NovelToon NovelToon
CINTA DATANG BERSAMA SALJU PERTAMA

CINTA DATANG BERSAMA SALJU PERTAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Karir / One Night Stand / Duniahiburan / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:447
Nilai: 5
Nama Author: chrisytells

Di Shannonbridge, satu-satunya hal yang tidak bisa direncanakan adalah jatuh cinta.
​Elara O'Connell membangun hidupnya dengan ketelitian seorang perencana kota. Baginya, perasaan hanyalah sebuah variabel yang harus selalu berada di bawah kendali. Namun, Shannonbridge bukan sekadar desa yang indah; desa ini adalah ujian bagi tembok pertahanan yang ia bangun.
​Di balik uap kopi dan aroma kayu bakar, ada Fionn Gallagher. Pria itu adalah lawan dari semua logika Elara. Fionn menawarkan kehangatan yang tidak bisa dibeli dengan kesuksesan di London. Kini, di tengah putihnya salju Irlandia, Elara terperangkap di antara dua pilihan.
​Apakah ia akan mengejar masa depan gemilang yang sudah direncanakan, atau berani berhenti berlari demi pria yang mengajarkannya bahwa kekacauan terkadang adalah tempat ia menemukan rumah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrisytells, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27 : Tenunan Harapan di Atas Meja Kayu

Malam itu, pondok Fionn terasa lebih sempit dari biasanya. Bukan karena barang-barang yang bertambah, melainkan karena atmosfer ketegangan yang menyesakkan paru-paru. Julian mungkin sudah pergi ke penginapannya, dan Tuan Doherty mungkin sedang menyesap wiski mahalnya di Dublin, namun bayang-bayang ekskavator itu masih menghantui pikiran Elara.

Elara duduk bersimpuh di atas karpet wol, dikelilingi oleh tumpukan berkas keuangan pabrik yang ia dapatkan dari Seamus, beberapa sampel benang wol yang kasar namun hangat, dan tentu saja—kunci pemberian Fionn yang kini ia kalungkan sebagai penyemangat.

"Kau sudah tidak makan selama enam jam, Elara. Otakmu butuh glukosa, bukan hanya adrenalin," Fionn datang membawa semangkuk sup domba panas dan meletakkannya dengan hati-hati di sela-sela kertas kerja Elara.

"Aku tidak lapar, Fionn. Aku sedang menghitung peluang," jawab Elara tanpa menoleh. Matanya merah, namun binar tekad di dalamnya lebih terang dari lampu minyak di atas meja.

Fionn berlutut di sampingnya, mengambil selembar kertas yang berisi coretan rumit Elara. "Investor dari perusahaan tekstil Italia? Perusahaan luxury brand di Prancis? Elara, mereka bahkan tidak tahu Shannonbridge ada di peta."

"Itu sebabnya aku akan membuat mereka tidak punya pilihan selain melihat kita," Elara mendongak, menatap Fionn dengan ekspresi yang sangat intens. "Julian benar, pabrik ini tidak efisien jika hanya menjual wol mentah ke pasar lokal. Tapi, bagaimana jika kita mengubahnya menjadi narasi? Sesuatu yang emosional. Sesuatu yang... sustainable."

Elara menarik sebuah peta besar dan membentangkannya. "Lihat ini. Pabrik wol kita menggunakan air dari sungai Shannon untuk proses pencucian tradisional. Benangnya memiliki tekstur unik karena mineral di sungai ini. Di Dublin, orang-orang kaya membayar ribuan Euro untuk sesuatu yang punya 'cerita'. Aku tidak akan mencari investor pabrik biasa. Aku akan mencari investor gaya hidup."

"Maksudmu... kita akan menjual wol ini sebagai barang mewah?" tanya Fionn ragu.

"Lebih dari itu. Kita akan menjual konsep penyelamatan desa. Aku akan menghubungi O’Donoghue Industries. Pemiliknya, Willem O’Donoghue, sangat membenci Doherty karena persaingan bisnis lama. Tapi lebih dari itu, istrinya adalah kolektor kain tradisional dunia. Jika aku bisa meyakinkan mereka bahwa investasi di pabrik ini adalah investasi untuk menyelamatkan warisan budaya Irlandia, Doherty tidak akan bisa menyentuh kita."

Fionn menarik napas panjang. "Itu gila, Elara. Itu sangat berisiko. Bagaimana jika mereka menolak?"

"Maka kita akan menggunakan Rencana D," jawab Elara cepat.

"Rencana D? Apa itu?"

"Aku akan menjual apartemenku di Dublin untuk menutupi hutang operasional pabrik selama sebulan, sampai investor lain datang."

Ruangan itu mendadak hening. Fionn meletakkan mangkuk supnya dengan bunyi klotak yang keras. "Kau tidak boleh melakukan itu, Elara! Itu adalah hasil kerja kerasmu selama bertahun-tahun!"

"Apa gunanya apartemen mewah jika jiwaku tertinggal di sini, Fionn?!" Elara berdiri, suaranya naik satu oktav. "Kau bilang kau mencintaiku karena aku berani. Inilah keberanianku! Aku mempertaruhkan segalanya karena aku tahu Shannonbridge layak diselamatkan. Kau layak diselamatkan!"

Fionn ikut berdiri, langkahnya mendekat hingga ia bisa merasakan napas Elara yang memburu. "Aku mencintaimu, Elara, tapi aku tidak ingin kau hancur karena mencoba menyelamatkan kami. Jika kau kehilangan segalanya dan rencana ini gagal, kau akan..."

"Aku tidak akan pernah meninggalkan Shannonbridge!" Elara memukul dada Fionn dengan tinju kecilnya, air mata frustrasi akhirnya pecah. "Kenapa kau selalu berpikir aku akan pergi? Apakah kau tidak percaya bahwa aku sudah memilihmu?"

Fionn menangkap tangan Elara, menariknya ke dalam pelukan yang sangat erat. Elara terisak di dada Fionn, meluapkan semua ketakutan yang ia pendam sejak Julian datang.

"Aku hanya takut, Sayang," bisik Fionn di rambut Elara. "Aku takut dunia tempatmu berasal akan menarikmu kembali dengan cara yang menyakitkan. O'Neill, Doherty... mereka adalah bagian dari Kesuksesanmu di Kota. Dan aku... aku hanya seorang Barista dengan kedai kopi."

Elara mendongak, wajahnya basah oleh air mata namun matanya tajam. "Barista dengan kedai kopi ini adalah orang yang mengajarkanku bahwa hidup bukan tentang Gantt Chart, tapi tentang detak jantung. Sekarang, bantu aku. Kita butuh contoh produk yang paling indah dari pabrik itu. Malam ini juga."

Dengan semangat yang menyala kembali, Elara dan Fionn menyelinap keluar pondok menuju gedung pabrik yang gelap. Biscotti mengikuti mereka, ekornya bergoyang rendah seolah tahu mereka sedang dalam misi rahasia.

Di dalam pabrik yang berbau wol mentah dan minyak mesin, mereka bertemu dengan Seamus yang sedang berjaga dengan senapan tua (yang Elara harap tidak ada pelurunya).

"Seamus! Aku butuh kain terbaik yang pernah diproduksi pabrik ini dalam sepuluh tahun terakhir," seru Elara.

"Ada di gudang belakang, Nona. Tenunan 'Biru Shannon'. Mendiang istriku yang menenunnya sebelum mesin-mesin itu mulai rusak," jawab Seamus dengan mata berkaca-kaca.

Elara menemukan kain itu. Sebuah kain wol berwarna biru tua dengan gradasi perak yang mengingatkan pada pantulan bulan di sungai Shannon. Teksturnya sangat lembut namun kuat.

"Ini dia," bisik Elara. "Ini bukan sekadar kain. Ini adalah emosi yang ditenun."

Elara segera mengambil laptopnya, duduk di lantai pabrik yang berdebu, dan mulai menyusun presentasi paling emosional dalam hidupnya. Ia tidak memasukkan banyak grafik keuntungan. Sebaliknya, ia memasukkan foto-foto warga desa, foto dermaga, dan video pendek Biscotti yang sedang berlarian di padang rumput.

"Apa yang kau lakukan dengan video anjing itu?" tanya Fionn heran.

"Ini disebut emotional branding, Fionn. Investor harus jatuh cinta pada kehidupan di sini sebelum mereka menginvestasikan uang mereka," Elara mengedipkan mata, senyum nakalnya kembali.

...****************...

Menjelang jam empat pagi, presentasi itu selesai dikirim ke email pribadi Willem O’Donoghue dengan subjek: Harta Karun Tersembunyi di Shannonbridge dan Peluang Mengalahkan Doherty.

Elara menyandarkan kepalanya di bahu Fionn saat mereka duduk di dermaga, menunggu matahari terbit. Kain Biru Shannon tersampir di bahu mereka berdua, memberikan kehangatan di tengah udara dingin yang menusuk.

"Jika dia membalas, kita punya kesempatan," bisik Elara.

"Dan jika dia tidak membalas?" tanya Fionn.

"Maka aku akan mengemasi barang-at-barangku, pergi ke Dublin, dan berdiri di depan kantornya sampai dia mau menemuiku."

Fionn tertawa pelan, mencium pelipis Elara. "Kau adalah badai yang paling indah, Elara O’Connell. Julian O’Neill tidak tahu apa yang sedang ia hadapi."

"Dia menghadapi seorang wanita yang sedang jatuh cinta, Fionn. Itu adalah variabel yang tidak pernah bisa dihitung oleh algoritmanya," jawab Elara sambil menggenggam tangan Fionn erat.

Di kejauhan, lampu-lampu desa mulai menyala satu per satu. Penduduk Shannonbridge mulai bangun tanpa tahu bahwa di tepi sungai, seorang arsitek Dublin dan seorang pembuat kopi sedang mempertaruhkan segalanya demi masa depan mereka.

Malam itu, Elara membuktikan bahwa perencanaannya bukan lagi soal angka dan beton, melainkan soal tenunan kasih dan keberanian untuk melawan raksasa. Strategi penyelamatan telah diluncurkan, dan kini, mereka hanya bisa berharap bahwa hati sang investor sama hangatnya dengan wol Biru Shannon yang menyelimuti mereka.

...****************...

Di sudut dapur kedai yang remang-remang, hanya diterangi oleh sebatang lilin yang hampir habis, Moira duduk terdiam. Di depannya tergeletak jurnal usang milik Liam Gallagher dan sebuah foto hitam-putih yang tepiannya mulai rapuh. Ia mengusap permukaan foto itu, menelusuri garis rahang pria yang sangat mirip dengan putranya.

​"Liam, lihatlah anakmu sekarang," bisik Moira, suaranya parau tertahan isak. "Dia sedang berdiri di garis depan, sama sepertimu dulu. Dia punya api di matanya, Liam. Api yang dulu pernah kucoba padamkan karena aku terlalu takut dia akan hancur sepertimu."

​Air mata jatuh mengenai jurnal itu, tepat di atas sketsa dermaga yang kini menjadi medan perang. Moira memejamkan mata, membayangkan Fionn yang keras kepala dan Elara yang penuh tekad.

​"Gadis itu, Elara... dia adalah jawaban dari doa-doa yang bahkan tidak berani kuucapkan. Dia tidak hanya membawa kertas dan pena, dia membawa harapan yang selama ini kita kubur di dasar sungai Shannon," gumamnya lagi, seolah Liam sedang duduk di kursi kosong di depannya. "Tapi aku takut, Liam. Desa ini sedang sekarat. Pabrik wol itu... jika itu tutup, habislah kita. Fionn mempertaruhkan segalanya, dan aku hanya bisa menonton dari balik jendela, memegang kunci-kunci tua ini."

​Tiba-tiba, suara langkah kaki pelan mendekat. Bibi O’Malley muncul dari kegelapan, meletakkan tangannya yang hangat di bahu Moira.

​"Dia bukan Liam, Moira. Fionn tidak sendirian," suara Bibi O’Malley lembut namun tegas.

​Moira mendongak, matanya yang basah mencari kekuatan. "Tapi pria kota itu... dia seperti hantu dari masa lalu kita, Rose. Dia datang untuk mengambil apa yang tersisa."

​"Biarkan hantu itu datang," balas Bibi O’Malley sambil menarik kursi dan duduk di samping sahabatnya. "Kali ini, hantu itu akan berhadapan dengan wanita Dublin yang punya otak lebih tajam dari silet dan putra kita yang punya hati sebesar rawa-rawa ini. Jangan meratap di depan foto Liam. Liam pasti ingin kau berdiri tegak besok pagi, menyiapkan roti jahe terhangat untuk mereka yang sedang berperang."

​Moira tersenyum pahit, mengusap air matanya dengan ujung celemek. "Kau benar. Fionn sedang membangun kembali apa yang kau tinggalkan, Liam. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun memadamkan api mereka."

​Ia menutup jurnal itu dengan mantap, memeluknya di dada. Di luar sana, sungai Shannon terus mengalir, membawa gema perjuangan yang kini tak lagi sunyi.

1
Alnayra
👍🏻👍🏻👍🏻 top
d_midah (Hiatus)
ceilah bergantung gak tuh🤭🤭☺️
d_midah (Hiatus): kaya yang lebih ke 'sedikit demi sedikit saling mengenal, tanpa terasa gitu' 🤭🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!