Selama lebih dari tiga dekade, persahabatan antara Keluarga Lenoir dan Hadinata telah menjadi tonggak dalam kehidupan kedua keluarga. Dari berbagi suka duka hingga merencanakan masa depan bersama, ikatan mereka semakin mengakar dalam setiap aspek kehidupan. Untuk memperkokoh hubungan yang sudah terjalin erat itu, kedua kepala keluarga memutuskan untuk mengikatkan anak-anak mereka melalui perjodohan—suatu langkah yang dianggap akan menyatukan kedua keluarga menjadi satu kesatuan yang lebih kuat.
Aslan Noah Lenoir 28 tahun Pewaris Lenoir Group Dari Paris dan Alana Hadinata 20 tahun berdarah Campuran dari sang ibu ( Helena dubois ) terpaksa harus menjalani rencana perjodohan yang tidak mereka inginkan, gaya hidup mereka yang berbeda sering kali membuat Alana merasa terjebak dalam permainan Aslan yang vulgar dan penuh tantangan.
____
Bisakah dua hati yang terpaksa bertemu menemukan kedekatan yang tulus?
Ataukah perjodohan ini hanya akan menjadi beban dan merusak persahabatan keluarga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna ceriya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10. PERTEMUAN TAK TERDUGA DIKOTA CINTA
Tiga minggu telah berlalu sejak Alana tiba di Lausanne, Swiss. Kota yang indah dengan pemandangan Danau Geneva yang memukau dan Pegunungan Alpen yang megah itu kini menjadi tempatnya berjuang. Rutinitas Alana berputar cepat di antara lorong-lorong Rumah Sakit Universitas Lausanne yang bersih dan modern. Dari bangun pagi sebelum matahari terbit hingga kembali ke asrama saat malam larut, hari-harinya dipenuhi dengan operasi, pemeriksaan pasien, diskusi medis yang intens, dan belajar dari para dokter senior yang sangat ahli.
Meskipun melelahkan kadang kakinya terasa berat dan matanya sulit terpejam karena memikirkan kasus-kasus sulit Alana merasa hidup. Ia sedang menjalani impiannya. Setiap kali ia berhasil membantu menyelamatkan nyawa atau sekadar memberikan senyuman penghibur pada pasien yang kesakitan, rasa lelah itu seketika hilang. Di sela-sela kesibukannya, ia sering teringat pada rencana ke Bali yang batal dan pada nama Aslan Noah Lenoir yang kini terasa semakin jauh. Namun, fokusnya saat ini adalah kedokteran, dan ia bertekad untuk memberikan yang terbaik.
Akhirnya, setelah tiga minggu bekerja tanpa henti, Alana mendapatkan cuti singkat selama lima hari. Keputusan itu sudah bulat: ia akan mengunjungi neneknya, Aretha Dubois, yang tinggal di Lyon, Prancis kota yang terkenal dengan keindahan sungai Rhône dan arsitekturnya yang klasik. Nenek Aretha adalah merupakan satu-satunya keluarga Alana yang tinggal di Eropa. Alana sangat merindukan sosok neneknya yang hangat dan penuh cerita.
Setibanya di stasiun kereta api Lyon, Alana langsung disambut oleh pelukan hangat neneknya. "Oh, Alana, cucuku yang cantik! Kamu semakin dewasa dan cantik saja," seru Nenek Aretha sambil memeluk cucunya erat. Wajah wanita paruh baya itu berseri-seri, matanya yang berkerut memancarkan kasih sayang yang tulus.
"Nenek..." Alana membalas pelukan itu dengan haru. "Aku juga sangat merindukanmu, Nek. Terima kasih sudah menjemputku."
Selama dua hari di Lyon, Alana menikmati waktu yang tenang dan penuh kehangatan. Ia membantu neneknya memasak masakan khas Prancis, berjalan-jalan di sekitar kota tua yang indah, dan mendengarkan cerita-cerita masa lalu neneknya. Namun, Nenek Aretha memiliki rencana lain. "Besok, kita akan pergi ke Paris sebentar, ya?" kata Nenek Aretha saat makan malam. "Ada beberapa barang yang harus aku beli di pusat perbelanjaan terkenal di sana, dan aku ingin kamu ikut. Kamu juga butuh istirahat sejenak dari suasana rumah sakit, kan? Paris selalu punya cara untuk menyegarkan pikiran."
Alana tersenyum. "Tentu saja, Nek. Aku juga ingin sekali melihat Paris lagi. Sudah lama sekali aku tidak ke sana."
Keesokan harinya, perjalanan kereta dari Lyon ke Paris memakan waktu sekitar dua jam. Saat mereka tiba, matahari sedang bersinar terang, menyinari kota cahaya itu dengan sempurna. Alana mengenakan gaun musim semi berwarna krem dengan jaket tipis berwarna biru muda, rambut panjangnya diikat kuda dengan rapi, namun beberapa helai rambutnya terurai lembut di pipi. Ia terlihat segar dan cantik, meskipun tanpa riasan yang berlebihan.
Mereka tiba di sebuah pusat perbelanjaan mewah di arondisemen ke-1, tepat di dekat Place Vendome. Pusat perbelanjaan itu megah, dengan langit-langit kaca yang tinggi, lantai marmer yang mengkilap, dan deretan butik-butik merek terkenal dunia. Suasana di sana sangat hidup, penuh dengan orang-orang dari berbagai negara yang berbelanja atau sekadar berjalan-jalan.
Sementara itu, di tempat yang sama, Aslan Lenoir juga sedang berada di sana. Hari itu, ia tidak sedang mengenakan setelan jas formal seperti saat ia datang ke kantor ayahnya, melainkan mengenakan kaos polo berwarna putih dan jaket denim biru tua yang santai namun tetap terlihat gaya. Ia sedang membawa beberapa sketsa desain untuk sebuah proyek kafe kecil yang sedang ia kerjakan sebagai proyek sampingan. Ia baru saja keluar dari sebuah toko peralatan gambar dan sedang berjalan tergesa-gesa, matanya sesekali melirik ponselnya yang menampilkan pesan dari klien yang menanyakan perkiraan waktu penyelesaian desain.
Pikirannya sedikit kacau karena harus segera kembali ke Montmartre untuk bertemu dengan temannya, namun langkahnya terhenti karena kerumunan orang yang cukup padat di lorong utama pusat perbelanjaan itu.
"Maaf, permisi..." Aslan bergumam pelan, berusaha menerobos kerumunan dengan langkah cepat. Ia terlalu fokus pada pesan di ponselnya dan tidak memperhatikan ke depan.
Di sisi lain lorong, Alana sedang berjalan beriringan dengan Nenek Aretha, sambil mengagumi pajangan manik-manik di sebuah toko perhiasan. Ia sedikit tertinggal di belakang neneknya, dan ketika ia berniat untuk mengejar langkah neneknya yang lebih cepat, ia berbelok sedikit ke kiri tanpa melihat ke arah yang datang.
Bruk!
Bahu Alana yang kecil menabrak bahu Aslan yang lebih tegap dan kuat. tabrakannya cukup keras sehingga membuat Alana terhuyung mundur beberapa langkah, dan tas tangan yang ia bawa terlepas dari genggamannya, jatuh ke lantai marmer dengan bunyi plak.
Seketika, dompet, lipstik, dan beberapa lembar kertas catatan medis berhamburan keluar.
"Aduh..." seru Alana pelan, kaget dan sedikit kesakitan di bahunya.
Aslan juga terkejut. Ia segera memasukkan ponselnya ke saku dan menatap wanita yang baru saja ia tabrak. "Aduh, maafkan saya! Saya benar-benar tidak sengaja. Saya sedang tidak melihat ke depan," ucap Aslan dengan cepat, nada suaranya menunjukkan rasa bersalah yang tulus. Ia segera membungkuk untuk membantu mengambilkan barang-barang yang berhamburan.
Namun, Alana yang masih kaget dan sedikit kesal karena bahunya terasa nyeri, serta panik melihat catatan-catatan medisnya yang berserakan di lantai yang dingin, bereaksi lebih dulu. Ia segera membungkuk juga, suaranya sedikit meninggi karena kaget dan rasa tidak nyaman.
"Hei, hati-hati dong! Jalan itu lebar, kok bisa-bisanya menabrak orang?" ucap Alana dengan nada yang sedikit ketus, matanya menatap tajam ke arah pria di hadapannya yang sedang sibuk mengambil dompetnya.
Aslan berhenti sejenak, mendongak menatap wanita itu. Ia tertegun seketika. Wanita di hadapannya memiliki mata yang indah namun sedang memancarkan kilatan kemarahan, kulit yang putih bersih, dan rambut hitam panjang yang terurai sebagian. Wajahnya terasa sangat asing, namun ada sesuatu pada tatapan itu yang membuat jantung Aslan berdegup kencang entah mengapa. Namun, rasa bersalahnya segera kembali mengalahkan rasa kagetnya.
"Saya minta maaf sekali lagi, Nona. Ini sepenuhnya salah saya. Saya sedang terburu-buru dan tidak fokus," jawab Aslan dengan sopan namun tegas, sambil menyerahkan dompet dan lipstik yang sudah ia ambil kepada Alana. "Apakah Anda terluka? Bahu Anda tidak apa-apa?"
Alana menerima barang-barangnya dengan sedikit kasar, lalu berdiri sambil mengusap bahunya yang terasa nyeri. Ia menatap pria itu lekat-lekat. Pria itu tampan, dengan mata biru yang tajam dan rahang yang tegas. Penampilannya santai namun memancarkan aura yang berkelas. Namun, kemarahan Alana belum sepenuhnya hilang. "Tentu saja sakit! Anda menabrak dengan cukup keras, tahu," jawabnya ketus, meskipun dalam hati ia sadar bahwa tabrakan itu mungkin juga sedikit kesalahannya karena tiba-tiba berbelok.
Nenek Aretha yang melihat kejadian itu dari depan segera berbalik dan berjalan kembali menghampiri cucunya. "Ada apa ini, Alana? Kenapa barang-barang
mu berantakan?" tanya Nenek Aretha dengan heran, lalu menatap Aslan. "Dan siapa anak muda ini?"
Alana baru saja hendak menjawab, melanjutkan keluh kesahnya, namun Aslan lebih dulu membuka suara. Ia membungkuk sedikit memberi hormat kepada Nenek Aretha. "Selamat siang, Nyonya. Saya sangat menyesal. Saya tidak sengaja menabrak cucu Anda. Saya sedang terburu-buru dan tidak hati-hati. Saya minta maaf atas ketidaknyamanan ini."
Nenek Aretha menatap Aslan dengan senyuman tipis, matanya yang cerdas seolah membaca situasi. "Oh, begitu ya. Tidak apa-apa, Nak. Kecelakaan memang sering terjadi tanpa sengaja. Yang penting kamu sudah meminta maaf dengan baik." Nenek Aretha kemudian menoleh ke arah Alana dan menepuk lengan cucunya pelan. "Alana, jangan marah-marah. Dia sudah minta maaf, kan. Lihat, bahumu hanya lecet sedikit, kan? Tidak apa-apa."
Alana menatap neneknya, lalu kembali menatap Aslan. Ia melihat ketulusan di mata pria itu, dan rasa malunya mulai muncul. Ia sadar bahwa ia mungkin terlalu berlebihan menanggapinya. "Ya... ya sudah," ucap Alana pelan, matanya membuang muka, menyembunyikan rasa malunya. "Saya juga minta maaf jika tadi suaranya terlalu keras. Saya juga kaget."
"Tidak apa-apa, Nona. Saya mengerti," jawab Aslan dengan senyuman tipis yang menawan. "Sekali lagi, saya minta maaf. Saya harap bahu Anda akan segera membaik."
Aslan memberikan barang-barang terakhir yang ia ambil kepada Alana, lalu memberi hormat sekali lagi kepada Nenek Aretha. "Jika diperbolehkan, saya akan pamit dulu. Saya masih ada urusan yang harus diselesaikan."
"Silakan, Nak. Hati-hati di jalan," jawab Nenek Aretha ramah.
Aslan mengangguk, lalu berjalan pergi, meninggalkan Alana yang masih berdiri memegang barang-barangnya di tangan. Alana menatap punggung pria itu yang semakin menjauh dan menghilang di antara kerumunan orang. Ada perasaan aneh yang menyelinap di hatinya—rasa penasaran yang tiba-tiba muncul. Siapakah pria itu? Mengapa tatapan matanya terasa begitu familiar, padahal ia yakin belum pernah bertemu dengannya sebelumnya?
"Nak, ayo kita lanjutkan berbelanja," ajak Nenek Aretha, memecah lamunan Alana.
Alana menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan pikiran tentang pria asing itu. "Iya, Nek. Ayo," jawabnya, namun matanya masih sempat melirik ke arah tempat di mana pria itu terakhir kali berdiri. Di tengah pusat perbelanjaan yang ramai di Paris itu, sebuah pertemuan tak terduga baru saja terjadi, sebuah tabrakan kecil yang mungkin akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dari yang mereka berdua duga.
...****************...
hai teman-teman, ini adalah novel pertama saya, semoga kalian berkesan saat membaca dan mohon dukungannya untuk novel ini ya
Salam kenal dari author ❤️