Dimalam pengantin yang seharusnya sakral ternyata menjadi mimpi buruk bagi Luna dimana ia melakukan ritual olahraga pertamanya dengan adik iparnya yang bernama Damian.
Suami Luna yang bernama Sebastian langsung menjatuhkan talak kepada Luna.
Orang tua Luna sangat murka dan ia meminta Damian untuk menikah dengan Luna.
Luna berjanji akan membalas dendam kepada Damian yang sudah menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
"MAMA!" Luna langsing membuka matanya saat dirinya mengalami mimpi buruk.
Jayden membuka matanya dan melihat Luna yang sedang menangis sesenggukan sambil memanggil nama Mamanya.
Ia pun langsung memeluk tubuh Luna yang sedang menangis.
"Ada apa? Kamu kenapa?" tanya Jayden.
"M-mama, aku melihat Mama sedang menangis. Aku ingin bertemu dengan Mama." jawab Luna.
Jayden meminta Luna untuk menenangkan dirinya dan ia mengambil ponselnya untuk menghubungi orang tua Luna.
Disaat akan menghubungimu orang tua Luna tiba-tiba ponselnya berdering.
"Iya Edward ada apa?" tanya Jayden
"Apakah anda baik-baik saja? Apakah anda di rumah sakit?" tanya Edward dengan suara gemetar.
"Aku baik-baik saja. Memang ada apa?" Jayden kembali bertanya kepada Edward.
Edward memberitahukan bahwa rumah Luna mengalami kebakaran dan semuanya sudah rata dengan tanah.
"APA?! B-baiklah aku akan segera kesana." Jayden langsung menutup ponselnya.
"Ada apa Jayden?" tanya Luna.
Jayden terdiam sambil memandang wajah Luna yang kebingungan.
"Ada apa? Kenapa kamu memandangku seperti itu?" tanya Luna.
"Tidak ada apa-apa. Aku mau mandi dulu." jawab Jayden yang tidak bisa memberitahukan kalau rumahnya kebakaran.
Jayden segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Setelah itu ia keluar dari kamar mandi dan mengganti pakaiannya.
"Kamu disini dulu, aku masih ada urusan." ucap Jayden.
"Urusan ini yang kamu maksud?" Luna menunjukkan ponsel Jayden dimana Edward mengirimkan video rumah Luna yang sudah hangus terbakar.
Jayden tidak menyadari jika ia belum mengunci ponselnya sehingga Luna bisa melihat apa yang dikirim oleh Edward.
"Aku ingin pulang."
Jayden pun langsung mengajak Luna untuk pulang ke rumah.
Luna berharap agar kedua orang tuanya tidak berada di rumah.
Di sepanjang perjalanan Jayden melihat Luna yang hanya diam dengan tatapan mata yang kosong.
Dari kejauhan Jayden melihat mobil polisi dan mobil pemadam kebakaran yang masih ada di depan rumah Luna.
Disaat Luna akan membuka pintu, Jayden langsung menahannya untuk tidak turun dari mobil.
"Ada Damian disana, lebih baik aku saja yang turun." ucap Jayden.
Luna pun mengurungkan niatnya untuk turun dari mobil.
Jayden mengambil masker untuk menutupi wajahnya agar Damian tidak mengenalinya.
Ia pun segera turun dan menghampiri polisi yang sedang ada disana.
Polisi mengatakan kalau ditemukan dua korban yang meninggal dunia dan sudah menjadi abu.
Jayden menanyakan tentang penyebab kebakaran rumah Luna.
"Apakah anda mengenal korban?" tanya polisi.
Jayden mengatakan kalau ia kelurga jauh yang tidak sengaja melihat berita yang ada di televisi sampai akhirnya ia datang ke rumah Luna.
Akhirnya polisi mengatakan kalau penyebab kebakaran adalah gas yang bocor.
Damian melihat seseorang yang sedang mengobrol dengan polisi.
Melihat Damian yang berjalan ke arahnya, Jayden langsung menghindari dan masuk ke dalam mobil.
Ia pun langsung melajukan mobilnya agar Damian tidak mencurigainya.
Jayden menggenggam tangan Luna yang sedang memandanginya.
Di tengah perjalanan Jayden menghentikan mobilnya dan ia langsung memeluk tubuh Luna.
"Kamu yang sabar ya, Mama sama Papa sudah meninggal dunia." ucap Jayden.
Luna menggelengkan kepalanya sambil memukul-mukul punggung Jayden.
"Seharusnya aku tidak meninggalkan mereka berdua. Aku sudah membunuh mereka berdua. Aku jahat. Mama, Papa maafkan Luna."
Jayden meneteskan air matanya saat mendengar perkataan Luna yang menyalahgunakan dirinya.
"Ini bukan salah kamu Luna. Jangan menyalahkan dirimu sendiri."
Luna yang sedang hamil dan perutnya juga masih belum terisi apapuni akhirnya ia jatuh pingsan di pelukan Jayden.
Jayden tidak mendengar suara tangisan Luna dan ia merasa tubuh Luna yang tidak bergerak.
"Luna! Bangun Luna!" Jayden menepuk pipi Luna yang sedang tidak sadarkan diri.
Hal yang ditakutkan oleh Jayden akhirnya terjadi juga.
Ia pun segera membawa Luna ke rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit dokter meminta Jayden untuk menunggu di luar.
Jayden mondar mandir di depan ruang UGD dan berharap jika Luna dan kandungannya dalam keadaan baik-baik saja.
Tak berselang lama dokter keluar dan memanggil Jayden.
"Bagaimana keadaannya Dok?"
"Keadaan pasien sangat lemah sehingga kami harus menaruhnya di ruang ICU."
Mendengar perkataan dari dokter, tubuh Jayden seketika lemas.
Jayden merasa bersalah karena tidak bisa melindungi Luna.
Perawat memindahkan Luna.ke ruang ICU dimana banyak alat medis yang menempel di tubuh Luna.
Jayden berdiri dari kejauhan saat menatap wajah Luna yang masih belum sadarkan diri.
"Tuan Jayden." Edward menepuk pundak Jayden yang sedang berdiri.
"Apakah kamu sudah menemukan siapa yang telah membunuh orang tua Luna?" tanya Jayden.
Edwar menganggukkan kepalanya dan ia sudah mengambil rekaman cctv yang ada di depan rumah Luna.
Jayden langsung membuka isi rekaman cctv itu dan ia langsung membelalakkan matanya saat melihat Dilan yang masuk ke rumah Luna.
Hanya itu yang bisa dilihat oleh Jayden karena setelah itu Cctv dirusak oleh anak buah Dilan.
"Apakah Damian juga terlibat?" tanya Jayden.
"Sepertinya tidak Tuan, karena disaat kejadian itu. Tuan Damian ada di rumahnya." jawab Edward.
Jayden memerintahkan Edward untuk memberikan rekaman cctv itu kepada polisi.
Edward menganggukkan kepalanya dan ia pun langsung menuju ke kantor polisi.
Sementara itu di tempat lain Damian baru saja memakamkan kedua orang tua Luna yang sudah menjadi abu.
Damian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memandang foto Luna.
"Sayang, kenapa kamu sembunyi? Aku merindukanmu sayang." ucap Damian yang tadi tidak sengaja melihat Luna yang berada di dalam mobil.
Ia semakin penasaran kenapa Luna tidak mau menemuinya dan malah bersama lelaki lain.
Damian langsung bangkit dari tempat tidurnya dan mencari keberadaan istrinya.
Ia harus tahu kenapa Luna tidak mau menemuinya dan malah memilih dengan lelaki lain.
Baru saja akan melakukan mobilnya ia dikejutkan dengan kedatangan beberapa polisi.
"Ada apa Pak?" tanya Damian.
Polisi meminta Damian untuk ikut ke kantor polisi dimana mereka sudah menangkap Dilan.
Damian langsung melajukan mobilnya menuju ke kantor polisi.
Sesampainya di kantor polisi ia melihat Ayana yang sedang menangis sesenggukan.
Ayana meminta Damian untuk membebaskan Dilan yang sekarang sudah berada di dalam penjara.
Damian masih tidak tahu apa yang terjadi sampai Dilan berada di penjara.
"Apa yang terjadi Pak?" tanya Damian.
"Tuan Dilan kami tetapkan tersangka kasus pembunuhan kedua orang tua Luna." jawab Petugas polisi.
Damian yang mendengarnya langsung terkejut karena ia tidak menyangka jika Dilan menghabisi orang tua Luna.
Petugas polisi memperlihatkan bukti dimana Dilan orang terakhir yang berada di rumah orang tua Luna.
"Mas Damian, Tolong selamatkan Kak Dilan."
"Aku tidak bisa membebaskan kakakmu yang sudah melakukan kejahatan." jawab Damian.
Ayana menangis histeris dan ia meminta Damian untuk membebaskan Dilan.
"Kalau Mas Damian tidak mau membebaskan Kak Damian. Lebih baik aku mati saja." ucap Ayana.
Damian menghentikan langkahnya dan ia langsung berbalik ke arah Ayana.
Ayana tersenyum tipis saat melihat Damian yang berjalan ke arahnya.
"Jika kamu ingin mengakhiri hidupmu silahkan." bisik Damian.
Damian langsung keluar dari kantor polisi dan sekarang ia kembali mencari keberadaan Luna.