Hervinda Serana Putri, seorang gadis dengan kesabaran setebal baja. Hidup dengan keluarga angkat yang tidak pernah menganggapnya keluarga. Hidup terlunta dan diperlakukan seperti pembantu. Bahkan, dia seperti membiayai kehidupannya sendiri. Suka, duka dan bahkan segala caci makian sudah diterimanya.
Kejadian besar menimpa Hervinda ketika saudaranya, Rensi kabur dari rumah ketika hari pernikahannya. Seluruh keluarga bingung. Akhirnya, mereka menjadikan Hervinda sebagai ganti tanpa sepengetahuannya.
Michael yang merupakan calon Rensi sudah sangat bahagia. Sayangnya saat dia tau wanita yang dinikahinya bukanlah Rensi, emosinya meluap. Dia berjanji akan menyiksa Hervinda dan mendapatkan kembali Rensinya.
"Apapun untuk mendapatkannya. Kamu bukan yang aku inginkan. Bahkan melukaimu pun aku sanggup."
-Michael Adithama-
"Setidaknya tatap aku dan belajarlah mencintaiku."
-Hervinda Serana Putri-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Meili, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 35_Kemarahan Rensi
Kicauan burung sudah terdengar merdu dengan semilir angin yang berhembus menerpa tubuh ringkih Vinda. Wanita tersebut berdiri di balkon rumah Dave dengan tangan bersedekap di dada dan mata menatap lurus hamparan pulau di hadapannya. Hanya ada air dengan ribuan mill dan juga hamparan hutan yang entah sebanyak apa pohonnya. Sudah hampir satu jam dia berdiri di tempat tersebut dan menatap matahari terbit hingga berdiri tegap sempurna. Dia merasa tenang ketika melihatnya.
Sebenarnya aku ada di daerah mana? Pikir Vinda tidak paham dengan apa yang direncanakan Dave. Dia membantah pun tidak ada gunanya karena pada akhirnya, dia sendiri yang akan dirugikan. Dia akan mendapatkan ancaman keras dari Dave. Iya saja jika Michael atau yang lain datang menyelamatkannya. Namun, mengingat di mana dia berada saat ini, Vinda yakin tidak ada yang mengetahui keberadaannya. Itu sebabnya dia memilih untuk mengamankan diri dan menurut dengan apa yang dimau Dave.
Vinda menghela napas panjang dengan pandangan yang tidak dialihkan sama sekali. “Apa kamu mencariku, Ael? Atau kamu malah senang bisa bersama dengan Rensi?” ucapnya perih. Namun, sekarang ada alasan lain untuknya tetap tegar menjalani kehidupan. Setidaknya dia harus menjalani semua dengan ikhlas meski apa yang sejak dulu menjadi pegangannya sudah menghilang.
“Kamu di sini, Vinda?”
Suara tersebut membuat Vinda menghela napas dan membalikan tubuh. Matanya menatap Dave yang mendekatinya dengan muka bantal. Dia yakin, Dave bahkan belum cuci muka saat ini.
“Ini masih terlalu pagi untukmu berdiri di balkon rumahku, Vinda. Angin pagi di sini cukup kencang,” jelas Dave yang melangkah mendekat ke arah Vinda dengan jaket di tangannya.
“Aku hanya ingin menikmati udara segar ini, Dave,” jelas Vinda dan kembali menatap ke depan.
Dave hanya diam dan meletakan jaket yang dibawanya ke tubuh Vinda, membuat gadis tersebut menatapnya dengan wajah bingung. “Pakailah. Setidaknya kamu gak akan masuk angin nantinya.”
Vinda yang mendengar hanya tersenyum dan mengeratkan jaket tersebut, membuat tubuh dinginnya menjadi hangat. Dia memang tidak memiliki pakaian banyak karena dia hanya menggunakan pakaian Mama Dave yang tertinggal di rumah tersebut. Jadi, tidak ada pilihan lain karena jumlah yang tidak memadai.
“Maaf, aku hanya memiliki pakaian wanita yang ditinggalkan Mama di rumah ini. Besok, aku akan mencarikanmu pakain agar kamu bisa berganti,” jelas Dave dengan wajah yang ikut menatap hamparan laut dan hutan di depannya.
“Dave, sebenarnya tempat apa ini?” Vinda malah menanyakan hal lain dan tidak menyahut ucapan Dave. Vinda mengalihkan pandangannya dan menatap Dave yang masih menatap lurus ke depan. “Kamu membawaku sejauh ini hanya untuk memastikan bahwa kamu dan keluargamu aman? Apa ini tidak terlalu konyol hanya untuk menghadapi seorang Michael?”
Dave yang mendengar hanya tersenyum kecil dan menatap Vinda dengan bibir tersungging. “Konyol katamu, Vinda? Aku rasa kamu belum faham seperti apa Michael sebenarnya,” ucap Dave sembari terkekeh melihat wajah Vinda yang sudah menatapnya bingung.
Apa yang tidak diketahuinya tentang Michael? Vinda menatap Dave lekat, berharap pria tersebut akan menjawab semua rasa penasarannya. Dave sendiri yang tahu apa yang ada di otak Vinda kembali membuang muka dan tidak menatap Vinda lagi. Deheman keras membuat Vinda tidak mengalihkan tatapan menajamnya.
“Kamu tahu, Vinda? Hanya untuk seorang gadis seperti Rensi, dia sampai membuat keluargaku hancur. Papa ku masuk penjara dan mama masuk rumah sakit. Aku sendiri awalnya tidak bisa menjenguk mama karena Michael memberikan pengawasan begitu ketat di rumah sakit tersebut. Namun, aku merasa bahagia karena aku memiliki kenalan yang bisa menolong untuk membawa mamaku pergi dari rumah sakit tersebut. Hasilnya, dia berhasil,” jelas Dave dan menatap Vinda yang hanya melongo tidak percaya, “jadi, semua yang aku lakukan tidaklah konyol, Vinda. Aku hanya ingin melindungi keluarga yang masih aku punya.”
Mendengarnya Vinda hanya diam dengan pikiran yang masih berkutat dengan penuturan Dave. Benarkah Michael adalah sosok yang begitu segan melakukan apa pun hanya untuk memenuhi keinginannya? Rasanya dia semakin tidak mengerti dengan sifat pria yang masih sah menjadi suaminya tersebut. Ada dinding penghalang yang membuatnya tidak mengenal sisi lain dari seorang Michael.
“Aku akan kembali ke kamar. Kamu juga segera kembali sebelum tubuhmu menjadi semakin dingin nantinya,” ucap Dave sembari melangkah masuk ke dalam rumah.
Vinda hanya mengangguk mengiyakan. Namun, dia masih betah menatap pemandangan di depannya. Menurutnya, itu membuat matanya menjadi lebih segar karena pemandangan indah yang disuguhkan alam di hadapannya.
Michael, apa kamu memang setega itu? Aku merasa bahwa kita memang sudah semakin jauh, Ael.
Vinda yang menyadarinya langsung tersenyum tipis dan menghela napas. Akhirnya, dia memutuskna untuk masuk kembali ke rumah karena meski matahari sudah bersinar, udara yang dirasakan masih tetap terasa dingin. Vinda melangkah masuk dan menutup pintu penghubung antara balkon dan juga rumah. Dia kembali memasuki kamarnya dan menutup pintu rapat.
_____
“Arrrggghhhh!!!” teriak Rensi melampiaskan amarahnya.
Rensi membuang segala macam benda yang ada di dekatnya dan berteriak keras, membuat beberapa pengunjung yang lewat menatapnya dengan pandangan jijik, tetapi Rensi tidak menghiraukannya. Randy yang melihat bahkan hanya diam dan tidak peduli. Menurut pemeriksaan medis, Rensi bahkan sudah boleh pulang saat dia sudah diobati ketika pertama kali datang. Namun, Nani memaksa untuk merawatnya di rumah sakit dan hanya dituruti oleh Randy. Setidaknya itu akan memberikan keuntungan untuknya.
Randy yang saat itu lewat hanya memperhatikan tingkah Rensi yang masih saja mengamuk dan memecahkan beberapa perabotan rumah sakit yang ada di ruangannya.
“Aku rasa kemarin otaknya masih baik-baik saja. Sepertinya dia memang membutuhkan pengobatan yang cukup serius. Sayangnya, rumah sakit ku tidak menerima orang sakit jiwa. Aku akan mengatakannya kepada Ael nanti,” gumam Randy sembari menatap pertunjukan di depannya.
Rensi berulang kali berteriak seperti kesetanan. Beberapa pasien yang datang malah dilempari benda yang masih tersisa dan menyuruh keluar. Randy hanya tersenyum melihatnya dan segera pergi dari depan ruangan Rensi. Tidak lama kemudian, Nani datang dengan wajah kaget bukan main. Kamar anaknya sudah berantakan dan seperti kapal pecah.
“Rensi, apa yang kamu lakukan? Kamu sudah gila, ya?” tegur Nani dengan wajah tidak suka. Bahkan matanya menangkap penampilan Rensi yang tidak seperti biasanya. Tampak kacau.
“Kamu itu kenapa?” tanya Nani dengan kening berkerut karena anaknya hanya diam dan tampak begitu kesal, “kalau ada masalah, bilang sama Mama. Biar Mama yang urus semuanya.”
Rensi menatap mamanya dengan wajah tidak suka. “Mama bilang Ael masih menyukai Rensi?” tanya Rensi dan diangguki oleh Nani dengan semangat. Rensi yang melihat berdecih kesal dan berkata, “mana buktinya, Ma? Rensi bahkan bukan prioritas untuknya.”
Nani yang mendengar langsung mendekat ke arah Rensi dan menatap anaknya penuh tanya. “Maksud kamu apa?”
“Kemarin itu anak buahnya datang dan Rensi bilang akan menjauhi Michael jika malam itu dia tidak datang. Nyata apa? Dia beneran gak datang,” gerutu Rensi dengan perasaan yang sudah menahan kesal.
“Hah? Kamu yakin dia tidak sibuk?” tanya Nani meyakinkan.
Rensi yang mendengar hanya diam karena dia memang tidak tahu apakah Michael tengah sibuk atau tidak. Dia bahkan tidak mendengar perkataan anak buah Michael dengan benar. Sekarang, dia merutuki keboodohannya yang tiba-tiba mengamuk tidak jelas sejak semalam.
Nani yang melihat anaknya hanya diam langsung menghela napas dan tahu apa jawaban anaknya. “Kamu pasti tidak tahu kenapa Michael tidak datang, kan?” tebak Nani benar, “kamu itu selalu saja suka marah-marah dan berpikir pendek. Kamu bahkan meninggalkan kesan buruk di rumah sakit keluarganya, Rensi.”
Rensi yang mendengar langsung lesu dan menatap mamanya dengan bibir mengerucut kesal. “Terus Rensi harus bagaimana?”
Nani diam sejenak dan memikirkan cara. Sudah berhari-haari anaknya di rawat di rumah sakit, tetapi Michael tidak pernah menjenguknya sama sekali. Padahal, tujuannya adalah untuk mendekatkan Rensi dengan Michael. Dia yakin Michael akan semakin bersimpati dengan apa yang menimpa anaknya. Namun, pendapatnya salah. Matanya melirik Rensi yang hanya diam dan menatapnya penuh harap.
“Lebih baik kita kembali ke rumah dulu. Mama akan mengurus kepulanganmu dan kamu bersiap,” celetuk Nani tiba-tiba.
Rensi yang mendengar hanya menurut. Setelah mamanya keluar dari ruangan, Rensi segera berkemas dan membersihkan diri lalu segera bersiap. Dia bahkan tidak memikirkan kekacauan yang baru saja dibuatnya. Setelah selesai, Rensi dengan percaya diri keluar ruangan dan melangkah dengan wajah angkuh yang masih disombongkan. Dia tidak merasa malu karena tanpa sadar dia juga dijadikan tontonan seisi lorong karena ulahnya.
“Dasar gadis gila,” gumam Randy yang melihat Rensi sudah melenggang meninggalkan ruangan rawatnya.
_____
Michael mengabiskan makanannya dengan wajah datar seperti biasa. Makanan yang dimasak Ria juga tidak lagi membangkitkan nafsu makannya. Dia merindukan masakah Vinda. Lagi-lagi wanita tersebut yang hinggap dalam ingatannya. Sudah tidak ada lagi yang sempat dipikirkan olehnya selain mencari keberadaa Vinda. Seluruh anak buahnya juga sudah dikerahkan, tetapi juga belum mendapatkan kabar apa pun.
Michael menyuap seseondok makanan di piringnya yang sudah hampir habis. Matanya melirik ke arah ponsel yang menyala. Tampak nama Randy tertera di layar. Meski malas, dia tetap mengangkat panggilan dari saudara sekaligus dokter pribadinya. Dia yakin, jika dia membiarkannya terus, Randy juga tidak akan berhenti menghubunginya.
“Ada apa?” tanya Michael tanpa sapaan pagi terlebih dahulu.
“Weh, slow Ael. Aku menelfon hanya untuk memastikan bahwa kamu baik-baik saja,” ucap Randy dari seberang telfon.
“Aku baik-baik saja. Jadi, gak usah sok khawatir,” jawab Michael malas.
“Baguslah kalau kamu baik-baik saja. Jadi aku tidak perlu merasa tidak enak mengirim tagihan kepadamu,” celetuk Randy membuat Michael menautkan kedua alisnya bingung.
“Tagihan? Tagihan apa?” tanya Michael bingung. Pasalnya, dia tidak menggunakan jasa Randy beberapa hari ini.
“Wanita sinting yang kamu cintai itu merusak seluruh fasilitas yang disediakan rumah sakit di ruangannya. Televisi, kulkas kecil dan berbagai peralatan lain yang disediakan dia rusak. Jadi, kamu bertanggung jawab untuk membayar tagihannya karena dia tanggung jawabmu,” jelas Randy santai.
Michael yang mendengar menghela napas dan mematikan panggilan sepihak. Dia tau, di seberang sana, Randy pasti tengah mengomel tidak jelas. Bahkan, seketika nafsu makannya yang sudah menghilang kini semakin menghilang. Tangannya mendorong piring makannya dan menghela napas kasar.
“Kenapa dia jadi orang gak pernah ada benarnya dalam bertindak,” gerutu Michael kesal mendengar tingkah Rensi yang kekanak-kanakan, “Roy,” teriaknya dengan wajah kesal.
Roy yang mendengar langsung berlari menuju ke arahnya dan berdiri di hadapan Michael, menunggu tuannya memerintahkannya. Dia tidak akan bergerak tanpa perintah langsung dari Michael.
“Suruh Rika menyelesaikan masalah pembayaran dengan rumah sakit Randy sekarang juga,” perintahnya dengan wajah begitu datar.
“Pembayaran? Kalau boleh tahu, untuk pembayaran apa ya, Tuan?” tanya Roy penasaran. Dia menatap Michael yang malah menatapnya dengan kasar.
“Kamu sudah berani bertanya kepadaku, Roy?” desis Michael tidak suka.
Roy yang mendengar langsung menundukan kepala. “Maaf, Tuan. Saya terlalu lancang menanyakan hal seperti ini kepada anda.”
“Cepat kerjakan tugasmu dan jangan banyak bertanya,” jelas Michael tanpa menatap ke arah Roy.
Roy mengangguk dan segera keluar dari ruang makan, menuju ruang depan dan segera menghubungi Rika untuk melaksanakan tugasnya. Namun, kegiatannya dihentikan karena seorang wanita dengan pakaian seksi tengah masuk ke dalam rumah tanpa permisi. Roy yang melihat langsung melangkah untuk menghalau wanita itu masuk semakin dalam ke rumah tuannya.
“Maaf, Nona. Anda tidak bisa masuk ke rumah ini sembarangan,” larang Roy dengan wajah serius.
“Kenapa? Apa aku harus mendapatkan izin khusus untuk memasuki rumah Kakak Ipar ku sendiri?” tanya Rensi dengan wajah merendahkan Roy.
“Maaf, tetapi Tuan masih tidak ingin bertemu dengan siapa pun,” cegah Roy.
Rensi tersenyum miring dan menatap Roy dengan tatapan mengejek. “Kamu dengar? Aku adalah adik ipar dan calon istrinya. Jadi, jangan menghalangiku,” celetuk Rensi membuat Roy diam seketika.
“Aku akan menyingkirkan Vinda. Ingat itu,” ujar Rensi membenci Roy karena pria di hadapannya seperti menghalangi segala usahanya untuk dekat dengan Michael dan dia tidak menyukai seorang pengganggu.
“Rensi? Ada urusan apa kamu datang ke rumahku.”
Suara Michael yang menegurnya membuat Rensi diam dengan mata membelalak. Apa Michael mendengarnya? Mendengar semua yang dikatakan olehnya? Seketika Rensi membeku melihat tatapan dingin yang ditunjukan ke arahnya.
Matilah aku, gerutunya merutuki kebodohan yang baru saja dilakukan.
_____
🍁🍁🍁🍁🍁
Kok jadi nge-ship Vinda sama Dave, ya? 😅😅😅 kalian gimana?
Jangan lupa vote, tambah ke favorit, like dan comment ya sayang. Kim sangat berterima kasih untuk segala partisipasi dan dukungan kalian selama ini. Tetap setia sama Kim ya. 😚😚😚😘
🍁🍁🍁🍁🍁
ael apakabar, gak pingin bales tuh
masa bacanya Michael bintangbintangbintang kertas 😑🙄