Lavinia Xerxes pergi dari Inggris menuju ke Amerika untuk mencari kakaknya yang tak ada kabar selama sebulan lamanya.
Hal itu membuat dirinya tinggal di apartemen sang kakak yang ditinggalinya bersama teman sekamarnya yaitu Rocco Robert yang sebenarnya adalah pemilik asli apartemen itu.
JANGAN LUPA FOLLOW
INSTAGRAM @ZARIN.VIOLETTA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
LavCo 35
Rocco mengambil rokok Lavia dari jarinya dan mematikannya di bangku taman.
"Dari mana kau tahu bahwa aku ada di sini? Kau mengawasiku, Rocco?" tanya Lavia.
"Tentu saja," jawab Rocco.
"Aku bukan tunanganmu lagi," sahut Lavia yang terlihat mood nya sedang buruk.
"Ada apa? Ada masalah yang terjadi?" tanya Rocco yang tahu bahwa pasti ada yang terjadi dengannya.
"Paman Fred mencari masalah denganku," jawab Lavia jujur karena dia tak ingin menyembunyikan apa pun dari Rocco.
"Aku sudah mengurus semuanya. Apakah ada masalah lagi?" tanya Rocco.
"Paman menyuruhku untuk membantu biaya operasi Becca. Dan aku menolaknya. Mengapa dia begitu peduli pada mereka berdua? Dia seperti ayah mereka saja," jawab Lavia.
"Becca memang anak Paman Fred," sahut Rocco.
Lavia melihat ke arah Rocco. Wanita itu tampak shock dan dia seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Rocco.
"Aku sudah menyelidiki hal ini. Becca adalah anak Paman Fred sedangkan Sammy adalah anak ayahmu yang artinya kalian adalah saudara kandung. Berbeda dengan Becca yang tak ada hubungan darah denganmu," lanjut Rocco.
Lavia berdiri dari tempat duduknya dan tangannya bersedekap.
"Aku benar-benar tak menyangka hal itu. Itu lah mengapa Paman Fred begitu membela Becca. Hubungan yang rumit dan ooohh aku tak mau membayangkannya. Mereka sangat menjijikkan karena itu artinya mereka berselingkuh di belakang ayahku?" ucap Lavia tak habis pikir.
"Bahkan Sammy tak tahu hal ini," ucap Rocco.
Rocco sudah tahu hal ini agak lama tapi dia belum mengatakannya pada Lavia.
Lavia terdiam dan hanya terpaku di tempatnya sambil menatap ke arah hamparan rumput di depannya.
Lalu Rocco menarik tangan Lavia dan membawanya ke mobil.
"Kau pergi denganku saja. Nanti supir yang akan mengambil mobilmu di sini," kata Rocco.
Lavia hanya diam mengikuti langkah Rocco dan dia masuk ke dalam mobil ketika Rocco membukakannya pintu mobil.
Kini mereka dalam perjalanan menuju sebuah restoran untuk makan pagi bersama.
"Mengapa kau berangkat pagi sekali?" tanya Rocco sembari fokus menyetiir.
"Ada barangku yang tertinggal di rumah Reese," jawab Lavia mengarang cerita.
Rocco tersenyum mendengar jawaban Lavia.
"Kau menghindariku?" tanya Rocco.
"Tidak, untuk apa aku menghindarimu?" tanya Lavia yang mulai salah tingkah.
"Menghindari adegan yang terputus kemarin malam," jawab Rocco yang membuat pipi Lavia memerah.
Lavia menoleh ke arah jendela mobil agar wajahnya yang merah tak terliihat oleh Rocco.
Rocco tertawa melihat hal itu.
"Wajahmu terlihat dari pantulan kaca jendela," ucap Rocco.
"Oh God, Rocco. Diamlah," sahut Lavia.
"Kau yang memancingku tapi kau yang malu. Lucu sekali," kata Rocco.
"Rocco, just shut up!!" ucap Lavia lagi dan Rocco memegang tengkuk leher Lavia lalu mencium bibirnya sekilas.
"Kita bukan sepasang kekasih yang harus selalu berciuman," kata Lavia.
"Kau ingin kita menjadi sepasang kekasih?" tanya Rocco.
"Bukankah kau menolakku waktu itu?" tanya Lavia balik.
"Aku tak suka dengan prosesnya. Berbeda dengan sekarang. Kita menjalaninya seperti air yang mengalir," jawab Rocco.
"Kau menyukaiku?" tanya Lavia melihat ke arah Rocco.
"Aku menyukaimu bahkan sejak kau memakai kaca mata besarmu itu," jawab Rocco.
Lavia terdiam mendengar hal itu. Dia mencari kebenaran di mata dan raut wajah Rocco.
"Apakah aku terlalu menggombal hingga kau tak percaya padaku?" tanya Rocco.
"Sulit untuk mempercayai seorang pria. Contohnya Paman Fred," jawab Lavia.
Rocco tertawa mendengar ucapan Lavia.
"Oh no, kau menyamakan aku dengan Paman Fred?" sahut Rocco.
"Wajah dan ucapan sangat bisa menipu, Rocco," jawab Lavia.