dikatakan Alia. Ardian menarik Dhona agar keluar dari rumah.

Dhona melawan, Dhona menepis tangan Ardian. Dhona berlari ke arah Phia. Dhona kembali mendorong Phia yang berada di dalam kotak penyimpanan.

Alia tidak tinggal diam. Alia menahan kotak penyimpanan itu agar tidak bisa ke mana-mana. Phia menangis. Lirih hampir tidak terdengar dia bilang lepaskan Dhona pada Ardian.

"Ayah, Dhona mohon, antar Ibu ke rumah sakit. Ibu sekarat," Dhona masih berpegangan pada lengan Phia.

"Kamu harus keluar dari rumah ini!" Teriak Ardian.

"Apapun akan Dhona lakukan. Dhona ke sini hanya ingin melihat Ibu. Tolong sembuhkan Ibu. Ibu sakit Yah. Tolong selamatkan Ibu," Dhona mengatupkan kedua tangannya.

"Ibu tidak sakit. Dia baik-baik saja," sahut Alia.

"Kamu! Kamu yang selama ini meracuni Ibu! Yah, Alia yang meracuni Ibu. Dia yang membuat Ibu sakit!"

Seperti yang Dhona prediksi, Ardian tidak akan pernah percaya dengan apa yang dia katakan. Ardian malah menyebut Dhona gila. Ardian menarik dan memukul Dhona. Dhona kali ini melawan.

Phia berteriak histeris. Phia menjatuhkan diri dari kotak. Phia berusaha merangkak mendekati Dhona. Phia kali ini akan melindungi Dhona.

"Apa aku bukan anak kandung Ayah? Kenapa hanya Alia yang dianggap?" Dhona memegangi wajahnya yang hampir bengkak.

"Alia anak kandung Ayah. Kamu lahir hanya karena terpaksa demi mendapatkan harta warisan keluarga!"

Tidak hanya Dhona, Phia yang mendengar langsung syok. Ternyata selama ini Ardian selingkuh di belakangnya. Phia memegang dadanya yang sakit.

"Ibu!" Dhona memeluk Phia.

"Ayah, tolong bawa Ibu ke rumah sakit," kembali Dhona memohon.

Terdengar suara ketukan di depan pintu. Dua orang pria berpakaian seragam kepolisian berdiri di depan pintu.

"Maaf, kami ke sini karena mendapat telepon dari Alia," kata salah satu petugas kepolisian.

"Saya Alia. Tolong Pak tangkap dia! Dia telah melukai Ibu saya!" Alia menunjuk ke arah Dhona.

"Ti ... tidak, jangan bawa anak saya!" Phia memeluk Dhona.

Karena Alia dan Ardian terus memaksa petugas polisi membawa Dhona, akhirnya Dhona dibawa petugas polisi.

"Pak Polisi, tolong bawa Ibu saya ke rumah sakit. Tolooooooong Pak!" Dhona terus memohon.

Petugas polisi memasukkan Dhona ke dalam mobil patroli.

Dhona dari dalam mobil patroli berteriak memanggil Phia, "Mamaaaaaaaaaa!"

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Fang
Mungkinkah ini Devi?
Queen
Jgn², Devi
Queen
Astaga 😱
Queen
Dikira digebukin 🤭
Khong
yg nabrak ternyata komplotan Alia
Fang
😱😱
Fang
😱
Fang
Maklum belum honeymoon 😄
Al!f
Seru, salaj paham keluarga. Apakah Zayyan digebukin? 🤣
Al!f
Doa mau tidur 🤣
Al!f
Mantap 😍
Al!f
😱😱😱😱
Al!f
Wawwwwwe
Fang
Mukul tembok akhirnya 🤣
Fang
😱😱😱😱
Na!
Dhona ngaku
Al!f
lanjut 💪
Al!f
Tabrak aja sekalian
Al!f
/Tongue/
Al!f
Hadeh, lepas dari Alia ketemu Mak Lampir 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!