"Perempuan Mandul!" cerca Loretta melotot tajam.
"Ibu...." Amira tergugu, sakit hati ia mendengar teriakan sang mertua.
"Kenapa? Kalian sudahenikah 10 tahun, tapi tak kunjung punya anak, kalau bukan mandul apa namanya, Hah?!"
Di sudut ruangan, Beni hanya tertunduk diam, tak berniat mendekati atau menghibur istrinya.
"Atau jangan-jangan kau sengaja minum pil ya, biar nggak hamil?" Loretta tak henti menyudutkan Amira, berdiri bersedekap membelakangi menantunya itu. "Pergi dari sini, Besok pagi Beni harus menikah dengan wanita lain pilihan ibu!"
........
Pernikahan bukan hanya tentang hidup bersama, tapi juga tentang bagaiman abertahanbbersama, setia sekata dalam menghadapi setiap ujian.
Loretta, mertua yang kejam, tak segan menjebak dan menjatuhkan Amira hanya untuk memisahkannya dengan Beni yang notabene adalah putranya sendiri.
Mampukah Amira pergi menanggung tuduhan yang menyakitkan? akankah ia kembali untuk membalas perlakuan keluarga suaminya?
happy reading ya🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WeGe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjadi Tawanan Pria Kejam
"Masih jauh, Mas?" Amira mulai curiga saat pria yang memberinya tumpangan justru melewati desa yang diceritakan remaja sebelumnya.
"Enggak Mbak. Itu di depan sana, dikit lagi!" jawabnya terus menggeber motor bebek yang pada umumnya dipakai para tukang ojek.
Hingga akhirnya pria itu membawa Mira berbelok di gang terakhir desa itu, jalan yang tampak lebih sepi dari gang yang lainnya, dedaunan kering berserakan di jalanan tanah itu. Pohon bambu rindang di satu sisi jalan, menambah suasana semakin gelap ditambah mendung yang semakin menggelayut.
"Mas nggak nipu saya, kan? Saya lompat nih kalau kamu berniat jahat!" Amira semakin panik.
Pria itu menghentikan laju motornya di depan sebuah rumah kampung yang sederhana. Rumah yang menyendiri jauh dari yang lainnya. "Tuh tempatnya, Mbak!" tunjuk pria itu kemudian menurunkan koper Amira dan berlalu meninggalkan Amira yang berdiri di tepi jalan.
Amira terdiam sejenak, menimbang. "Benarkah ini rumah Bu Siti?" gumamnya celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri.
Clap! Duer!
Petir dan guntur menyambar bumi, suaranya menggelegar menggetarkan hati, Amira tersentak menutup kedua telinganya dan berjongkok karena terkejut. Gemuruh langit siang menuju sore itu disusul rintik halus air dari langit.
Amira berlari kecil membelah halaman luas yang bersih, dengan tanaman bunga mawar berjejer disepanjang tepi halaman, sebagai pagar. Sebuah mobil sedan terparkir di sudut halaman, seolah kontras dengan penampilan tembok usang rumah itu.
Amira berhenti di teras lalu meletakkan kopernya di samping pintu, kemudian mengetuknya. Seorang pria membuka pintu, dengan badan membungkuk, ia menjulurkan kepalanya keluar. "Siapa?" tanyanya menelisik penampilan Amira.
"Bu Siti ada?" Amira tak berniat menjawab, ia justru melemparkan pertanyaan lainnya.
"Lagi pergi!" sahut pria itu dingin, lalu membuka pintu itu semakin lebar, seolah memberi kesempatan bagi tamunya untuk masuk.
Hujan turun lebat, disertai angin kencang dan gemuruh guntur menyapa rumah itu. Angin yang bertiup kencang, membuat air hujan menyambar hingga ke teras rumah, membasahi sebagian pakaian Amira. Amira merinding kedinginan karena kulitnya hanya tertutup satu lapis dress lawas bermotif batik.
Pria itu masuk seraya mengangkat koper Amira tanpa bicara. Seolah naluri, Amira mengikutinya karena terdorong butuh tempat berteduh dari hujan.
Pria itu duduk menatap dingin pada Amira yang juga duduk canggung di depannya, berbatas meja kecil. Sebisa mungkin ia terus menghindari tatap mata langsung.
"Kau benar-benar tangguh!" ucap pria itu setelah beberapa lama keduanya terdiam.
Amira menoleh, suara hujan yang terlalu lebat, membuatnya tak mendengar jelas apa yang diucapkan pria itu. "Ya?" serunya.
"Kau tak mengingatku?" tanya pria itu, masih menatap dingin pada Amira.
Amira membeku, berusaha mengingat. Namun tak sedikitpun ia menemukan apapun bahkan hingga ke sudut terdalam ingatannya. 'Dia... kurasa aku tak pernah melihat wajah itu,' pikirnya masih berusaha.
Jeder!
Angin kencang membuat pintu yang tadinya terbuka lebar terbanting keras. Jendela-jendela pun berdecak karena dasyatnya angin. Lampu di ruang tamu itu pun tampak berkedip dan bergoyang, tertiup angin yang menerobos masuk dari celah-celah ventilasi.
Pria itu bangkit, berjalan menuju pintu, dan menguncinya, kemudian beralih memeriksa jendela-jendela memastikan semua tertutup rapat.
Amira waspada. Jantungnya berdegup kencang, ia berdiri tegak dengan kedua tangan tergenggam erat, berlindung dibalik kopernya. 'Jika dia macam-macam, koper ini jadi senjatanya!' begitulah pikirnya.
Matanya memindai ruangan itu, kunci mobil di atas bivet kecil di sudut ruangan, pria itu mengunci pintu dari dalam dengan tuas kecil diatas daun pintu. Hanya itu yang mungkin bisa ia manfaatkan.
Dengan langkah tegap, pria itu mendekat cepat, bahkan dengan satu gerakan tangan, ia dengan mudah menyingkirkan koper dari tangan Amira, melemparkannya sedikit menjauh.
Amira menarik tubuhnya menjauhi pria itu, namun lengannya terlanjur disergap lengan berotot itu, kemudian menarik pinggang Amira tepat menempel padanya.
"Akan kubantu kau agar ingat," bisik pria itu tepat di telinga Amira.
Amira membeku, bulu kuduknya bereaksi. Kedua tangannya berusaha mendorong tubuh kekar itu, tapi ia tak cukup mampu. "To-tolong! Lepaskan aku!" rontanya.
Cup!
Pria itu mendaratkan kecupan bergairah bukan dibibir Amira, tapi di lehernya, dilanjutkan dengan kecupan kedua, ketiga ke empat dan selanjutnya.
Amira meronta, tapi tangan kekar pria itu tak bisa dia patahkan kekuatannya.
Amira menggigit telinga pria itu, membuat cekalan pada tubuhnya melonggar. Amira bebas. Ia segera berlari ke arah bivet untuk mengambil kunci mobil. Tapi pria itu kalap.
Sekuat tenaga ia menarik rambut Amira, "Arkk!" teriak Amira kesakitan.
Pria itu semakin kalap. Ditamparnya keras wajah Amira hingga membuatnya terhuyung dan jatuh terjerembab ke lantai.
Langkah lebar pria itu mendekat, kedua tangannya membuka celana, lalu mengunci Amira.
"Tolong! lepaskan aku!" pinta Amira berteriak sekuat tenaga. "Tolong! Siapapun tolong!"
"Pagi itu kau sangat hebat, sekarang mari kita lakukan lagi, dengan gaya berbeda, kau tawananku sekarang!"
"Pagi itu? Mungkinkah?" Amira sibuk mengingat, tenaganya kalah telak, tanpa sadar sesuatu telah kembali merangsek area intimnya. "Argkk!" Amira mengejang karena rasa sakit dan perih di tempat itu.
"Ngangkang dikit lagi, bodoh!"
Amira tak sadarkan diri. Rasa perih di bagian itu mengguncang jiwanya. Tapi pria itu sangat keji, napsunya sudah mencapai setengah, ia tak bisa berhenti, dituntaskannya tanpa peduli kondisi Amira.
smSetengah jam kemudian, Amira perlahan sadar, tubuhnya masih tergeletak di lantai, di rumah tua yang dingin dan agak gelap. Entah sejak kapan lampu ruangan itu telah diganti menjadi lebih remang. Di luar sepertinya hujan sudah reda.
Amira bangun perlahan matanya mengerjap untuk menyesuaikan dengan minimnya cahaya di ruangan itu. "Aw!" Amira mengaduh, tubuhnya makin sakit, selangkangan dan bagian intimnya makin perih.
Ia berusaha berdiri berpegangan pada badan-badan kursi. Tapi ada tali yang terikat kuat di pergelangan tangan dan kakinya. Ujung tali itu terpaut pada tiang-tiang rumah itu.
"Apa ini?" lirihnya pilu, berusaha menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
Kemudian, tubuhnya kembali menggigil saat melihat pria yang tadi ternyata masih di ruangan itu, duduk di kursi lain di sudut ruangan, menatap tajam ke arahnya.
"Lobangmu terlalu murahan, sudah tak nikmat lagi, kau hanya rongsokan!" caci pria itu dengan senyum licik di bibirnya.
Amira meremas erat sandaran kursi yang jadi tempatnya menopang tubuh. "Kau... kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa harus aku?!" teriaknya, suaranya menggema di ruangan itu, bahkan mungkin terdengar hingga keluar. "Apa kau disuruh seseorang, hah?!"
Pria itu tertawa keras, "Hei jalang, akan kubiarkan kau hidup, jika kau tetap tenang disini!"
"Siapa kau! Jawab pertanyaan ku!" Amira memberanikan diri balas membentak. Hidupnya sudah kacau, ia terlalu putus asa, tak ada siapapun yang datang membela, jika dibunuh pun ia rela. Tapi ia perlu tahu siapa yang tega mempermainkan nasibnya.
"Kau tak perlu tahu, kau hanya cukup jadi peliharaanku saja, tugasmu mudah. Cukup lakukan permainan seperti pagi itu!"
"Cih!" Amira meludah, meski liurnya tak sampai pada pria itu. "Aku lebih baik mati daripada hidup kotor seperti ini! Katakan siapa yang menyuruhmu!"
"Ck! Dasar keras kepala, tanyakan sendiri pada hati kecilmu, kau pasti sudah tahu jawabannya!" sahut Pria itu kemudian bangkit meninggalkan Amira sendirian di ruangan itu.
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
Bersambung🤗