Saat Sora membuka mata, dia terkejut. Dia terbangun di sebuah hutan rindang dan gelap. Ia berjalan berusaha mencari jalan keluar, tapi dia malah melihat sebuah mata berwarna merah di kegelapan. Sora pun berlari menghindarinya.
Disaat Sora sudah mulai kelelahan, dia melihat sesosok pria yang berdiri membelakanginya. "Tolong aku!" tanpa sadar Sora meminta bantuannya.
Pria itu membalikkan badannya, membuat Sora lebih terkejut. Pria itu juga memiliki mata berwarna merah.
Sora mendorongnya menjauh, tapi Pria itu menarik tangannya membuat Sora tidak bisa kabur.
"Lepaskan aku." Sora terus memberontak, tapi pegangan pria itu sangat erat.
"Kau adalah milikku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bbyys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Kerajaan Altair
Flora berjalan menuju bangunan belakang. Terlihat ada sebuah bangunan yang dibangun dengan sederhana dari bangunan lainnya.
Saat memasuki ruangan, terlihat ada sebuah bak mandi besar ditengah ruangannya. Para wanita sedang berkerumun di bak itu. Membasuh rambut serta badan mereka.
"Kita mandi disini?" Sora terkejut melihat pemandangan yang ia lihat.
Tempat itu terlihat seperti pemandian terbuka. Para wanita mandi tanpa mengenakan busana. Mereka tampak tak malu dan sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing.
"Kau tak pernah mandi bersama?" tanya Flora.
"Iya. Aku tidak pernah." ucap Sora.
Flora menarik tangan Sora berjalan lebih dalam. "Jika kau malu kau bisa gunakan tempat ini."
Flora menunjukkan ada bilik kecil dengan bak kecil didalamnya. Bilik itu ditutupi hanya dengan sebuah kain yang diikat yang digunakan sebagai pengganti pintu.
"Kau bisa ambil air dari kolam ke dalam bak itu." Flora menjelaskan.
Sora mengikuti arahan Flora. Mengambil air dari kolam dan mengisi penuh bak air di dalam bilik. Lalu membuka pakaiannya. Karena biliknya hanya ditutupi kain tipis rasanya masih tidak terlalu nyaman.
Sora langsung mengguyur seluruh tubuhnya dengan air, membersihkan diri dengan sabun yang baru diberikan. Sayangnya disini tidak ada sampo jadi Sora terpaksa membersihkan rambutnya menggunakan sabun mandi. Sora bergegas mandi dengan cepat. Setelah selesai dia langsung bergegas memakai pakaiannya dan keluar kamar mandi.
Flora masih mandi bersama yang lain.
Sora langsung meninggalkannya dan memutuskan untuk menunggunya dikamar tidur.
"Kau sudah selesai mandinya?" tanya Flora yang datang dengan rambut basahnya.
"Iya." Sora menjawab dengan singkat.
Setelah selesai mandi, Flora langsung menarik Sora ke ruang makan. Menikmati sepiring pasta panas ditemani roti keras yang tadi siang Sora makan.
"Ahh kenyangnya." Sora langsung merebahkan diri dikasurnya.
Hari ini adalah hari terberat dan melelahkan dihidupnya. Dia mengalami hal menakutkan kemarin, sekarang ia harus bekerja sebagai buruh cuci.
Pekerjaan yang tidak begitu dia sukai.
Sora memperhatikan atap kayu diatas. Lalu menghela nafas panjang.
"Apa aku bisa kembali keduniaku?" lirih Sora sambil menutup matanya, Tertidur lelap.
...****************...
"Ibu ... Ibu ...."
Panggil seorang gadis kecil berambut merah muda. Sepertinya, Sekitar umur 7 tahun. la berlari menghampiri ibunya sambil membawa setangkai bunga.
Anak kecil itu memberikannya lalu memeluk seorang wanita cantik. Wanita itu memiliki rambut yang sama dengan anak kecil itu.
"Ada apa ini?" tanyanya saat anak itu memeluknya dengan erat. "Apa kau habis membuat masalah?" tuduhnya.
Anak kecil itu mengerucutkan bibir nya. "Tidak! Aku tidak berbuat nakal. Aku hanya senang karena aku memiliki ibu paling cantik didunia ini." Sambil memeluk ibunya.
Wanita berambut merah muda itu memandangi anaknya dengan mata emasnya dan memandanginya dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Aku sayang ibu." ucap gadis itu.
"Ibu juga sayang Sora" Wanita itu membalas pelukannya. "Kau adalah berkah dalam hidupku, Sora."
...****************...
"Sora!"
"Sora!"
"Hmm ...."
Dengan keadaan masih sangat mengantuk, Sora membuka matanya. Melihat teman sekamarnya Flora yang sedang mengguncang tubuhnya dengan pelan.
"Ayo, Sora. Sudah waktunya untuk bangun dan kembali bekerja." Flora kembali mengguncang tubuh Sora.
Sora menggosok matanya yang masih terasa berat. Semalam dia seperti bermimpi hal yang aneh. Ia melihat seorang gadis kecil bersama ibunya. Sora mendengar wanita itu memanggil nama gadis itu.
Namanya sama denganku, Sora?
"Sebenarnya mimpi apa itu." gumam Sora.
.
.
.
'Kerajaan Altair adalah kerajaan yang sudah berdiri sejak 500 tahun yang lalu. Saat ini kerajaan dipimpin oleh raja dermawan yang bernama Orion Altair.
Sudah 10 tahun berlalu semenjak perang besar antar kerajaan dan penyihir hitam dan setahun setelahnya pasukan pemburu monster di bentuk.
Mereka dibentuk sebagai upaya untuk menghentikan dan memusnahkan para monster yang sudah menjadi keresahan para warga.
Meskipun perang telah berlalu dan kemenangan bagi kerajaan telah ditangani tapi kehadiran monster itu tidak dapat dihilangkan.
Seperti yang ada di cerita novel fantasi. Dunia ini ada yang namanya penyihir. Penyihir putih dan hitam. Penyihir hitam adalah dalang dari semua kehadiran para monster itu. Mereka melakukan banyak ekperimen dan menyebarkan banyak monster diseluruh benua. Para monster itu berkembang biak dan semakin banyak jumlahnya. Sedangkan penyihir putih adalah penyihir yang mendapat karunia dari tuhan. Mereka memiliki energi putih yang bisa digunakan untuk menyembuhkan dan melindungi. Sayangnya kekuatan penyihir putih tidak terlalu kuat.'
...****************...
Tidak terasa sudah sebulan Sora sudah tinggal di camp ini. Banyak hal yang sudah dia ketahui. Membuatnya bisa menyesuaikan diri dengan baik.
"Flora aku sudah selesai. Aku akan mengangkat cucian yang sudah kering."
"Iya." ucap Flora.
Sora mengambil keranjang besar dan membawanya ke tempat penjemuran.
Hari ini langitnya sangat cerah. Padahal semenjak kemarin hujan terus turun. Untungnya cuciannya cepat kering sebelum hujan datang lagi.
Sora melihat pelayan yang sedang berkumpul. "Apa yang kalian lakukan?"
Sora melihat mereka berkumpul di bawah pohon pinus sambil membawa sebuah keranjang.
"Kami sedang mengumpulkan buah pinus." Mereka menunjukkan sebuah buah berwarna hijau yang berbentuk kerucut seperti pohon natal.
Sora tak mengerti apa yang mereka lakukan. "Untuk apa kalian mengumpulkan buah itu?" tanyanya.
Mereka menjawab dengan antusias. "Tentu aja untuk dimakan."
"Dimakan?" Sora bingung.
Sora memiringkan kepalanya. Buah yang tak terlihat seperti buah itu bisa dimakan. Kelihatannya kulitnya keras dan tidak ada daging buahnya.
"Akan aku tunjukkan." Pelayan itu melihat kebingungan Sora, lalu ia mengetok buah itu. Dari buah itu keluar beberapa buah biji. "Yang akan kita makan bijinya ini."
Sora mengambil biji itu. Bentuknya pipih dan bulat, warnanya putih kekuningan. Sekilas terlihat seperti biji kuaci. Dia baru pertama kali melihat biji pinus.
Pelayan: "Bijinya bisa jadi topping untuk pancake."
"Jika di beri apple sauce akan lebih nikmat." Sahut yang lain.
"Dijadiin kue kering juga enak dengan topping biji pinus diatasnya." ucap yang lainnya.
Semua orang sedang membayangkan makanan itu. Mereka tampak tak sabar ingin menikmati biji pinus itu.
"Kalian sedang apa?"
Tiba-tiba beberapa orang prajurit datang menghampiri. Mereka tampak penasaran.
Ketika Sora melihat prajurit itu ia langsung antusias memanggil "Myron! Soren! Remi!"
Mereka adalah prajurit yang dekat dengannya, Berkat bantuan mereka dia jadi bisa membiasakan diri hidup di camp ini.
"Apa yang sedang kau lakukan, Sora." sapa Myron.
Sora tersenyum ramah. "Mereka sedang mengumpulkan buah pinus. Aku mendekati mereka karena penasaran juga. Aku tidak tahu buah pinus ini bisa dimakan.
Myron: "...."
"Biasanya bijinya yang akan dimakan, apakah makan malam hari ini adalah biji pinus?" tanya Remi.
"Iya. Koki meminta kami mengumpulkan buah pinus dan akan memasak pancake biji pinus." Pelayan menjawab.
"Koki bilang bulan mei ini adalah puncaknya tanaman pinus berbuah." Timpal yang lain.
Myron berkata, "Wahh ... Aku tak sabar untuk memakannya."
"Sora, kau pasti akan suka juga." ucapnya.
"Aku belum pernah memakannya. Tapi aku penasaran seperti apa rasanya." ucap Sora.
"Sora apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Soren dengan suaranya yang berat dan kaku.
Seorang pria bertubuh besar dengan alis tebal. Meski cara bicaranya kaku dan tampangnya sedikit menyeramkan tapi sebenarnya dia sangat baik dan lembut. Sora mengenal Soren karena Myron. Mereka teman satu desa.
"Ohh ... iya! Aku tadi sedang mengangkat jemuran." Sora langsung berlari meninggalkan mereka dan melanjutkan pekerjaannya.
"Aku bantu!" tawar Myron.
Myron ikut berlari menghampirinya diikuti Soren dan Remi tepat dibelakangnya.
Sora langsung menolaknya. "Tidak perlu! Kalian pasti lelah setelah habis berlatih."
Sora tidak ingin merepotkan mereka. Mereka terlalu sering membantunya. Padahal menjadi prajurit cukup berat juga.
"Tidak perlu khawatir. Kami itu kuat. Lebih kuat dari yang kau pikirkan." sahut Myron.
"Be ... betul. Ka ... kami kuat." sahut Remi, cara bicaranya tergagap.
Remi yang biasanya hanya diam kini malah ikut-ikutan. Pria bertubuh kecil dan pemalu itu selalu mengikuti Myron. Entah mengapa ia bisa masuk ke dalam pasukan ini.
Soren berkata, "Itu benar. Sebaiknya kita harus cepat, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan."
Sora melihat ke langit. Beberapa menit yang lalu langitnya masih terang berawan. Kini awan hitam perlahan mulai bergerak ke arah mereka.
Musim semi memang menjadi musim yang tak menentu. Kadang panas, kadang hujan, kadang suasananya sejuk.
"Ayo cepat angkat!" ucap Myron.
Myron langsung meletakkan baju-baju itu ke keranjang. Soren dan Remi ikut membantu juga. Sora tidak bisa menghentikan mereka lagi. Mau tidak mau ia menerima bantuan itu. Berkat bantuan mereka pekerjaannya selesai dengan cepat.
"Baju-baju ini akan dibawa kemana?" tanya Myron.
"Sudah ... Sudah ... Sisanya akan aku lakukan sendiri." Sora langsung menolak.
"Biasanya di bawa ke ruang laundry kan ya?" ucap Myron.
"Iya betul." sahut Soren.
Mereka tidak mendengarkan Sora, Mereka langsung membawa keranjang pakaian ketempat laundry. Sora berusaha menghentikan mereka.
"Kalian tidak perlu membantuku lagi. Seharusnya kalian memanfaatkan waktu istirahat kalian dengan baik." ucap Sora berusaha memberi pengertian.
"Membantumu juga termasuk memanfaatkan waktu." sahut Myron.
"Be ... betul." sambut Remi.
Sora hanya bisa mengikuti kemauan mereka.
Mereka sungguh keras kepala. Tak ada yang mau mendengarkannya dan hanya berbuat sesuka mereka.
Tiba-tiba sekumpulan wanita datang. "Bisa-bisanya. Semua orang sedang sibuk bekerja. Disini malah ada yang sedang tebar pesona. Entah sihir apa yang dia gunakan."
Elena datang bersama teman-temannya. Entah ia habis darimana hingga membuat Sora berpapasan dengan mereka.
"Hei ... apa maksudmu?" tanya Sora.
"Benarkan? kita sudah susah payah kerja keras tapi disini malah ada orang yang seenaknya." sindirnya.