Aru dan Kenan adalah cerita tentang luka yang tak sengaja saling bersentuhan.
Aru, perempuan lembut dengan keteguhan hati yang sunyi, dipertemukan dengan Kenan—seorang ayah tunggal yang keras, protektif, dan menyimpan ketakutan terdalam akan kehilangan.
Sebuah pertemuan yang seharusnya biasa justru berujung luka, membuka tabir emosi yang selama ini terkunci rapat. Di tengah kesalahpahaman, tangisan seorang anak, dan perasaan bersalah, tumbuh kehangatan yang tak direncanakan.
Ketulusan Aru yang menenangkan dan naluri keibuannya perlahan meruntuhkan dinding pertahanan Kenan. Sementara Kenan, tanpa sadar, kembali belajar mempercayai cinta—meski hatinya terus mengingatkan untuk menjauh.
Ini bukan kisah cinta yang terburu-buru, melainkan perjalanan perlahan tentang luka, tanggung jawab, dan keberanian untuk membuka hati sekali lagi.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Sesuai dengan perintah Kenan sebelumnya, Joe memutuskan membawa Kai ke area parkir tempat mobil mereka terparkir. Sebelum benar-benar sampai ke luar rumah makan Padang itu, Kai sempat mengeluh karena mengantuk dan ingin tidur siang.
“Uncle… Kai ngantuk,” ucapnya pelan sambil mengucek mata.
“Iya, bentar lagi sampai mobil,” jawab Joe.
Akhirnya Joe dan Amar membawa Kai ke dalam mobil Rubicon mereka. Tak butuh waktu lama, Kai sudah tertidur nyenyak di kursi belakang.
Sementara itu, Joe dan Amar duduk di kursi besi yang tersedia di area parkiran.
Sejak keluar dari ruangan makan, Joe terus menggerutu dan mengumpati Kenan. Amar sendiri merasa telinganya hampir panas karena Joe tak berhenti berbicara.
“Sudah lah, Mas Joe,” ucap Amar akhirnya. “Nggak capek mulutnya ngomong terus? Percuma juga, sampai mulut Mas Joe berbusa, Mas Kenan nggak bakal dengerin.”
Joe tetap memasang wajah kusut dan masam. Ia sama sekali tak menghiraukan nasihat Amar. Pikirannya sudah penuh dengan pekerjaan kantor yang masih menumpuk.
“Kepala gue rasanya mau meledak, Mar,” keluh Joe. “Si duda gila itu ninggalin kerjaan seenaknya. Aaaaa, Tuhan… hamba harus kerja rodi lagiiiii!”
Joe berteriak dramatis. Untung saja parkiran sedang sepi.
“Yang sabar ya, Mas,” ucap Amar sambil menepuk bahu Joe.
Tiba-tiba ponsel Joe berdering. Di layar tertulis nama Yang punya Baskara Group, yang berarti papi Bas.
Joe langsung mengangkat.
“Waalaikumsalam, om. ”
“…”
“Joe lagi di rumah makan Padang, om. Tadi habis meeting sama Aru.”
“…”
“Iya, Kai ikut. Tapi sekarang lagi tidur di mobil.”
“…”
“Oke, om. Joe antar Kai pulang dulu, habis itu langsung ke kantor.”
“…”
“Iya, om. Waalaikumsalam.”
Joe mematikan telepon.
“Ada masalah, Mas?” tanya Amar sambil membuka snack dari dalam mobil.
“Nggak,” jawab Joe. “Om Bas cuma nyuruh gue antar Kai pulang, terus langsung ke kantor. Di sana nggak ada yang ngawasin. Semua petinggi Baskara Group lagi ada pertemuan”
Amar mengangguk, lalu bertanya, “Mas… kita kan cuma bawa satu mobil. Mas Kenan nanti pulangnya gimana?”
Joe mendengus kesal. “Bodo amat. Bukan urusan gue. Yang penting gue nggak diomelin om Bas.”
“Kalau Mas Kenan marah sama saya gimana?” tanya Amar ragu.
"Jangan banyak bacot, ayo cepat masuk atau mau gue tinggal disini? "ancam Joe dari dalam mobil yang duduk di kursi kemudi.
Amar langsung menggeleng. “Jangan, Mas!”
Mobil Rubicon itu pun meninggalkan parkiran. Tujuan mereka jelas: mengantar Kai pulang, lalu Joe kembali ke kantor.
...****************...
Aru dan Kenan telah selesai makan siang. Semua tagihan dibayar oleh Kenan meski Aru sempat menolak. Aru juga membawa pesanan nasi dan lauk titipan Zidan.
Bak sepasang kekasih, Aru dan Kenan berjalan berdampingan keluar dari rumah makan.
Sesampainya di parkiran, Kenan berhenti. Ia menoleh Kenan dan kekiri mencari keberadaan mobil dan para penghuninya.
"Di mana pak Kenan memarkir mobil, bapak? " tanya Aru yang tak melihat keberadaan Joe dan para pengikutnya.
“Tadi Amar memarkirkannya di sini,” jawab Kenan sambil berdiri tepat di lokasi bekas mobilnya terparkir.
Area parkir itu tidak terlalu luas, sehingga Kenan dapat dengan jelas melihat bahwa mobilnya sudah tidak berada di sana. Yang tersisa hanyalah mobil Aru serta beberapa kendaraan milik pengunjung lain.
Aru ikut menoleh ke sekeliling, raut wajahnya tampak bingung. Apa mobilnya dipindahkan? pikirnya.
Di saat mereka masih kebingungan mencari keberadaan mobil Kenan beserta para penghuninya, tiba-tiba ponsel Kenan berbunyi.
Ting
Pesan dari Amar masuk.
Maaf sebelumnya, Mas Kenan. Saya, Mas Joe, dan Kai pulang duluan. Mas Joe dapat telepon dari Tuan besar supaya segera antar Kai pulang dan langsung ke kantor. Kami terpaksa ninggalin Mas. Kalau nggak keberatan sebaiknya mas Leo nebeng sama mbak Aru aja. Soalnya saya juga nggak bisa jemput mas Leo, saya dapat tugas nemanin ibuk ke pasar.
Kenan membaca perlahan… lalu tersenyum.
"Terima kasih, Tuhan. Ini bukan ditinggal—ini dikasih jalan." Batinnya.
Ia benar-benar merasa seperti mendapat jackpot hari ini.
Hari ini benar-benar terasa seperti keberuntungan besar bagi Kenan.
Ia tak menyangka semuanya bisa berjalan sejauh ini—makan siang yang tenang, suasana yang hangat, dan kini… kesempatan untuk lebih dekat dengan Aru.
Senyumnya tak kunjung pudar sejak membaca pesan dari Amar. Bahkan ketika layar ponselnya sudah gelap, Kenan masih saja tersenyum sendiri, tenggelam dalam pikirannya.
Aru yang sejak tadi berdiri di sampingnya akhirnya menepuk pundak Kenan pelan. Dari tadi ia memanggil, tapi pria itu sama sekali tak menoleh.
“Pak Kenan?” panggil Aru lagi, kali ini nadanya sedikit lebih tinggi. “Kenapa? Kok senyum-senyum sendiri dari tadi?”
Kenan tersentak kecil. “Eh—iya, maaf,” katanya sambil tertawa kecil. Ia lalu memperlihatkan ponselnya. “Ini… pesan dari Amar.”
Aru membaca pesan itu dengan saksama, lalu mengangguk pelan. “Oh, jadi mereka pulang duluan.”
“Iya,” jawab Kenan. “Sepertinya begitu.”
Ada jeda canggung di antara mereka. Kenan menatap sekitar parkiran yang mulai terasa lengang, lalu kembali menoleh ke Aru.
“Kalau begitu…” Kenan menghela napas tipis. “Apa boleh saya nebeng sama kamu, Aru?” tanyanya, berusaha terdengar biasa saja meski hatinya berdegup lebih cepat.
“Boleh kok, Pak Kenan,” jawab Aru tanpa ragu. “Rumah kita juga searah.”
Ia lalu menambahkan, “Tapi sebelum pulang, saya mau mampir ke supermarket dulu. Nggak masalah, kan?”
“Nggak apa-apa sama sekali,” sahut Kenan cepat. “Santai aja.”
Mereka berjalan beberapa langkah menuju mobil Aru. Di tengah jalan, Kenan tampak ragu, seolah ada sesuatu yang ingin ia sampaikan.
“Aru,” panggilnya pelan.
“Iya, Pak Kenan?”
Kenan berhenti sejenak. “Boleh saya minta sesuatu?”
Aru ikut berhenti dan menoleh. “Pak Kenan mau minta apa?”
Kenan menarik napas singkat. “Kalau di luar kantor, saya pengin kamu nggak manggil saya pak atau bapak. Boleh?”
Aru terdiam sebentar, lalu tersenyum kecil. “Boleh kok.”
Ia mengangkat alisnya sedikit. “Terus, saya manggil apa?”
“Mas,” jawab Kenan tanpa ragu. “Kalau kamu nggak keberatan.”
“Mas Kenan,” ulang Aru pelan, seolah mencoba membiasakan diri. “Kayaknya lebih santai, ya.”
Kenan langsung tersenyum lebar. Satu panggilan sederhana itu sukses membuatnya salah tingkah.
“Makasih, Aru,” ucapnya tulus.
“Iya, sama-sama, Mas Kenan,” balas Aru. “Kalau gitu kita masuk mobil aja. Di sini mulai panas.”
“Iya,” sahut Kenan. “Tapi biar Mas yang nyetir, ya?”
Aru tanpa ragu menyerahkan kunci mobilnya. “Silakan, Mas.”
Mereka pun masuk ke dalam mobil. Kenan duduk di kursi pengemudi, sementara Aru duduk tenang di sampingnya. Mesin Mercedes-benz hitam itu menyala, lalu perlahan meninggalkan area parkir.
Di sepanjang jalan, suasana terasa berbeda,lebih ringan, lebih hangat, dan penuh kemungkinan baru.
Bersambung..............