Aira Wibisono, Baru Kehilangan Seluruh Keluarganya, Kisah tragisnya di mulai saat Kakaknya Arya meninggal karena kecelakaan, Ayahnya sangat terpukul dengan kepergian Arya, Arya merupaka ke banggan keluarga, Arya baik, pintar, dan tampan, Arya kuliah di FK UGM Orang tua Aira menaruh harapan yang besar kepada Arya, Cinta mereka sangat besar kepada Arya, Semenjak kepergian Arya Ayahnya Aira jadi sakit sakitan dan tak lama Ayah Aira meniggal, Setelah itu Ibu Aira mulai defresi dan meninggal satu tahun kemudian. Akhirnya Aira memutuskan tinggal di rumah Tante Mala sahabat ibunya, Tante Mala mempunyai anak Laki-laki bernama Damar, dia populer di sekolah, pintar, tampan mirip dengan kakaknya Aira di sana lah kisah Aira di mulai...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibalik Selimut
Lampu aula perlahan menjauh di belakang mereka.
Parkiran sekolah lengang. Hanya tersisa beberapa mobil.
Aira berdiri di samping Damar di dalam mobil,
Tangannya mereka sedikit dingin tidak ada yang bicara.
“Maaf,” Damar akhirnya membuka suara. “Aku bikin malam ini… berat.”
Aira menggeleng pelan. “Kamu cuma jujur.”
Damar menatap langit sebentar, lalu kembali ke wajah Aira.
“Tokyo itu mimpi lama,” katanya pelan. “Tapi kamu… itu hal yang nggak pernah aku rencanakan.”
Kalimat itu jatuh pelan, tapi tepat di dada Aira.
Aku takut,” Aira jujur. “Takut kebahagian malam ini berakhir dan nanti harus kuat sendirian.”
Damar terdiam, lalu dia menggenggam tangan Aira.
“Aku juga takut,” katanya lirih. “Makanya aku nggak mau pura-pura kuat.”
Jarak mereka tinggal sejengkal.
Damar mengangkat tangan, ragu, lalu menyentuh pipi Aira dengan punggung jarinya.
Gerakannya hati-hati, seolah Aira bisa menghilang kalau disentuh terlalu keras.
“Aira,” panggilnya pelan.
Aira menatap mata itu, tidak bercanda, tidak narsis, tidak menggoda.
Hanya Damar yang jujur, tanpa rencana.tanpa hitung-hitungan.
Mereka sama-sama mencondongkan badannya bibir mereka bertemu.
Pelan.
Hangat.
Tidak terburu-buru.
Cukup untuk membuat napas Aira tercekat dan jantungnya berantakan.
Saat mereka berpisah, dahi mereka masih saling bersentuhan.
“Aku nggak janji jarak itu mudah,” bisik Damar.
“Tapi aku janji… perasaan ini nyata.”
Aira menutup mata sebentar, lalu tersenyum kecil, bergetar.
“Kalau gitu,” katanya pelan, “aku akan belajar jadi kuat sama sepertimu.”
Ciuman ini bukan penutup malam, tapi awal dari sesuatu
*** Lampu kamar Aira sudah mati.***
Aira berbaring miring, selimut ditarik sampai dada. Rambutnya masih sedikit lembap setelah mandi. Tapi matanya tak mau terpejam.
Tokyo.
Kata itu terus berputar di kepalanya.
Dia menghela napas, lalu duduk.
Berpikir sebentar lalu berdiri.
Ketukan pelan terdengar di pintu kamar Damar.
Tok. Tok.
Beberapa detik berlalu.
Pintu terbuka sedikit.
Damar muncul dengan kaus gelap dan rambut berantakan. Matanya setengah terpejam.
“Ra?” suaranya serak karena ngantuk.
“Kenapa?”
Aira menelan ludah. “Aku… boleh masuk? Cuma sebentar.”
Damar menatapnya beberapa detik, lalu menggeser tubuhnya.
“Masuk.”
Kamar Damar redup. Lampu meja menyala kecil. Buku dan kertas berserakan—khas dirinya.
Aira berdiri canggung di tengah kamar.
“Ada apa?” tanya Damar sambil duduk di tepi ranjang.
Aira meremas ujung bajunya.
“Soal Jepang…”
Damar langsung paham.
“Aku nggak bisa berhenti mikirin itu,” lanjut Aira pelan.
“Kayaknya kepalaku penuh.”
Damar bangkit, melangkah mendekat, lalu memeluk Aira, tanpa kata, hangat.
“Jangan dipikirin sekarang,” katanya pelan di atas kepala Aira.
“Belum waktunya.”
“Tapi ..."
“Ssst,” Damar mengusap punggungnya.
“Ada hal yang cukup kamu rasain, bukan kamu selesain malam ini.”
Aira memejamkan mata.
Dan saat itu ...
“Damar?”
Suara Tante Mala terdengar dari luar.
Aira tersentak, Damar refleks menegang.
Matanya membulat
Suara Tante Mala terdengar mendekat.
Tanpa berpikir panjang, Damar menarik Aira ke ranjang dan menyembunyikannya di balik selimut.
“Diam,” bisiknya cepat.
Damar berbaring telentang, menutup mata, pura-pura tidur.
Aira membeku di sampingnya, napas ditahan, jantung hampir meledak.
Pintu terbuka.
Lampu kamar dinyalakan.
“Mar?” suara Tante Mala lembut.
“Mamah mau ngobrol soal kuliah kamu.”
Damar menguap dibuat-buat.
“Besok aja ya, Mah… Damar ngantuk banget. Capek.”
Aira menutup mulutnya sendiri agar tidak tertawa gugup.
“Oh ya sudah,” kata Tante Mala.
“Tidur yang nyenyak, besok pagi kita bicara.”
“Iya, Mah.”
Lampu dimatikan kembali, pintu ditutup.
Sunyi.
Beberapa detik berlalu, Damar membuka mata perlahan.
Aira menatapnya dari balik selimut, wajah mereka sangat dekat.
Terlalu dekat.
“Ini… ilegal,” bisik Aira.
Damar menahan tawa.
“Tenang. Kamu aman.” katanya sambil memeluk Aira.
Aira memukul lengannya Damar pelan.
“Bikin jantung copot.”
Damar tersenyum kecil, matanya lembut.
“Tapi kamu sekarang nggak sendirian.” Aira terdiam.
Di kamar yang gelap itu, di balik selimut yang sama.
Tokyo tidak terasa seseram tadi, lampu kamar sudah mati.
Hanya gelap dan napas yang masih belum sepenuhnya tenang.
Aira masih bersembunyi di balik selimut, tubuhnya kaku, jantungnya berdetak terlalu keras untuk ukuran malam yang seharusnya tidur.
Damar menoleh pelan.wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.
“Aira,” bisiknya "Apa?” suara Aira hampir tak terdengar.
Damar ragu sepersekian detik lalu mencondongkan wajahnya.
Ciuman itu terjadi di balik selimut, membuat kepala Aira kosong seketika.