Ayana Fristi adalah seorang fans K-Pop yang sangat cantik. Ayana dan para sahabatnya tak pernah absen dalam hal nonton konser Idol mereka. Dia seorang muslimah yang selalu menjaga kesuciannya, meski Ayana menerima Riyan Al Guzhan sebagai pacar atau calon suami.
Riyan tak pernah sekalipun menyentuh Ayana. Mereka berkomitmen untuk menikah saat mereka sudah selesai kuliah dan punya kerja. Ayana gadis yang tulus akan cintanya, dan tidak pernah curiga dengan Riyan.
Hingga... Rahasia busuk Riyan terbongkar tepat dua bulan sebelum jadwal pertunangan antara Ayana dan Riyan dilangsungkan, Riyan ketahuan berselingkuh dengan adik kelas Ayana saat di SMA.
Penghianatan Riyan membuat hati Ayana benar-benar hancur.
Bagaimana nasib hubungan Ayana dan Riyan. Akankah Ayana mempertahankan hubungannya dengan laki-laki yang sangat ia cintai ini, atau harus kandas ditengah jalan.
Bagaimana pula kisah perjalanan cintanya dengan sang Idola..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Yanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Mama Yoon beranjak dari tempat duduknya, beralih ke kursi kosong yang ada di samping Ayana. Wanita paruh baya itu lantas duduk di samping Ayana. Meraih tangan Ayana, seraya berucap dengan suara serak menahan tangis. "Ayana sayang.. saya minta maaf karena sudah memaksa kalian menerima perjodohan ini. Saya benar-benar minta maaf pada kalian. Tidak seharusnya saya memaksakan keinginan saya pada kalian" ujar Mama Yoon seraya menatap sendu wajah Ayana.
"Ya Allah, aku telah berdosa karena telah mengecewakan hati seorang ibu. Kalau saja saat itu aku bisa menolak sedikit saja untuk tidak menerima perjodohan ini, mungkin hati orang tua ini tidak sesedih ini" ucap batin Ayana, yang semakin sedih saat melihat air mata Mama Yoon.
"Cincin ini jangan dilepas, Nak.. Kalau Nak Ayana tidak bersedia menjadi menantu saya, saya harap Nak Ayana mau menjadi anak saya " ujar Mama Yoon penuh harap. "Maukah kamu memanggilku dengan sebutan Mama.." ujarnya lagi, tanpa lepas pandang pada Ayana. Walau baru beberapa kali bertemu dengan Ayana, Mama Yoon sudah sangat merasa bahagia dan sayang pada Ayana seperti putrinya sendiri.
Ayana mengangguk seraya tersenyum, lalu segera memeluk Mama Yoon. "Terimakasih Nak.. " ucap Mama Yoon, tersenyum dalam rasa sedih yang tak bisa ia ungkapkan. Betapa besar keinginannya untuk memiliki seorang anak perempuan ataupun menantu yang berhijab. Kehadiran Ayana seakan menjadi obat baginya yang sedang melawan penyakitnya yang ia tutupi dari Yoon, putra satu-satunya yang ia punya.
Sebenarnya, saat ini pun ia sedang menahan rasa sakit yang di deritanya. Mama Yoon tetap tidak memperlihatkan kalau dirinya sedang tidak baik-baik saja. Namun, walau sekuat apapun usahanya untuk menutupi penyakitnya.. tubuh tuanya tetap tidak mampu bertahan. Mama Yoon melepas pelukannya karena ia sudah tidak kuat lagi. Agar Yoon tidak mencurigai, Mama Yoon segera berpamitan untuk kembali ke hotel. Begitu juga dengan Mama Sindy, juga berpamitan kembali ke hotel. Mama Sindy juga sudah di tunggu oleh kolega perusahaan mereka, Bu Novi dari Indonesia yang juga sedang berlibur disana.
"Mama balik duluan ya, ada teman Mama yang sudah menunggu di hotel, kalian bincang-bincang lah dulu " ujar Mama Yoon, beralasan, seraya berpegangan pada kursi saat akan berdiri. Ayana segera berdiri seraya memberikan tangannya sebagai tumpuan Mama Yoon saat berdiri dari duduknya. Ayana segera mencium tangan Mama Yoon, lalu kembali memeluk beliau. Setelah melepas pelukannya, Ayana memperhatikan raut wajah Mama Yoon yang sedikit pucat, walau beliau sudah memakai pemerah bibir, tapi tetap kelihatan pucat.
" Apa Mama baik-baik saja ya?, kok aku merasa ada yang tidak beres dengan kesehatan beliau.. " batin Ayana saat memandangi wajah dan mata Mama Yoon. Dua wanita yang duduk tidak jauh dari mereka, segera mendekat dan membantu beliau membawa tas tangan.
Mama Yoon terus berjalan keluar didampingi oleh dua orang yang berpakaian seragam asisten rumah tangga, yang sebenarnya adalah perawat yang sedang merawat Mama Yoon Min.
Mama Min berpesan agar tidak perlu mengantar beliau. Jadi Yoon dan Ayana kembali duduk. "Yoon, apa tidak sebaiknya kita ikut kembali ke hotel, aku merasa ada yang tidak beres dengan kesehatan Mama mu " ujar Ayana pada Yoon dengan gelisah. "Maksud mu, Mama sakit?" tanya Yoon , heran dengan ucapan Ayana. "Aku berharap, Mama baik-baik saja. Tapi.. Apa perasaanku saja ya, badan Mama terasa dingin dan sedikit bergetar, seperti sedang menahan rasa sakit" ujar Ayana, serius. Pandangan mata Ayana berubah sendu, ia mengkhawatirkan kesehatan Mama Yoon. Ayana segera bangkit dari duduknya "perasaan ku kok, tidak enak ya.. " ujarnya lagi, seraya memegang dadanya. "Ayana, aku mau bicara serius dengan kamu. Bisakah kita bicara sebentar disini" ujar Yoon pada Ayana. " Kita bicarakan sambil jalan saja, aku mau memastikan kalau Mama baik-baik saja " jawab Ayana, lalu berjalan ke meja para sahabatnya. Yoon pasrah, ikut saja apa kata Ayana.
"Sindy, Key.. Aku mau balik ke hotel sekarang, apa ada yang mau balik bareng? " tanya Ayana pada Sahabatnya. " Aku, aku saja yang balik sama kamu, Sindy, Neyna dan Keyla mau bersantai sebentar lagi, aku sama Ayana pamit duluan ya.. " ujar Ulfa pada ke tiga sahabatnya yang berencana bersantai sebentar lagi di resto itu, lumayan bisa cuci mata.. Bisa ngelirik cogan.. Oppa-oppa Korea yang sedang menyantap hidangan penutup sambil berbincang bincang dengan sesama artis yang kebetulan juga sedang makan di sana.
Yoon mengangkat panggilan telepon dari Tantenya, wajah Yoon terlihat shock saat menerima panggilan itu... Yoon segera menarik tangan Ayana dan mengajak ikut kembali dengannya "Kamu benar, Mama sakit" ujarnya saat berada di depan mobilnya. Ulfa dan Ayana mengikuti Yoon yang kelihatan sangat panik. "Naik mobil kami saja, bro.. Biar aku yang nyetir" ujar Rendy seraya membuka pintu mobilnya yang berada di samping mobil Yoon. "Tapi kalau tidak, juga tidak apa-apa. Mereka tetap harus aku yang antar " ujar Rendy, tegas. Tidak mau terjadi sesuatu pada para gadis itu lagi.
"Baik, aku ikut kalian " ujar Yoon lalu masuk dan duduk di belakang bersama Ayana. Padahal, Rendy membuka pintu depan agar Yoon duduk di depan bersamanya.
"Kau saja duduk di depan, temani dia " ujar Yoon pada Dirga seraya menunjuk Rendy. "Maaf bro, aku yang duduk di belakang bersama para Nona, Anda silahkan duduk di depan " ujar Dirga tidak mau kalah. "Diaaam..! , teriak Ulfa, "Kami sedang buru-buru, Rendy.. Cepatlah.." ujar Ulfa lagi.
"Yoon, Mama sakit apa sebenarnya?" tanya Ayana pada Yoon. "Aku juga tidak tahu, Imoku.. Aaa maksud ku adik perempuan Mama yang menelfon, katanya Mama sebenarnya sedang tidak sehat.. Tapi beliau tetap bersikeras untuk kesini, mencarikan aku istri seperti yang ia harapkan " ujar Yoon, merasa bersalah juga gelisah dengan kabar sakitnya sang Mama.
"Aku jarang pulang, karena Mama selalu berusaha mencarikan wanita yang menurutnya baik untukku. Walau aku sudah mengatakan kalau aku sudah punya wanita yang aku suka" ujar Yoon lagi.
"Kenapa kamu tidak membawa wanita yang kamu sukai itu dan kenalkan pada beliau " ujar Ulfa ikut memberi saran. "Dia.. Aku tidak tau dia dimana sekarang, dia menghilang. Aku sudah ke Negaranya tapi, dia sudah pindah. Tidak di alamat yang dia berikan padaku dulu" Jawab Yoon, mengenang Yana nya, Yoon memalingkan wajahnya ke luar jendela.
"Kalau wanitamu sudah menikah, apa kamu juga akan tetap menunggunya?' tanya Ulfa lagi.. "Tidak, aku berjanji padanya, kalau suatu saat nanti kami bertemu kembali dan jika dia belum ada pasangan, aku siap menikah dengannya " ujar Yoon , menjelaskan kenapa sampai detik ini dia masih setia menunggu Yana kembali. "Sampai kapan kamu menunggu dia?" Tanya Ayana yang sedari tadi diam saja mendengar cerita Yoon.
Yoon tidak menjawab... "Jika kamu bertemu kembali dengannya, apa kamu bisa mengenalinya lagi.. Bukankah kamu bilang , kalian bertemu saat kalian masih sangat muda.., dan apakah dia juga bisa mengenali kamu yang kini sudah jadi superstar?" tanya Ayana lagi, ingin tau apa yang menjadi alasan Yoon betah menunggu wanita itu, dan bisa jadi bukan dia orangnya.
"Entahlah, aku hanya berharap pada benda ini.. Liontin yang aku buat bersama dia, dulu. Aku selalu memakainya saat aku konser dan ke Indonesia dan berharap dia melihat dan mengingatnya " ujar Yoon lagi. Hati Ayana berdesir saat melihat Yoon menciumi liontin itu.
"Bagaimana kalau dia sudah lupa tentang benda itu, apa kamu tidak bisa mengenali wajah atau mata atau hal lain dari wanita itu, untuk mempermudah pertemuan kalian " ujar Ulfa yang juga melihat Yoon seakan sangat menyayangi gelangnya itu.
"Tidak ada, aku hanya ingat wajah cantiknya saat masih muda, dan bagaimana wajahnya yang sekarang, aku tak bisa membayangkan. Tapi aku yakin bisa mengenali wajahnya " ujar Yoon seraya membuka pintu mobil, saat mobil sudah berhenti di hotel.
"Aku rasa, kamu sudah bertemu berkali-kali dengannya, hanya saja.. kamu yang sudah melupakan dia" ujar Ayana yang kini berjalan beriringan dengan Yoon menuju ke kamar Mama Yoon. " Apa artinya menikah karena janji, tapi kamu sudah tidak mencintai dia, Yoon.. " ujar Ayana lagi. "Aku tanya sekali lagi, jika wanita itu kini ada di depanmu, apa kamu bisa mengenalinya?" tanya Ayana, seraya berjalan lebih cepat dan tiba-tiba berdiri menghadap Yoon, membuat Yoon hampir menabraknya. "Apa-apaan sih, tiba-tiba berhenti mendadak, bagaimana kalau aku sampai menabrak mu " Protes Yoon yang sigap menghentikan langkahnya saat hampir menabrak Ayana.
"Lihat aku, apa kamu bisa mengenali nya?" tanya Ayana setengah berteriak seraya menatap Yoon, berharap Yoon mengenali siapa Ayana saat telah tiba di depan pintu kamar Mama Yoon.
Ulfa, Rendy, dan Dirga hanya diam menyaksikan drama yang sedikit mirip dengan drama ikan terbang yang biasa ortu mereka nonton di Negara mereka.