-
Masuk ke dimensi lain, dan menjadi buronan di hari pertama yang menyebabkannya mati. Begitu mati, jiwanya memasuki tubuh lain lagi dan menjadi ibu tiri dari tiga orang anak.
Frustasi dan tertekan yang dirasakan Karina.
Tapi, demi bertahan hidup dan kembali ke dunia aslinya, Karina mau tidak mau harus menjalani kehidupannya di desa kecil seraya menyelesaikan serangkaian misi yang diberikan padanya.
Kuat tidak kuat Karina menjalaninya, ikuti terus kelanjutan ceritanya untuk mengetahui akhir dari perjalanan Karina!
-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serigala Kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beruang dan Cabai
*
*
Besoknya Karina bangun pagi seperti biasa. Setelah menyiapkan sarapan, ia dengan cepat mengambil keranjang punggung dan peralatan berburu, lalu pergi ke gunung secara diam-diam.
Ia kehabisan uang, dan rumah akan dibangun hari ini. Meski ada beberap bahan masakan yang bisa dipakai untuk makan siang semua orang yang membangun rumah, tetapi tetap saja akan habis dalam 3 hari.
Dan uangnya, setelah dipakai rumah dan tanah yang jumlahnya 580 perak, juga belanja di hari penerimaan uang sebanyak 30 perak, sisa dari uangnya sangat tidak cukup. Terlebih, Karina akan membayar gaji setiap orang yang bekerja membangun rumah terpisah. Sekitar 30 tembaga per orang setiap harinya.
Sisa uang di tangannya adalah sekitar 290 perak dan beberapa ratus tembaga jika ditambahkan dengan sisa uang dari penjualan hewan-hewan kecil. Untuk membayar orang yang bekerja, sangat kekurangan.
Selain itu, selain mau memburu beberapa hewan, Karina juga hendak mencari cabai yang tempo hari tidak berhasil di dapatkannya. Seraya berjalan dan mengingat arah ke tempat dimana cabai berada, sepanjang jalan, Karina memburu beberapa hewan kecil yang biasa ia buru, seperti kelinci, ayam pegar, dan burung puyuh, ia bahkan mendapatkan belasan telur burung dan ayam pegar saat itu.
Ia terus berjalan, tempatnya memang sedikit dalam dari pada biasanya. Jadi Karina juga berhati hati dan meninggalkan jejak agar ia bisa pulang nantinya.
"Oh benaran ada! Syukurlah, akhirnya aku menemukannya." Ucap Karina dengan senyum sumringah. Merasa bersemangat sekaligus memuji diri sendiri karena kerja bagusnya.
Karina maju dan hendak memetik, tetapi berhenti setelah mendengar suara gemerisik yang nyaring. Ia mundur pelan, melihat ke atas pohon yang ada di belakangnya, setelah memastikan tidak ada ular, ia pun naik dengan cepat. Sedikit kesulitan karena ia membawa keranjang punggung, tetapi tidak mungkin ia simpan di bawah karena darah dari hewan-hewan tersebut dapat memancing hewan buas yang kelaparan datang.
Ketika naik, ringikan hewan terdengar jelas. Sampai akhirnya ia di atas pohon dan melihat keadaan di bawah dengan jelas. Kemudian kedua matanya berbinar.
"Beruang!" Desisnya tertahan, merasa bersemangat karena bertemu hewan tersebut.
Setelah beberapa kali berburu dan berpengalaman, mengingat kejadian kemarin, ia memanfaatkan kelengahan beruang tersebut dan langsung menembakkan dua panah ke arahnya.
Beruang yang saat itu sedang berjalan dengan empat kakinya, tidak tahu tentang keberadaan Karina, tiba-tiba kedua matanya tertusuk. Darah mengucur setelahnya diiringi teriakan nyaring kesakitan beruang tersebut.
Berbanding terbalik dengan keadaan beruang, Karina tersenyum senang karena ia mengenai sasaran. Sengaja memanah kedua matanya agar beruang tidak bisa melihat kedatangannya yang akan menyerang bertubi-tubi.
Beruang memberontak, memegang dua mata yang terpanah dengan raungan keras. Dan Karina kembali menembakkan anak panah ke dua kakinya yang menjadi pijakan. Alhasil, setelah mengenai dua kakinya, Karina kembali menembakkan anak panah ke beberapa bagian tubuh vitalnya.
Menunggu beberapa saat sebelum akhirnya beruang menjadi lemas, Karina pun turun dengan memegang belati. Melihat beruang tergeletak dengan ringikan pelan, Karina langsung memotong lehernya, yang seketika beruang pun benar-benar mati.
Karina senang, bersorak dalam hati dan segera mengambil anak panah yang menancap di tubuh beruang. Setelahnya, ia dengan susah payah memasukkan beruang ke dalam keranjang punggung yang diambilnya dari atas pohon, mengeluarkan semua hewan kecil dan membiarkan beruang berada di paling bawah agar tidak mengancurkan hewan buruan kecil lainnya.
Kemudian, setelah menilik situasi dan memastikan tidak ada beruang lainnya, ia pun memetik cabai dengan tenang. Ia memetik semua cabai dan memenuhi keranjang tangan yang dibawanya, yang berisikan telur burung dan ayam. Setelah memetik semua, ia pun menggali semua pohonnya untuk ditanam di rumah. Agar ke depannya ia tidak perlu naik gunung lagi hanya untuk memetik cabai.
"Setelah dapat cabai, aku benar-benar bisa mulai berjualan mie dan bakso di kota." Ucapnya pada dirinya sendiri. Ia tetap mengucapkan bakso untuk dirinya dan bola-bola daging untuk orang lain.
*
Di sisi lain, Deraga yang bangun setelah Karina pergi, memeriksa ke seluruh rumah dan akhirnya mendengus kesal karena Karina pergi sendirian lagi tanpa mengabari orang rumah.
Meski semuanya sudah disiapkan, tetapi Deraga justru tidak tenang. Mengingat keadaannya yang berdarah-darah terakhir kali, Deraga menjadi khawatir sendiri.
Tetapi meski begitu, ia tetap melakukan pekerjaan yang belum dilakukan oleh Karina. Memberi makan ternak dan menyirami tanaman, dibantu Ganika yang ikut bangun tidak lama darinya. Sedangkan Serena masih terlelap di kamar.
Barulah setelah semua pekerjaan selesai dan keduanya hendak makan, Serena kemudian dibangunkan untuk makan juga. Membantunya mencuci muka dan makan bertiga dalam diam.
Ketiganya tidak melihat Karina, melihat Deraga yang tenang, keduanya yang lain tahu jelas dalam diri mereka sendiri jika Karina mungkin pergi lagi ke gunung sendirian pagi-pagi. Alhasil, keduanya juga tidak banyak bertanya.
Sampai akhirnya, Paman Gober, Bibi Sarita, dan Pak Tua Zang dengan beberapa orang yang tidak dikenalnya datang ke rumah.
Deraga dengan tenang membiarkan semuanya mulai bekerja karena tahu jika mereka datang untuk membangun rumah. Yang laki-laki berjumlah 15 orang pergi ke samping rumah untuk mulai membuat pondasi. Sedangkan bibi Sarita diam di halaman menunggu Karina kembali sebelum membantu dengan makan siang para pekerja.
Bibi Sarita datang karena khusus dipanggil oleh Karina untuk membantu dirinya memasak. Karina tidak yakin bisa memasak untuk 15 orang pekerja sendirian dalam waktu singkat. Jadi ia hanya bisa memanggilnya, tidak lupa ia juga akan membayar bibi Sarita nantinya.
Sampai waktu berlalu dan hampir jamnya makan siang, Karina pun akhirnya kembali. Membawa banyak barang di punggung dan ditangannya.
"Kakak, bibi, ibu sudah kembali." Teriak Serena yang pertama kali melihatnya. Membuat beberapa orang yang berada di samping rumah melihat ke arah kedatangan Karina.
Terlihat jelas oleh para pekerja, Karina menggendong hewan mati di keranjang punggungnya. Belum lagi kedua tangan yang penuh memegang pohon cabai juga memegang keranjang berisi cabai sendiri.
Para pekerja mendadak berhenti bekerja dan memandang Karina dengan takjub. Pak Tua Zang dan Paman Gober kemudian bereaksi.
"Nona! Kau bisa berburu?!" Teriak Paman Gober takjub.
"Keranjangmu penuh, hewan apa yang kau buru, nona?!" Pak Tua Zang juga ikut bertanya.
Karina menoleh dan melihat banyak orang, memegang peralatan masing-masing dan menyimpulkan jika mereka sudah mulai bekerja, jadi tidak banyak bertanya.
"Ya! Hanya hewan kecil! Penuh karena banyak barang yang ku bawa!" Balas Karina seraya mengibaskan tangannya. Untunglah beruang berada di paling bawah jadi tidak terlalu kentara terlihat.
Setelah berbasa basi, Karina dihampiri anak-anak dan bibi Sarita. Para pekerja pun kembali melanjutkan membangun pondasi rumah.
*
*
Hai, halo!
Kemarin aku gak sempet update, maaf yaaa..
Aku ganti hari ini, jadi sekalian updatenya empat.
Semoga suka 🥰