"Kaluna, putri mahkota yang terhukum penggal karena kesalahan dan dosa yang tidak pernah dia lakukan. Fitnah dan kebencian telah menghancurkan hidupnya, tetapi Kaluna tidak akan menyerah. Sebelum ajalnya tiba, dia berdoa kepada dewa untuk diberikan kesempatan kedua. Dia berjanji untuk tidak menjadi putri mahkota lagi, tetapi untuk membalas dendam kepada mereka yang telah menghancurkan hidupnya.
Apakah Kaluna akan berhasil kembali ke masa lalu dan membalas dendamnya? Ataukah dia akan terjebak dalam lingkaran kebencian dan dendam yang tidak pernah berakhir? Ikuti perjalanan Kaluna dalam cerita ini, dan temukan jawabannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady_Xiyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kematian Pangeran Alaric: Sumber Misteri Yang Belum Terungkap
Kerajaan Everword mendapatkan berita tidak menyenangkan, di tepi sungai ditemukan seorang laki-laki yang tewas dan terluka parah, namun wajahnya tidak dapat dikenali. Namun, korban tersebut memiliki ciri-ciri yang mirip dengan Pangeran Alaric.
Raja Everard III segera memanggil Putra Mahkota Kael dan meminta dia untuk menyelidiki kasus tersebut. "Kael, aku ingin kamu menyelidiki kasus ini. Cari tahu siapa korban tersebut dan pastikan apakah dia Pangeran Alaric atau bukan," kata Raja Everard dengan suara serius.
Kael mengangguk. "Baik, ayahanda raja. Aku akan menyelidiki kasus ini dan mencari tahu apa yang terjadi."
Kael segera pergi ke tempat kejadian dan mulai menyelidiki. Dia menemukan beberapa petunjuk yang menunjukkan bahwa korban tersebut memang memiliki ciri-ciri yang mirip dengan Pangeran Alaric.
Kael segera menemui ayahnya dan mengatakan kalau mayat tersebut adalah adik kedua, Pangeran Alaric. "Salam ayahanda raja saya telah kembali dan sudah mengkonfirmasi mayat tersebut."
"Apakah benar dia Pangeran Alaric?" tanya raja Everard ragu-ragu.
Putra mahkota Kael menganggukkan kepalanya dan tersenyum dalam hati karena rencana lord Bagus berhasil. "Jangan bercanda kau mana mungkin itu Alaric."
"Aku sendiri telah melihat tanda lahirnya dan tanda pengenalnya dia itu adikku walaupun berbeda ibu," sergah Putra mahkota Kael mimik sedih.
Damian belum selesai berbicara dengan Kael terjeda dengan kehadiran Ratu Calantha yang berjalan tergesa-gesa ke dalam aula istana di dampingi istrinya, kaluna dan ibunda grand duchess Elianora.
"Apakah benar mayat tersebut putraku Alaric putra mahkota Kael?" tanya ratu Calantha mendesak sang putra mahkota.
"Tenanglah ratuku," ujar raja everard segera turun dari tahta dan mendekati sang ratu.
"Kau pikir aku bisa tenang mendengar putraku jatuh ke jurang dan setelah dua minggu dalam pencarian sekarang aku mendapatkan berita bahwa putra telah tewas."
Ratu Calantha histeris dan menangis, sementara Kael dan yang lainnya mencoba untuk menenangkannya.
Ratu Calantha terus menangis dan meratap, tidak dapat menerima kenyataan bahwa putranya telah meninggal. Kael mencoba untuk menenangkannya, tapi dia sendiri juga merasa sedih dan shock.
"Ibunda ratu, aku minta maaf. Aku tidak bisa melindungi Alaric," kata Kael dengan suara yang terguncang.
Ratu Calantha menatap Kael dengan mata yang merah dan bengkak. "Ini bukan salahmu, Kael. Ini adalah kehendak Tuhan."
Raja Everard memeluk Ratu Calantha dan mencoba untuk menenangkannya. "Kita harus kuat, ratuku. Kita harus melindungi kerajaan dan rakyat kita."
Ratu Calantha mengangguk, tapi dia masih terlihat sedih dan shock. Kael dan yang lainnya mencoba untuk menenangkannya dan memberikan dukungan.
Sementara itu, di luar istana, Lord Bagus tersenyum puas. "Rencana saya telah berhasil. Pangeran Alaric telah meninggal, dan sekarang saya dapat melanjutkan rencana saya untuk mengambil alih kerajaan."
Tapi, apa yang tidak diketahui Lord Bagus adalah bahwa Pangeran Alaric masih hidup, dan dia sedang merencanakan balas dendam terhadap Lord Bagus dan yang lainnya yang telah berusaha untuk membunuhnya.
...****************...
Pangeran Alaric terbaring di tempat tidur, masih merasa sakit dan lemah setelah jatuh dari jurang. Dia masih tidak percaya bahwa Lord Bagus dan yang lainnya telah berusaha untuk membunuhnya.
"Aku harus keluar dari sini," kata Pangeran Alaric kepada dirinya sendiri. "Aku harus mencari tahu siapa yang berusaha untuk membunuhku dan mengapa."
Pangeran Alaric berusaha untuk bangun dari tempat tidur, tapi dia masih terlalu lemah. Dia membutuhkan waktu untuk pulih dan menjadi kuat lagi.
Sementara itu, di istana, Ratu Calantha masih terlihat sedih dan shock setelah mendengar kabar tentang kematian Pangeran Alaric. Raja Everad III dan yang lainnya mencoba untuk menenangkannya, tapi dia masih tidak dapat menerima kenyataan.
"Ratuku, aku minta maaf," kata Raja Everard III lagi. "Aku tidak bisa melindungi Alaric."
Ratu Calantha menatap Raja Everard III dengan mata yang merah dan bengkak. "Aku tidak menyalahkanmu, suamiku. Aku hanya ingin tahu siapa yang berusaha untuk membunuh putraku."
Raja Everard III mengangguk. "Aku akan mencari tahu, ratuku. Aku akan melakukan segala yang aku bisa untuk mencari tahu siapa yang berusaha untuk membunuh Alaric."
Ratu Calantha mengangguk, tapi dia masih terlihat sedih dan shock. Raja Everard III dan yang lainnya mencoba untuk menenangkannya, tapi dia masih tidak dapat menerima kenyataan.
Sementara itu, di luar istana, Pangeran Alaric mulai merencanakan balas dendam terhadap Lord Bagus dan yang lainnya yang telah berusaha untuk membunuhnya. Dia tidak akan menyerah sampai dia mendapatkan keadilan.
Pangeran Alaric memulai rencana balas dendamnya dengan mengumpulkan informasi tentang Lord Bagus dan sekutunya. Dia ingin tahu siapa saja yang terlibat dalam percobaan pembunuhannya dan apa motif mereka.
Sementara itu, di istana, Ratu Calantha masih terlihat sedih dan shock. Dia tidak dapat menerima kenyataan bahwa putranya telah meninggal. Raja Everard III dan yang lainnya mencoba untuk menenangkannya, tapi dia masih tidak dapat menerima kenyataan.
Raja Everard III memutuskan untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut tentang kematian Pangeran Alaric. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dan siapa yang bertanggung jawab atas kematian putranya.
Sementara itu, Pangeran Alaric semakin dekat dengan tujuannya untuk membalas dendam. Dia telah mengumpulkan cukup informasi tentang Lord Bagus dan sekutunya, dan sekarang dia siap untuk bertindak.
...****************...
Damian sedang melamun memandang keluar jendela kamar di kastil winterbourne di ibukota. Kaluna memasuki kamar pribadi mereka dan melihat sang suami yang sedang melamun dia akhir mendekatinya.
"Apa yang sedang di pikirkan oleh suamiku?" tanya Kaluna dan memeluk Damian dari belakang.
Damian yang sedang melamun tersentak dengan kehadiran tangan lentik dan lembut yang memeluknya dari belakang.
"Aku sedang memikirkan Alaric, aku tidak percaya kalau pria tersebut Alaric karena sejak kecil dan dewasa kami tumbuh bersama dan belajar dengan guru yang sama." terang Damian ragu dan heran.
Kaluna memeluk Damian lebih erat dan mencium leher suaminya. "Aku juga tidak percaya, suamiku. Aku masih ingat saat kita semua bermain bersama di taman istana. Pangeran Alaric selalu menjadi yang terdepan dalam permainan kita."
Damian mengangguk, masih terlihat ragu. "Aku tahu, Kaluna. Aku juga masih ingat saat-saat itu. Tapi, aku tidak bisa membayangkan bahwa Alaric bisa meninggal seperti itu."
Kaluna melepaskan pelukannya dan berpindah ke samping Damian. "Apa yang membuatmu ragu, suamiku? Apakah ada sesuatu yang tidak beres?"
Damian memandang Kaluna dengan mata yang serius. "Aku tidak tahu, Kaluna. Aku hanya merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Aku ingin menyelidiki lebih lanjut tentang kematian Alaric."
Kaluna mengangguk. "Aku setuju, suamiku. Kita harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Alaric."
Damian dan Kaluna memutuskan untuk menyelidiki lebih lanjut tentang kematian Alaric. Mereka memutuskan untuk pergi ke tempat kejadian dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Saat mereka tiba di tempat kejadian, mereka melihat bahwa tempat itu sudah diproses oleh penjaga istana. Tapi, Damian masih bisa melihat beberapa petunjuk yang menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
"Apa itu?" tanya Kaluna, melihat Damian yang sedang memeriksa sesuatu.
Damian menunjukkan sebuah jejak kaki yang tidak biasa. "Lihat ini, Kaluna. Jejak kaki ini tidak biasa. Sepertinya ada seseorang yang berusaha untuk menyembunyikan sesuatu."
Kaluna mengangguk. "Aku pikir kamu benar, Damian. Kita harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Mereka berdua memutuskan untuk terus menyelidiki dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Alaric. Tapi, mereka tidak tahu bahwa mereka sedang diawasi oleh seseorang yang tidak ingin mereka mengetahui kebenaran.
...To Be Continued...
Note:
Terimakasih telah membaca cerita jangan lupa komen, kritik dan saran ya 😊 jangan lupa tinggalkan jejak😊 sayang kalian semua semoga kalian suka🥰🥰Biar saya tambah semangat membuat kelanjutan ceritanya Terimakasih love you all sayang
kalau saya cepetin nantinya malah gak ada pembahasan sih😊 nanti saya akan mencoba saran kamu/Smile//Smile/