Di dunia Arcapada, tempat sihir kuno Nusantara berpadu dengan teknologi mesin uap, Raden Bara Wirasena hidup sebagai pangeran terbuang yang dikutuk menjadi wadah Api Garuda.
Dikhianati oleh Catur Wangsa yang korup, Bara bangkit dari debu sebagai Dewa Kujang.
Bersama putri bangsawan yang terusir dan preman berhati emas, ia memimpin Pasukan Surya untuk meruntuhkan tirani Kaisar Brawijaya VIII.
Namun, perebutan takhta hanyalah awal. Jejak ayahnya yang hilang menuntun Bara menyeberangi samudra mematikan menuju Benua Hitam, di mana ancaman kiamat yang sesungguhnya sedang menanti.
Ini adalah hikayat tentang revolusi, pengorbanan, dan pembakaran takdir demi era baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Angin Pembawa Pesan dan Arak Para Dewa
Langit di atas Lembah Kabut tampak gelisah. Awan-awan cumulonimbus bergulung tebal di ufuk barat, menjanjikan badai yang mungkin akan turun nanti malam. Udara terasa berat dan lembap, menekan paru-paru siapa saja yang bernapas di bawahnya.
Bagi para murid Perguruan Lembah Kabut, tekanan udara ini bukan sekadar gejala cuaca, melainkan manifestasi dari ketegangan saraf mereka sendiri.
Besok adalah hari "Ujian Hutan Maya". Hari penentuan nasib: apakah mereka akan naik menjadi pendekar sejati, atau tetap menjadi sampah yang terlupakan.
Di dahan tertinggi pohon beringin tua yang tumbuh di tepi jurang, sesosok bayangan berjongkok tanpa suara.
Nimas Sekar, gadis berusia delapan belas tahun dengan tubuh ramping yang dibalut pakaian ketat serba hitam, mengawasi area asrama putra dengan tatapan tajam. Wajahnya tertutup cadar kain tipis, hanya menyisakan sepasang mata yang tajam seperti mata elang pemburu.
Sebagai salah satu Bayangan (mata-mata elit) dari Wangsa Bayu Aji¹, Sekar terbiasa dengan kesabaran. Keluarganya adalah penguasa informasi dan pembunuhan. Filosofi mereka sederhana:
"Angin tidak terlihat, tapi angin bisa merubuhkan pohon besar."
Namun, target pengamatannya kali ini membuatnya bingung.
Target: Raden Bara Wirasena.
Status: Yatim piatu, Murid tingkat dasar (Adhikara).
Laporan Intelijen: Tidak berbahaya. Sampah masyarakat.
"Laporan bodoh," desis Sekar pelan. Suaranya hilang ditelan desau angin daun beringin.
Tadi malam, Sekar merasakan getaran aneh dari arah gua air terjun. Getaran yang membuat insting pembunuhnya menjerit ketakutan.
Ketika ia menyelidiki, ia hanya melihat Bara berjalan keluar dengan santai. Tapi jejak kehancuran di dalam gua itu—batu cadas yang retak akibat tekanan udara murni—bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan oleh murid tingkat dasar.
Sekarang, ia melihat Bara sedang berjalan keluar dari gerbang samping perguruan, membawa keranjang anyaman kosong.
"Mau ke mana dia di saat genting seperti ini?" gumam Sekar.
Tanpa menimbulkan suara sedikitpun, Sekar melompat dari dahan pohon. Tubuhnya seringan kapas, mendarat di atap genteng asrama tanpa membuat satu pun genteng bergeser.
Teknik meringankan tubuh (Gingkang) tingkat tinggi: Langkah Camar Membelah Ombak.
Ia memutuskan untuk mengikuti Bara. Ada misteri gelap yang menyelimuti pemuda itu, dan Wangsa Bayu Aji tidak menyukai misteri yang tidak terpecahkan.
Pasar Desa Waringin Kurung terletak di kaki gunung, sekitar dua kilometer dari gerbang perguruan. Pasar ini selalu ramai oleh pedagang yang menjual ramuan, senjata bekas, dan jimat keberuntungan bagi para pendekar muda yang naif.
Bara berjalan membelah keramaian. Langkahnya santai, namun matanya yang tenang merekam segalanya.
Ia tahu ia sedang diikuti.
Sejak ia keluar dari gerbang, ada hawa keberadaan yang tipis mengikutinya dari atas atap-atap bangunan. Hawa itu halus, hampir menyatu dengan angin, ciri khas teknik dari Wangsa Bayu Aji.
"Kau punya pengagum rahasia, Mitra," kekeh Garuda di dalam kepalanya. "Baunya seperti darah dan bunga melati. Wanita berbahaya."
"Biarkan saja," jawab Bara dalam hati sambil memilih seikat sayur pakis di lapak pedagang tua.
"Selama dia tidak menyerang, dia hanyalah angin lalu."
Bara tidak ke pasar untuk membeli senjata. Kujang di pinggangnya sudah cukup. Ia ke sini untuk membeli sesuatu yang lebih penting: ketenangan.
Ia berbelok ke sebuah kedai tuak kumuh di ujung pasar. Plang kayu di depannya bertuliskan "Kedai Mabuk Awan". Baunya menyengat—campuran ragi, arak bakar, dan daging panggang.
Di sudut kedai yang remang-remang, seorang pria tua dengan rambut putih berantakan dan blangkon miring sedang tertidur dengan kepala di atas meja. Mendengkur keras.
Bara duduk di depan pria tua itu.
"Ki," panggil Bara pelan.
Tidak ada jawaban. Hanya dengkuran yang makin keras.
Bara menghela napas. Ia menuangkan sedikit arak dari kendi di meja ke dalam cawan, lalu mendekatkan cawan itu ke hidung si tua.
Seketika, mata pria tua itu terbuka lebar.
"Bau nira aren terbaik dari lereng selatan!" seru pria tua itu, langsung menyambar cawan dari tangan Bara dan meneguknya dalam sekali tandas. "Ahhh... nikmatnya racun dunia."
Pria tua ini adalah Ki Awan. Mantan pendekar hebat yang kini dikenal sebagai pemabuk gila desa. Tapi Bara tahu, di balik mata merah dan bau alkohol itu, tersembunyi salah satu ahli strategi perang paling brilian yang pernah dimiliki Kekaisaran. Dan yang lebih penting, Ki Awan adalah orang yang dulu menemukan Bara saat bayi.
"Kau mau ujian besok, Bocah?" tanya Ki Awan sambil mengelap mulutnya dengan lengan baju yang kotor. Tatapannya mendadak tajam, kontras dengan tingkah mabuknya tadi.
"Ya, Ki," jawab Bara singkat.
"Ujian tahun ini beda,"
Ki Awan menuangkan arak lagi, kali ini wajahnya serius. "Aku dengar selentingan dari burung-burung gagak.
Wangsa Agnimara mengirimkan 'hadiah' khusus untuk anak emas mereka. Dan Wangsa Tirtamaya... putri es itu tidak datang hanya untuk pamer gaun."
Bara mengangguk. "Aku tahu. Mereka mencari artefak di Hutan Maya."
Ki Awan menatap Bara lekat-lekat. "Bukan cuma artefak, Bara. Mereka mencari Wadah. Segel Hyang Garuda mulai bocor. Aura panasnya tercium oleh mereka yang punya hidung tajam."
Bara terdiam. Tangannya di bawah meja mengepal perlahan.
"Jangan khawatir," lanjut Ki Awan sambil nyengir, memamerkan giginya yang ompong satu. "Aku sudah menabur sedikit 'bumbu' di sekitar asramamu. Baumu tersamarkan untuk sementara. Tapi besok... saat kau masuk Hutan Maya, kau sendirian. Jika kau mengamuk, jika emosimu lepas... seluruh benua akan memburumu."
Bara menatap cairan bening di dalam cawan araknya. Ia melihat pantulan wajahnya sendiri, dan sesaat, ia melihat bayangan mata Garuda di sana.
"Aku akan mengendalikan-Nya, Ki. Atau Dia yang akan kumakan," ucap Bara dingin.
Ki Awan tertawa terbahak-bahak, membuat pengunjung kedai lain menoleh.
"Itu baru semangat! Makanlah iblis itu sebelum dia memakanmu! Nah, sekarang bayar arak ini, aku tidak punya uang!"
Bara menggelengkan kepala, meletakkan beberapa keping uang perak di meja, lalu berdiri.
"Jaga diri, Ki."
Saat Bara berjalan keluar dari kedai, Ki Awan bergumam pelan, sangat pelan hingga hanya dia sendiri yang bisa mendengarnya.
"Dunia akan gempar... Sang Raja Langit akhirnya bangun dari tidurnya."
Di kamar mewah asrama elit, Arya Agnimara sedang menatap sebuah kotak kayu cendana di atas mejanya.
Di hadapannya berdiri seorang utusan berjubah merah dari keluarganya.
"Ayahanda Tuan berpesan," ucap utusan itu dengan nada hormat namun mendesak. "Tahun ini kita tidak boleh kalah pamor dari Wangsa Tirtamaya. Putri Anjani itu jenius, tapi Tuan Muda Arya harus membuktikan bahwa Api selalu lebih dominan daripada Air."
Arya membuka kotak itu. Di dalamnya, di atas bantalan sutra kuning, terdapat sebutir pil berwarna merah darah yang berdenyut pelan seperti jantung.
Pil Mustika Asura.
Barang terlarang. Pil ini dibuat dengan mengekstrak sumsum tulang harimau api dan mencampurnya dengan racun kalajengking gurun. Efeknya bisa meningkatkan kultivasi seseorang satu tingkat penuh selama tiga jam, tapi dengan risiko merusak jalur meridian² tubuh jika tidak kuat menahannya.
"Dengan ini, Tuan Muda bisa menembus batas Wira Sukma tahap puncak sementara waktu," jelas utusan itu. "Hancurkan siapa saja yang menghalangi. Termasuk pelayan rendahan yang berani menatap mata Tuan kemarin."
Wajah Arya mengeras. Bayangan wajah tenang Bara muncul di benaknya. Wajah yang meremehkannya. Wajah yang tidak memiliki rasa takut.
Arya mengambil pil itu. Hawa panas langsung menjalar ke jarinya.
"Sampaikan pada Ayah," kata Arya, matanya berkilat kejam. "Besok, Lembah Kabut akan melihat siapa penguasa sebenarnya. Dan si Bara itu... aku akan pastikan dia merangkak keluar dari hutan tanpa kaki."
Ia menyimpan pil itu ke dalam saku jubahnya. Ambisi dan rasa tidak aman (insecurity) bercampur menjadi bahan bakar yang berbahaya. Arya tidak sadar, dia sedang bermain api yang jauh lebih besar dari yang bisa dia kendalikan.
Di tepi danau buatan di taman asrama putri, Rara Anjani sedang berlatih.
Ia tidak menggunakan gerakan besar. Ia hanya berdiri diam di atas permukaan air danau. Kakinya tidak tenggelam, hanya menciptakan riak-riak kecil yang teratur.
Fokus. Konsentrasi.
"Jadilah air. Mengalir, menampung..."
Kata-kata Bara kemarin terus terngiang di kepalanya, mengganggu meditasinya.
"Sial," umpat Anjani pelan. Ia membuka matanya.
Seketika, air di bawah kakinya meledak menjadi pilar-pilar es tajam yang menjulang ke atas setinggi tiga meter. Hawa dingin yang ia pancarkan membekukan bunga teratai di radius sepuluh meter.
Kekuatannya luar biasa. Di usianya yang baru tujuh belas tahun, ia sudah mencapai Wira Sukma tahap Tinggi. Ia disebut jenius. Ia dipuja.
Tapi tidak ada yang tahu betapa berat beban di pundaknya. Wangsa Tirtamaya sedang mengalami kemunduran politik.
Mereka butuh sekutu, atau butuh kekuatan mutlak untuk menakut-nakuti musuh. Anjani adalah senjata politik itu. Dia harus sempurna. Dia tidak boleh kalah.
"Kenapa kata-kata pelayan itu begitu mengganggu?" Anjani bertanya pada bayangannya sendiri di pecahan es.
Dia merasa Bara melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain. Orang lain melihat Anjani sebagai "Putri Jenius" atau "Wanita Cantik".
Bara melihatnya sebagai... air. Hanya elemen alam. Bara tidak terpesona, dan itu membuat harga diri Anjani terusik sekaligus penasaran.
"Besok," bisiknya, menghancurkan pilar es itu menjadi butiran salju dengan satu jentikan jari.
"Besok aku akan cari dia di hutan. Aku akan buktikan bahwa airku bukan sekadar aliran yang pasrah."
Malam telah larut. Bulan purnama tertutup awan mendung, membuat jalan setapak menuju asrama putra menjadi gelap gulita.
Bara berjalan pulang. Langkahnya tetap tenang, meski ia tahu "ekor"-nya masih ada. Bahkan sekarang, hawa keberadaan pengikutnya terasa lebih tajam. Lebih berani.
Saat Bara melewati sebuah lorong sempit di antara dua gudang logistik, angin tiba-tiba berhenti berhembus.
Srriiing!
Sebuah kilatan logam menyambar dari kegelapan, mengarah tepat ke leher Bara. Cepat. Senyap. Mematikan.
Tanpa menoleh, Bara memiringkan kepalanya sedikit ke kiri.
Bilah belati melesat hanya satu sentimeter dari kulit lehernya, memotong beberapa helai rambutnya.
Penyerang itu—Nimas Sekar—terkejut. Serangannya tadi adalah teknik Patukan Ular Angin. Tidak mungkin bisa dihindari oleh murid tingkat dasar tanpa menggunakan Prana.
Sekar tidak berhenti. Dia memutar tubuhnya di udara, kaki kanannya meluncur melakukan tendangan sabit ke arah kepala Bara.
Bara tidak menangkis. Dia hanya melangkah maju satu langkah, masuk ke dalam jangkauan pertahanan Sekar sebelum tendangan itu mencapai momentum maksimalnya.
Dengan gerakan santai seolah sedang menepis lalat, tangan kanan Bara menangkap pergelangan kaki Sekar.
Grep.
Kuat. Cengkeraman itu seperti catut besi.
Sekar membelalakkan matanya di balik cadar. Dia mencoba menarik kakinya, tapi tidak bergerak sedikitpun. Dia mencoba mengalirkan Prana angin untuk melepaskan diri, tapi... Prana-nya seolah diserap dan menghilang saat menyentuh kulit Bara.
"Angin malam ini terlalu kencang untuk bermain-main, Nona," suara Bara terdengar rendah dan tenang di telinga Sekar.
Bara tidak menyerang balik. Dia hanya menahan kaki Sekar di udara, menatap mata gadis itu dalam kegelapan. Jarak wajah mereka sangat dekat.
Sekar bisa melihat mata Bara. Mata itu... hitam pekat, tapi di kedalamannya, ada pusaran emas yang berputar lambat. Mata itu bukan mata mangsa. Itu mata predator puncak yang sedang membiarkan kelincinya hidup karena bosan.
Jantung Sekar berdegup kencang. Bukan karena takut mati—sebagai pembunuh dia siap mati—tapi karena sensasi dominasi yang dipancarkan Bara.
Tubuhnya gemetar.
"Si... siapa kau sebenarnya?" bisik Sekar, suaranya bergetar.
Bara melepaskan cengkeramannya. Sekar mendarat dengan lincah, mundur beberapa langkah dan langsung memasang kuda-kuda defensif.
Bara merapikan kerah bajunya yang sedikit berantakan.
"Saya hanya murid yang ingin tidur nyenyak sebelum ujian besok," jawab Bara datar.
"Sampaikan pada Tuanmu di Wangsa Bayu Aji... jika ingin mengintip, jangan berdiri membelakangi bulan. Bayanganmu terlihat jelas di tanah."
Itu bohong. Malam ini mendung, tidak ada bayangan bulan. Bara tahu posisinya murni dari insting.
Sekar terdiam kaku. Pria ini... mengerikan.
"Pergilah," usir Bara tanpa menoleh, melanjutkan langkahnya menuju asrama.
"Dan jangan ikuti aku lagi. Lain kali, aku mungkin tidak akan selembut ini."
Sekar berdiri terpaku di lorong gelap itu selama beberapa menit setelah punggung Bara menghilang. Napasnya memburu. Keringat dingin membasahi punggungnya.
Dia seharusnya melaporkan ini. Dia seharusnya memberitahu Ketua Klan bahwa ada monster yang bersembunyi di Perguruan Lembah Kabut.
Tapi, perlahan, tangan Sekar menyentuh pergelangan kakinya yang tadi dicengkeram Bara. Masih terasa hangat. Dan anehnya... ada rasa penasaran yang membara di dadanya.
"Raden Bara Wirasena..." gumam Sekar, menarik turun cadarnya, memperlihatkan wajah cantiknya yang merona merah dan bibir yang menyunggingkan senyum misterius.
"Kau bukan target... kau adalah teka-teki. Dan aku suka teka-teki."
Malam itu, hujan akhirnya turun deras, membasuh jejak kaki, tapi tidak bisa membasuh takdir yang sudah mulai terjalin.
Besok, Hutan Maya akan menjadi saksi.
Glosarium & Catatan Kaki Bab 3
Wangsa Bayu Aji: Salah satu dari Empat Keluarga Besar (Catur Wangsa). Menguasai elemen angin, spesialisasi dalam spionase, intelijen, dan pembunuhan.
Meridian: Jalur aliran energi (Prana/Qi) di dalam tubuh manusia. Jika meridian rusak, seorang pendekar bisa cacat seumur hidup atau kehilangan kemampuan kultivasinya.
Hutan Maya: Lokasi ujian. Sebuah hutan kuno yang dilindungi mantra ilusi. Di dalamnya, jarak dan waktu bisa terasa berbeda, dan banyak binatang buas (Siluman) yang dikurung untuk menguji para murid.
Pil Mustika Asura: Obat terlarang berbentuk pil merah. Memberikan lonjakan kekuatan instan dengan mengorbankan vitalitas masa depan pengguna.
Gingkang: Ilmu meringankan tubuh. Memungkinkan pendekar melompat tinggi, berlari di atas air, atau mendarat tanpa suara.