NovelToon NovelToon
The Future With My Grumpy Neighbor

The Future With My Grumpy Neighbor

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Time Travel / Menikah dengan Musuhku / Enemy to Lovers / Slice of Life
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

"Jangan dekat-dekat cowok lain, Cebol. Kau itu tanggung jawabku!"
Bagi Anvaya Dinakara, Narev Elvaro adalah tetangga raksasa setinggi 192 cm yang paling menyebalkan. Narev selalu mengawasi Vaya, melarangnya berteman dengan pria lain dengan alasan "menjaga titipan orang tua".
Namun, satu insiden di malam kelulusan melempar mereka sepuluh tahun ke masa depan. Vaya terbangun bukan di kamarnya, melainkan di pelukan Narev dewasa yang sangat memujanya. Lebih gila lagi, ada seorang bayi cantik bernama Miciella Aracelli yang memanggil mereka "Mama" dan "Papa".
Terjebak dalam pernikahan masa depan yang manis, mampukah mereka kembali ke masa lalu saat status mereka masih "musuh bebuyutan"? Atau justru Narev akan melakukan segala cara agar masa depan itu menjadi nyata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Pelabuhan di Tengah Badai

[POV: Vaya]

Suasana hati yang tegang setelah insiden di balkon tadi belum sepenuhnya mereda saat kami menginjakkan kaki di apartemen. Namun, sunyinya malam itu pecah oleh suara tangisan yang menyayat hati dari arah kamar bayi.

"Mici?" Narev langsung berlari, mendahului langkahku.

Begitu pintu terbuka, aku melihat Bi Inah sedang menggendong Mici yang terus meronta. Wajah si kecil itu merah padam, napasnya tersengal, dan tubuhnya terlihat lemas.

"Tuan, Nyonya! Alhamdulillah sudah pulang. Non Mici tiba-tiba rewel sekali, badannya panas sekali, Tuan!" Bi Inah panik, suaranya gemetar.

Narev segera mengambil alih Mici ke dekapannya. Detik itu juga, aku melihat rahang Narev mengeras. "Panasnya tinggi sekali. Bi, ambilkan tas perlengkapan darurat Mici di lemari bawah! Sekarang!"

Aku mendekat, mencoba menyentuh kening Mici. "Panas banget, Narev! Gimana ini? Apa kita kasih obat aja?" tanganku gemetar hebat. Aku tidak pernah menghadapi situasi hidup dan mati seperti ini. Sepuluh tahun yang lalu, masalah terbesarku hanyalah jerawat atau nilai ulangan.

"Tidak sempat, Vaya. Demamnya naik terlalu cepat, aku takut dia kejang. Kita ke rumah sakit sekarang!" Narev memberikan perintah dengan tegas. Dia tidak panik, suaranya tenang namun penuh otoritas.

Di dalam mobil menuju rumah sakit, aku hanya bisa duduk di kursi belakang, mendekap Mici yang terus merintih pelan. Air mataku mengalir deras, membasahi gaun mewah yang tadi kupakai dengan bangga.

"Mici, sayang... Mama di sini... jangan sakit ya, Nak," bisikku sesenggukan. Tapi hatiku berteriak, aku bukan mamanya! Aku bahkan tidak tahu harus melakukan apa!

Narev melirik melalui spion tengah. "Vaya, tenang. Atur napasmu. Mici bisa merasakan kalau kamu panik, dan itu akan membuatnya semakin stres. Pegang tangannya, ajak dia bicara pelan."

"Tapi aku takut, Narev! Dia panas banget! Kalau terjadi apa-apa gimana? Aku... aku ibu yang gagal! Aku bahkan nggak tahu dia mulai sakit sejak kapan!" aku menangis sejadi-jadinya, merasa sangat tidak berguna.

"Dengarkan aku!" suara Narev memotong tangisanku saat mobil berhenti tepat di depan lobby IGD. "Kamu bukan ibu yang gagal. Kamu baru saja sampai di sini. Sekarang, turun dan ikuti aku."

Di rumah sakit, semuanya berlangsung sangat cepat. Narev mengurus pendaftaran, berbicara dengan dokter dengan sangat lancar—menjelaskan riwayat alergi Mici, suhu terakhirnya, hingga obat apa yang terakhir diminum—semuanya dia hafal di luar kepala. Sementara aku? Aku hanya berdiri di sudut ruangan, meremas jemariku sendiri, merasa seperti orang asing di hidupku sendiri.

Setelah Mici mendapatkan penanganan dan dipasangi infus, dia akhirnya tertidur pulas karena pengaruh obat. Kamar perawatan itu sunyi, hanya ada suara mesin detak jantung yang teratur.

Aku duduk di kursi samping tempat tidur, menyembunyikan wajah di kedua telapak tanganku. Bahuku berguncang karena isak tangis yang tertahan.

Tiba-tiba, aku merasakan sepasang tangan besar dan hangat melingkari bahuku. Narev menarikku berdiri, lalu membimbingku ke dalam pelukannya. Aku tidak menolak. Aku justru menyembunyikan wajahku di dadanya, membasahi kemeja putih mahalnya dengan air mata.

"Menangislah kalau itu membuatmu lega," bisik Narev parau. Tangannya yang lebar mengusap punggungku dengan pola yang sangat menenangkan.

"Aku... aku nggak bisa, Narev," suaraku teredam di dadanya. "Aku bukan Vaya yang dewasa. Aku nggak tahu cara jagain dia. Aku cuma beban buat kamu di sini. Kamu yang urus semuanya, sedangkan aku cuma bisa nangis..."

Narev melepaskan pelukannya sedikit, hanya untuk menangkup wajahku dengan kedua tangannya. Dia memaksa aku menatap matanya yang lelah namun penuh kelembutan.

"Vaya, lihat aku," ucapnya serius. "Tidak ada ibu yang langsung sempurna. Vaya yang 'dewasa' pun dulu pernah menangis semalaman saat Mici pertama kali demam karena tumbuh gigi. Kamu pikir aku jago begini karena bawaan lahir? Tidak. Aku belajar karena aku mencintaimu dan mencintai dia."

"Tapi kamu seolah tahu segalanya..."

"Karena itu tugasku sebagai Papa, dan sebagai suamimu," Narev menghapus air mataku dengan ibu jarinya. "Jangan pernah bilang kamu tidak berguna. Kehadiranmu di sini saja sudah cukup buat aku dan Mici. Kamu lihat tadi? Saat kamu pegang tangannya, napasnya jadi lebih teratur. Dia butuh mamanya, Vaya. Bukan mama yang sempurna, tapi mama yang ada di sana."

Aku terdiam, menatap kejujuran di mata Narev. Rasa nyaman yang luar biasa perlahan menyelimuti hatiku. Pria yang dulu kupikir adalah monster posesif yang menyebalkan, ternyata adalah pelabuhan yang paling kokoh saat badai datang.

Aku kembali memeluknya, kali ini lebih erat. Aku menyandarkan kepalaku di bahu lebarnya, menghirup aroma tubuhnya yang bercampur wangi rumah sakit. Untuk pertama kalinya sejak terlempar ke masa depan ini, aku merasa... aku mungkin tidak keberatan jika tidak pernah menemukan jalan pulang.

"Makasih, Narev... makasih karena selalu ada," gumamku.

Narev mengecup puncak kepalaku lama, pelukannya semakin erat seolah tidak ingin membiarkan satu celah pun bagiku untuk pergi. "Selalu, Vaya. Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi apa pun sendirian lagi."

Di kamar rumah sakit yang dingin itu, aku menyadari satu hal: Narev Elvaro mungkin adalah raksasa yang menakutkan bagi dunia, tapi dia adalah rumah bagiku dan Miciella.

...****************...

1
Lis Lis
labil ......
G konsisten sma omongannya si vaya
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭 mungkin vaya galau kak...
total 1 replies
Lis Lis
AQ jga G tau spa yg harus aku prcya vaya😭😭😭
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak sudah mampir 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Sulas Lis
huaaaaa huaaa 😭😭😭
ko pendek kali babnya panjangin dikit dong kaaaa
Ariska Kamisa: terimakasih kak udah mampir... 🙏🙏🙏 terimakasih atas sarannya... 🙏🙏🙏
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍👍
awesome moment
bingung mo.kasih comment. tll sedikit dan...agak lama. smp hmp lupa. maapkeun
awesome moment
vaya sgt memuakkan. oon g abis2. wanita tu mending dicintai. aman. ogeb dipiara. ragu digedhein. vaya EGOIS!!!
Ariska Kamisa: sabar kak... kita doakan naren bisa meluluhkan Vaya yaa
total 1 replies
awesome moment
vaya n g slese2 ragunya. jd pengin getok palanya
Nadira ST
Kamu seharusnya bersyukur dicintai naren secara ugal2an diluaran Sana banyak istri tidak seberuntung dirimu vaya,ak aja sebagai perempuan sampai iri ,cinta naren kepadamu
Ariska Kamisa: semoga vaya segera dapat hidayah yaa 🤭
terimakasih sudah mampir kK🙏
total 1 replies
awesome moment
di cerita kakak tu, woman leadnya dicintai ugal2an sm man leadnya. 😉👍
Ariska Kamisa: karena itu adalah impian semua wanita ga sih...🤭
total 1 replies
awesome moment
malah terhura dgn cibat narev yg sedunia raya buat vaya. pegang kuat cinta narev, vaya..jgn smp lepas. tar nyesel smp pindah alam lho
Ariska Kamisa: terimakasih kakak🙏🙏
total 1 replies
awesome moment
vaya, syukuri dan terima..dicintai dijadikan pusat dunia tu aman lho.
awesome moment
smg vaya membalas cinta nares dgn sm besar
Ariska Kamisa: Terimakasih kak 🙏
total 1 replies
Nadira ST
lanjut thor💪💪💪💪💪💪
Ariska Kamisa: Terimakasih kak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!