"Mulai sekarang gue yang jadi tutor lo sampai ujian kenaikan kelas."
Awalnya Jiwangga hanya butuh Keisha sebagai tutornya, itupun dia tidak sudi berdekatan dengan anak ambis seperti Keisha.
Sayang seribu sayang, bukannya menjauh, Jiwangga malah dijodohkan dengan Keisha.
Lantas bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mashimeow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Hari Bahagia Keisha
Keisha terlihat berbeda saat masuk ke sekolah hari ini. Efek menerima kabar bahagia yang sebentar lagi membuat dirinya tak sendirian di rumah itu sungguh membuat suasana hatinya sangat baik. Gadis itu menyapa semua orang dari langkah pertama menginjakkan kaki di kawasan sekolah. Ia bahkan menegur gerombolan Mila dan Chaos Brotherhood dengan senyuman lebar.
Sapaan ramahnya hanya dianggap lalu oleh mereka sedangkan beberapa lelaki di Chaos Brotherhood balas menyapa. Bahkan sebagian dari enam pemuda itu memberikan kiss bye genit ke arah Keisha. Hal itu membuat sekitar menjadi ramai sebab penuhnya teriakan rasa iri yang disuarakan oleh siswi lain.
Keisha acuh saja dan kembali melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam kelas. Si cantik menyapa kembali seluruh teman-teman satu kelasnya riang. Ia pula memeluk erat tubuh Luna ketika mereka berpapasan. Perubahan sikap itu tentu saja membuat semua orang jelas penasaran.
“Lunaa!” sapa Keisha di tengah pelukannya yang kian kencang saja. “Gue senang banget akhirnya nanti punya teman selama di rumah,” kata Keisha tepat di sebelah telinga Luna.
Luna sampai terombang-ambing tak karuan dan merasa sesak akibat pelukan yang diberi oleh Keisha. Dia melepas dekapan itu paksa agar bisa bernapas sedikit lebih leluasa. “Maksudnya gimana?” tanya Luna.
“Nyokap gue bilang kalau hari ini bakal ada anak temannya yang tinggal bareng buat 1 tahun ke depan. Alasannya sih karena orang tuanya ada dinas ke luar negri gitu urus perusahaan. Kebetulan juga nyokap ini sahabat dekat dari orang tua dia,” jelas Keisha sambil menaruh ranselnya di atas kursi.
“Lah kenapa nggak dititip ke sodaranya aja?” tanya Luna.
“Dia lahir di keluarga yang sama-sama anak tunggal gitu loh makanya nggak ada yang ngawasi kalau ditinggal sendiri,” jawab Keisha lugas.
Luna menganggukkan kepala seolah sudah mengerti. “1 tahun tuh lumayan lama loh. Gue ikut bahagia sekarang lo punya teman berbagi di rumah. Tapi jangan sampai lo lupa sama gue ya kalau udah ada dia,” kata Luna.
“Nggak akan lah kan lo sahabat terbaik gue. Katanya juga dia satu sekolah sama kita.” Keisha membuka kotak bekal berisi aneka dimsum dengan chili oil untuk dia cemili sambil menunggu jam masuk tiba.
“HAH? DEMI APA?” seru Luna nyaring nyaris berteriak itu membuat seluruh atensi warga kelas XI IPA 1 tertuju pada keduanya.
“Huum.” Keisha mengangguk sebab mulutnya terlalu penuh saat mengunyah satu buah dimsum.
“Asik dong nanti bisa kita ajak main kalau perempuan. Tapi kalau anak teman nyokap lo cowok gimana?” tanya Luna. Sedikit banyak gadis itu pula ikut bertanya-tanya tentang kemungkinan lain yang akan terjadi.
“Nggak mungkin lah cowok, Lun. Pasti cewek menurut gue. Sekarang coba lo pikir, mana ada orang tua yang mau nampung orang asing apalagi dia laki-laki buat temani anak perempuannya?” tanya balik Keisha.
Luna terdiam sejenak memikirkan kembali ucapan dari sahabatnya. Jika dipikir ulang memang pendapat dari Keisha ini tidak sepenuhnya salah. Sedetik kemudian gadis itu mengangguk. “Iya juga ya. Omongan lo nggak salah sih,” sahut Luna.
“Masukin tuh bekal lo, Pak Agung udah jalan mau ke kelas,” tegur Tristan dari arah pintu masuk saat melewati meja Keisha. Pemuda bertubuh jangkung itu menduduki bangku dua baris tidak jauh dari si pemeran utama.
Keisha menoleh masih dengan mulut yang sibuk mengunyah dimsum keduanya itu. Tidak lama setelahnya, apa yang menjadi teguran pemuda itu benar-benar menjadi kenyataan. Semua teman-teman satu kelas gadis itu berbondong-bondong masuk ke dalam dan menyiapkan buku pembelajaran.
Keisha langsung menyembunyikan bekalnya di dalam laci dan berniat menghabiskan makanan itu nanti saat jam istirahat. Sama seperti yang lain gadis itu juga ikut mengeluarkan buku-buku pelajaran fisika ke atas meja untuk dieksekusi. Keisha diam-diam meneguk air dalam botol untuk menghilangkan jejak-jejak saus mentai di sekitar bibirnya.
***
Jam istirahat memang waktu paling sibuk untuk penjual dan pembeli yang sibuk mengantre di depan stan masing-masing. Semua kursi dan meja juga penuh tak bersisa sampai melihatnya saja sudah tebanyak sesaknya seperti apa. Keisha dan Luna masing-masing memegang nampan berisi pesanan mereka tengah berdiri di antara kerumunan mencoba mencari ruang kosong untuk diduduki.
Keisha menoleh pada sekitar tetapi kerumunan siswa yang saling menempel satu sama lain membuat pandangannya terganggu. Luna juga melakukan hal serupa. Dia mencari celah di tengah penuhnya kantin utama pagi ini. Keduanya hampir saja menyerah tetapi keberuntungan masih ada untuk mereka.
“Kei! Di sini ada dua tempat kosong nih,” panggil River dari tempat pemuda itu duduk.
Keisha menoleh pada sumber suara. Tak jauh dari tempatnya berdiri ada River sedang melambaikan tangan ke arahnya. “Duduk di sana mau? Satu meja bareng anak-anak Chaos Brotherhood,” tanya Keisha pada Luna.
“Gue oke aja dari pada berdiri terus dan nggak pasti kapan dapat tempat juga,” balas Luna setuju.
“Kata mereka ada sisa tempat dua buat kita,” ucap Keisha melangkah menuju meja yang berada di tengah-tengah kantin. Dengan kedua tangan memegang nampan, si cantik berjalan hati-hati agar makanan miliknya tidak tumpah. Setelah sampai di meja Keisha menyapa River, Harvey, dan Julian. “Nggak apa-apa kan kalau gue gabung sama kalian?” tanya Keisha memastikan.
“Ya santai aja, lagian ini juga maunya si Julian—anjing,” umpat River saat merasakan nyeri saat perutnya disikut oleh Julian. Sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah ringisan.
“Tumben kalian bertiga doang. Jiwangga mana?” tanya Keisha usai menaruh makanannya.
“Dia bolos hari ini nggak tahu kenapa. Ditanya alasannya apa juga malah ngalihin ke pembahasan lain,” jawab Harvey santai.
“Gue, Harvey, sama River udah selesai. Lo habisin aja dulu makannya biar nggak ada yang kebuang percuma. Nanti kalau misal ada yang gangguin lo sama Luna, bilang aja lo duduk di sini udah dapat izin dari gue.” Julian mengambil ponsel di atas meja lalu mengantonginya.
“Selama ada nama kita sih sejauh ini nggak ada yang bisa gangguin,” kata River.
“Jam istirahat juga masih lama kok,” sahut Harvey.
“Makasih ya River, Harvey, Julian,” ucap Luna.
Keisha mengungkapkan rasa terima kasihnya dengan memberikan tanda ibu jempol ke arah Julian dan kedua temannya. Ia mengalihkan atensi pada semangkuk es pisang hijau yang begitu menggoda. Memutus tatapan mata antara dirinya dengan Harvey yang sejak awal sering kali mengawasi.