Maura Geraldin, wanita cantik yang berprofesi sebagai Dokter kandungan, akhirnya menerima lamaran dari sang kekasih yang baru di kenalnya selama 6 bulan, yaitu Panji Kristian anak terakhir dari keluarga Abraham yaitu pemilik perusahaan batu bara.
Namun tidak menyangka Panji, Laki-laki yang di cintai Maura ternyata mempunyai wanita lain di belakang Maura, padahal mereka berdua sudah bertunangan, akan kah Maura membatalkan pertunangannya, atau malah mempertahankan hubungan mereka.
Jika kalian penasaran simak terus yukk perjalanan mereka.. jangan kasih kendor.. Dan jangan lupa untuk like nya juga.
Happy Reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi cahya rahma R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 35
"Aku akan memikirkan nya lagi nanti." ucap Maira di depan Kenan.
"Maura.. jangan terlalu lama berfikir, aku sudah tidak ada waktu, karena papa ku akan menjodohkan aku dengan anak temannya, jika kita tidak segera menikah."
"Ya bagus dong, kalau kamu sudah mau menikah, kita dari awal kan memang tidak ada hubungan apa-apa." ucap Maura secara tiba-tiba padahal hatinya sakit saat Kenan mengatakan bahwa dirinya akan di jodohkan dengan wanita lain.
"Aku maunya nikah sama kamu, bukan sama wanita lain, jadi aku mohon Maura, jangan bersikap seperti ini."
"Tidak mudah untuk menerima mu begitu saja Kenan, apa lagi kamu sudah menyakitiku, kalau memang kamu mau menikah dengan wanita lain ya silahkan, aku tidak perduli." ucap Maura lalu pergi begitu saja keluar dari dalam ruangan.
"Maura.. Maura.." teriak Kenan, namun Maura tidak mengindahkannya lagi.
Setibanya di dalam ruangan Maura tampak gelisah saat Kenan mengucapkan bahwa ia akan di jodohkan dengan wanita lain. Saat Maura sedang melamun tiba-tiba pintu ruangan terbuka.
"Krakk." Maura seketika menoleh ke arah pintu ruangan. Saat ia menoleh ternyata itu Keke temannya. "
"Yah.. baru aja berangkat udah ngelamun aja." ucap Keke. "Kenapa? ada masalah lagi, bukannya kamu udah move on dari Panji itu?." Keke yang berjalan mendekat ke arah Maura.
"Ngga.. aku cuman ngantuk, kurang istirahat aja." jawab Maura lalu membuka laptop di atas meja.
"Setiap hari alasannya cuman ngantuk, tu di panggil pak Ardian, katanya ada yang mau di omongin sama kamu." ucap Keke.
Maura yang mendengar ucapan Keke seketika terkejut. Saat direktur utama di rumah sakit tersebut memanggilnya. "Hah.. ngapain pak Ardian memanggilku?."
"Ya ngga tahu, coba aja langsung ke ruangannya, mungkin kamu di pindah tugas." Jawab Keke.
Maura pun seketika beranjak berdiri, yang tadinya lesu, sedih, gelisah, kini berubah menjadi takut. Maura berfikir apakah dia membuat kesalahan hingga pak Ardian memanggilnya. Ia langsung berjalan begitu saja keluar dari ruangannya untuk menuju ke ruang pak Ardian, selaku direktur di rumah sakit tersebut.
"Ye.. giliran yang manggil pak Ardian langsung bersemangat." ucap Keke yang berjalan mengikuti Maura.
Sesampainya di depan ruang pak Ardian, Maura seketika terdiam sejenak sambil membaca doa, ia takut jika kena omel pak Ardian. Maura pun seketika langsung mengetok pintu dan tidak lama ada sahutan dari dalam untuk di persilahkan masuk. Maura yang mendapat izin masuk pun segera membuka pintu, saat masih di ambang pintu, Maura melihat pak Ardian sedang sibuk dengan beberapa laporannya.
"Selamat pagi pak, apa bapak memanggil saya?." tanya Maura.
Pak Ardian yang melihat kehadiran Maura seketika menoleh. "Ah iya.. silahkan duduk Maura."
"Mohon maaf, ada apa ya bapak memanggil saya?." tanya Maura lagi yang sudah duduk di depan pak Ardian.
"Jadi begini Maura, saya kan ada tugas di luar kota di kota X, dan saya sedang mencari asisten untuk saya tugas di sana, dan karena kamu dokter yang paling muda apa lagi mempunyai talenta yang cukup baik, saya memutuskan untuk menjadikan kamu asisten saya selama tugas di sana." jelas pak Ardian direktur, serta dokter kandungan Senior di rumah sakit tersebut.
Maura yang mendapat tawaran dari seorang direktur seketika speechless, apa tidak salah pak Ardian ini memilih Maura sebagai asistennya, secara Maura belum lama kerja di rumah sakit tersebut. Bahkan belum ada satu tahun.
"Bagaimana Maura? apa kamu mau? tapi jika tidak mau ya saya tidak akan memaksa, saya menghargai keputusan kamu."
"Bapak tidak salah menjadikan saya asisten bapak, ilmu saya belik cukup banyak pak."
"Saya 100 persen percaya sama kamu Maura, kamu cukup mahir dalam menjalankan tugas sebagai dokter kandungan, dan saat saya menangani salah satu pasien yang akan melahirkan aku melihat kinerja kerja mu sangat bagus saat menjadi asistenku."
Maura seketika terdiam kembali, karena kota X cukup jauh dari tempat tinggalnya sekarang. Dan itu membuat Maura cukup keberatan.
"Baiklah.. saya akan memberi kamu waktu sampai besuk pagi, jika kamu bersedia, besuk sore kita akan langsung berangkat ke sana."
"Baik Pak.. berikan saya kesempatan untuk berfikir terlebih dahulu, karena saya juga belum konfirmasi dengan orang tua saya."
"Baiklah.. saya akan memberikan waktu, kalau sudah tau jawabannya, segera hubungi saya ya." ucap pak Ardian lagi.
"Baik Pak, kalau begitu saya permisi dulu." Maura yang sudah keluar dari dalam ruangan direktur.
Di dalam ruangan, Maura kembali memikirkan tawaran pak Ardian, apakah dia harus mau, atau menolaknya. "Bukankah ini waktu yang tepat Maura, untuk menjauhi Kenan, dan menolak pernikahan Kenan secara halus, yah.. dengan cara ini lah aku jauh dari Kenan." ucap Maura pelan.
edan
lebih mati aja Lo Maura anj