NovelToon NovelToon
Penghianatan Tak Termaafkan

Penghianatan Tak Termaafkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Selingkuh / Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Mengubah Takdir
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."

​Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.

​Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.

​Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.

Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.

By: Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 10

Pagi di Uluwatu dimulai dengan kabut tipis yang menyelimuti tebing. Kirana berdiri di balkon vilanya, menatap proyek hotel yang mulai menunjukkan bentuk aslinya. Struktur beton yang tadinya terbengkalai kini terlihat kokoh, seolah mencerminkan kekuatan baru yang ia bangun. Namun, di dalam dadanya, ada sesuatu yang retak.

Kata-kata Arka semalam di tepi tebing terus terngiang. "Satu-satunya cahaya yang tersisa di hidupku yang gelap ini."

Kirana memejamkan mata, mencoba memanggil kembali rasa benci yang selama ini menjadi bahan bakarnya. Ia membayangkan wajah Arka yang tertawa di kelab malam, membayangkan taruhan mobil sport itu.

Namun, bayangan itu mulai tumpang tindih dengan citra Arka yang basah kuyup karena hujan, Arka yang tangannya lecet karena membantu kuli bangunan, dan Arka yang menatapnya dengan mata penuh penyesalan.

"Jangan bodoh, Kirana," bisiknya pada diri sendiri. "Dia adalah ular yang sedang berganti kulit."

Di lokasi proyek, Arka sudah sibuk sejak pukul enam pagi. Ia tidak lagi mengenakan kemeja desainer. Ia memakai kaos polo murah yang sudah terkena noda semen dan celana cargo yang penuh debu. Saat Kirana datang, Arka sedang berdiskusi serius dengan mandor utama mengenai keterlambatan pengiriman marmer dari Italia.

"Ibu Kirana," Arka menyapa dengan nada yang sangat profesional saat melihatnya mendekat. "Ada masalah dengan vendor marmer. Kapal mereka tertahan di Singapura. Jika kita menunggu, kita akan meleset dari jadwal dua minggu."

Kirana melihat catatan di tabletnya. "Solusinya?"

"Saya sudah mencari alternatif. Ada pengrajin lokal di Tulungagung yang punya kualitas setara dengan harga lebih bersahabat. Saya sudah meminta sampelnya dikirim pagi ini. Jika Ibu setuju, kita bisa mengalihkan kontraknya dan menghemat biaya logistik."

Kirana terdiam. Ini adalah langkah bisnis yang sangat cerdas, sesuatu yang biasanya ia lakukan sendiri. Ia menatap Arka, mencari celah kebohongan, namun pria itu hanya menatapnya dengan fokus pada pekerjaan.

"Tunjukkan sampelnya padaku di ruang rapat jam sepuluh," ujar Kirana singkat.

"Siap, Bos," jawab Arka dengan senyum tipis yang sopan, tanpa nada menggoda sedikit pun. Justru sikap dingin Arka yang profesional ini yang membuat Kirana semakin tidak tenang. Jika Arka terus merayunya, Kirana tahu cara melawannya. Tapi jika Arka menjadi rekan kerja yang sempurna, Kirana kehilangan senjatanya.

Siang harinya, setelah rapat yang berjalan sangat lancar, Arka mengajak Kirana mengunjungi sebuah desa kecil di balik bukit Uluwatu.

"Untuk apa kita ke sini?" tanya Kirana curiga saat mobil jip mereka memasuki jalanan tanah yang sempit.

"Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan. Ini bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang aku usulkan dalam anggaran kemarin," jawab Arka tenang.

Mereka berhenti di sebuah sekolah dasar yang kondisinya sangat memprihatinkan. Atapnya bocor, dan meja-mejanya sudah reyot. Arka turun dan disambut oleh anak-anak desa dengan sorak-sorai. Mereka tampak sudah sangat mengenal Arka.

"Kak Arka! Kak Arka datang lagi!" teriak seorang anak kecil sambil memeluk kaki Arka.

Arka tertawa, mengacak rambut anak itu dengan tulus. Ia mengeluarkan beberapa kotak berisi alat tulis dan buku dari bagasi jip. Kirana memperhatikan dari kejauhan, hatinya berdenyut.

"Dia sudah ke sini setiap sore setelah pulang dari proyek, Nak Kirana," ujar seorang guru tua yang menghampiri Kirana. "Pak Arka sendiri yang membantu mengecat kelas dua minggu lalu. Dia bilang, dia ingin menebus dosa masa lalunya dengan membangun masa depan anak-anak ini."

Kirana menelan ludah. Menebus dosa? Apakah mungkin seorang monster bisa benar-benar bertobat?

Saat perjalanan pulang, suasana di dalam jip terasa sunyi. Arka fokus menyetir, sementara Kirana menatap keluar jendela.

"Kenapa kau tidak memberitahuku soal sekolah itu?" tanya Kirana akhirnya.

Arka tidak menoleh. "Aku tidak ingin kau menganggapnya sebagai bagian dari strategiku untuk menarik perhatianmu. Aku melakukannya karena aku sadar, selama ini aku hanya mengambil dari dunia tanpa pernah memberi. Aku ingin berubah, Kirana. Dengan atau tanpamu, aku harus menjadi pria yang lebih baik."

Mobil itu tiba-tiba berguncang karena lubang besar, membuat tubuh Kirana terlempar ke arah Arka. Refleks, Arka menahan bahu Kirana dengan satu tangan agar kepalanya tidak terbentur kaca. Untuk beberapa detik, wajah mereka sangat dekat. Aroma keringat, sinar matahari, dan maskulin Arka menyerbu indra penciuman Kirana.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Arka lembut, suaranya rendah dan serak.

Kirana menatap mata cokelat gelap Arka. Di sana, ia tidak melihat kilat licik yang dulu ia benci. Ia melihat sebuah ketulusan yang mematikan.

"Aku... aku tidak apa-apa," Kirana segera membetulkan posisi duduknya, jantungnya berpacu liar. "Terima kasih."

~~

Malam itu, hujan badai melanda Uluwatu. Listrik di vila Kirana padam. Ia mencoba menyalakan lilin, namun angin kencang yang masuk melalui celah jendela membuatnya sulit. Tiba-tiba, ketukan di pintu terdengar.

Itu Arka. Ia membawa lampu darurat dan sebuah selimut tebal.

"Aku tahu kau takut gelap dan suara petir," ujar Arka pelan. "Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja."

Kirana terpaku di ambang pintu. "Bagaimana kau tahu aku takut petir?"

Arka tersenyum sedih. "Aku ingat semua hal kecil tentangmu, Kirana. Bahkan hal-hal yang mungkin sudah kau lupakan sendiri. Aku tahu kau akan minum teh chamomile saat sedang cemas."

Arka masuk dan menyalakan lampu darurat, menerangi ruangan yang suram itu dengan cahaya kuning yang hangat. Ia meletakkan selimut di sofa dan mulai merebus air di kompor gas kecil.

"Arka, hentikan," suara Kirana bergetar. "Jangan bersikap seolah-olah kau peduli. Jangan buat aku merasa berutang budi lagi."

Arka berhenti, berbalik menatap Kirana. Di bawah temaram lampu, wajahnya tampak sangat rapuh. "Aku tidak memintamu membalas apa pun, Kirana. Kau boleh membenciku selamanya. Kau boleh menghancurkan Mahendra Group sampai rata dengan tanah. Tapi tolong... biarkan aku menjagamu malam ini saja. Sebagai manusia, bukan sebagai musuh."

Kirana merasa benteng pertahanannya runtuh sepenuhnya. Air mata yang ia tahan selama berbulan-bulan akhirnya tumpah. Ia terisak, menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Arka melangkah maju, sangat perlahan, seolah takut akan menakuti burung yang terluka. Ia menarik Kirana ke dalam pelukannya. Kali ini, Kirana tidak melawan. Ia membenamkan wajahnya di dada Arka, menangis sejadi-jadinya, meluapkan semua rasa sakit, pengkhianatan, dan rindu yang ia pendam.

"Menangislah, Kirana. Keluarkan semuanya," bisik Arka sambil mengusap rambut Kirana.

Malam itu, di tengah badai yang mengamuk di luar, mereka duduk di lantai bersandar pada sofa, berbagi satu selimut dan satu teko teh. Kirana mulai bercerita tentang betapa sulitnya ia membangun Nirmala Capital, tentang ketakutannya jika ia gagal, dan tentang betapa kesepiannya ia selama ini.

Arka mendengarkan setiap kata dengan penuh perhatian. Ia tidak memotong. Ia hanya ada di sana, menjadi sandaran bagi wanita yang telah ia hancurkan hatinya.

Saat fajar mulai menyingsing, Kirana tertidur di bahu Arka. Arka menatap wajah cantik itu dengan tatapan yang sangat kompleks. Ia mencium puncak kepala Kirana dengan sangat lembut.

Namun, di saku celana Arka, sebuah ponsel yang disembunyikan bergetar. Sebuah pesan dari Surya Mahendra masuk

"Laporan intelijen menunjukkan Kirana telah memindahkan seluruh dana cadangan Nirmala Capital ke rekening bersama proyek Bali. Bagus. Selangkah lagi, dan kita bisa menarik semua dana itu. Jangan sampai kau benar-benar jatuh cinta padanya, Arka. Ingat taruhan kita yang sesungguhnya. Mahkota Mahendra atau menjadi gembel di jalanan."

Arka menatap pesan itu, lalu menatap Kirana yang tertidur pulas dalam pelukannya. Tangannya terkepal. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arka merasa muak dengan dirinya sendiri. Namun, bayangan kekuasaan dan ancaman ayahnya masih terlalu besar.

Ia memasukkan kembali ponselnya, lalu mengeratkan pelukannya pada Kirana. Di luar, matahari mulai terbit, namun bagi Kirana, ia sedang berjalan menuju gerhana yang paling gelap dalam hidupnya, tepat saat ia mengira ia telah menemukan cahaya.

...----------------...

Next Episode.....

1
anju hernawati
bagus jalan ceritanya author lanjut y .....
Miss Ra: siaaappp
total 1 replies
zhelfa_alfira
makin seru
Renjana Senja
nah bener. harus waspada sama barang asing gitu
Renjana Senja
eh. kiriman apa itu kalau boleh tau kawan?
zhelfa_alfira
wah keren²
zhelfa_alfira
lanjut²...
Sunaryati
Okey ku kira walau di penjara Bram tidak tinggal, orang yang serakah hal dunia biasanya sulit menerima kekalahan walau terbukti bersalah
Sunaryati
Menegangkan melebihi cerita mafia
Sunaryati
Semoga Arka selamat
zhelfa_alfira
semangat²
zhelfa_alfira
lanjut sama2 masih punya perasaan tapi ego masih sama² tinggi
zhelfa_alfira
dah selesai yang menegangkan kita tunggu yang manis2 nya lagi.😁🤭
zhelfa_alfira
wow seru nya cerita ini...
zhelfa_alfira
akhirnya keangkuhan arka selesai juga
zhelfa_alfira
bagus akhirnya ketahuan juga padahal reza sudah tau semua kebusukan arka...semangat²
zhelfa_alfira
entah lah bisa² nya masuk lobang yang sama...
zhelfa_alfira
keren² aku suka hancur kan dan hempaskan yang sudah menyakiti
zhelfa_alfira
keren
Miss Ra: /Kiss//Heart/
total 1 replies
zhelfa_alfira
wow keren aku suka karakter kinara tegas...semangat up kk author
zhelfa_alfira: sama² semangat
total 2 replies
zhelfa_alfira
lanjut²
Miss Ra: siaaap...

lanjut besok pagi ya kak..
good night...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!