NovelToon NovelToon
APA SALAHKU MAS

APA SALAHKU MAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Poligami / Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh / Wanita perkasa
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: bundae safiq

Dewi seorang istri yang di tinggal merantau suaminya Abi ke Kalimantan dan harus tinggal di kampung merawat mertua dengan uang kiriman seadanya dari sang suami, Dewi pun harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup dengan sang mertua.
Hingga suatu ketika Dewi mendapati sebuah rahasia besar dari teman Abi, ternyata Abi diam-diam menikah lagi, hati Dewi hancur dan dia pun nekat ke Kalimantan untuk memastikan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundae safiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

semua orang merasa Abi tidak beres

''Kang Dadang aku enggak habis pikir deh, kok bisa-bisanya itu Bu Darwis ngurangin uang pembayarannya buat Bu Bos, itu kan curang namanya, kasihan bu Bos bukanya untung tapi malah buntung!'' keluh Dewi saat sedang istirahat bersama Dadang.

''Wi Wi..namanya juga manusia siapa yang  bisa nebak isi hati mereka, apa lagi orang macam Bu Darwis itu yang uda kaya tapi masih suka makan hak orang lain, mereka-mereka yang seperti itu enggak takut kena karma'' ucap Dadang memberi pengertian pada Dewi sembari menyangga piring di tangannya dan menikmati makan siang sederhananya hari itu, Dewi pun mengangguk sembari mencerna ucapan Dadang.

''Setiap perbuatan pasti ada balasan entah itu sekarang atau nanti gitu ya kang?'' sahut Dewi, Dadang pun mengangguk mengiyakan ucapan Dewi.

''Mereka pikir orang lain enggak tau, tanpa mereka sadari ada mata Tuhan dan 2 malaikat di bahu kanan dan kiri kita yang selalu mengawasi'' imbuh Dadang dan Dewi pun tersenyum, Dadang melirik sekilas pada Dewi.

''Kenapa...kok senyum-senyum gitu?'' tanya Dadang sembari meraih segelas air minum kemudian meneguknya.

''Enggak kok kang, Dewi cuma ke pikiran mau banyak-banyak berbuat baik saja supaya banyak di lihat sama Tuhan dan para Malaikat hehe'' jawab Dewi dengan santai.

''Haiyaaahhhh kau ini ada-ada saja, kerja yang bener dapetin banyak uang dan bahagiakan diri sendiri itu baru berbuat baik pada diri sendiri'' sahut Dadang menganggapi ucapan Dewi, Dewi pun berdecak lidah dan menghela nafas mendengar ucapan Dadang.

''Wi..'' panggil Dadang sembari mencuci tangannya dengan air di kran tak jauh dari tempatnya duduk barusan.

''Ya...'' jawab Dewi sembari melihat Hp nya yang sepi notifikasi.

''Suami kamu bagaimana?'' tanya Dadang.

''Bagaimana apanya kang?'' jawab Dewi yang enggak paham dengan pertanyaan Dadang.

''Astagah Wi Wi...lihatlah dirimu, perasaan selama kerja di toko ini aku tak pernah melihatmu bertelepon atau saling kabar dengan suami kamu, beda dengan aku yang setiap saat selalu menyapa bidadariku yang di rumah'' ucap Dadang pada Dewi.

''Ya memang kenapa kang, memang mas Abi itu sedang sibuk jadi aku enggak berani ganggu sia kalau dia enggak telepon duluan'' jawab Dewi tanpa rasa curiga sama sekali.

Dadang menghela nafas dan menggelengkan kepalanya kemudian berkata pada Dewi.

''Dengar baik-baik Wi, sesibuk apa pun seorang pria kalau dia benar-benar setia dan cinta sama kamu dia pasti akan menyempatkan diri untuk memberikan kabar, mereka enggak akan tahan berjauhan tanpa mendengar suara bidadarinya yang jauh di sana, kamu paham kan maksud aku'' jelas Dadang pada Dewi.

Dewi pun diam mendapat wejangan dari Dadang yang sudah di anggapnya seperti seorang kakak sendiri.

"Tapi kang, Dewi tuh enggak mau berfikir yang tidak-tidak selama Dewi tak melihat dengan mata kepala sendiri, Dewi takut semua hanya prasangka Dewi saja dan ternyata di sana mas Abi masih setia dan baik-baik saja bagaimana?!" jawab Dewi ragu-ragu.

"Ah memang berat kalau ngomong sama orang bucin model kamu Wi, terserahlah yang penting kakang sudah mengingatkan sama kamu loh ya, percaya atau tidak waktu yang akan membuktikan sendiri!" ucap Dadang gemes pada Dewi yang di rasa bodoh banget itu.

"Jangan gitu kang, kang Dadang membuatku takut saja" ucap Dewi yang merasa nggak enak hati.

"Kakang bukanya nakut-nakutin tapi ngomong apa adanya, bukalah mata kamu dan pikiran kamu, seberapa perhatiannya Abi sama kamu, baru kamu bisa menilai apa dia cinta sama kamu atau tidak" ucap Dadang lagi sebelum akhirnya pergi meninggalkan Dewi.

Dewi jadi lesu dan termenung sendiri, dia pun menatap ke arah jalan raya dan orang-orang yang berlalu-lalang dengan wajah yang berbeda-beda, ada yang tersenyum, ada yang tertawa, ada yang tegang, bahkan ada yang cemberut.

"Mas Abi, apa kamu enggak rindu sama aku mas, kapan kamu pulang, semua orang meragukanmu, apa yang harus aku lakukan mas" Dewi bertanya-tanya di dalam hati.

"Wi...kerja-kerja, jangan ngelamun terus!" teriak Dadang yang sedang membongkar barang yang baru sampai dan di masukkan ke toko, Dewi bergegas bangkit setelah mendengar teriakan Dadang.

"Dewi kenapa Dang?" tanya Bu Mandor saat melihat muka Dewi yang lesu.

"Lagi mikirin bojone" jawab Dadang tanpa menoleh.

"Hah..pasti kamu omelin lagi ya" tebak Bu Mandor.

"Iya bos, habis Dadang gedek bangat sama Dewi, sudah tau suaminya itu enggak beres masih aja percaya, kalau sudah bucin memang susah di nasehatin" adu Dadang pada sang Majikan.

"Biarin saja toh nanti bakal ketahuan sendiri, yang namanya bangkai itu enggak akan bisa di sembunyikan selamanya, pasti nanti kalau Abi sudah bosan sama Dewi juga bakal ngaku sendiri" ucap Bu Mandor menimpali.

"Tapi saya tuh kasihan Bos sama Dewi, kalau kayak gitu masa depan Dewi seperti sia-sia saja" ucap Dadang geram.

"Kita bantu doa saja, semoga Dewi segera di berikan petunjuk dan hidayah dari yang Maha Kuasa" ucap Bu Mandor menasehati Dadang.

"Baik bos, memang hanya itu yang bisa kita lakukan sekarang" sahut Dadang sembari menghela nafas.

Kita berpindah ke tempat lain, saat ini Abi sedang berjalan di lobi kantor sembari membawa pesanan Wulan, beberapa karyawan saling berbisik.

"Eh lihat itu menantu pak Safrudin, enak banget ya dia, orang miskin langsung naik pangkat saat jadi menantu orang kaya, mana langsung di kasih jabatan segala lagi, enggak kayak kita yang harus berjuang dari nol buat sampai ke puncak" ucap salah satu karyawan yang merasa ini dengan keberuntungan Abi, padahal aslinya enggak seperti yang mereka bayangkan, meski Abi terlihat seperti orang kaya saat ini, tapi hidupnya tak lebih dari seperti boneka mainan oleh keluarga Safrudin.

Abi terus berjalan dan menaiki lift menuju lantai atas dimana istrinya berada, dengan langkah tegap dia pun keluar dari lift dan berjalan menuju ruangan Wulan saat lift sudah sampai lantai atas.

"Sayang...ini pesanan kamu!" ucap Abi dengan senyum di wajahnya.

" Taruh di situ dulu aku masih ada kerjaan" ucap Wulan yang melirik sekilas pada Abi, kemudian Abi pun menaruh makanan serta minuman untuk Wulan di atas meja.

"Capek ya, sini aku pijitin bahu kamu" ucap Abi yang perhatian pada Wulan.

""hmmmm" Wulan hanya berdehem saja, kemudian Abi pun langsung mendekat ke arah Wulan yang sedang duduk memeriksa dokumen, setelah itu Abi perlahan memijat bahu Wulan dengan lembut.

Pada saat memijat Wulan tiba-tiba saja Abi teringat pada ucapan ibunya tentang Dewi yang bekerja menjadi kuli panggul di pasar.

"Apa iya Dewi beneran kuat jadi kuli panggul, pasti tubuhnya bau keringat dan kulitnya jadi kasar, ih ngebayangin saja aku jadi mual sendiri" ucap Abi dalam hati, tanpa sadar Abi pun merasa mual saat memijit bahu Wulan.

"huuuggggghhh!"

"Mas Abi, apa-apaan sih, emang aku sebau itu sampai bikin kamu mual gitu!" oceh Wulan tidak terima.

"Eh.bu...bukan sayang, sumpah, kamu wangi kok, a....aku hanya teringat tadi di jalan ketemu orang yang kumuh kucel dekil, jadinya aku mual saat mengingat dia barusan!" kilah Abi, namun Wulan masih memberikan tatapan tajam pada Abi.

"Aduh mampus aku!"

1
R⁵
duuhh mak nya oneng amat siihhh😒
R⁵
widiiihh berkhianat 2 tahun tanpa ketahuan..
R⁵
lugu bgt c dewi nya..
cinta boleh wi gobloogg jangan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!