Sudah tiga tahun Dianawati tinggal bersama mertuanya di Tanjungpinang. Kepindahan itu terjadi setelah suaminya, Andi Pratama, memutuskan meninggalkan Kalimantan—tempat mereka dulu bekerja dan membangun kehidupan—demi kembali ke kota kelahirannya. Alasannya sederhana namun tak bisa ditolak: ibunya tinggal seorang diri, sementara adik bungsunya bekerja di Batam dan hanya bisa pulang sesekali.
Di rumah mertua, Dianawati menjalani hari-harinya sebagai istri dan menantu yang bertanggung jawab: merawat ibu mertua yang mulai menua, mengurus anak, serta mempertahankan usaha kecil-kecilan yang sudah ia rintis sejak masih di Kalimantan. Dalam rutinitas yang tampak sederhana itulah, ia perlahan menyadari bahwa kehidupan baru ini tidak semudah yang dibayangkan.
Antara tanggung jawab, kesabaran yang terus diuji, dan kerinduan pada masa lalu yang lebih bebas, Dianawati berusaha tetap kuat—bahkan ketika ia mulai merasa dirinya adalah satu-satunya yang berjuang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thida_Rak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Dian akhirnya bertemu dengan Pak Haji. Setelah melihat-lihat ruko itu dengan saksama, hatinya langsung tertarik. Rukonya cukup besar, bagian bawah sudah tersedia dapur dan kamar mandi, sementara lantai atas ada kamar tidur dan kamar mandi. Penyewa sebelumnya memang menjadikan ruko itu sebagai tempat tinggal, dan Pak Haji belum mengubah apa pun.
Di dalam hati, Dian merasa ruko ini sangat cocok—strategis, nyaman, dan sesuai dengan rencananya.
Namun, saat pembicaraan masuk ke soal sewa, Pak Haji awalnya keberatan ketika Dian meminta durasi enam bulan.
“Biasanya setahun, Bu,” ujar Pak Haji pelan.
Dengan nada sopan dan tenang, Dian menjelaskan kondisinya. Ia ingin mencoba dulu menjalankan usaha, memastikan semuanya berjalan baik. Setelah beberapa saat berpikir, Pak Haji akhirnya luluh.
“Baiklah, enam bulan dulu,” kata Pak Haji akhirnya.
Dian menghela napas lega. Ia lalu meminta nomor rekening untuk pembayaran. Pak Haji pun memberikannya dan menyiapkan kwitansi sebagai bukti.
Saat menerima kwitansi itu, Dian menggenggamnya erat.
Di titik ini, ia merasa satu langkah kecil telah ia menangkan—langkah untuk berdiri di atas kakinya sendiri, demi masa depan Naya.
Pak Haji lalu menyerahkan kunci ruko itu kepada Dian.
“Bu, kuncinya dibawa pulang saja. Saya pegang duplikat, ya. Kalau ada apa-apa, boleh hubungi saya. Rumah saya di belakang ruko ini,” ujarnya ramah.
Dian menerima kunci itu dengan kedua tangan.
“Iya, Pak. Terima kasih banyak,” jawabnya tulus.
Ia menatap kunci tersebut sejenak. Benda kecil itu terasa berat di genggamannya, bukan karena besinya, tapi karena harapan yang ikut bersamanya. Ini bukan sekadar kunci ruko—ini kunci untuk hidup yang sedang ia bangun pelan-pelan, tanpa bergantung pada siapa pun.
Dian menoleh ke Naya yang duduk manis di sampingnya.
“Nak, doain ibu ya,” batinnya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, di dada Dian muncul rasa yakin. Bukan karena semuanya akan mudah, tapi karena ia tahu: kali ini, ia sedang berjalan ke arah yang benar.
Di perjalanan pulang, Dian mengendarai motor dengan pikiran yang terus berputar. Angin siang menerpa wajahnya, tapi hatinya justru terasa semakin teguh.
Mumpung mertua dan suamiku belum kembali, aku harus sudah menyelesaikan semuanya, batin Dian.
Bukan lagi dengan ketakutan seperti dulu, melainkan dengan perhitungan dan kesiapan.
Ia melirik Naya lewat spion. Anak kecil itu masih ceria, menggoyangkan kaki kecilnya, seolah tak tahu betapa ibunya sedang berjuang keras demi masa depan mereka berdua.
“Ayo, Dian,” gumamnya pelan.
“Kamu enggak sendirian. Kamu punya tujuan.”
Motor terus melaju, membawa Dian pulang—bukan sekadar ke rumah, tapi menuju fase hidup baru yang sedang ia susun diam-diam, rapi, dan penuh tekad.
Setelah berganti baju dan memastikan Naya sudah berbaring rapi di ranjang, Dian tersenyum lembut.
“Ibu, susu,” ujar Naya manja sambil mengusap mata.
“Iya, ibu buatkan dulu ya. Naya tunggu sebentar,” jawab Dian pelan.
Ia melangkah ke dapur, menyiapkan susu dengan hati-hati. Gerakannya tenang, meski pikirannya masih dipenuhi banyak hal. Saat kembali ke kamar, Naya sudah setengah terpejam.
Dian duduk di sisi ranjang, menyodorkan botol susu itu.
“Pelan-pelan ya, sayang.”
Naya mengangguk kecil, lalu meminum susunya dengan tenang. Dian mengusap rambut anaknya, menatap wajah polos itu dengan perasaan campur aduk—lelah, takut, tapi juga penuh harapan.
“Tidur yang nyenyak ya, nak,” bisiknya.
Sore itu Dian melangkah ke dapur, membawa keranjang berisi pakaian kotor. Air mengalir pelan, tangannya sibuk mengucek satu per satu, sementara pikirannya melayang jauh.
Sebentar lagi rumah yang sempat terasa tenang ini akan kembali riuh oleh omelan mertuaku, batin Dian lirih.
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Busa sabun menempel di jemarinya, namun dadanya terasa lebih berat dari biasanya. Meski begitu, Dian tetap melanjutkan pekerjaannya. Ia tahu, ketenangan ini mungkin hanya sementara—dan ia harus menyiapkan hati sekuat mungkin untuk hari-hari yang akan datang.
Malam itu, setelah makan bersama, Dian dan Naya masuk ke kamar. Naya duduk manis di depan televisi, matanya fokus pada tayangan kartun favoritnya, sesekali tertawa kecil. Dian memperhatikan anaknya sekilas, lalu merebahkan tubuh di tepi ranjang.
Pikirannya kembali bekerja. Ia menyusun rencana satu per satu. Besok atau lusa, frizer itu harus segera dipindahkan ke ruko. Lalu belanja bahan—tepung, daging, bumbu, saus—semuanya harus dicatat rapi. Ia juga membayangkan ruko itu nanti: beberapa meja dan kursi sederhana, cukup untuk pelanggan yang ingin makan di tempat. Ruangannya luas, dapurnya memadai, rasanya sayang jika hanya dipakai jualan frozen saja.
Dian tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa punya pegangan. Mungkin jalannya tidak mudah, tapi setidaknya ia sedang berjalan maju.
Ia menoleh ke arah Naya yang masih asyik menonton.
“Doain ibu ya, Nak,” gumamnya pelan, hampir tak terdengar.
Setelah salat subuh, Dian kembali sibuk seperti biasa. Rumah masih sunyi, hanya terdengar suara napas kecil Naya yang terlelap. Ia membereskan beberapa hal ringan, lalu memastikan frizer sudah siap—dibersihkan, ditutup rapat, dan diposisikan agar nanti mudah diangkat ke ruko. Barang-barang kecil yang bisa dibawa lebih dulu juga sudah ia pilah.
Tak ada mertua, tak ada omelan. Untuk sesaat, rumah terasa aman.
Selesai semuanya, Dian kembali ke kamar. Ia merebahkan diri di samping Naya, menarik selimut pelan agar tak membangunkan anaknya. Tubuhnya lelah, tapi hatinya sedikit lebih tenang. Ia memejamkan mata, membiarkan dirinya kembali tertidur—mengumpulkan tenaga.
*********
Di rumah Arif, suasana terasa dingin meski pagi baru saja dimulai. Sudah dua hari Nuri memilih diam. Ia tetap menjalankan kewajibannya sebagai istri—memasak, membersihkan rumah—namun tak sepatah kata pun ia lontarkan pada Bu Minah. Sikap itu membuat mertuanya gerah.
“Pasti Nuri sudah dicuci otaknya sama Dian,” gumam Bu Minah kesal, entah ditujukan pada siapa.
Pagi itu Nuri turun ke dapur. Arif sedang libur, jadi ia ingin sarapan bersama suaminya. Wajahnya tenang, tapi matanya menyimpan lelah. Saat ia menuang teh, Bu Minah menegurnya dari ruang makan.
“Nuri, kamu tuh sekarang kenapa jadi dingin sama ibu?”
Nuri menoleh sekilas, lalu kembali pada cangkirnya.
“Hem.”
Jawaban singkat itu membuat Bu Minah terdiam, menahan emosi. Arif yang duduk di meja makan melirik istrinya, ada rasa tak enak yang mengendap.
“Nuri,” Arif mencoba menenangkan, “ibu cuma nanya.”
Nuri menarik kursi dan duduk. Ia menghela napas pelan, lalu menatap lurus ke depan.
“Aku capek, Mas. Capek pura-pura nggak lihat yang salah. Capek disuruh membenarkan yang jelas-jelas menyakiti orang lain.”
Bu Minah mendengus. “Kamu membela Dian lagi?”
Nuri menoleh, kali ini tatapannya tegas. “Aku membela yang benar, Bu. Itu saja.”
Ruangan kembali sunyi. Sendok beradu pelan dengan piring. Arif menunduk, menyadari bahwa diam Nuri bukan tanpa alasan—dan pagi itu, jarak di rumahnya terasa semakin nyata.
Di kamar, Nuri duduk di tepi ranjang dengan bahu sedikit merosot. Arif menghampiri lalu duduk di sampingnya, suasana hening tapi hangat.
“Mas,” Nuri membuka suara pelan, “aku takut posisiku nanti seperti Mbak Dian. Dipijak, diabaikan. Makanya aku harus tegas sama ibu.” Suaranya bergetar, jujur tanpa ditahan.
Arif menoleh, lalu membelai rambut istrinya dengan lembut. “Iya, sayang. Aku paham,” ucapnya tenang. “Kamu bukan berlebihan. Kamu cuma jaga dirimu sendiri.”
Nuri menunduk, matanya berkaca-kaca. “Aku nggak mau menunggu sampai sakit dulu baru didengarkan.”
Arif mengangguk pelan. “Dan aku nggak akan biarin itu terjadi. Selama aku ada, kamu aman.”
Nuri tersenyum tipis. Bukan karena semua masalah selesai, tapi karena setidaknya, di kamar itu—ia tidak sendirian.