Di usianya yang masih dua puluh lima tahun, Alice telah menjadi janda. Suaminya meninggal di sebuah kecelakaan dengan wanita lain dan mewariskan banyak hutang gelap yang baru ia ketahui keberadaanya setelah kematian suaminya.
Usahanya terancam bangkrut dan seluruh propertinya terancam hilang sebagai jaminan hutang. Dia tak memiliki apa pun lagi dalam hidupnya.
Dengan penuh tekad, dia memutuskan untuk bertindak gila. Dia akan menawarkan diri menjadi wanita simpanan. Tidak masalah siapa pun yang akan menjadi lelakinya, asalkan ia kaya dan mampu membayarnya dengan mahal.
Jika ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan apa yang masih Tuhan sisakan untuknya, ia tak akan mundur meski moralnya terancam akan hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Zulfya Fauziyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIGA LIMA
Setelah Rachel berhasil megabari Daniel, kini mereka sepakat untuk membuat pertemuan dengan pengacara mendiang Kendrick. Dialah pihak yang memegang berkas-berkas penting terkait dengan semua aset Kendrick setelah kematianya.
James Bright, sang pengacara, selain memegang kendali atas berkas-berkas dan surat berharga Kendrick, juga orang yang memiliki kuasa untuk bertindak atas nama Kendrick. Dia harus diikutkan dalam pembicaraan ini, terlibat aktif untuk menentukan nasib Alice kedepan. Bagaimanapun juga secara hukum Alice masih berstatus sebagai keluarga Kendrick. Dia berhak diurus di bawah perlindungan sistem milik Kendrick.
"Sir, bagaimana pendapat anda mengenai keadaan Alice? Apa yang kau sarankan?" Rachel memulai pembicaraan diruang utama mansion mendiang Kendrick.
Daniel, yang berada disamping mereka ikut berpartisipasi.
"Sebenarnya, setelah mengetahui Ms. White hidup, saya berniat akan memgalihkan semua bisnis dan properti milik Mr. jafferson kepada beliau. Atas wasiat terakhir yang telah diperbaharui, Mr. Jafferson menyatakan secara tertulis semua aset miliknya berhak Ms. White miliki tanpa ketentuan syarat tertentu jika dia meninggal." James menunjukkan beberapa dokumen dari map merah yang ia bawa. Disana dia menunjukkan beberapa salinan surat wasiat yang Kendrick buat kepada mereka.
Meskipun Alice adalah janda dari mendiang Kendrick, mereka sepakat untuk mengembalikan nama belakang gadis Alice.
"Namun mengingat kondisi mentalnya yang tidak memungkinkan, saya akan menahan semua aset itu hingga kesembuhanya. Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah mendukung proses penyembuhan beliau."
James, yang baru berusia awal empat puluhan tampak berwibawa. Kerut-kerut dipelilisnya menunjukkan dia sudah lama menggeluti profesinya sebagai pengacara.
"Kupikir itu ide yang bagus, James. Hanya saja bagaimana kita mengatur proses penyembuhan Alice?" Daniel yang sebelumnya telah menganggap James sebagai temanya, bertanya tanpa canggung.
"Itulah yang sedang kupikirkan. Bagaimana jika kuserahkan pada kalian? Carilah seseorang yang handal untuk merawatnya dan dokter hebat untuk melakukan terapi. Aku serahkan dana untuk membiayai kesembuhan Ms. White. Lakukan apapun yang terbaik, jangan pedulikan biayanya. Sebesar apapun uang yang dikeluarkan, akan sepadan dengan kesembuhanya."James berharap mereka bersedia menanggung tanggung jawab ini. Mereka salah satu orang yang James percayai sejauh menyangkut tentang Alice.
"Aku berencana ikut mengurus Alice, sir. Apakah kau mengijinkan jika sepulang kerja aku kembali kerumah ini dan ikut mengurus Alice?" Rachel bertanya was-was. Meskipun Alice temanya, namun dia perlu persetujuan James untuk melakukan niatnya. Alice tidak menikah dengan orang sembarangan. Banyak prosedur yang harus mereka lalui untuk merealisasikan niat mereka.
"Aku justru sangat berterimakasih jika kau bersedia melakukan hal tersebut, Ms. Brown. Ms. White pasti sangat membutuhkan kehadiran anda. Saya akan memberikan konpensasi yang besar jika anda bersedia melakukan hal tersebut." James tampak berbinar.
"Oh lupakan itu, sir. Saya tak butuh kompensasi apapun untuk merawat teman saya. Dia sudah seperti keluarga bagi saya," tolak Rachel halus.
James semakin tersenyum lebar, menyadari Alice tak sendirian melalui proses sulit ini.
"Baiklah. Saya memberikan kalian kuasa untuk melakukan apapun yang bisa mendorong kesembuhan Ms. White. Jika membutuhkan apapun, hubungi saya." James berdiri bersiap pergi.
"Bagaimana jika saya mengajak adik saya juga tinggal disini?" pinta Rachel kemudian.
"Apapun yang menurut anda baik, Ms. Brown. Carikan juga pengasuh yang bersertifikasi untuk putra Ms. White. Buatlah segalanya berjalan dengan lancar. Saya benar-benar berhutang budi pada anda untuk semua ini." James menunduk hormat dan pamit pergi meninggalkan mereka. Dia berjanji akan memfasilitasi semua yang mereka butuhkan.
Rachel melirik Daniel dan tersenyum lega.
"James Bright orang yang sangat baik. Tadinya kupikir aku pasti akan ditentang jika ikut campur masalah Alice." Rachel sedikit merasa bersalah.
"Dia orang yang cukup realistis, Rachel." Daniel menggeleng merasa lucu dengan ketakutan tak beralasan temanya.
Mereka membahas beberapa detail kecil untuk Alice dan akhirnya membuat keputusan bersama. Mereka perlu menyewa seorang perawat handal untuk menemani Alice sepanjang waktu, dan seorang maid kompeten yang sanggup mengasuh Axel. Tidak selamanya Rachel dan Daniel bisa mendampingi Alice selama dua puluh empat jam. Harus ada orang yang cukup handal untuk merawatnya.
...
Malam ini, Rachel berdiri di ruang makan mansion Kendrick bersama Alice. Dia sedang membujuk Alice untuk makan sesuatu. Semenjak mereka berada di mansion ini, kondisi Alice semakin memburuk. Dia mulai sulit diberikan asupan makan secara langsung. Rachel dan Maria, perawat Alice harus ekstra sabar dalam memberikan makan. Responya pengalami penurunan. Rachel semakin takut membayangkan kemungkinan buruk yang mulai menghantui otaknya.
"Masih belum mau makan?" tanya Anna memasuki ruang makan dengan menggendong Axel.
Anna memyesuaikan diri dengan sangat luar biasa. Sebagai remaja yang tidak tahu menahu masalah bayi dan anak-anak, kini ia telah menguasai banyak cara untuk mendekati Axel. Sikap Anna lembut dan mudah sekali memahami kemauan Axel. Mereka seperti kakak beradik kandung. Anna lebih dekat kepada Axel daripada pengasuh yang mereka sewa.
"Baru beberapa suap. Sepertinya dia sudah tidak berminat lagi." Rachel menyerah, meletakkan piring keramik diatas meja makan.
"Mommy ... mommy ...." Axel memberontak kecil meminta diturunkan. Dia menghambur kepada ibunya dan memukul-mukul kakinya pelan khas anak kecil.
Rachel telah mengajari dan memperkenalkan Axel pada ibunya. Setiap hari anak itu selalu menyapanya dan menarik-narik ujung baju Alice mengajaknya bermain. Hanya saja, kehadiran Axel sudah cukup terlambat. Wanita itu masih tak merespon kedekatan putranya. Dia benar-benar terjebak dengan dunia ilusi yang dimilikinya.
"Sudah sayang, mommymu perlu istirahat." Rachel menggendong Axel, menyerahkanya pada Anna dan menyuruhnya untuk menidurkan anak kecil tersebut.
"Maria, kau bisa beristirahat malam ini. Biarkan Alice tidur bersamaku." Maria mengangguk dan segera keluar dari ruang makan.
Beberapa kali dalam seminggu, Rachel memilih tidur satu ranjang dengan temanya. Entah kenapa, akhir-akhir ini ketakutanya akan kehilangan Alice semakin membesar begitu saja. Terkadang, dia sangat takut jika tiba-tiba Alice tertidur dan tak kembali bangun. Itulah mengapa ia lebih memilih tidur bersamanya. Berharap jika tiba-tiba Alice memilih untuk menyerah, Rachel berada disisinya dan membuat Alice bertahan kembali.
Rachel mendorong kursi roda Alice. Dia bersenandung merdu menyanyikan sebuah lagu favorit temanya. Rachel memiliki suara yang sangat indah. Dia dulu menjadi anggota paduan suara tetap semasa masih di sekolah menengah. Saat itu Alice mengatakan bahwa suaranya bagaikan siren. Sangat indah namun menghanyutkan. Rachel hanya tertawa saja saat itu. Tak menyangka bahwa orang yang memujinya sekarang duduk dikusi roda, tak berdaya menjalani hidup.
Two am
where do I begin
Crying off my face again
The silent sound of loneliness
Wants to follow me to bed
I'm a ghost of a girl
That I want to be most
I'm the shell of a girl
That I used to know well
Dancing slowly in an empty room
Can the lonely take the place of you
I sing myself a quiet lullaby
Let you go and let the lonely in
To take my heart again
Too afraid, to go inside
For the pain of one more loveless night
For the loneliness will stay with me
And hold me till I fall asleep
Sebuah lagu lawas yang cukup menyedihkan dari Christina Perri. Lagu istimewa yang seolah menyuarakan kepedihan mendalam.
...
Anson membaringkan Kimberly dengan lembut di atas ranjang bergambar kartun. Akhir-akhir ini Kimberly cukup sulit ditidurkan. Dia selalu menanyakan keberadaan Axel. Mereka berdua telah membentuk ikatan yang sangat dalam, terutama putrinya. Anson terpaksa membohongi Kimberly dengan hal-hal yang tak masuk akal agar anak itu tak merecokinya lagi.
Setelah Kimberly terbaring cukup nyaman, Anson menutup pintu kamar anaknya dengan suara klik pelan. Dia berjalan menyusuri lorong menuju ruang belakang yang terbuka. Malam ini, pertanyaan Kimberly telah membuat Anson kembali terkenang dengan putranya. Sudah sepuluh hari lebih ia tidak mendekap Axel. Aroma khas anak itu telah ia rindukan.
Mengingat Axel sama saja mengingat Alice. Hatinya selalu dicengkeram rasa bersalah setiap bayangan tentang Alice hadir dipikiranya. Dia merasa menjadi orang paling brengsek sedunia.
"Apakah ada yang mengganggu Tuan malam ini?" sapa William dibelakangnya, melihat Anson duduk seorang diri dihalaman belakang rumah. Angin malam terasa sangat menusuk. Musim gugur sudah mulai datang. Udara akan berubah lebih dingin dari sebelumnya.
"Bagaimana kondisi Alice sekarang?" tanya Anson kepada pelayan setianya.
William terdiam sejenak. Dia berusaha merangkai kata yang sesuai dan tidak terlalu melukai majikanya.
"Belum ada perkembangan," jawabnya kemudian sedikit merasa bersalah.
"Sama sekali? Apakah kehadiran Axel tak juga berpengaruh padanya?" Anson mengerutkan dahi tak habis pikir.
"Informanku mengatakan bahwa Ms. White mengalami kemunduran. Responya semakin menurun." William berkata lirih. Bagaimanapun juga, Anson perlu mengetahui yang sebenarnya.
Anson mendesah frustasi.
"Apakah dia bisa sembuh?"
"Kemungkinanya kecil. Semangat hidupnya tak kunjung membaik."
William mundur beberapa langkah mengamati Anson secara menyeluruh. Penampilan Anson semakin kacau akhir-akhir ini. Dia nyaris tidak bisa tidur sepanjang malam. Tampak kelopak matanya semakin gelap dan wajahnya sedikit pucat. Jambang baru tumbuh tak teratur di rahang bawahnya. Meskipun keadanya tak mengurangi penampilan dominan yang dimiliki Anson, namun fisiknya tampak tak terurus.
"Anda harus lebih memperhatikan kondisi kesehatan anda, tuan." William menasehati.
Anson terdiam tak menjawab. Pikiranya masih dipenuhi dengan bayang-bayang Alice. Membayangkan wanita itu lemah tak berdaya, membuat hatinya teriris pilu. Dia memiliki hasrat yang sangat besar untuk menopang wanita tersebut dengan sepenuh kekuatan.
"Tuan .... " William tampak ragu-ragu.
Anson melirik penuh tanya.
"Ada apa, William?"
William bergerak gelisah, seolah tak yakin dengan pertayaan yang akan ia ajukan.
"Tidakkah lebih baik anda yang merawatnya?"
Anson menatap William penuh arti. Pertanyaan itu sudah sering kali ia tujukan pada dirinya sendiri. Namun sebuah alasan besar menghentikan niatnya.
"Kita lihat apakah lima tahun kedepan Alice masih bisa sembuh. Jika dalam lima tahun dia tetap saja tak mengalami perubahan, akulah yang akan mengurusnya sepanjang hidupku," putusnya final.
"Kenapa tidak mulai dari sekarang?" William tak mengerti cara berpikir Anson.
"Karena sekarang dia masih memiliki kemungkinan untuk sembuh. Aku tak ingin menghalangi proses kesembuhanya. Biarkan aku menjadi bayangan baginya saat ini." Anson menatap kelamnya malam. Tak ada cahaya bulan sedikit pun malam ini. Sepertinya alam ikut mengekspresikan kepedihan Anson.
"Jika lima tahun tidak ada perubahan, mungkin itu artinya Alice akan terjebak selamanya dengan kondisi tersebut. Saat itu kufikir kesembuhan sudah nyaris mustahil terjadi. Barulah aku akan mengambilnya kembali. Aku ingin merawatnya sendiri hingga nafas terakhir Alice."
"Itu artinya anda sudah menutup kemungkinan untuk menikah dengan wanita lain, Tuan." William memperingatkan.
"Aku tak berencana menikah sepanjang hidupku, William. Sekarang fokusku adalah melihat perkembanganya selama lima tahun ini."
William menunduk semakin dalam. Ada kekaguman dari sorot mata lelaki tua itu.
"Apakah Anda sanggup menunggunya selama lima tahun? Apakah anda sanggup menanggung beban mengurus kehidupanya?"
Anson mengusap rambutnya dengan perlahan. Dia memejamkan mata, dan menjawab penuh keyakinan.
"Aku bahkan mampu menunggunya selama lima puluh tahun. Aku lebih dari mampu mengurus sisa hidupnya dengan tanganku sendiri."
"Bagaimana jika dalam lima tahun ini dia berhasil sembuh?"
Anson tertawa getir mendengar pertanyaan dari William. Jika dalam lima tahun Alice mampu sembuh, itu artinya dia akan kehilangan Alice seutuhnya.
...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
Kok ga pernah up cerita lagi di NT??