Shanum adalah seorang gadis desa yang di besarkan di keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai seorang OB di sebuah perusahaan terbesar di kota Metropolitan. Karena kecerdasan yang di miliki Shanum ia selalu mendapatkan beasiswa hingga ke Perguruan Tinggi. Namun sayang semua yang ia dapat tidaklah cuma-cuma. Di balik Beasiswa yang di dapat Shanum ternyata ada niat terselubung dari sang Donatur. Yaitu ingin menjodohkan sang Putra dengan Shanum padahal Putranya sudah memiliki Istri. Apakah Shanum bersiap menerima perjodohan itu! Dan Apakah Shanum akan bahagia jika dia di poligami??? Ikuti terus ceritanya.... Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Sudaryanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35.
Malam ini Stefani tidak bisa tidur. Ia merasa gelisah karena sejak kedatangannya Bisma belum juga pulang. Pikirannya terus melayang. Ia sudah berulang kali mencoba menghubungi Bisma namun, telponnya tak kunjung di angkat. Rasa penasarannya semakin membuatnya tidak bisa tidur.
Dalam kegelisahan itu, Stefani memutuskan untuk menunggunya di ruang tamu. Ia akan merasa lebih tenang di sana sambil menunggu kepulangan Bisma. Jam terus berjalan. Tapi belum ada tanda-tanda kepulangan Bisma.
Ketika jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam, tiba-tiba Stefani mendengar suara mobil memasuki halaman rumah mewah tersebut. Hatinya berdebar kencang. Segera ia beranjak dari kursi dan berjalan menuju jendela. Untuk melihat siapa yang datang.
Melalui jendela, Stefani dapat melihat Bisma yang baru saja keluar dari mobil, dan di bantu Azam, asisten pribadinya. Wajah Bisma terlihat seperti baru bangun tidur dan itu membuat Stefani makin tambah penasaran. Stefani juga tampak terkejut saat ada seorang wanita yang turun dari mobil setelah Bisma. "Apakah perempuan itu yang di nikahi Mas Bisma." batin Stefani.
Shanum mendorong kursi roda Bisma hingga masuk ke dalam rumah. Stefani buru-buru membuka pintu. Dan berjalan menyambut kepulangan Bisma.
"Honey, kamu dari mana? Kenapa baru pulang! Dan panggilan ku juga tidak kamu angkat." Tanya Stefani dengan tatapan cemas.
Sebelum menjawab, Bisma mengalihkan pandangannya pada Azam untuk mengucapkan terimakasih. Dan memintanya untuk pulang. Setelah itu barulah Bisma melihat ke arah Stefani lagi.
"Aku ada sedikit urusan di kantor. Dan kenapa kamu belum tidur?" Bisma balik bertanya dan menghindari pandangan dari istrinya.
"Aku menunggu kamu Honey, aku khawatir sama kamu. Jawab Stefani dengan tegas. Mencoba menyembunyikan rasa cemas yang ada di hatinya.
"Oh, ya! Alangkah senangnya ketika pulang ada yang nungguin." ucap Bisma dengan senyum sinis yang mengusik rasa sakit di hati Stefani.
"Kamu kok gitu Mas!! Kamu sengaja ya nyindir aku." ujar Stefani dengan kesal, jengkel yang terpancar dari wajahnya.
"Bukankah seperti itu kenyataannya, selama ini kamu kan tidak pernah perduli dengan ku. Kamu selalu sibuk dengan karir yang kamu bangga-banggakan." ujar Bisma menatap Stefani.
"Mas, kamu kok jadi marah-marah sama sih sama aku. Apa karena perempuan ini!!! Iya? Dia yang sudah mencuci otak kamu. Bukankah selama ini kamu tidak pernah mempermasalahkan tentang itu." Stefani mendengus kesal.
"Jangan pernah kamu menyalahkan Shanum. Dia tidak seperti kamu." bentak Bisma.
"Mas, kenapaa kamu masih bersama perempuan itu. Bukankah kamu dulu berjanji jika aku kembali maka kamu akan menceraikan dia." Stefani menunjuk kearah Shanum.
"Jaga ucapan kamu Stefani. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menceraikan Shanum." ucap Bisma dengan tegas.
"Ayo Shanum kita masuk ke dalam, Mas ingin segera istirahat." Bisma mengajak Shanum untuk masuk ke dalam.
Shanum pun menganggukkan kepala, lalu mendorong kursi roda Bisma untuk masuk ke dalam. Mereka berdua meninggalkan Stefani dengan rasa amarahnya yang memuncak.
"Mas, tunggu aku. Kita harus bicara." teriak Stefani lalu mengejar Bisma.
"Semua ini gara-gara kamu." ujar Stefani lalu mendorong Shanum. Shanum yang tidak siap akhirnya jatuh ke lantai.
"Stefani, apa-apa kamu...... " bentak Bisma.
"Ya semua gara-gara perempuan itu kamu bersikap dingin pada ku..... " ucap Stefani dengan nada tinggi.
Shanum pun bangkit dan menggelengkan kepala agar Bisma tidak bertindak kasar pada Stefani.
"Sudahlah Mas, aku tidak apa-apa." ucap Shanum sambil mengusap B*k*ngnya.
"Mas, aku ke kamar duluan ya. Mungkin Mas butuh waktu buat menyelesaikan masalah Mas sama Mbak Stefani." pamit Shanum.
"Ya sudah kamu naik aja duluan." perintah Bisma.
"Hehhhh..... Perempuan jalang, urusan kita belum selesai." teriak Stefani....
"Sudah, jangan bikin ribut. Ini sudah malam. Kasian, ganggu yang lainnya sedang istirahat." sambil berbalik badan lalu mendorong kursi rodanya untuk masuk ke dalam lift.
Stefani berjalan mendahului Bisma, tanpa ada niatan membantu mendorong kursi roda Bisma. Hati Bisma tiba-tiba terasa pahit melihat sikap istri yang ia cintai dan perjuangkan ternyata tidak berubah. Ia masih saja tetap tidak perduli dengan kondisi Bisma. Ia menelan rasa sakit yang di akibatkan oleh sikap Stefani yang kembali ke sifat aslinya.
Bisma pun masuk ke dalam kamar ia dan Stefani. Malam ini Bisma akan tidur dengan Stefani. Bisma akan berusaha bersikap adil dengan kedua istrinya. Bisma yang sudah mandi waktu di rumah sakit kini tiba di kamarnya ia langsung, masuk ke ruang ganti.
"Stefani, kamu bisa gak bantuin aku ambilkan baju. Aku mau ganti." tanya Bisma yang berharap Stefani akan perduli padanya.
"Kamu kan bisa ambil sendiri. Biasanya juga kamu mandiri." ujar Stefani yang langsung masuk ke kamar mandi. Rencananya malam ini Stefani ingin memberikan kehangatan untuk suaminya. Karena sudah lama ia pergi meninggalkan sang suami. Stefani mulai beraksi dengan menggunakan pakaian dinasnya yang berwarna merah menyala. Sehingga sangat terlihat kontras dengan kulitnya yang putih.
Setelah mendapatkan penolakan dari Stefani, Bisma pun mengambil pakaiannya sendiri. Sebenarnya Bisma sudah biasa melakukan apa-apa sendiri. Tapi kali ini ia hanya ingin menguji Stefani. Apakah ia memiliki rasa perduli atau tidak!!! Usai berganti baju Bisma pun naik ke atas tempat tidur.
Dengan gaya lenggak-lenggok Stefani berjalan keluar dari kamar mandi. Ia sengaja menggoda Bisma. Biasanya jika sudah di goda seperti ini Bisma akan langsung bereaksi. Untuk itu Stefani dengan percaya dirinya ia naik ke atas tempat tidur dengan gaya sexinya. Stefani baring di samping Bisma. Tanga Stefani mulai melancarkan aksinya.
"Mas...... "Ucapnya dengan suara mendayu.
"Maaf, Fan...... Aku capek.. " ujar Bisma langsung memunggungi Stefani.
"Tapi, Mas kita kan sudah lama..... "
"Sudahlah Fan. Aku benar-benar lelah.. Lain kali saja." Tolak Bisma.
Stefani pun mendengus kesal mendengar penolakan demi penolakan dari Bisma. Akhirnya ia pun tidur dengan perasaan marah dan kesal.
Cukup lama Bisma berusaha memejamkan matanya, Tapi tetap tidak bisa. Di liriknya jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam, . Akhirnya ia pun memutuskan untuk bangkit dari tempat tidur. Dengan perlahan ia turun dari ranjang. Lalu duduk di kursi roda. Bisma memutuskan untuk tidur di kamar Shanum.
"Lho, Mas. Kamu kok kesini? Kenapa belum tidur." Ucap Shanum yang terkejut saat ada pergerakan di atas kasur. Shanum sedang mengerjap-ngerjapkan matanya agar sadar sepenuhnya.
"Iya, aku ingin tidur disini sama kamu." ucapnya santai.
"Nanti kalo Mbak Stefani nyari gimana. Dia bisa marah." Shanum yang merasa khawatir.
"Gak akan. Di biasanya kalo bangun selalu siang. Nanti setelah sholat subuh aku akan kembali ke kamar itu." ucap Bisma lalu memeluk tubuh Shanum untuk masuk kedalam pelukannya.
Tak butuh waktu lama, kini terdengar dengkuran halus dari mulut Bisma, Shanum yang masih terjaga pun hanya bisa tersenyum simpul melihat tingkah sang suami.
sambil menunggu jadwal therapy ada baiknya kaki bisma tetap di pijat oleh shanum
lanjut kak