Seorang Gadis berambut kepang dua dengan kacamata bulat bernama Arabella Bellvania Laurent. Gadis kutu buku yang menyukai kapten basket bernama Arslan. Namun sayang Arslan mengajak Abel berpacaran hanya untuk sebuah permainan dari teman-temannya. Sebuah ciuman pertama bagi Abel terus membekas meski kenyataan pahit bahwa hubungannya adalah sebuah taruhan. 5 tahun berlalu, keduanya belum dapat mendapatkan cinta sejati masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Selamat Tinggal Putih Abu
Hari kelulusan tiba dengan suasana yang kontras. Lapangan sekolah yang biasanya riuh dengan suara pantulan bola kini penuh dengan lautan siswa berseragam putih abu-abu yang penuh dengan coretan tanda tangan dan tawa.
Abel berdiri di tepi kerumunan, tetap dengan seragamnya yang rapi tanpa coretan satu pun. Dari kejauhan, ia melihat Arslan. Laki-laki itu dikelilingi teman-temannya, namun kali ini Arslan tidak tertawa lepas. Arslan tampak lebih banyak diam, meskipun sesekali ia dipaksa tersenyum untuk foto bersama. Tanpa sadar, mata Abel kembali melakukan kebiasaan lamanya: mencuri pandang. Hatinya masih terasa sedikit berdenyut, sebuah sisa luka yang rupanya belum mengering sempurna.
Abel memejamkan matanya, melihat sekeliling. Tidak ada yang peduli padanya, semua asing dengan momen masing-masing. Sekali lagi Abel memandangi Arslan untuk terakhir kalinya. Menyimpan pesona pria yang pernah singgah di hatinya, lalu menyimpannya dalam sebuah file terdalam dalam hatinya. Mengunci kenangan itu agar tidak menganga dan menyakitkan.
Di saat teman-temannya saling bertukar salam perpisahan dan pelukan, Abel justru melangkah menjauh. Ia memilih masuk ke dalam gedung sekolah yang mulai sepi menuju satu tempat yang paling memahaminya: Perpustakaan.
Suasana perpustakaan begitu hening, hanya ada suara detak jam dinding. Abel meletakkan tumpukan buku kalkulus dan ensiklopedia di meja sirkulasi, mengembalikannya untuk terakhir kali. Setelah urusannya selesai, ia melangkah ke sudut paling terpencil, tempat mejanya berada.
Di atas meja kayu yang penuh goresan itu, tergeletak sebuah buket bunga matahari yang cerah—bunga yang selalu Abel analogikan sebagai dirinya yang mencari cahaya matahari. Di samping bunga itu, ada sebuah amplop cokelat kecil.
Abel meraih secarik kertas di dalamnya. Tulisan tangannya tegas namun tampak sedikit ragu.
"Selamat atas kelulusannya, Arabella. Kamu bintang yang paling terang, bahkan saat aku mencoba mematikan cahayamu. Maaf karena pernah menjadi awan gelap di hidupmu. Semoga kamu menemukan matahari yang benar-benar layak untukmu."
— A
Abel mendekap buket bunga itu ke dadanya, menghirup aromanya. Wanginya segar, berbeda dengan aroma parfum citrus yang biasa ia hirup. Saat ia berbalik untuk keluar, ia melihat sosok Arslan berdiri di ambang pintu perpustakaan.
Arslan tidak mendekat. Ia hanya berdiri di sana dengan tas yang tersampir di satu bahu. Rambutnya tidak lagi diatur rapi, dan matanya menunjukkan penyesalan yang mendalam. Mereka saling menatap selama beberapa detik dalam keheningan yang menyesakkan.
Tidak ada kata balikan. Tidak ada pelukan dramatis.
Abel hanya memberikan sebuah anggukan kecil dan senyum tipis—senyum yang menandakan bahwa ia sudah menerima permintaan maaf itu, meskipun ia tidak bisa melupakan lukanya. Abel berjalan melewati Arslan, dan kali ini, ia tidak lagi merasa seperti debu.
Saat Abel berjalan melewati Arslan, matanya lurus tanpa menoleh. Arslan ingin menghentikan langkah gadis itu, namun bibirnya kelu untuk bersuara.
Saat Abel keluar menuju gerbang, ia melihat Reno sudah bersandar di motornya. Reno melihat bunga di tangan adiknya, mengerutkan kening sejenak, namun kemudian tersenyum paham.
"Udah siap buat dunia yang lebih luas, Bel?" tanya Reno sambil menyodorkan helm.
Abel hanya mengangguk dan memakai helm.
"Senyum dong anak cantik, nanti Kakak belikan es krim besar untukmu." Reno memegang pipi Abel gemas.
"Janji? Sekarang juga beli."
"Baik, cepat naik!"
Abel naik ke motor, menatap gedung sekolah untuk terakhir kalinya. Ia meninggalkan masa SMA-nya, luka-lukanya, dan sketsa-sketsa lamanya di sana. "Siap, Kak. Mari kita pergi. Es krim enak aku datang..."
Motor Reno melaju, meninggalkan sekolah dan Arslan yang masih berdiri di jendela perpustakaan lantai dua, menatap punggung Abel yang kian menjauh dan menghilang di telan keramaian kota.
Gedung sekolah perlahan mulai mengosongkan diri, menyisakan gema langkah kaki yang terdengar jauh di lorong-lorong sepi. Arslan berjalan menuju lokernya dengan bahu yang tampak lebih berat dari biasanya. Riuh rendah sorak-sorai kelulusan di lapangan seolah tak mampu menembus kesunyian yang ia bawa sendiri.
Ia membuka pintu loker besi itu. Di dalamnya hanya tersisa beberapa barang tak berarti—sebuah jersey latihan yang sudah bersih, botol minum cadangan, dan beberapa tumpukan kertas. Namun, saat ia menarik sebuah tumpukan di sudut paling dalam, sebuah benda terjatuh ke lantai dengan bunyi puk yang pelan.
Sebuah buku sketsa bersampul cokelat polos.
Arslan terdiam. Tangannya yang biasanya kokoh saat memegang bola basket, kini sedikit bergetar saat memungut buku itu. Ia membukanya perlahan, melihat kembali garis-garis pensil yang dulu pernah ia remehkan, namun kini terasa begitu magis. Sketsa wajahnya sendiri yang sedang tertawa, yang sedang fokus di lapangan, hingga sketsa profil sampingnya yang sedang termenung—semuanya digambar dengan penuh perasaan oleh tangan Abel.
Hatinya terasa perih, seperti baru saja dihantam kenyataan yang paling pahit. Ia menyadari satu hal: Buku ini adalah bukti bahwa pernah ada seseorang yang mencintainya dengan begitu tulus, bahkan sebelum ia menjadi "Arslan si kapten hebat". Abel mencintai jiwanya, sementara ia hanya mencintai gengsinya.
Ia membelai sampul cokelat itu dengan ibu jarinya, menghirup aroma kertas lama yang seolah masih menyimpan wangi samar gadis itu.
"Maaf, Bel..." bisiknya pada udara kosong. Sebuah permintaan maaf yang terlambat seribu langkah.
Arslan tidak membuang buku itu. Ia memasukkannya ke dalam tas dengan sangat hati-hati, menyelipkannya di posisi yang paling aman. Ia membawa buku itu pergi, bukan sebagai trofi kemenangan, melainkan sebagai sebuah pengingat akan kesalahannya yang paling besar.
Ia berjalan keluar dari lorong loker, meninggalkan masa remaja yang penuh kepalsuan. Arslan melangkah menuju masa depan dengan membawa sisa cinta yang belum sempat berkembang—sebuah perasaan yang mungkin akan ia simpan rapat di dalam buku bersampul cokelat itu sampai waktu yang lama.
Di tongkrongan itu, Arslan lebih banyak melamun. Sebatang rokok yang ia pegang hanya di bakar begitu saja tanpa ia hisap. paling ia hanya menghisap satu tarikan dan kembali di biarkan menyala sampai habis.
"Lo belum bisa melupakannya?" Tanya Bimo santai.
Arslan hanya terdiam, menundukkan kepalanya. "Entahlah. Mungkin karena harga diri gue di cabik-cabik oleh gadis cupu itu."
Arslan terus saja mengelak. Ia tak bisa mengakui perasaannya yang perlahan tumbuh dalam hatinya. Cinta yang belum sempat mengeluarkan daunnya. Cinta yang baru tumbuh setinggi kecambah itu harus terkunci di bawah keegoisan pemiliknya.
"Gue cabut," teriak Arslan dan langsung membawa kunci motornya.
"Masih sore loh," ujar Dion.
"Udah jam 10, gue mau istirahat."
Teman-teman tim basket itu hanya bisa terdiam, merasa prihatin dengan sikap kapten mereka. Meski mereka menjelaskan bahwa Arslan jatuh cinta pada Abel, ia mengelaknya dengan tegas. Cinta itu tumbuh menjadi belenggu dalam diri Arslan. Memunculkan sosok dingin yang semakin susah untuk di gapai.
"Gue akui, Abel saat itu cantik banget. Kalo gue jadi Arslan pun, gue bakal kegilaan karena kehilangan wanita cantik seperti dia." celetuk Bimo menebak perasaan Arslan.