Liora dipaksa menikah dengan Kaedric Volther, pria yang dikenal kejam dan berbahaya. Namun sebelum pernikahan itu terjadi, Kaedric meninggal dunia. Liora mengira rencana pernikahan itu akan dibatalkan dan ia bisa kembali menjalani hidupnya seperti biasa.
Namun keputusan keluarga Volther berubah. Untuk menjaga kepentingan keluarga, Liora justru harus menikah dengan ayah Kaedric, Maelric Volther, seorang pria berkuasa yang jauh lebih tua darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Liora duduk di meja dapur, mengamati Camilla yang sibuk memotong sayuran untuk makan siang. Ia mengunyah pisang dengan pelan sambil memikirkan bagaimana cara memulai percakapan. Sudah lebih dari sebulan ia tinggal di sini dan Camilla dari semua orang di rumah ini adalah satu-satunya yang tampaknya sudah mulai mempercayainya. Perempuan itu juga berutang budi kepadanya sejak insiden pintu beberapa minggu lalu.
"Aku pernah mendengar bahwa Maelric punya istri sebelumku," kata Liora akhirnya. "Ceritakan padaku tentang dia."
Tangan Camilla berhenti bergerak.
Ia masih memunggungi Liora, tapi dari sini pun Liora bisa melihat bahwa bahunya memnjadi kaku.
"Lebih baik tidak membicarakan hal itu," jawabnya dengan suara yang sedikit gemetar.
Liora meletakkan pisangnya dan bangkit. Ia berjalan mendekati Camilla dan dari jarak dekat, ia bisa melihat tangan perempuan itu bergetar di atas talenan. Liora meletakkan tangannya di bahu Camilla dan memintanya berbalik.
Di mata Camilla ada ketakutan yang nyata. Bukan sekadar canggung atau enggan, melainkan takut yang sesungguhnya, seperti kenangan yang bahkan sekadar disinggung pun sudah terasa menyakitkan.
Liora menarik napas pelan.
"Ayahku menjaga agar informasi ini tidak sampai ke telingaku. Tapi aku perlu tahu." Ia menatap Camilla langsung. "Sekarang Maelric memperlakukanku dengan baik. Tapi aku perlu tahu apa yang harus aku waspadai."
Bayangan keprihatinan melintas di wajah Camilla.
"Nyonya Evania melahirkan seorang anak lagi," kata Camilla akhirnya, suaranya nyaris berbisik. Liora mengerutkan dahi, sepengetahuannya, Kaedric adalah satu-satunya anak Maelric. "Juga seorang putra. Tapi Tuan Maelric... ia merasa ada yang tidak beres. Bayi itu terlalu besar untuk usia tujuh bulan."
Liora diam. Pikirannya bergerak cepat.
Nyonya Evania berselingkuh.
Itu yang menjelaskan mengapa Maelric begitu obsesif soal kesetiaan. Kata-katanya malam itu, aku akan mencekikmu dengan tanganku sendiri, tiba-tiba terasa jauh lebih berat dari sekadar ancaman kosong.
"Lanjutkan," pinta Liora pelan.
Mata Camilla mulai berkaca-kaca.
"Tuan Maelric membanting bayi itu ke lantai." Suaranya patah di tengah kalimat. "Dan Nyonya Evania ditembaknya. Di depan Kaedric yang waktu itu baru berusia tujuh tahun."
Liora tidak bergerak.
Tujuh tahun. Kaedric menyaksikan ibunya dibunuh oleh ayahnya sendiri saat ia baru tujuh tahun. Dan ia tumbuh menjadi lelaki yang bahkan lebih kejam dari ayahnya, sekarang Liora mulai mengerti kenapa.
"Apakah Nyonya Evania benar-benar berselingkuh?"
Camilla menunduk. Ada sesuatu di ekspresinya yang terlihat seperti rasa bersalah yang sudah lama disimpan.
"Tuan Maelric waktu itu sering bepergian. Nyonya Evania kesepian. Ia hanya sekali saja tergoda, dan dari situlah ia hamil." Camilla mengusap sudut matanya. "Ia terlalu baik hatinya untuk menggugurkan kandungan. Keputusan itulah yang akhirnya membunuhnya."
Liora menarik napas dalam-dalam.
Ia tidak berselingkuh dan tidak berencana melakukannya. Tapi Maelric tidak akan membedakan antara pengkhianatan di ranjang dan pengkhianatan yang dilakukan keluarganya di belakangnya. Bagi lelaki seperti itu, pengkhianatan tetaplah pengkhianatan.
"Tolong jangan pernah singgung ini di depan suamimu" kata Camilla dengan nada memohon. "Ia benar-benar tidak suka mengingatnya."
"Aku tidak akan menyebut sepatah kata pun." Liora mengangguk. "Terima kasih sudah jujur padaku."
Ia kembali ke kursinya dan mengambil pisang yang sudah setengah dimakan. Tapi nafsu makannya sudah hilang sepenuhnya.
**
Dalam perjalanan pulang, Liora duduk di kursi penumpang depan di sebelah Gio. Sudah dua hari ini Gio menemaninya, dan Liora mulai terbiasa dengan kehadirannya yang pendiam.
"Waktu kamu membereskan semua itu kemarin," kata Liora tanpa basa-basi, "kamu menemukan sesuatu di tubuhnya? Identitas, kartu nama, apa pun?"
"Tidak ada. Tidak membawa apa pun."
Liora menggigit bibir bawahnya. Nama pria itu akan sangat membantu, Ronan bisa menelusuri siapa yang ada di belakangnya, seberapa jauh informasi itu sudah menyebar.
"Di mana sekarang?"
"Sudah dibakar." Gio meliriknya sekilas. "Saya tidak ingin ada risiko yang mengarah ke Nyonya."
Liora mengangguk. Bukan keputusan yang ia inginkan, tapi ia tidak bisa menyalahkannya.
"Kamu kerja dengan baik," katanya singkat.
Ia membuka tasnya dan mengeluarkan amplop cokelat yang sudah ia siapkan sebelumnya, lima puluh ribu euro, diambil dari rekening pribadinya, bukan dari uang yang Maelric berikan kepadanya.
"Untuk permulaan," katanya, meletakkan amplop itu di atas dasbor. "Menjadi orang yang bisa kupercaya memang seharusnya dihargai."
Gio tidak langsung mengambilnya, tapi Liora tidak mengharapkan reaksi berlebihan dari lelaki seperti dia.
**
Liora menaiki tangga dengan cepat, langsung menuju kamar Ronan. Kalau ayahnya melihatnya lebih dulu, ia tidak akan punya waktu bicara berdua dengan kakaknya.
Ia membuka pintu tanpa mengetuk.
Ronan masih berbaring di tempat tidur. Liora menatap jam di dinding, sudah lewat pukul sebelas siang.
Ia mengambil bantal terdekat dan melemparkannya keras ke arah kepala kakaknya.
"Apaan--!" Ronan langsung duduk tegak dengan wajah merah, lalu ekspresinya melunak begitu melihat siapa yang berdiri di depannya. "Kamu tidak di Eclipse hari ini?"
"Tutup mulut dan dengarkan." Liora menutup pintu kamar dan berdiri di depannya. "Kemarin ada seseorang yang datang ke Eclipse. Dia bilang punya informasi untuk Maelric, informasi tentang siapa yang ada di balik kematian Kaedric." Ia menatap Ronan tepat di matanya. "Dia menyebut namamu."
Ronan terdiam sepenuhnya.
"Aku berhasil membereskannya sebelum dia sempat bicara lebih jauh. Tapi dia sempat bilang masih ada sumber lain." Suara Liora tetap rendah, tapi setiap katanya jatuh dengan berat. "Aku nyaris mati karena rencanamu yang gagal beberapa minggu lalu. Dan sekarang ada orang di luar sana yang tahu."
Ronan membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Kemudian ia tertawa.
Bukan tawa kecil yang canggung, melainkan tawa yang benar-benar lepas, seolah ia baru mendengar sesuatu yang mengagumkan.
"Aku tidak menyangka kamu bisa melakukan itu, adikku." Ia menggeleng pelan, masih tersenyum. "Sungguh, aku tidak mau jadi musuhmu."
"Ini bukan saatnya bercanda." Liora melangkah lebih dekat. "Karena kalau sumber berikutnya sampai ke Maelric sebelum kita temukan siapa mereka, yang mati duluan adalah kamu. Dan aku menyusul tidak lama setelahnya."
Senyum Ronan perlahan menghilang.
Kali ini ia mengerti.