"Jangan menggodaku, Rania.” Radit mundur satu langkah, tapi Rania justru mendekat. Tangannya menyentuh dada pria itu, perlahan turun sambil tersenyum nakal. “Kamu yang datang sendiri malam-malam begini,” bisiknya.
Lalu bibirnya menempel di leher Radit, menggigit pelan, meninggalkan jejak merah. “Anggap aja… ucapan selamat datang, dari Mbak janda muda.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengaruh
Rania berusaha mendorong dada Radit. “Lepasin, Radit. Ini sempit, pengap, dan… kamu ganggu.”
Suaranya terdengar ketus, tapi tatapannya malah menghindar—takut bertemu mata pria itu.
Radit tersenyum miring,
“Ganggu? Atau bikin deg-degan?”
“Deg-degan? Mimpi,” jawab Rania cepat.
Radit menunduk sedikit, memperhatikan wajah Rania yang mulai memerah. “Kamu tuh nggak bisa bohong, Ran. Wajah kamu udah kayak buku terbuka.”
“Kalau aku bilang aku benci, kamu percaya nggak?”
Radit terkekeh pelan. “Benci itu cuma topeng, isinya… ya kamu tahu sendiri.”
Rania mendengus. “Kamu tuh selalu merasa benar.”
Radit mengangkat alis, “Kalau soal kamu, iya.”
Sesaat, hening menggantung. Rania bisa merasakan napas hangat Radit menyentuh pipinya. Ia menelan ludah, tapi gengsinya belum runtuh.
“Kamu masuk toilet perempuan itu nggak sopan. Aku serius.”
“Kalau alasannya cuma mau lihat kamu?” Radit sengaja merendahkan suaranya, nyaris seperti rahasia yang hanya mereka berdua boleh tahu.
Rania memalingkan wajah. “Aku nggak gampang luluh.”
Radit mendekat sedikit, “Itu tantangan?”
Rania memejamkan mata sepersekian detik, “Bukan… itu peringatan.”
“Peringatan biasanya bikin aku makin penasaran.” kata Radit, tanpa beban.
Ia akhirnya mundur setengah langkah, tapi tatapan itu tetap menempel di Rania, seolah menandai.
“Kamu belum jawab, Ran… kangen nggak?”
Rania menggeleng, mendorong tubuh pria itu sedikit. “Kalau iya pun, nggak akan aku bilang.”
Radit terkekeh, “Nggak apa-apa, aku tunggu sampai kamu mau ngaku.”
Radit keluar dari bilik dengan langkah santai, seolah tak ada yang aneh. Pintu toilet bergeser, dan tepat di depan sana seorang karyawan perempuan menatapnya dengan mata membulat.
“Pa–Pak Radit?!” Suaranya setengah tercekat.
Tanpa kehilangan ekspresi percaya dirinya, Radit mengangguk kecil sambil tersenyum tipis. “Jangan mikirin hal negatif. Aku ke sini cuma buat ngecek kondisi toilet.”
Karyawan itu mengangguk cepat—mungkin terlalu cepat—lalu menyingkir dengan gugup. Radit pun melangkah keluar seolah kejadian itu memang biasa saja.
Dari balik bilik, Rania memegang kening, antara ingin tertawa, kesal, atau sekadar frustasi.
"Astaga… buat apa tadi sembunyi kalau ujung-ujungnya begini?” gumamnya pelan.
Ia keluar beberapa detik kemudian, mendapati Radit sudah menghilang entah ke mana. Kepalanya dipenuhi tanda tanya. Dia ini maunya apa, sih? pikirnya.
Entah kenapa, meskipun gengsi masih menutup, ada sedikit rasa hangat yang diam-diam ia rasakan—rasa yang justru makin membuatnya bingung menghadapi pria itu.
---
Setelah insiden di toilet siang itu, suasana kantor mulai kembali normal—setidaknya di mata karyawan lain. Rania berusaha menenangkan diri, membenamkan pikirannya pada pekerjaan.
Sore menjelang, lampu-lampu di studio menyala terang. Di balik kaca kontrol, Radit berdiri dengan kedua tangan di saku celana, matanya fokus pada monitor besar yang menampilkan hasil pengambilan gambar.
“Cut. Bagus,” ujarnya singkat ke kru yang memegang headset.
Di layar, terlihat Rania dan beberapa model lain sedang berpose sesuai konsep yang diberikan. Gerakan mereka sinkron, ekspresi tepat, pencahayaan pas. Radit mengangguk kecil, bibirnya terangkat membentuk senyum puas.
“Kalian kerja bagus,” katanya, cukup keras untuk terdengar di ruangan. “Terutama kamu, Ran.”
Rania yang masih berdiri di set menoleh sejenak, menatap ke arah kaca kontrol. Tatapannya dingin—meski hatinya sedikit berdebar mendengar pujian itu.
“Lanjutkan sesi berikutnya, kita nggak mau buang waktu,” instruksi Radit lagi, lalu ia kembali mengamati layar, matanya sesekali melirik Rania. Ada sorot puas, tapi juga sesuatu yang seperti… menikmati.
Sementara itu, beberapa karyawan di belakangnya saling bertukar pandang. Pujian langsung dari Radit adalah hal langka, apalagi jika diberikan di tengah proses kerja.
Setelah beberapa jam, sesi pemotretan pun selesai lebih cepat dari jadwal. Kru mulai merapikan peralatan, para model dan staf lain bersiap meninggalkan set untuk istirahat siang.
Radit berdiri dari kursinya, membuka pintu ruang kontrol dan berjalan masuk ke area set. “Oke, kalian semua istirahat. Lanjut lagi jam empat,” ucapnya tegas.
Beberapa orang mengangguk sambil bergegas keluar. Tapi sebelum Rania sempat melangkah pergi bersama yang lain, suara Radit menahan langkahnya.
“Kecuali kamu, Rania. Ke ruanganku sekarang.”
Beberapa pasang mata melirik penasaran, tapi tak ada yang berani berkomentar. Rania mengangkat alis, mencoba terlihat tak terganggu meski ada rasa penasaran dan sedikit gugup di dadanya.
Ia mengikuti Radit yang berjalan di depannya, langkahnya santai tapi penuh wibawa. Pintu ruangannya tertutup rapat begitu mereka masuk, meninggalkan keheningan yang hanya diisi suara pendingin ruangan.
Radit berbalik, menyandarkan tubuhnya di meja, menatap Rania dengan tatapan yang sulit dibaca. “Duduk,” katanya singkat.
Rania mengangkat dagu sedikit, menolak menunjukkan kalau ia gugup. “Kalau cuma mau ngomong soal kerjaan, ngomong aja di studio tadi, nggak perlu bawa aku ke sini.”
Sudut bibir Radit terangkat tipis. “Siapa bilang cuma mau ngomongin kerjaan?”
Rania menelan ludah, tapi tetap mempertahankan ekspresi datarnya. “Kalau gitu… mau ngomongin apa?”
Radit tidak langsung menjawab, malah melangkah pelan ke arahnya, membuat Rania refleks bersandar sedikit ke kursi.
Ia menunduk sedikit, seolah mempelajari wajah Rania dari dekat. “Hm…” gumamnya pelan. “Ada yang beda.”
Rania mengerutkan kening. “Beda apanya?”
Radit tersenyum samar, matanya tak lepas menatapnya. “Kamu… kelihatan lebih cantik hari ini. Dan… lebih wangi.” Ia menghirup pelan udara di sekitar Rania, lalu menambahkan, “Kamu sengaja ya? Biar aku makin nggak bisa fokus?”
Rania memutar bola matanya, “Jangan GR. Aku dandan sama pakai parfum buat kerja, bukan buat kamu.”
Radit mengangkat satu alis. “Oh ya? Tapi dari tatapanmu… kayaknya kamu mulai jatuh hati sama aku, Ran.”
“Ngaco!” Rania cepat-cepat menyangkal, meski pipinya mulai terasa panas. “Jangan bikin asumsi aneh.”
“Kalau gitu, buktikan. Tatap mataku, dan bilang… kamu nggak pernah kepikiran aku semalam pun.”
Rania menahan napas, merasa terjebak. Tatapan itu terlalu intens, terlalu menguji.
"Kamu enggak bisa, 'kan?" ulang Radit, lebih intens.
"Kamu bawa aku ke sini cuma buat main tatap-tatapan?"
Radit tertawa, lalu perlahan duduk di kursinya. "Bisa iya, bisa enggak"
"Radit, ini jam kerja. Aku enggak bisa lama-lama temenin celotehan gak jelasmu!"
"Oke. Oke. Aku serius sekarang"
Radit menyandarkan punggung di kursi, jari-jarinya mengetuk ringan permukaan meja sebelum akhirnya ia menatap Rania dengan nada yang lebih tenang.
“Aku mau bilang… aku bangga sama kamu, Ran,” ucapnya pelan namun tegas.
Rania mengerutkan kening, “Bangga… kenapa?”
“Karena kampanye sosial tentang wanita kuat yang kamu konsep itu sekarang jadi trending. Orang-orang di luar sana ngobrolin, repost, bahkan ikut pakai tagarnya. Dan… banyak orang penting mulai melirik perusahaan ini gara-gara itu.” Radit mengangkat bahu sedikit, bibirnya membentuk senyum tipis. “Itu semua karena kerja keras kamu.”
Rania terdiam. Ada bagian dari dirinya yang ingin membalas dingin, tapi kata-kata itu terasa tulus, terlalu tulus untuk diabaikan.
“Tapi… kamu tetap nyebelin,” ujarnya akhirnya, mencoba menutupi rasa hangat yang tiba-tiba merayap di dadanya.
Radit terkekeh, “Nyebelin tapi bikin kamu deg-degan, iya ‘kan?”