NovelToon NovelToon
Negosiasi Di Ranjang Musuh

Negosiasi Di Ranjang Musuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Wanita Karir / Penyesalan Suami / Selingkuh / Menikah dengan Musuhku / Romansa
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: chrisytells

​Alicia Valero adalah ratu properti Madrid yang tak tersentuh—hingga ia mencium aroma pengkhianatan di balik kemeja suaminya, Santiago. Alih-alih meratap, Alicia memilih jalur yang lebih panas: balas dendam total. Ia akan merebut kerajaan Solera Luxury Homes dan menghancurkan Santiago.
​Namun, demi memenangkan perang ini, Alicia harus bersekutu dengan iblis: Rafael Montenegro.
​Rafael, pesaing suaminya yang kejam dan memikat, adalah bayangan gelap yang selalu mengincar kehancuran Solera. Ia memiliki tatapan yang menjanjikan dosa dan sentuhan yang bisa membakar segalanya.
​Alicia Valero kini menari di antara dewan direksi yang kejam dan pelukan rahasia yang terlarang. Persekutuan berbahaya ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang gairah yang menyala di atas tumpukan pengkhianatan.
​Dalam permainan kekuasaan, siapa yang akan menjadi korban? Apakah Alicia bisa mengendalikan serigala itu, ataukah ia akan menjadi mangsa berikutnya dalam kehancuran yang paling manis dan mematikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrisytells, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 3 : Konferensi Pers — Deklarasi Perang

​Pukul 10:00 pagi. Ruangan Balai Kristal di Hotel Westin Palace Madrid dipenuhi kilatan lampu blitz kamera. Konferensi pers yang diselenggarakan oleh Solera Luxury Homes selalu menarik perhatian, tetapi kali ini, atmosfernya terasa seperti medan eksekusi.

​Santiago Valero duduk di kursi paling kiri meja utama, wajahnya pucat pasi di bawah cahaya lampu sorot yang brutal. Pakaiannya masih setelan tailored mahal, tetapi auranya telah hancur. Ia tampak seperti patung lilin yang baru saja menerima berita tentang kematian finansialnya.

​Di sisi lain meja, duduk Alicia Valero, tampak sebaliknya. Ia mengenakan setelan celana putih gading yang bersih, sebuah pernyataan visual tentang kekuatan dan kemurnian tujuan. Kalung berlian yang melingkari lehernya tampak seolah-olah telah menyerap semua cahaya di ruangan itu, memancarkan kecemerlangan yang dingin. Di tangannya, ia memegang map kulit yang sama yang semalam ia lemparkan ke ranjang Santiago—sekarang berisi dokumen yang sudah ditandatangani.

​Keheningan yang mencekik menguasai ruangan ketika pintu samping terbuka, dan Rafael Montenegro melangkah masuk.

​Rafael tidak duduk di meja konferensi. Ia berjalan lurus, mengenakan setelan tiga potong abu-abu arang yang elegan namun mengancam, dan berdiri di belakang kursi Alicia, meletakkan tangan kirinya di punggung kursi wanita itu—sebuah gerakan kepemilikan yang terbuka dan provokatif.

​Seluruh ruangan mendesis. Ini adalah peristiwa yang belum pernah terjadi. Pesaing terbesar Solera di acara pers Solera. Para jurnalis, yang sudah mencium bau skandal dan kekuasaan, langsung melancarkan serangan.

​Alicia meraih mikrofon di depannya, senyum tipis dan sempurna terukir di bibirnya.

​“Selamat pagi. Terima kasih atas kehadiran Anda semua. Hari ini, kami, dari Solera Luxury Homes, bukan hanya mengumumkan keberhasilan tender proyek Ibiza, tetapi juga restrukturisasi kepemimpinan dan strategis yang mendalam.”

​Ia menoleh sekilas ke Santiago, lalu kembali menatap para jurnalis. “Seperti yang Anda ketahui, saya dan suami saya, Santiago Valero, adalah pendiri Solera. Namun, seiring pertumbuhan perusahaan, diperlukan fokus yang lebih terarah. Mulai hari ini, saya akan mengambil alih peran Chief Executive Officer (CEO) dan juga Direktur Utama Solera Luxury Homes.”

​Kilatan kamera semakin liar. Jurnalis dari El Mundo langsung menembak. “Nyonya Valero, apa alasan di balik perubahan mendadak ini? Apakah ini terkait dengan rumor perpecahan antara Anda dan Tuan Santiago?”

​Alicia mengangguk perlahan, suaranya tetap tenang dan terkontrol, seolah ia sedang menjelaskan grafik pasar saham yang sederhana.

​“Tuan Santiago dan saya memang telah memutuskan untuk mengakhiri ikatan pernikahan kami. Ini adalah keputusan yang dibuat berdasarkan pandangan yang berbeda mengenai arah pribadi dan profesional. Saya percaya bahwa kepemimpinan perusahaan memerlukan fokus 100% tanpa gangguan emosional atau masalah domestik.”

​Ia menekankan kata-kata ‘masalah domestik’ dengan intonasi yang mematikan, menancapkan pisau itu ke jantung Santiago yang malang. Santiago mengepalkan tinjunya di bawah meja, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Pengacara Alicia telah memastikan bahwa Santiago harus tetap diam dan terlihat ‘mendukung’ hingga semua dokumen selesai diproses.

​Alicia melanjutkan, “Dan dalam kaitannya dengan fokus profesional, saya sangat bangga mengumumkan aliansi strategis yang bersejarah. Untuk proyek Ibiza, dan untuk masa depan yang lebih besar, Solera Luxury Homes dengan bangga mengumumkan kemitraan dengan Montenegro Group.”

​Kini, bukan hanya kamera, tetapi juga bisikan shock yang membanjiri ruangan.

​Rafael Montenegro, di belakangnya, mencondongkan tubuh sedikit, bibirnya mendekat ke telinga Alicia—gerakan yang sangat intim dan terencana.

​“Ini adalah kejutan yang disiapkan oleh mi querida Alicia,” bisik Rafael, cukup keras hingga mikrofon menangkapnya. Ia kemudian mengambil mikrofon cadangan.

​“Perkenalkan. Rafael Montenegro. Saya adalah pemegang saham minoritas baru di Solera dan kepala mitra strategis mereka. Kami akan menggabungkan keahlian Solera di bidang properti mewah klasik dengan kekuatan finansial dan jaringan internasional Montenegro Group. Ini bukan hanya kemitraan; ini adalah pengambilalihan yang ramah di mata pasar.”

​Kata "pengambilalalihan" menusuk Santiago seperti pedang. Ekspresi wajahnya kini adalah campuran antara pengkhianatan, kehilangan, dan kemarahan yang tertahan. Dia telah kehilangan perusahaan, istrinya, dan sekarang, musuh bebuyutannya berdiri di belakang istrinya—mengambil kredit atas sisa-sisa yang ada.

​Seorang jurnalis lain bertanya, kali ini fokusnya langsung pada hubungan pribadi Alicia dan Rafael. “Tuan Montenegro, Nyonya Valero—hubungan Anda selama ini dikenal sebagai pesaing sengit. Kini, Anda berdiri begitu dekat. Apakah ‘aliansi strategis’ ini juga meluas ke hubungan pribadi Anda?”

​Alicia menatap Rafael, matanya berkilat-kilat, memberinya izin diam-diam untuk bermain.

​Rafael tersenyum—senyum predator yang tahu pasti mangsanya sudah berada di genggaman.

​“Seperti yang dikatakan Alicia, kami berdua memiliki pandangan yang sama tentang masa depan, baik dalam bisnis maupun kehidupan. Tuan Santiago dan Alicia telah berpisah. Dan ya, saya dapat mengonfirmasi bahwa Nyonya Valero, atau mungkin saya harus mulai memanggilnya hanya Alicia, dan saya, sedang mengenal satu sama lain dalam kapasitas yang jauh lebih pribadi.”

​Ia menekankan kata 'pribadi' dengan nada yang menyiratkan segalanya. Ia meletakkan tangan di bahu Alicia, tekanan yang kuat dan posesif.

​Santiago tidak tahan lagi. Ia bangkit dari kursinya, tangannya menghantam meja.

​“Ini bohong! Rafael, kau telah—!”

​Alicia menoleh, tatapannya membungkam amukan Santiago lebih efektif daripada penjaga keamanan.

​“Santiago,” potongnya dengan suara yang dingin dan berwibawa, “Anda telah menandatangani semua dokumen. Keputusan Anda untuk mundur adalah keputusan Anda, dan keputusan ini adalah yang terbaik untuk perusahaan. Mohon tunjukkan kehormatan profesional.”

​Ia berbalik menghadap mikrofon, mengakhiri konferensi pers dengan sempurna.

​“Dengan demikian, Tuan Santiago Valero kini akan mengambil cuti panjang untuk mengurus urusan pribadinya. Semua pertanyaan mengenai kepemimpinan dan strategi Solera silakan ditujukan kepada saya, atau kepada mitra strategis kami, Tuan Rafael Montenegro. Terima kasih.”

​Tanpa menunggu lebih lanjut, Alicia bangkit. Rafael menarik kursi itu dengan gerakan penuh perhatian. Keduanya berjalan keluar dari Balai Kristal, meninggalkan Santiago sendirian, dikepung oleh jurnalis yang kini mencium darah dan headline yang lebih besar daripada proyek Ibiza—Skandal, Perceraian, dan Balas Dendam dengan Musuh.

...****************...

​Beberapa jam kemudian, Alicia berada di dalam Mercedes-Benz S-Class lapis baja milik Rafael, melaju menjauhi pusat kota. Mereka baru saja menyelesaikan pertemuan dengan notaris untuk menuntaskan transfer saham, sebuah proses yang kini berlangsung mulus tanpa perlawanan berarti dari Santiago yang sudah kalah.

​Rafael telah mengundang Alicia ke apartemen pribadinya, sebuah penthouse minimalis di kawasan Chamberí, lebih tersembunyi daripada rumahnya di La Castellana.

​“Kau sangat brilian, Alicia,” kata Rafael, suaranya penuh kekaguman saat mereka memasuki foyer apartemennya yang didominasi oleh instalasi seni abstrak. “Kau membuat Santiago terlihat seperti tikus basah. Aku hampir kasihan padanya.”

​“Jangan kasihan,” jawab Alicia, melepas blazer putih gadingnya. Di bawahnya, ia mengenakan camisole sutra yang tampak profesional sekaligus sensual. “Kasihan adalah emosi yang tidak menghasilkan uang, Rafael.”

​Mereka tiba di ruang tamu, di mana dinding kaca memperlihatkan bulan purnama yang tergantung di atas Madrid.

​“Dia akan melancarkan serangan balasan. Dia akan mencari celah hukum, celah apa pun,” kata Alicia, berjalan menuju bar dan menuangkan segelas Rioja untuk dirinya sendiri.

​Rafael berjalan di belakangnya, mendekat dengan langkah pelan. Ia tidak minum. Ia hanya mengamati Alicia dengan matanya yang intens.

​“Biarkan dia. Dia tidak memiliki kendali di dewan. Dan lebih penting lagi, dia tidak memiliki kendali atas dirimu lagi.”

​Rafael mengambil gelas anggur dari tangan Alicia, meletakkannya di bar. Kemudian, ia membalikkan tubuh Alicia untuk menghadapnya.

​“Kita menyelesaikan urusan bisnis. Sekarang, kita harus menyelesaikan urusan pribadi kita,” bisiknya, suaranya berubah menjadi lebih gelap dan lebih intim.

​“Kita harus membuat drama ini tampak nyata, Alicia. Untuk pers, untuk dewan, dan yang paling penting, untuk Santiago.”

​Alicia mendongak. Di kantornya, ia bisa mengendalikan diri. Di sini, di penthouse gelap Rafael, dikelilingi oleh udara yang beraroma kekuasaan dan bahaya, batas-batasnya mulai memudar.

​“Kau menginginkanku, Rafael. Dan aku tidak bernegosiasi dengan pria yang menginginkanku,” tantang Alicia.

​Rafael tersenyum lambat, sebuah cemoohan yang menggairahkan. “Kau wanita yang cerdas, Alicia. Kau tahu betul kau menginginkan diriku juga. Kau memilihku bukan hanya karena aku adalah musuh terbesarnya. Kau memilihku karena kau tahu aku bisa memberimu api yang telah lama padam.”

​Ia mengangkat tangannya, jemarinya yang kuat meluncur ke tengkuk Alicia. Ibu jarinya membelai kulit halus di bawah rambutnya.

​“Kau ingin merasakan gairah yang kuat. Kau ingin merasakan kendali, dan pada saat yang sama, kau ingin menyerahkannya, karena kau lelah menjadi wanita sempurna yang disalahgunakan oleh pria bodoh.”

​Alicia bernapas cepat. Ia berusaha keras untuk mempertahankan topengnya.

​“Aku tidak datang ke sini untuk menyerahkan kendali, Rafael.”

​“Tentu saja kau datang,” bisik Rafael, menarik Alicia sedikit lebih dekat. Tubuh mereka kini hampir menyentuh, hanya dipisahkan oleh lapisan tipis kain. “Kau menari di atas abu kesetiaan. Dan sekarang, kau datang untuk merasakan panasnya api itu. Di sinilah tarian kita dimulai, Alicia.”

​Ia menciumnya. Ciuman itu lebih menuntut daripada yang sebelumnya di kantornya. Ini adalah janji yang dipenuhi. Rafael memimpin, menggiring Alicia mundur hingga punggungnya menyentuh dinding marmer yang dingin. Kontras antara dinginnya dinding dan panasnya tubuh Rafael semakin memicu gairah yang telah lama terkubur.

​Tangan Rafael menyusup di bawah camisole sutra Alicia. Sentuhannya membakar kulit Alicia, sentuhan yang tidak pernah ia terima dari Santiago—sentuhan yang tidak meminta izin, melainkan menuntut hak.

​Alicia membalas ciuman itu dengan intensitas yang mengejutkan dirinya sendiri. Bukan karena cinta, bukan karena kelembutan, melainkan karena kebutuhan yang mendalam dan gelap. Kebutuhan untuk membuktikan bahwa ia masih hidup, bahwa ia masih diinginkan, bahwa balas dendamnya bisa menjadi kenikmatan yang pahit.

​Rafael mengangkatnya, kakinya melilit pinggang Rafael. Mereka bergerak menuju kamar tidur, di mana kemewahan yang dingin berjanji akan dipenuhi dengan kehangatan terlarang.

​“Ingat, Alicia,” bisik Rafael, suaranya serak di telinganya, “ini adalah negosiasi. Dan negosiasi kita akan sangat panjang dan sangat pribadi.”

1
🦊 Ara Aurora 🦊
Kk mampir yuk 😁
🦊 Ara Aurora 🦊
Alicia kasihnya 😢😢
(Panda%Sya)💸☘️
Semangat terus ya thor💪
nadinta
oh my god, Alicia. Perempuan mahallll
Ida Susmi Rahayu Bilaadi
cerita bagus gini yg nge like kok cm sdkt ya. minim typo, aq suka. semangat thor 💪💪💪
chrisytells: Makasih, kakak🙏
Harapan aku, makin banyak lagi yg baca karya aku🤗
Kalau boleh aku minta bantu promosi juga, wkwk 🤭😄
Rajin² tinggalkan komentar ya, kak😍
total 1 replies
BiruLotus
lanjut thor
d_midah
Rafael, pilis jangan jadi pria jahat😭
d_midah
jangan gitu dong Rel🥲
Tulisan_nic
Pembalasan yang elegan sekali Alicia,aku suka tipe wanita sepertimu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!