'GURUKU ISTRIKU, SURGA DUNIAKU, DAN BIDADARI HATIKU.'
***
Dia adalah gurunya, dia adalah muridnya. Sebuah cinta terlarang yang berakar di antara halaman-halaman buku teks dan derap langkah di koridor sekolah. Empat tahun lebih mereka menyembunyikan cinta yang tak seharusnya, berjuang melawan segala rintangan yang ada. Namun, takdir, dengan segala kejutannya, mempertemukan mereka di pelaminan. Apa yang terjadi selanjutnya? Petualangan cinta mereka yang penuh risiko dan janji baru saja dimulai...
--- INI ADALAH SEASON 2 DARI NOVEL GURUKU ADALAH PACARKU ---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Grace caroline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Malaikat di Hidup Aku
Di depan cermin, senyum Kaesang merekah menatap Tyas. Tyas membalasnya, senyum serupa terkembang di wajahnya saat merasakan pelukan hangat Kaesang dari belakang. Lama mereka berpelukan dalam diam, hingga sebuah kecupan lembut mendarat di puncak kepala Tyas.
"Cantik banget sih istri aku, jadi makin cinta," bisik Kaesang, lembut di telinga Tyas.
Senyum Tyas semakin melebar, memancarkan syukur dan kebahagiaan. Ia menatap bayangan Kaesang di cermin. "Suami aku juga ganteng banget, ngalah-ngalahin idol K-Pop," pujinya balik, riang.
Hati Kaesang berdesir mendengar pujian Tyas. Jika saja pujian itu datang dari wanita lain, mungkin ia akan biasa saja. Namun, dari Tyas? Wajah Kaesang langsung bersemu merah, hatinya berbunga-bunga. Betapa bahagianya ia, hanya karena pujian kecil yang dampaknya begitu besar.
"Ganteng mana aku sama artis Korea itu...ehm... Lee Min Ho?" goda Kaesang, iseng ingin menguji Tyas yang ia tahu penggemar drama Korea. Meskipun ia tak yakin Tyas kenal Lee Min Ho, aktor papan atas Korea Selatan itu, pastilah ia tahu, kan?
Senyum miring Tyas menjawab godaan Kaesang. Segudang rencana usil bermunculan di benaknya. "Gantengan Lee Min Ho, kenapa? Kamu mau protes?" balasnya, tak kalah menggoda.
Kaesang langsung manyun. Senyumnya yang tadinya merekah, sirna seketika. Ia mengira Tyas akan memuji ketampanannya dan mengaku tak kenal Lee Min Ho. Eh, ternyata...
Kaesang langsung menjauh. Tyas menoleh, mendapati Kaesang berdiri cemberut, bibirnya maju. Aduh, gemas sekali! Tyas ingin berlari, memeluk, menciumnya. Namun, ia menahan diri, lalu berdiri juga.
"Jahat ya kamu! Lebih gantengan orang lain ketimbang suami sendiri!" protes Kaesang, ngambek. Tyas gemas setengah mati melihatnya. Ia menggeleng, tersenyum tipis, lalu maju dan memeluk Kaesang.
Aroma tubuh Kaesang, yang selalu membuat Tyas mabuk kepayang, memenuhi indranya. Wangi dan menenangkan, membuatnya makin nyaman, makin cinta.
"Aku cuma bercanda Sayang. Gantengan kamu kok ketimbang Lee min ho. Buktinya aku cinta kan sama kamu dan mau nikah sama kamu? Kalau aku nggak cinta kan nggak mungkin aku mau pacaran dan nikah sama kamu," ujar Tyas, masih memeluk Kaesang erat.
Kaesang membalas pelukan Tyas, tangannya perlahan mengalung di punggung istrinya. Ia memejamkan mata, menghirup aroma tubuh Tyas yang lembut, lalu menciumnya lembut di leher. Kejutan itu membuat Tyas tersentak, namun senyum bahagia segera merekah di bibirnya.
"Kalau aku nggak ganteng kamu nggak mau pacaran sama aku?" tanya Kaesang.
Tyas tersenyum jahil. "Kalau kamu nggak ganteng mana mungkin aku tertarik sama kamu," candanya.
Kaesang tahu Tyas hanya bercanda dan sedang menjahilinya. Ia tersenyum tipis, lalu membisikkan sesuatu di telinga Tyas, "Kalau kamu nggak seksi juga mana mungkin aku suka sama kamu." Ucapannya yang bermaksud bercanda itu malah membuat mata Tyas membulat terkejut. Ia melepaskan pelukan, menatap Kaesang dengan pandangan tak percaya.
"Jadi kamu cuma mandang fisik aku doang? Nggak beneran cinta sama aku?!" tanya Tyas, matanya tajam menatap Kaesang. Kaesang tersenyum melihat kekesalan Tyas, merasa sedikit bersalah karena menggoda istrinya yang sedang hamil. Walau begitu, menjahili Tyas memang terasa menyenangkan.
Kaesang menggeleng, senyum masih mengembang di bibirnya. Dengan cepat, ia menempelkan bibirnya di bibir Tyas, mengejutkannya. Tyas tak menghindar, begitu pula Kaesang yang tetap menempelkan bibirnya.
Keduanya terpaku sesaat, bibir saling bertemu tanpa gerakan. Mata Tyas membulat sempurna. Perlahan, Kaesang memulai gerakan, melvmat bibir Tyas dengan lembut. Tyas membalasnya, tangannya mengalung di leher Kaesang. Kaesang pun membalas, tangannya melingkar di pinggang Tyas. Ciu-man mereka berlangsung beberapa saat, hingga akhirnya mereka melepasnya, nafas tersengal-sengal.
"Itu udah cukup membuktikan kan gimana perasaan aku sama kamu?" tanya Kaesang.
Tyas tersenyum malu, mengangguk. Ia terlihat lucu seperti anak kecil. "Aku tahu kok kamu kan cinta banget sama aku, sampai rela mempertaruhkan nyawamu buat nyelametin aku. Iya kan? Aku masih inget banget loh kamu sampai kecelakaan dua kali karena aku. Pertama karena nyelamatin aku dan kedua... karena kamu kecewa sama aku," suaranya berubah sedih. Melihat itu, Kaesang menggeleng, membingkai wajah Tyas dengan tangannya, menatap mata Tyas dengan tatapan serius dan penuh kasih sayang.
"Jangan bahas itu lagi, oke? Itu udah masa lalu. Sekarang masa depanmu adalah aku dan calon anak kita. Fokus sama kehamilanmu aja ya, jangan mikir yang aneh-aneh dan akhirnya bikin kamu sedih. Anak kita bisa jadi taruhannya loh. Kamu mau kalau anak kita nanti kenapa-napa?" tanya Kaesang lembut. Tyas menggeleng pelan.
"Aku nggak mau anak kita kenapa-napa. Aku mau mengandung mereka dan nanti lahirin mereka dengan selamat. Maafin aku ya," jawab Tyas lirih, matanya masih berkaca-kaca, sedih dan rasa bersalah masih terpancar jelas.
Kaesang tersenyum, mengangguk perlahan. Ia kembali memeluk Tyas, tangannya mengelus lembut rambut istrinya.
"Aku cinta banget sama kamu, Dear. Kebahagiaan kamu adalah prioritas buat aku dan anak kita nanti adalah pelengkap kebahagiaan kita. Aku begitu bersyukur bisa bertemu dan akhirnya menikah sama perempuan seperti kamu. Kamu itu adalah malaikat di hidup aku, Dear.
Orang yang ngeluarin aku dari jurang kegelapan. Terima kasih ya Sayang, aku cinta banget sama kamu," bisiknya tulus dari lubuk hati. Tyas merasa sangat bahagia, tak menyangka kehadirannya begitu berarti bagi Kaesang.
Kaesang melepaskan pelukannya. "Dear, kehamilan kamu kan masih dua bulan ya...ehm, aku pengen nih. Nggak papa kan kalau kita main bentar? Please," pintahnya, tangannya terkatup di dada, wajahnya dibuat semanis mungkin.
Tyas terkejut, tak menyangka Kaesang mengajaknya bermain sekarang juga. Namun, senyum lebar mengembang di wajahnya. Ia menarik tangan Kaesang menuju ranjang, tapi sebelum mereka sampai di ranjang Tyas menghentikan langkahnya dan berjalan menuju pintu.
Dengan cepat, ia menutup dan menguncinya, lalu menghampiri Kaesang. Di dorongnya Kaesang ke atas kasur dan Tyas pun merangkak naik. Ia duduk tepat di sebelah Kaesang yang terlentang.
"Mau pemanasan dulu, atau langsung aja?" tanya Tyas dengan suara manja, membangkitkan gairah Kaesang.
"Terserah kamu, Dear. Pokoknya kamu yang mimpin permainan kali ini," jawab Kaesang, sambil mengedipkan mata nakal.
Tyas mengerti. Ia mulai membuka kancing baju Kaesang satu per satu, melepas paka-ian mereka berdua. Setelah sama-sama tela-nja-ng, Tyas memulai serangannya pada Kaesang.
*
*
*
Beberapa menit berlalu...
"Dearrr,"
"Sshh...ini geliii, tapi enakkk!"
"A-hhhh!!"
Suasana hangat dan inti-m masih menyelimuti mereka. Tyas, dengan senyum nakal, mulai menelusuri tubuh Kaesang, sentuhannya lembut namun penuh gairah. Kaesang men-de-sah pelan, menikmati setiap sentuhan Tyas yang membuatnya semakin terbakar. Aroma tubuh mereka bercampur, menciptakan aroma yang memabukkan.
"You are h0t, Dear, I like it!" bisik Kaesang, suaranya serak.
Tyas tersenyum, matanya berbinar. Ia semakin berani, tangannya menjelajahi setiap lekuk tubuh Kaesang, menjilatinya, lalu mencivmnya. Air livr Tyas membanjiri tubuh Kaesang, tapi tidak masalah. Rasanya sangat nikmat, jauh melebihi apapun di dunia ini.
"Dearr, langsung aja dehh, nggak usah pake jil4t-jil4tan, udah nggak kuat akuu!!" pinta Kaesang, sedikit terengah-engah.
Bersambung ...