Inilah kisah cinta Rudi dan Vina yang berliku. Pasangan kekasih yang sudah lima tahun menjalani jalinan, tiba-tiba dipisahkan oleh sebuah insiden yang menimpa Vina dan menjadi aib bagi keluarga besarnya.
Setelah tiga tahun, Vina kembali ke keluarganya di sebuah kampung nelayan di pesisir selatan Provinsi Lampung. Alangkah terkejutnya dia ketika mendapati Rudi telah sangat berubah, yaitu menjadi pemuda yang alim dan sehari-hari mengajar anak-anak mengaji. Bisa disebut bahwa Rudi telah menjadi seorang ustaz baru.
Perubahan mantan kekasihnya itu membuat cinta lama Vina kepada Rudi kembali tumbuh.
Namun, tidak seperti tiga tahun yang lalu bahwa Rudi adalah miliknya seorang, tetapi kini ada beberapa wanita yang telah dekat dengan Rudi. Misalnya, Kulsum putri Ustaz Barzanzi, Bulan si pengusaha muda nan kaya, dan Alexa janda muda.
Namun, Vina merasa bahwa Rudi adalah miliknya dan dia harus memilikinya kembali.
Temukan intrik-intrik cinta yang seru di novel "Rudi adalah Cintaku".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAC 35: Tamu Ganteng Kaya dari Jakarta
*Rudi adalah Cintaku (RAC)*
Dua mobil mewah berwarna hitam memasuki desa nelayan itu. Mirip mobil hitam para pejabat. Namun, jika dilihat dari jenis platnya, itu bukan mobil dinas pejabat.
Ketika memasuki desa nelayan itu, kedua mobil bergerak pelan di jalan desa yang lebarnya terbatas. Kedatangan kedua mobil tersebut menarik perhatian warga, tapi hanya memandangi saja. Jika mobilnya hanya sebuah, mungkin tidak begitu menarik perhatian. Namun karena dua, disangka yang datang adalah pejabat dari kecamatan atau kabupaten.
Mobil sebelah depan sempat berhenti dan satu pintu depannya dibuka dari dalam. Seorang lelaki botak berbadan tegap, serta berkacamata hitam, turun dari mobil dan menutup pintu lagi. Ia pun sendirian di luar mobil, tetapi dia tidak takut.
Lelaki besar itu mengenakan jas hitam berdasi hitam dengan kemeja merah. Dia berjalan mendatangi seorang warga yang sedang duduk-duduk di balai-balai di bawah rumah panggungnya yang cukup tinggi.
“Maaf, Pak. Numpang tanya,” kata lelaki botak kepada warga pria yang duduk bersarung sambil merokok.
“Iya,” ucap pria tersebut dengan wajah datar.
“Rumah Vina di sebelah mana, Pak?” tanya lelaki botak yang namanya Dery.
“Vina yang baru pulang dari Jakarta itu?” Si bapak justru balik bertanya.
“Benar sekali.”
“Maju saja lagi, setelah melewati tanah lapang, maka rumah besar yang ada halamannya itu, itu rumah Vina. Yang ada pohon mangganya ya,” jawab pria bersarung.
“Oh, terima kasih, Pak,” ucap Dery setelah memandang ke arah tunjukan si bapak.
Dery lalu berjalan ke depan mobil, lalu memberi kode tangan agar kedua mobil tersebut mengikutinya. Sementara dia terus berjalan gagah tanpa mau melepas kacamata dan sepatunya.
Dery terus berjalan hingga menemukan ciri-ciri tempat yang tadi diterangkan oleh warga yang ditanya. Sebuah rumah besar berlantai dua bercat kuning gading, berhalaman dengan sebuah pohon mangga dan dua pohon kelapa.
Meski keterangan warga tadi tidak selengkap yang disaksikan sekarang, tapi Dery yakin bahwa rumah itulah yang dimaksud. Namun, untuk mengantisipasi terjadinya 0,1 persen peluang kesalahan yang bisa berujung ke-maluan, Dery memutuskan untuk bertanya lagi kepada seorang warga yang berjalan melintas di jalan depan rumah tersebut.
“Maaf, Mas. Benarkah ini rumah Vina?” tanya Dery kepada pemuda gemuk yang lewat.
“Benar,” jawab si pemuda yang tidak lain adalah Aziz. Dia memandang dengan datar tanpa senyum segaris pun, seolah-olah kehadiran orang tersebut dan kedua mobil mewah yang mengikutinya adalah perkara aneh.
“Terima kasih,” ucap Dery.
Aziz hanya mengangguk sambil lanjut pergi menuju pulang ke rumahnya. Dia baru pulang dari membeli susu buat anaknya di warung terdekat kedua dari rumahnya. Dia berjalan sambil menengok memandangi orang dan mobil asing itu.
Dery langsung membuka lebar pintu pagar yang sudah terbuka setengah, lalu mengarahkan kedua mobil agar masuk ke halaman, di mana sudah ada beberapa mobil, salah satunya adalah mobil mewah berwarna biru terang milik Vina.
Kedatangan dua mobil yang tidak dikenal, memancing Haji Suharja segera muncul dari arah garasi mobil sambil membawa sebatang rokok membara di bibir hitamnya. Keningnya mengerut tebal dengan pandangan yang penuh tanya meski tidak terdengar bertanya-tanya.
Kedua mobil sudah berhenti dengan posisi parkir yang berdampingan.
Dari mobil kedua keluarlah tiga orang berseragam jas hitam berkemeja merah dan berkaca mata hitam. Salah satunya membawa sebuah koper hitam. Mereka tidak ke mana-mana, tetapi berdiri siap sempurna di samping pintu mobil.
Sementara Dery segera membukan pintu samping kanan dari mobil pertama.
Dari dalam rumah keluar pula Sunirah dan Murni untuk melihat siapa yang datang. Mereka keluar karena mendengar suara mesin mobil yang halus di depan rumah, yang kemudian terdengar suara pintu mobil yang ditutup beruntun.
“Vin, sepertinya ada tamu yang datang,” kata Junita yang saat itu masih berada di kamar Vina. Mereka berdua memang mendengar suara pintu mobil ditutup sebanyak tiga kali.
Posisi kamar Vina berada di dalam, jadi perlu keluar kamar untuk melihat ke halaman. Dengan masih berbaju kaos kutang, Vina segera keluar kamar, diikuti oleh Junita. Mereka cukup berhenti sebatas ruang tengah untuk bisa melihat keluar.
Seorang pemuda tampan dengan sisiran rambut rapi ke belakang, berkacamata putih bening, turun dari mobil pertama setelah dibukakan pintu oleh Dery. Meski sama-sama berpenampilan rapi dengan para lelaki bergaya pengawal itu, tapi si pemuda mengenakan pakaian putih-putih dengan kemeja tanpa kerah dan berlengan pendek. Pemuda berkaulit putih bersih itu memiliki pembangunan otot tubuh yang baik, sangat berbeda dengan model otot para pekerja keras meski sama-sama berotot. Bisa diduga kuat bahwa otot bagus si pemuda dibentuk dari program olahraga seperti fitness.
Dilihat dari kendaraan, keberadaan para pengawal yang berpakaian jas formal, dan kemunculan pemuda tampan yang tangan kirinya berjam emas, plus beberapa cincin emas putih di jari, jelas menunjukkan bahwa tamu asing ini bukan orang biasa.
“Gawat! Grandbo nyusul saya!” ucap Vina pelan tapi bernada panik.
Dia buru-buru berlari masuk kembali ke dalam kamarnya. Junita cepat mengikuti.
“Grandbo siapa, Vin?” tanya Junita pula dengan serius.
“Lelaki brengsek anak pengusaha hotel itu,” jawab Vina dengan gigi rapat saling menekan. Sikapnya yang tidak bisa diam menunjukkan bahwa dia bingung dan panik.
“Dia pasti datang mau melamar saya. Aduuuh, bagaimana ini?” keluh Vina seakan ingin menangis.
“Memang dia orangnya jahat?” tanya Junita.
“Pokoknya saya menyesal kenal orang kayak dia. Coba tolong deh, Jun. Kamu pergi ke Rudi biar datang tolongin saya,” kata Vina. “Masalahnya, kalau sampai bapak saya tergiur sama kekayaannya, musnah sudah harapan saya.”
“Iya, iya,” kata Junita.
“Selamat sore, Pak!” ucap si pemuda yang telah membuka kacamatanya, memperlihatkan bahwa dia memang ganteng selevel artis sinetron. Dia menyapa Suharja.
“Sore,” jawab Suharja dengan ekspresi masih kurang bersahabat.
Sementara itu, beberapa warga dan tetangga memantau dari kejauhan, termasuk Aziz yang nyaris tidak terlihat keberadaannya.
Si pemuda berpakaian putih mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat dengan Suharja.
“Perkenalkan, Pak, Nama gua Grandbo. Gua calon suami Vina dari Jakarta,” ujar si pemuda yang di belakangnya berdiri dua orang pengawal. Dery dan Beny.
Suharja menjabat tangan pemuda yang terasa lembut untuk ukuran seorang lelaki berotot. Namun, ekspresi Suharja masih belum membaik, justru semakin menatap tidak suka dengan pemuda itu. Bagaimana tidak suka? Beberapa jam lalu Suharja baru berharap kepada Rudi untuk melamar Vina, eh, tahu-tahu muncul pemuda asing yang mengaku calon suami putrinya, yang bertemu tanpa pakai salama segala.
Sunirah pun datang lebih mendekat kepada suaminya. Sementara Murni tetap di pintu rumah.
“Saya bapaknya Vina. Saya baru tahu Anda, baru bertemu Anda. Bagaimana bisa Anda mengaku sebagai calon suami anak saya?” tanya Suharja.
“Oh. Terkait berbagai hal yang belum dibicarakan antara Bapak sama gua, bisa kita persingkat saja,” kata Grandbo seraya tersenyum kecil seolah mengentengkan.
Tak!
Grandbo menjentikkan jarinya sebagai kode kepada pengawalnya di belakang. Ternyata Beny sudah membawa sebuah koper yang kapasitasnya cocok untuk menyimpan banyak dokumen.
Beny mengulurkan koper tersebut kepada Suharja.
“Tinggal dibuka, Pak Suharja,” kata Grandbo yang ternyata sudah tahu nama ayahnya Vina, meski baru bertemu kali ini. Sepertinya dia datang dengan berbekal data pula.
Dengan perasaan bingung, penasaran, plus marah, Suharnja mencoba pintar diri untuk bisa membuka koper tersebut.
Clak!
Ternyata bisa terbuka, tapi belum dibuka.
Grandbo hanya diam, menunggu Suharja melihat isi koper dan seperti apa reaksinya.
Dan ketika Suharja membuka sisi atas koper dan melihat isinya, terkejutlah lelaki berkopiah haji itu.
“Allahuakbar!” pekik Suharja.
“Ya Allah!” pekik Sunirah pula dengan wajah terkesiap dan mata melebar.
Keterkejutan itu membuat Murni pun datang mendekat untuk melihat isi koper di tangan Suharja.
“Allahuakbar!” ucap Murni pula saat melihat jelas isi koper.
Koper itu sarat berisi gepokan uang yang tersusun rapi dan berpengaman agar tidak terlompat ketika yang memegangnya terkejut. Itu bukan gepokan uang pecahan Rp2.000-an atau Rp5.000-an, tetapi pecahan uang terbesar.
“Itu dua ratus juta, Pak,” kata Grandbo. (RH)