Di dunia kultivasi yang kejam, bakat adalah segalanya.
Bagi Xu Tian, seorang murid rendahan tanpa bakat, dunia hanya berisi penghinaan.
Ia dibully, diinjak, dan dipermalukan—bahkan oleh wanita yang ia cintai.
Hari ia diusir dari sekte tingkat menengah tempat ia mengabdi selama bertahun-tahun, ia menyadari satu hal:
Dunia tidak pernah membutuhkan pecundang.
Dengan hati hancur dan tekad membara, Xu Tian bersumpah akan membangun sekte terkuat, membuat semua sekte besar berlutut, dan menjadi pria terkuat di seluruh alam semesta.
Saat sumpah itu terucap—
DING! Sistem Membuat Sekte Terkuat telah aktif.
Dalam perjalanannya, ia bertemu seorang Immortal wanita yang jatuh ke dunia fana. Dari hubungan kultivasi yang terlarang hingga ikatan yang tak bisa diputus, Xu Tian melangkah di jalan kekuasaan, cinta, dan pengkhianatan.
Dari murid sampah…
menjadi pendiri sekte yang mengguncang langit dan bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 : Teknik yang Tidak Di akui
Xu Tian berdiri di tepi area latihan yang dibersihkan seadanya. Tanahnya keras, tanpa lingkar formasi atau tanda apa pun. Hanya bekas pijakan dan batu kecil yang disingkirkan pagi tadi.
Chen Yu berlutut di tengah area. Punggungnya tegak. Kedua tangannya diletakkan di atas paha, mengikuti instruksi yang baru saja diberikan.
Xu Tian melemparkan selembar batu giok tipis ke tanah di depan Chen Yu. Batu itu tidak memancarkan cahaya. Permukaannya polos.
“Baca. Ikuti. Jangan menambah,” katanya.
Chen Yu mengambil batu giok itu dengan kedua tangan. Ia tidak bertanya. Pandangannya bergerak pelan, mengikuti baris instruksi yang terukir sederhana.
Ia duduk kembali. Mata terpejam. Napasnya diatur sesuai petunjuk.
Awalnya, tidak ada perubahan. Udara pagi tetap dingin. Angin melintas pelan di antara bangunan sekte yang belum selesai.
Xu Tian memperhatikan dari samping. Tangannya terlipat di balik jubah. Pandangannya tidak lepas dari dada Chen Yu.
Beberapa tarikan napas berlalu.
Aliran pertama muncul. Tidak kuat. Tidak jelas arahnya.
Qi di sekitar Chen Yu bergerak, namun tidak berkumpul. Ia mengalir tipis, lalu terpecah, menyentuh bahu, punggung, lalu menghilang ke udara.
Dahi Chen Yu berkerut. Bahunya sedikit menegang.
Ia menyesuaikan napas. Gerakannya tetap mengikuti instruksi di batu giok.
Aliran itu kembali muncul. Kali ini lebih lambat. Lebih berat.
Qi tidak turun ke pusat tubuh seperti teknik yang pernah ia lihat. Ia justru menyebar ke samping, seperti air yang bocor dari wadah retak.
Tangan Chen Yu bergetar ringan. Jari-jarinya mencengkeram kain celana.
Xu Tian tidak bergerak. Pandangannya menyempit.
Beberapa saat kemudian, Chen Yu membuka mata setengah. Napasnya tersendat.
“Guru,” katanya pelan.
Xu Tian mengangkat satu jari. Isyarat diam.
Chen Yu menutup mulut. Ia menelan ludah, lalu memejamkan mata kembali.
Qi di sekitarnya menjadi tidak stabil. Tidak meledak. Tidak melonjak. Hanya terasa salah arah.
Tanah di bawahnya mengeras sedikit. Butiran pasir bergeser menjauh dari tubuhnya.
Kening Chen Yu mengernyit lebih dalam. Keringat muncul di pelipisnya.
Ia mengikuti instruksi selanjutnya. Napas ditahan sesaat, lalu dilepas perlahan.
Aliran qi terputus. Sejenak, tidak ada apa pun.
Lalu rasa nyeri muncul. Bahunya turun sedikit. Punggungnya membungkuk setengah inci.
Xu Tian melangkah satu langkah mendekat. Tidak menyentuh. Tidak bicara.
Qi kembali bergerak. Kali ini lebih kacau. Ia tidak membentuk pusaran. Tidak membentuk jalur jelas.
Aliran itu menyentuh sisi tubuh Chen Yu, lalu menyebar ke kaki dan lengan tanpa pola.
Chen Yu mengerang pelan. Rahangnya mengeras.
Tangannya terangkat sedikit, lalu jatuh kembali ke paha. Ia tetap duduk.
Xu Tian mengingat teknik yang pernah ia pelajari di Sekte Awan Giok. Semua dimulai dari pengumpulan. Dari pemusatan. Dari penekanan.
Apa yang terjadi di depan matanya tidak mengikuti itu.
Qi ini tidak dikumpulkan. Tidak dipaksa. Ia seperti dibiarkan memilih jalan sendiri.
Chen Yu membuka mata. Pandangannya kosong sesaat. Ia menggeleng kecil, seolah mencoba menyingkirkan pusing.
Xu Tian akhirnya bicara. Suaranya datar.
“Hentikan jika tidak sanggup.”
Chen Yu menarik napas panjang. Dadanya naik turun beberapa kali.
Ia melirik batu giok di depannya. Lalu menutup mata kembali.
Latihan berlanjut.
Qi kembali muncul. Lebih tipis dari sebelumnya. Namun kali ini, ia tidak menyebar sejauh tadi.
Ia bergerak pendek-pendek. Menyentuh jalur kecil di tubuh Chen Yu, lalu berhenti.
Chen Yu tidak bergerak. Keringat menetes dari dagunya ke tanah.
Tanah itu menyerap tetesan itu dengan cepat.
Xu Tian memperhatikan perubahan kecil itu. Tanah di sekitar Chen Yu tidak retak. Tidak berguncang. Hanya terasa lebih padat.
Beberapa helai rumput liar di tepi area latihan condong ke arah Chen Yu. Tidak layu. Tidak tumbuh lebih cepat.
Qi di udara terasa tenang, tapi arahnya tidak jelas.
Chen Yu membuka mata lagi. Pandangannya lebih fokus, meski wajahnya pucat.
“Rasanya… tidak benar,” katanya lirih.
Xu Tian tidak menjawab langsung.
Ia menatap Chen Yu dari ujung kepala hingga kaki. Napas muridnya tidak kacau, tapi tidak stabil.
“Lanjutkan satu siklus lagi,” katanya.
Chen Yu mengangguk kecil. Ia menutup mata.
Qi bergerak kembali. Kali ini lebih lambat dari sebelumnya.
Tidak ada pusaran. Tidak ada tekanan kuat. Namun alirannya tidak buyar sepenuhnya.
Xu Tian menyadari satu hal. Qi itu tidak mencoba masuk ke satu titik. Ia menyentuh banyak titik kecil, lalu berhenti.
Seperti menguji. Bukan menaklukkan.
Chen Yu menghembuskan napas panjang. Bahunya turun. Tubuhnya sedikit rileks.
Namun kakinya tiba-tiba menegang. Telapak kakinya menekan tanah.
Xu Tian melihat perubahan itu dengan jelas.
Qi di sekitar kaki Chen Yu menguat sedikit. Tanah di bawahnya menjadi lebih keras.
Chen Yu membuka mata. Ia menatap tangannya sendiri, lalu mengepalkannya perlahan.
Tidak ada cahaya. Tidak ada aura mencolok.
Ia hanya duduk di sana, terengah pelan.
Xu Tian tidak berkata apa-apa. Pandangannya tetap tenang, tapi pikirannya bergerak cepat.
Jika teknik ini diajarkan di sekte lama, ia akan disebut cacat. Jika dipraktikkan di depan tetua, akan dihentikan sebelum selesai satu siklus.
Ia menatap Chen Yu lebih lama.
“Berhenti,” katanya akhirnya.
Chen Yu langsung menghentikan pernapasan teratur itu. Ia membuka mata sepenuhnya.
Ia mengangkat kepala, menunggu.
Xu Tian memungut batu giok dari tanah. Ia menyimpannya kembali ke dalam lengan jubah.
“Besok ulangi,” katanya.
Chen Yu terdiam sejenak. Lalu ia bertanya pelan, “Apakah aku salah melakukannya?”
Xu Tian menatapnya. Tidak lama.
“Tidak,” katanya.
Ia berbalik, meninggalkan area latihan.
Chen Yu tetap duduk beberapa saat. Tangannya masih sedikit gemetar. Namun napasnya perlahan kembali normal.
Di sekeliling area latihan, udara pagi tetap sunyi. Qi wilayah bergerak pelan, tanpa bentuk yang biasa dikenal dunia.
...
Chen Yu tidak langsung berdiri. Ia menurunkan tangan ke tanah, menopang tubuhnya sebentar. Napasnya masih berat, tapi tidak terputus.
Qi di sekitarnya belum sepenuhnya menghilang. Ia bergerak tipis, mendekat lalu menjauh, seolah ragu.
Xu Tian berhenti beberapa langkah dari area latihan. Ia menoleh sekali, lalu berjalan menuju aula yang belum selesai.
Chen Yu akhirnya bangkit. Kakinya sedikit goyah, tapi ia tidak jatuh. Ia melangkah keluar dari area latihan dengan hati-hati.
Tanah di bekas duduknya terasa berbeda. Lebih padat. Tidak lembap, tidak kering.
Ia menunduk, menyentuhnya dengan ujung jari. Tidak ada reaksi lanjutan.
Chen Yu menarik napas panjang. Ia berjalan menuju sumber air kecil di sisi wilayah sekte.
Setiap langkah terasa ringan, tapi tidak stabil. Seperti tubuhnya belum sepenuhnya menyesuaikan.
Ia membasuh wajah. Air dingin menyentuh pipinya, membuatnya tersentak kecil.
Saat ia mengangkat kepala, pendengarannya menangkap suara halus. Bukan angin. Bukan serangga.
Qi di sekitarnya bergerak lagi. Kali ini mengikuti aliran air.
Chen Yu berdiri diam. Tangannya berhenti di udara.
Aliran itu tidak masuk ke tubuhnya. Ia hanya melewati, lalu menyebar ke tanah.
Di kejauhan, Xu Tian berhenti melangkah. Ia merasakan perubahan itu tanpa menoleh.
Qi wilayah bergerak pelan. Tidak terfokus. Tidak liar.
Ia berbalik. Pandangannya tertuju ke arah Chen Yu dan sumber air.
Chen Yu juga merasakannya. Ia menggeser kakinya setengah langkah ke belakang.
Tanah di bawahnya tidak retak. Tidak bergetar. Namun permukaannya menjadi lebih rata.
Xu Tian mendekat. Langkahnya tenang.
“Kau lanjutkan besok,” katanya.
Chen Yu mengangguk. Ia membuka mulut, lalu menutupnya kembali.
Xu Tian menatap sekeliling wilayah sekte. Aula yang belum selesai. Tiang-tiang kasar. Tanah yang masih kosong.
Qi mengalir di antaranya tanpa bentuk jelas. Tidak terkumpul. Tidak tersebar acak.
Di hadapannya, sebuah panel tipis muncul di udara. Cahaya datar, tanpa tekanan.
“Struktur latihan terdeteksi.”
Tulisan itu berhenti. Tidak ada penjelasan lanjutan.
Xu Tian menatapnya sesaat. Lalu panel itu menghilang.
Chen Yu melihat ke arah gurunya. Ia tidak bertanya.
Xu Tian berjalan menuju batas wilayah sekte. Ia berhenti di garis tanah yang mulai berubah sejak kemarin.
Qi dari luar bergerak masuk, lalu melambat. Tidak terhalang. Tidak diserap paksa.
Ia menekan ujung sepatunya ke tanah. Permukaannya tidak amblas.
“Teknik ini,” katanya pelan, lebih seperti perintah daripada penjelasan, “jangan kau bandingkan dengan yang lain.”
Chen Yu menjawab singkat, “Baik, Guru.”
Xu Tian melangkah pergi. Jubahnya bergesek dengan angin sore yang mulai turun.
Chen Yu berdiri sendirian di dekat sumber air. Ia mengepalkan tangan, lalu membukanya.
Tidak ada cahaya. Tidak ada dorongan kuat.
Namun saat ia melangkah, kerikil kecil di bawah kakinya tidak bergeser.
Qi wilayah bergerak lagi, mengikuti langkahnya, lalu berhenti.
Di kejauhan, seekor burung liar mendarat di tiang kayu sekte. Ia tidak terbang menjauh.
Wilayah itu sunyi. Tidak ada pengakuan. Tidak ada tanda kekuatan besar.
Hanya aliran yang tidak mengikuti kebiasaan dunia.