"Tidak perlu kasar padaku! Jika kau memang tidak menyukai pernikahan ini, ceraikan saja aku!"
Kanaya kira, transmigrasi jiwa hanyalah ilusi belaka.
Karangan penulis yang tidak akan pernah menjadi nyata.
Namun siapa sangka, perempuan itu mengalami hal yang dia kira hanyalah ilusi itu?
Terjebak di dalam raga istri sang protagonis pria yang takdirnya dituliskan akan mati bunuh diri, karena frustasi suaminya ingin menceraikannya.
Nama figuran itu.... Kanaya Wilson. Perempuan yang begitu menggilai Kalendra Wijaya, sang protagonis pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Kepergok Rio
"Buka mulutmu."
Dengan senang hati, Kanaya menuruti perintah sang suami. Kemudian, sesendok nasi beserta lauknya masuk ke dalam mulutnya. Mengunyah makanannya, Kanaya bertompang dagu menggunakan kedua telapak tangannya, menatap Kalendra dengan bibir yang tak henti-hentinya menyunggingkan senyum.
"Romantisnya suamiku yang satu ini..." ujar Kanaya menggoda setelah menelan makanannya.
Satu alis Kalendra menaik. "Suamiku yang satu ini?" beo-nya sembari kembali menyodorkan sendok yang sudah terisi.
"Memang kau punya berapa suami?" sambungnya sedikit sinis.
Bibir Kanaya gatal ingin tertawa. Menggemaskan! Serunya di dalam hati.
"Kau tidak tahu saja, semalam aku bermimpi menikah dengan...tujuh laki-laki kaya. Mereka semua memanjanku. Selalu memberikan apa yang kuminta." balas Kanaya semakin ingin menggoda.
Dan-- berhasil. Kening Kalendra semakin mengerut tak suka. Gerakan mengambil nasi dari piring pun terdengar kasar. Dan lihatlah ekspresinya itu, membuat Kanaya ingin mencubit hidung bangirnya.
"Apa aku pernah ada di mimpimu?" tanya Kalendra yang merasa terbakar pada dadanya. Bahkan di dalam mimpi pun, Kanaya itu miliknya. Berani sekali istrinya ini memimpikan laki-laki lain.
"Pernah."
Sontak, mata Kalendra berubah berbinar. Bibir kecutnya menampilan senyum antusias.
"Benarkah?"
"Ya, aku pernah bermimpi kau menjadi lampu di kamar tidurku." jawab Kanaya yang berhasil kembali me-mendungkan kembali hati Kalendra.
Sialan. Kanaya baru saja menyamakan dirinya dengan lampu? Cih, memangnya apa yang bisa diharapkan dari istri tidak peka sepertinya. Bicaranya saja ingin memulai dari awal, tetapi menyenangkan suami saja tidak bisa.
"Sebentar lagi aku ada rapat. Kau selesaikan makananmu sendiri." ujar Kalendra dengan suasana hati yang suram.
Laki-laki itu bangun dari kursinya yang langsung diikuti oleh Kanaya. Detik selanjutnya, Kalendra dibuat terkejut kala Kanaya menahan lengannya, kemudian mendorongnya hingga punggungnya membentur meja makan.
Istri kecilnya itu berdiri di depannya. Menumpukan telapak tangan pada meja seolah sedang mengintimidasi.
Apa-apaan ini! Seharusnya Kalendra yang berada di posisi Kanaya. Ini terbalik namanya.
"Kau marah, hm?" bisik Kanaya mendekatkan wajahnya, meskipun dia harus melakukannya dengan sedikit berjinjit.
"Tidak. Menyingkirlah, aku sudah telat."
"Tidak bisa!" Kanaya menolak tangan sang suami yang ingin menyingkirkan tubuh kecilnya.
"Kalendra, suamiku sayang...." satu tangan Kanaya terangkat, membenarkan dasi Kalendra yang sebenarnya tidak berantakan.
"Lampu yang kumaksud adalah kau sudah menerangi hari-hari gelapku. Membuat hidupku terasa...bersinar. Dan--- membuatku merasa aman." jelas Kanaya memainkan jarinya pada dada sang suami.
"Kau tidak suka menyelamatkanku dari kegelapan ya?"
Kalendra mengangkat tubuh Kanaya gemas, membalikkan badan dan mendudukkan istrinya itu pada meja. Kini, posisi mereka terbalik.
"Lalu, tujuh suamimu itu?"
Menghela nafas panjang, Kanaya kalungkan kedua lengannya pada leher Kalendra. Menarik laki-laki itu agar lebih mendekat.
"Emm, tadi aku berbohong. Wajahmu yang kesal terlihat lucu. Jadi...aku ingin sedikit bermain-main." adu Kanaya diikuti bibirnya yang cemberut lucu.
"Nakal." desis Kalendra. Semakin mendekat, dia gigit hidung Kanaya gemas.
"Ashhh, sakitt..." rengek sang istri yang membuat Kalendra terkekeh tanpa suara. Ia usap hidung Kanaya yang memerah karena ulahnya.
"Kau masih marah?" tanya Kanaya.
"Emm, bagaimana ya." bibir Kalendra tersenyum penuh arti.
"Cium dulu. Nanti amarahku akan langsung hilang."
Kanaya tersedak ludahnya sendiri. Apa tadi katanya, cium? Astaga, apakah Kalendra sedang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan?!
"Ci--cium?"
"Hmm. Cepat lakukan." Kalendra semakin mendekatkan wajahnya.
Menelan salivanya susah payah, Kanaya mendekatkan bibirnya, matanya memejam malu. Sampai akhirnya, ia kecup pipi Kalendra singkat dengan wajahnya yang sudah merah matang.
"Su--sudah." lapor perempuan itu menjauhkan diri.
"Sekarang, sana berangkat ker---hmphh!"
Kanaya begitu terkejut saat kalendra menarik tengkuknya. Meraup bibirnya menggunakan bibir laki-laki itu. Mencumbunya dalam hingga membuat Kanaya mengeluh. Kalendra memperdalam ciumannya, membuat Kanaya mempererat pegangannya pada leher suaminya itu.
Merasa sang istri telah kehabisan nafas, Kalendra melepaskan ciumannya. Mengusap bibir basah Kanaya dengan ibu jarinya.
"Ini baru benar." bisik laki-laki itu sebelum akhirnya kembali meraih bibir Kanaya yang tak pernah membuatnya merasa puas. Selalu ingin lagi dan lagi. Sampai akhirnya---
"Tuan, anda di mana? Kita sudah hampir--- ahh, maaf atas kelancangan saya!"
Rio--- sekretaris sekaligus asisten yang baru tiba itu gegas membalikkan badannya dan menjauh. Hatinya merutuki kebodohannya sendiri, berharap bosnya tidak akan marah dan memotong gajinya.
Kanaya segera mendorong tubuh Kalendra. Menatap punggung Rio yang semakin menjauh dengan perasaan malu yang menjadi-jadi.
"Ck, ini semua gara-gara dirimu!" seru Kanaya menyalahkan Kalendra.
"Aku?" satu alis Kalendra menaik. "Padahal kau juga menikmatinya."
"Diam!"
.
.
Sebuah mobil pick up pengantar bahan makanan melaju tenang pada sebuah jalanan sepi. Awalnya, semua baik-baik saja, sampai pada akhirnya seseorang berpakaian misterius menghadang jalan.
Sontak sang supir menginjak remnya. Belum sempat supir itu memundurkan mobil karena takut yang di depan sana adalah begal, seseorang misterius itu mendekat. Mengetuk kaca mobil kasar.
"Buka!!"
Sang supir bergemetar ketakutan. Apalagi saat orang misterius itu semakin keras mengetuk kaca mobilnya.
"Buka atau aku akan menembakmu!" ancamnya sembari menodongkan pistol.
"Am--ampun, jangan bu-nuh saya."
"Buka!!"
"Baik. Iyaa, saya buka."
Pada akhirnya supir itu membuka pintu mobil. Saat pintu sudah terbuka, orang itu menyeret sang supir dengan tergesa, memukul tengkuknya hingga supir itu kehilangan kesadarannya.
Lantas, orang misterius itu menyeret sang supir di balik semak-semak. Mengganti pakaiannya dengan pakaian sang supir, lalu masuk ke dalam mobil pick up dan melaju pada alamat yang sudah ditugaskan.
Lebih dari setengah jam, mobil pick up itu berhenti di depan sebuah gedung bekas pabrik yang berada di pinggiran kota. Banyak pohon cendana yang tumbuh disekeliling.
Orang misterius itu keluar, berbicara pada dua penjaga yang berada di depan pintu.
"Saya membawa bahan makanan yang kalian pesan." ucapnya tenang tanpa menimbulkan kecurigaan.
"Langsung bawa masuk dan segera pergi dari sini." jawab salah satu penjaga yang dibalas dengan anggukan oleh orang itu.
Dia mulai mengangkat karung berisi beras. Membawanya masuk ke dalam gedung, sebelum pada akhirnya menjatuhkannya asal pada lantai yang dingin.
Bukannya kembali dan memindahkan barang, orang itu melihat ke sekeliling. Memastikan jika kondisi aman, dia semakin masuk ke dalam. Menuju pada sebuah pintu lapuk yang mengeluarkan bau tak sedap.
"Uhh, padahal aku sudah memakai masker. Tetap saja bau busuknya tetap tercium." lirihnya merasa mual.
Orang itu membuka pintunya, menimbulkan suara derit yang menggema. Matanya menatap ke sekeliling, mencari sesuatu yang dicarinya. Sampai pada akhirnya, tatapannya tertuju pada seorang perempuan sekarat yang tengah terantai dengan posisi berdiri.
"Am--ampun. Jangan siksa aku lagi..." suara perempuan itu tampak lirih, hampir tak terdengar.
"Aku datang bukan untuk menyiksamu, sebaliknya, aku ingin menawarkan kerja sama."
Perempuan itu diam, tidak bertenaga untuk menjawab.
"Kau ingin bebas dari sini?" tawar orang misterius itu yang langsung membuat sang perempuan menatapnya penuh harap.
"Aku bisa membawamu pergi dari sini. Bahkan, aku bisa membantumu membalaskan dendam pada orang yang menyebabkan dirimu seperti ini, hanya dengan satu syarat."
"Jadilah anjingku. Apa kau mau?"
Semula tidak ada jawaban. Namun, setelah sepuluh detik kemudian, perempuan itu mengangguk lemah. Membuat sang orang misterius itu menyeringai puas di balik masker yang dikenakannya.
"A--aku mau."
"Pilihan yang bijak, Zana Damara."