NovelToon NovelToon
Istri Bayaran: Pernikahan Palsu, Rahasia Kelam

Istri Bayaran: Pernikahan Palsu, Rahasia Kelam

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Trauma masa lalu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nopani Dwi Ari

"Aku butuh istri untuk mendapatkan warisan Kakek, dan kamu butuh uang untuk pengobatan ibumu. Adil, kan?" — Aksara Danendra.

Bagi Aylin, pernikahan ini hanyalah transaksi pahit. Ia rela membuang harga dirinya dan menjadi 'Istri Bayaran' demi pengobatan sang ibu. Ia berjanji tidak akan melibatkan hati, apalagi pada pria dingin dan penuh rahasia seperti Aksara. Bagi Aylin, semua lelaki sama saja brengsek.

Namun, bagaimana jika di atas kertas kontrak yang dingin itu, benih cinta justru tumbuh secara perlahan? Dan bagaimana jika saat cinta itu mulai mekar, Aylin menyadari bahwa dirinya hanyalah tameng untuk rahasia gelap suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.19 -Topeng Kebohongan

Pertanyaan Arvano meluncur seperti anak panah yang tepat sasaran, membuat Aksara terpaku seketika. Di ruangan bar privat yang remang itu, denting es batu dalam gelas kristal Arvano terdengar seperti lonceng peringatan. Udara di sekitar mereka mendadak terasa lebih berat dan sunyi.

"Kamu mulai mencintainya, kan, Aksara?" Arvano mengulang pertanyaannya. Kali ini nadanya lebih tajam, ada kilat kecemburuan yang tidak bisa disembunyikan di balik mata indahnya. Ia menuntut kejujuran yang selama ini Aksara tutup-tutupi.

Aksara memalingkan wajah, menghindari tatapan intimidasi dari pria yang selama ini menjadi rahasia gelapnya. Ia menghembuskan napas panjang, mencoba menstabilkan debar jantungnya. 

"Tidak. Aku... aku hanya kasihan padanya, Van. Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Dia hanya alat untuk rencana kita agar warisan Kakek segera jatuh ke tanganku. Kamu tahu itu, kan?"

"Anggap saja aku percaya," balas Arvano sinis, meski hatinya masih dirongrong rasa tidak tenang. Ia menarik tangan Aksara dengan posesif, memaksanya duduk di sampingnya, seolah ingin menegaskan bahwa Aksara adalah miliknya.

Meski tubuh Aksara berada di sana, Arvano bisa merasakan bahwa pikiran pria itu tertinggal di apartemen bersama wanita tomboy itu. Mood Arvano hancur seketika. Ia benci menyadari bahwa pertahanan Aksara mulai goyah, dan Aylin—gadis yang dianggapnya bukan saingan—perlahan mulai berhasil mencuri celah di perhatian Aksara.

Sementara itu, di lorong apartemen yang sunyi dan dingin, Aylin berjalan gontai. Bahunya merosot lemas, seolah seluruh tenaganya telah terkuras habis oleh sikap Aksara yang berubah-ubah.

Ada beban perasaan yang sulit ia jelaskan; perpaduan antara rasa syukur karena ibunya dirawat dengan baik, dan rasa sakit karena menyadari bahwa bagi Aksara, dia mungkin memang tidak lebih dari sekadar kontrak di atas kertas.

Ia berdiri di depan pintu unit apartemen mewah itu. Jemarinya baru saja hendak menekan kode akses saat pintu tiba-tiba terbuka dari dalam, membuatnya terlonjak kaget.

Sosok gadis yang tampak beberapa tahun lebih muda darinya berdiri di ambang pintu dengan wajah bingung. "Eh! Maaf... Mbak cari siapa, ya?"

Aylin mengerjapkan mata, berusaha mengumpulkan kesadarannya. Gadis itu adalah Dila, keponakan Bi Rita yang mulai hari ini diperbantukan untuk mengurus keperluan rumah tangga di sana.

"Saya... Aylin," jawabnya pelan. Suaranya terdengar serak. Rasanya ia terlalu lelah hanya untuk menjelaskan panjang lebar bahwa dialah nyonya di rumah ini, meski status itu terasa sangat palsu baginya.

"Ya ampun! Maafkan saya, Mbak! Silakan masuk!" Dila buru-buru memberi jalan dengan wajah segan dan penuh hormat.

"Aylin? Kok sudah pulang, Nak?" Suara lembut Rosalind menyambutnya dari ruang tengah. Ibunya sedang duduk santai, tampak jauh lebih segar sejak tinggal di apartemen ini.

Aylin memaksakan senyum tipis, sebuah topeng yang selalu ia pasang agar sang ibu tidak mencium aroma ketidakharmonisan.

"Iya, Ma. Cafe gak terlalu ramai. Jadi pulang cepat, udah ada yang ganti kok." Bohong Aylin, setiap kebohongan yang diucapkan terasa seperti duri yang menusuk tenggorokannya. Dia tidak akan membicarakan pertemuannya dengan Reynan.

Rosalind mengangguk maklum, lalu memperkenalkan Bi Rita dan Dila secara resmi.

"Ini Bi Rita dan keponakannya, Dila. Mereka yang akan membantu kita mulai hari ini."

"Aduh, maaf sekali ya, Mbak Aylin. Saya tadi benar-benar tidak tahu kalau Mbak ini majikan saya. Penampilan Mbak tadi membuat saya sangka teman Mas Aksara," sesal Dila tulus.

Aylin terkekeh kecil, mencoba mengusir sesak yang kian menghimpit dadanya.

"Tidak apa-apa, Dila. Jangan terlalu formal padaku. Anggap saja aku teman sendiri," ujarnya ramah.

Kehadiran Dila yang ceria dan penuh energi sedikit memberi warna di hati Aylin yang sedang mendung.

Namun, jauh di lubuk hatinya, bayangan Aksara yang pergi terburu-buru tadi tetap meninggalkan lubang yang menganga. Aksara pergi menemui 'urusan penting', dan Aylin tahu betul urusan itu bernama Arvano.

*

*

Sementara itu, di belahan bumi yang lain, Paris sedang diselimuti musim dingin yang menusuk tulang. Angin kencang menerpa jendela kaca sebuah hotel mewah yang menghadap langsung ke Menara Eiffel yang megah.

Di dalam kamar suite tersebut, Emilia baru saja menyelesaikan kontrak kerja besarnya sebagai model internasional.

"Semua sudah siap, Em. Tiket pesawat sudah di tangan, logistik juga tidak ada masalah. Kita bisa berangkat besok pagi," ujar Tika, sahabat sekaligus asisten setianya yang selalu bisa diandalkan.

Emilia hanya mengangguk samar. Ia berdiri di depan cermin besar, menatap pantulannya sendiri. Wajahnya masih terlihat sempurna, kulitnya bercahaya, dan matanya memancarkan aura bintang yang kuat.

Namun, ada satu nama yang terus menghantui pikirannya, sebuah nama yang ia tinggalkan dengan luka menganga beberapa tahun lalu.

"Tik, menurutmu... apa Aksara bakal memaafkan aku?" tanya Emilia dengan nada bicara yang melunak, jauh dari kesan angkuh yang biasa ia tunjukkan.

Hatinya mencelos setiap kali ingatan tentang hari pemberkatan itu muncul—hari di mana ia melarikan diri dari komitmen demi ambisi di panggung catwalk Paris.

Tika terdiam cukup lama, menimbang-nimbang apakah kejujuran ini akan menghancurkan sahabatnya.

"Entahlah, Em. Masalahnya sekarang situasinya sudah berbeda. Aksara... dia sudah menikah."

Mata Emilia membelalak seketika. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.

"Apa? Menikah? Dengan siapa? Jangan bercanda, Tik. Aksara bukan tipe pria yang mudah jatuh cinta pada sembarang wanita."

"Aku tidak bercanda, Em. Pernikahannya digelar sangat mewah di ballroom hotel paling bergengsi di Jakarta. Beritanya bahkan sempat trending berhari-hari di media sosial," beritahu Tika. Selama ini ia sengaja menyimpan informasi ini agar tidak mengganggu fokus Emilia pada kontrak terakhirnya.

Tika membuka ponselnya dan memperlihatkan galeri foto yang dikirimkan oleh teman-teman sosialita mereka. Di sana terlihat kemegahan pesta yang luar biasa; dekorasi bunga kristal, lampu gantung yang mewah, dan ribuan tamu undangan.

Namun yang paling menyita perhatian Emilia adalah sosok Aksara yang berdiri gagah mengenakan tuksedo, bersandingan dengan seorang gadis bernama Aylin yang terlihat begitu bersinar dalam balutan gaun pengantin.

Emilia menyambar ponsel itu. Jemarinya mencengkram layar hingga kuku merahnya memutih. Rasa panas menjalar di dadanya, perpaduan antara cemburu, amarah, dan ego yang terluka. Ia menatap setiap detail wajah wanita yang kini menggantikan posisinya di samping Aksara.

Namun, beberapa saat kemudian, Emilia justru menyunggingkan senyum miring. Ia mengamati raut wajah Aksara di foto itu dengan sangat teliti, seolah sedang mencari celah.

"Aksara tidak mencintainya," kekeh Emilia pelan, suaranya mengandung kepercayaan diri yang sangat tinggi.

"Lihat saja ekspresinya di semua foto ini, Tik. Dia terlihat sangat tertekan dan kaku. Senyumnya dipaksakan, tidak sampai ke matanya. Dia tidak menatap gadis ini dengan tatapan yang dulu selalu ia berikan padaku."

Emilia mengembalikan ponsel itu ke Tika dengan gerakan santai, seolah baru saja melihat sebuah pementasan drama murahan.

"Aku yakin dia masih mencintaiku. Pesta mewah ini pasti hanya cara dia untuk membalas dendam padaku, atau sekadar mematuhi perintah keluarganya. Dia hanya ingin pamer bahwa dia sudah 'bahagia' untuk memancingku pulang." Emilia berdiri tegak, auranya berubah menjadi sangat ambisius.

"Aku akan kembali ke Jakarta dan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku sejak awal."

"Ya... semoga saja itu pilihan yang benar," bisik Tika lirih. Ada rasa khawatir yang besar di hatinya melihat sisi obsesif Emilia yang mulai bangkit, karena ia tahu, kembalinya Emilia hanya akan membawa badai besar bagi kehidupan Aksara dan istri barunya.

Emilia menatap salju yang mulai turun di luar jendela. "Tunggu aku, Aksara. Sandiwaramu dengan gadis itu harus segera berakhir."

Bersambung ...

1
🌿
kalo nyesalnya duluan namanya pendaftaran Ay 🫠
jumirah slavina
Tuhan bikin orang² jahat itu kejang mendadak 🤲🏻🤲🏻🤲🏻🤲🏻🤲🏻
jumirah slavina
Thorrrrrrr., suntik mati Vanuuuuuuu
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
🌿
nyebut kek Aksara, amit-amit gitu 🫠
jumirah slavina
deq²n Aku., gimana nasib Aay d'next bab
jumirah slavina
Thorrrrrrrrrrr.... kasih kalpanax nih penyakit kulit VANUan
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
jumirah slavina
Ay... Kamu bawa uang kan ?? tar cape² lari dari Aksa mo pulang sendiri., ekh balik lagi krn lupa bawa uang.,

😄😄
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 5 replies
jumirah slavina
Tuhan bikin Mata Vanu belekan soale dia menyebalkan


🤣
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Epi Widayanti
gak sadar diri 🙃
🌺🌺
stresss si Arvano
jumirah slavina
balas Ay., klo smp s' Aksa gak membela kamu., tinggalin Ay....
AriNovani: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
jumirah slavina
dasar Vanu.. kadas., kudis., kurap...
jumirah slavina: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
jumirah slavina
kau yang aneh., ambisi ko' merebut...
🌿
katakan prettttt 🫠
jumirah slavina
Kirana sm Emil., sama² menyebalkan Thor
jumirah slavina
dia bohongg
jumirah slavina
nih denger., yo mbok d'dukung klo Aay membuat Aksa lebih baik. jadi laki² normal, kan alamat punya cucu kalian.,
jumirah slavina: 😄🤣🤣🤣🤣🤣
total 5 replies
jumirah slavina
hati tersenyum... hhmmm...
berarti muka'mu tetap datar ya Aks...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
AriNovani: wahh aku masih 1/4 sekarang gk tau belum periksa lagi 🤭
total 8 replies
Epi Widayanti
Gak ada yang nanya pula 🤣
Epi Widayanti
Gak tau malu ihh 🙃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!