Kenanga mengabdikan hidupnya pada sang suami dan anak sambungnya, tapi pada akhirnya dia dihianati juga. Suami yang dia kira mencintainya dengan tulus nyatanya hanya kebohongan. Di dalam hatinya ternyata masih tersimpan nama sang mantan yang kini telah kembali dari luar negeri.
Rahasia yang selama ini ditutupi sang suami dan keluarga pun terbongkar. Kenanga memilih mundur dan memulai kehidupan yang baru meskipun semua itu terasa sulit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon husna_az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
"Assalamualaikum," ucap Kenanga begitu memasuki rumah.
Dia mencari keberadaan kedua orang tuanya. Namun, wanita itu hanya bisa melihat keberadaan mamanya di ruang tengah. Salma terlihat sedang menonton televisi sambil menikmati kue basah.
"Mama!" seru Kenanga yang kemudian memeluk wanita paruh baya itu.
"Kenangan! Kamu datang kenapa nggak bilang-bilang?" tanya Salma dengan wajah berbinar.
Dia senang melihat kehadiran putrinya. Sudah lama wanita itu merindukan putrinya itu, hanya saja belum ada waktu untuk bertemu. Sekarang Kenanga memberi kejutan dengan kehadirannya, tentu saja membuat Salma merasa senang dan juga terharu.
"Aku sengaja datang untuk membuat kejutan buat Mama. Mama apa kabar?" tanya Kenanga setelah melepas pelukannya.
Salma tersenyum menatap putrinya. "Mama baik-baik saja. Mama juga bahagia melihat kamu ada di sini. Kamu datang sendiri?" tanya Salma sambil melihat ke arah depan, barangkali ada sang menantu di sana, tapi ternyata tidak ada siapa pun. Hanya ada Bibi tadi yang sekarang sudah masuk ke dalam rumah.
"Aku datang sendiri. Memang sengaja karena ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan Papa dan Mama," jawab Kenanga dengan tatapan yang begitu serius.
Salma mengerutkan keningnya, dia merasa putrinya sedang ada masalah yang besar, tapi belum mau mengatakannya.
"Kamu ada apa? Apa terjadi sesuatu di sana?"
"Kita tunggu papa saja. Papa ada di mana, Ma?"
"Papamu sedang bicara dengan Pak Toni. Nanti biar Bibi yang panggil. Mama masih mau ngobrol-ngobrol dulu sama kamu. Bagaimana keadaan kamu akhir-akhir ini?"
"Aku baik-baik saja, Ma. Kenapa Mama terlihat begitu khawatir?"
"Entah kenapa ... Mama akhir-akhir ini sering bermimpi hal yang tidak enak. Mama terus kepikiran sama kamu. Kamu nggak ada masalah, kan? Kamu nggak menyembunyikan sesuatu dari Mama?"
Kenanga terdiam, menatap mamanya dalam-dalam. Ternyata firasat orang tua tidak pernah salah karena memang dirinya saat ini sedang ada masalah. Dia merasa sangat beruntung karena memiliki orang tua seperti mereka, yang selalu perhatian dan memiliki ikatan batin yang kuat. Berbeda dengan dirinya dan Davina yang tidak memiliki hubungan darah dan tidak mengerti isi hati masing-masing.
"Tidak ada, Ma. Aku baik-baik saja. Mama saja yang terlalu khawatir."
Kenanga pun mengalihkan pembicaraan dengan bertanya mengenai keadaan yang ada di sana. Sementara itu, Toni dan Halim sedang membicarakan masalah perkebunan dan hasil panen yang sekarang ini mengalami banyak peningkatan. Padahal sebelumnya akhir-akhir ini banyak hama merajalela, tapi untungnya para pekerja bisa mengatasinya dengan baik.
Halim merasa beruntung karena memiliki pekerjaan yang hebat. Mereka melakukan pekerjaannya dengan sepenuh hati tanpa merasa diperas atau dirugikan. Dia sendiri pun juga akan memberi tips untuk mereka yang sudah bekerja keras.
Ponsel Toni yang ada di dalam saku berdering, ada panggilan dari seseorang yang dikenalnya. Namun, pria itu malah mengabaikannya dan itu membuat Halim penasaran.
"Kenapa tidak kamu angkat?"
"Tidak apa-apa, Pak. Tidak penting juga."
Halim hanya mengangguk dan melanjutkan pembicaraan yang sempat tertunda. Lagi-lagi ponsel Toni berdering. Toni yang kesal pun akhirnya mematikan ponselnya biar tidak diganggu lagi.
Halim yang tidak sabar pun bertanya, "Siapa sih yang menghubungi kamu, Toni? Sepertinya kamu sangat kesal sekali."
Toni terdiam, dia ragu apakah harus menjelaskannya atau tidak. Jika bercerita nanti dianggap lancang karena sudah diperingati Kenanga. Kalau tidak pasti nanti Halim akan berpikir yang tidak-tidak terhadap dirinya.
Halim yang melihat keraguan di wajah Toni menjadi semakin penasaran dan kembali bertanya, "Ada apa, Toni? Apa kamu sedang ada masalah?"
"Tidak, Pak Halim. Sebenarnya yang menghubungi saya adalah Pak Bima."
"Bima menantu saya?"
"Iya, Pak."
Halim semakin heran, tapi bisa menebak arah pembicaraan ini. "Kenapa dia menghubungimu? Apa dia butuh uang?"
"Begitulah, Pak."
"Sejak kapan dan kenapa kamu tidak mengatakannya padaku?"
"Sebenarnya saya juga ingin mengatakannya pada Anda, tapi sebelumnya Non Kenanga sudah memperingati saya agar tidak mengatakannya apa pun pada Anda dan tidak menggubris apa yang dikatakan oleh Pak Bima."
"Dia melarangnya? Ada apa? Biasanya dia selalu membujukku untuk membantu suaminya tanpa peduli alasannya. Apa mereka sedang ada masalah?"
"Mengenai itu saya tidak tahu, Pak, karena Non Kenanga cuma bilang saya tidak diperkenankan untuk mengirim uang kepada Pak Bima. Mengenai alasannya nanti Non Kenanga sendiri yang akan menceritakannya pada Anda."
Halim terdiam, ternyata benar firasat istrinya akhir-akhir ini benar. Ada sesuatu yang terjadi pada Kenanga, tapi putrinya masih belum bercerita. Kalau sudah seperti ini dia jadi semakin tidak tenang. Namun, memaksa Kenanga juga bukan hal yang baik. Satu-satunya jalan hanya bisa menunggu putrinya yang bercerita sendiri.
"Ya sudah, abaikan saja. Biar nanti kita dengarkan dulu penjelasan Kenanga. Kalau sampai Bima menyakiti putriku, dia akan tahu sendiri akibatnya."
Sudah banyak yang diberikan Halim pada menantunya itu, berharap Bima akan memperlakukan Kenanga dengan baik. Apalagi sampai sekarang putrinya masih belum bisa memberikan keturunan. Itu merupakan kekurangan Kenanga karenanya dia memberikan segalanya asal putrinya bahagia dan diperlakukan dengan baik di keluarga sang mertua.
Kalau sampai putrinya tersakiti, maka dirinya akan menagih semua yang sudah dia berikan pada Bima dalam bentuk apa pun. Untungnya selama ini Halim tidak bodoh. Tidak ada satu orang pun yang tahu jika dia memiliki perjanjian dengan Bima.
Pintu ruang kerja diketuk dari luar. Halim pun segera mempersilahkan orang itu untuk masuk. Ternyata ada bibi yang masuk.
"Maaf, Pak, ada Non Kenanga datang berkunjung. Saya diminta ibu untuk memanggil Anda."
"Kenanga? Dia datang sendirian atau bersama suaminya?"
"Datang sendiri, Pak. Katanya ada sesuatu yang ingin dibicarakan dengan Bapak dan Ibu."
"Baiklah, sebentar lagi saya akan keluar."
Halim berpikir pasti ini ada hubungannya dengan Bima, seperti yang dikatakan oleh Toni tadi. Dia pun meminta Toni untuk membereskan pekerjaannya, dia akan menemui putrinya lebih dulu.
"Kenanga, kamu datang, Nak?" sapa Halim.
Kenanga yang tadinya sedang asyik berbincang dengan mamanya pun menoleh. Dia tersenyum saat melihat pria menjadi cinta pertamanya itu datang. Meskipun mereka sering bertukar kabar melalui sambungan telepon dan video, tetap saja rasanya berbeda saat bertemu secara langsung.
"Apa kabar, Pa?" tanya Kenanga sambil menyalami pria paruh baya itu dan memeluknya.
"Papa baik. Kamu sendiri bagaimana kabarnya?"
"Alhamdulillah, aku juga baik."
"Kamu datang sendiri?" tanya Halim sambil melihat sekeliling, barangkali ada orang yang lain yang ikut bersama dengan putrinya, misalnya menantunya itu.
Meskipun tadi bibi sudah mengatakan jika Kenanga datang sendiri, tetap saja dia penasaran mengenai keberadaan keberadaan menantunya itu. Ini pertama kalinya Kenanga datang berkunjung seorang diri. Biasanya meskipun Bima tidak ikut, ada Davina yang akan menemani Kenanga.
Halim dan Salma juga sangat menyayangi Davina dan menganggap gadis itu seperti cucinya sendiri. Entah bagaimana nanti jadinya, jika mereka tahu bagaimana sifat asli dari gadis yang selama ini dianggapnya cucu kandung sendiri itu
"Aku datang sendiri, sengaja mau ketemu sama Papa dan Mama. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan."
"Kamu baru sampai, nanti saja ceritanya. Kamu sudah makan?"
"Tadi pagi sudah, Pa. Sekarang juga masih belum terlalu siang, aku masih belum lapar. Aku sengaja datang ke sini mau bicara sesuatu yang penting. Aku juga nggak bisa lama-lama, nanti sore aku harus kembali lagi."
"Kenapa buru-buru sekali? Apa kamu tidak mau menginap?"
semoga iya dan berjodoh dan bisa punya baby sekarang banyak bngt usia puber ke dua pada tekdung
tapi jaman sekarang yg kepala 4 tuh lagi wow kaya umur 25 th ga kelihatan tuir
ayo kenangan do something temui tuh wanita yg di cintai suamimu