Kisah cinta dan peliknya kehidupan Nadia Mark Wijaya. Menjadi anak 'brokend home' bukanlah bagian mimpinya.
Saat suami menghianati istrinya..
Papa yang melukai anaknya..
Dan, kekasih yang mematahkan kepercayaan atas cinta!
Hidup Nadia benar-benar berantakan, mulai dari perceraian kedua orang tuanya karena perselingkuhan papanya. Ditambah kenyataan sang kekasih bermain api dengan kakak tirinya.
Berbagai pengkhianatan dari orang-orang terdekatnya membuat Nadia tidak lagi mempercayai cinta. Hanya kebencian yang kini menyelimuti hati wanita itu.
"Aku adalah pemeran utama dalam sandiwara kecil berjudul KITA, namun kau bawa dia dan mengubah alur cerita."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiya Corlyningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flashback II
Bagaikan petir yang menggelegar, ucapan Sonia membuat mata Ardika terbelalak tidak menyangka mendengar wanita yang selama hampir dua puluh tahun hidup bersamanya mengucapkan kalimat seperti itu didepannya.
Apa yang mempengaruhi wanita itu hingga mengatakan sesuatu yang tidak pernah mereka singgung sebelumnya.
Persidangan? Persidangan apa yang wanita itu inginkan?
"Mama Nadia, apa yang kamu katakan?" tanya Ardika mendekat kearah istrinya.
Tapi Sonia memundurkan langkahnya, wanita itu terlihat sangat jijik dan juga tidak sudi berdekatan dengan lelaki yang telah membagi tubuhnya dengan orang lain.
Membayangkan Ardika menghabiskan malam dengan wanita itu dan juga saling terbakar asmara membuat Sonia ingin lenyap dari muka bumi ini jika saja wanita itu tidak memikirkan bagaimana kelanjutan hidup putri sematawayangnya tanpa adanya dia di sisi anaknya.
Sonia tidak akan menyia-nyiakan hidupnya untuk lelaki seperti itu. Kalaupun Ardika tidak bisa menjaga keutuhan rumah tangganya dan berselingkuh dengan wanita lain, maka Sonia yang akan pergi dari sana tanpa sudi menoleh kembali ke belakang.
"Sonia, kamu kenapa? Katakan! Jangan membuatku cemas," ucap Ardika frustasi melihat istrinya kini menangis dengan air mata yang meluruh tiada henti.
Mata itu tidak boleh menangis karena kesedihan, Ardika pernah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak membiarkan istrinya menangis selain menangis karena bahagia.
"Sonia, katakan padaku. Apa yang membuatmu seperti ini. Katakan, apa salahku?" Ardika mencoba meraih tangan wanita itu tapi disentaknya dengan kasar oleh Sonia.
"Jangan berani menyentuhku dengan tubuh menjijikkan milikmu!" teriak Sonia membuat Ardika terbelalak karena terkejut.
"Hei apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ardika meminta penjelasan.
Padahal baru beberapa jam yang lalu Sonia masih menyapanya dengan hangat. Kenapa sikap wanita itu berubah secepat itu? Ataukah wanita itu tengah kedatangan tamu bulanannya sehingga emosi Sonia sedang tidak stabil?
"Bereng*sek!!"teriak Sonia memukul dada lelaki itu berkali-kali.
Ardika membiarkan wanita itu meluapkan amarahnya, Ardika sendiri bingung dengan sikap Sonia yang selama ini tidak pernah semarah itu dengannya.
Ponsel itu!
"Sonia, jangan bilang kamu membuka isi ponsel itu?" tanya Ardika dengan mata berkilat marah.
Tidak, Sonia tidak boleh mengetahui rahasia yang telah dia tutupi rapat-rapat sampai detik ini. Dengan segala kekuatan dan juga kekuasaan lelaki itu dan keluarganya, Ardika mampu menyembunyikan keberadaan Ferra dan juga Pevita.
"Kenapa? Kenapa kamu tega melakukan ini denganku?" isak Sonia menatap suaminya dengan hancur.
Ya Tuhann, istrinya mengetahui semuanya. Sonia semarah itu karena Sonia tahu bahwa Ardika telah berselingkuh darinya. Apa yang harus lelaki itu lakukan untuk memperbaiki keadaan sekarang? Semua ini salahnya, seharusnya Ardika tidak teledor meninggalkan ponsel itu disembarang tempat yang bisa kapan saja Sonia jangkau selama ponsel itu tidak berada dalam pengawasannya.
Ardika menyentuh tubuh Sonia.
"Dengarkan aku, aku bisa menjelaskan segalanya kepadamu," ucap Ardika menatap Sonia tepat di manik mata wanita itu.
Sonia mendengus, wanita itu melepaskan tangan Ardika dari tubuhnya dengan senyuman sinis yang tersungging di bibirnya.
"Menjelaskan? Saat kamu berselingkuh dariku tanpa alasan kini aku harus membiarkanmu berbicara mengenai alasan? Tidakkah kamu pikir dirimu terlalu serakah sebagai lelaki?" tanya Sonia dengan mata berkilat marah.
Ardika mengusap wajahnya frustasi, semua itu terjadi tidak disengaja. Ardika saat itu tidak tahu harus berbuat apa saat orangtuanya menuntutnya untuk segera memiliki anak sedangkan Sonia masih belum memiliki anak meski usia pernikahan mereka sudah memasiki usia lima tahun.
Ardika ingin menjadi suami yang baik dan setia untuk Sonia. Ardika sama sekali tidak ingin membuat wanita itu terluka. Bahkan, sekalipun Sonia tidak bisa memberikannya keturunan, Ardika telah mengatakan kepada Ferra bahwa hanya Sonia wanita satu-satunya dalam hidup lelaki itu.
Ternyata takdir berkata lain, Sonia hamil bersamaan dengan Ardika yang baru saja menikahi Ferra karena kecelakaan semalam mereka. Takdir begitu kejam kepada merea semua, dan menempatkan mereka dalam lingkaran api yang bisa membakar mereka kapan saja.
"Aku tidak punya pilihan lain sayang, saat itu papa meminta anak dariku. Dan kamu, kamu belum hamil saat itu," lirih Ardika menjelaskan situasi sulit yang dia hadapi saat itu.
Orang tuanya mengancam akan membuat Sonia meninggalkan Ardika jika Ardika tidak segera memberikan mereka pewaris.
"Papa mama memintaku menceraikanmu, aku tidak bisa. Aku memilih menikahi wanita lain untuk menyelamatkan pernikahan kita," suara Ardika serak, tenggorokannya terasa tercekik begitu sesak menyelingkupi dadanya.
Sedangkan Sonia hanya menangis disana dengan memejamkan matanya tidak kuasa menatap lelaki yang telah menghancurkan hidupnya.
"Ceraikan aku," ucap Sonia dengan sangat berat, antara cinta dan kebencian yang kini menggerogoti hati wanita itu tanpa ampun.
Mata Ardika terbelalak, lelaki itu menggeleng pertanda bahwa lelaki itu tidak akan mau bercerai dengan Sonia. Dia melakukan semua itu untuk mempertahankan rumah tangganya dengan wanita yang dia cintai.
"Sonia, jangan pernah berpikir untuk meminta cerai dariku. Itu tidak akan pernah terjadi sayang, aku mencintaimu. Sungguh, aku hanya mencintaimu," lirih Ardika berusaha menggenggam tangan Sonia namun ditepis kasar oleh Sonia.
"Cinta bukan tugas kelompok yang harus dikerjakan bersama-sama, aku tidak akan mengabdikan hidupku untuk lelaki yang tidak bisa menerimaku apa adanya," ucap Sonia dengan matanya yang menyala.
Ardika menggeleng.
"Aku bersumpah demi apapun juga, aku hanya mencintaimu Sonia. Semua orang tahu kalau istriku adalah dirimu, dan Nadia adalah anak kita. Tidak ada yang berubah, kamu tetap yang pertama."
Sonia tertawa. "Yang pertama tapi selalu diduakan? Begitukah maksudmu Ardika?" ejek Sonia menghapus air matanya kasar.
Ting tong, ting tong...
Suara bel rumah mereka berbunyi, Sonia menatap Ardika.
"Tidak kamu buka keluarga keduamu yang datang berkunjung?" tanya Sonia dengan tatapan nanar wanita itu.
"Kamu gila!"
Ardika benar-benar akan hancur sebentar lagi, lelaki itu berjalan kearah pintu. Membuka pintu itu perlahan, dia melihat Ferra dan Pevita berdiri didepan pintu rumahnya.
"Papa Pevita."
Ardika memejamkan matanya, tidak tahu lagi apa yang harus dia katakan.
"Kenapa opa ingin melihat Pevita, papa?" tanya Pevita kepada papanya.
Gadis itu melihat sekeliling rumah megah di sana, rumah yang mungkin dua kali lebih besar dan juga lebih mewah dari rumahnya.
"Ardika, kenapa kamu mengirim pesan memintaku datang kemari? Memangnya Sonia dan Nadia tidak di rumah ini? Bukankah-"
"Selamat datang, Nyonya Wijaya," sapa Sonia dengan senyuman sinis wanita itu menatapnya.
Mata mereka bertemu, sorot mata yang berkilat marah rasanya bisa meremukkan segala hal yang saat ini wanita itu tatap. Kini pandangan Sonia beralih ke sosok gadis yang seumuran dengan Pevita.
Mereka seperti pinang dibelah dua. Batin Sonia ketika melihat wajah Pevita memiliki mimik wajah dan sorot mata yang sama dengan putrinya.