Lahir dari keluarga islami, dituntut untuk selalu taat, memiliki saudara perempuan dan ternyata menjadi bahan perbandingan. Aluna gadis 20 tahun yang baru saja lulus kuliah dan memiliki banyak cita-cita harus menerima takdirnya saat dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang tidak dia kenal.
Aluna tetap pada keputusannya untuk mengejar karirnya, membuat Aluna harus meninggalkan pernikahannya untuk memenuhi janji kepada seseorang yang telah menunggunya.
Tetapi siapa sangka ternyata Aluna justru mendapatkan penghianatan dengan penuh kebohongan. Aluna harus menerima takdirnya atas kesalahan besar yang telah ia lakukan.
Setelah beberapa tahun meninggalkan pernikahannya. Aluna kembali terjerat dengan pria yang harus dia nikahi beberapa tahun yang lalu.
Bagaimana kelanjutan hubungan Aluna? apakah pria yang harusnya menikah dengannya membencinya dan ingin membalasnya?"
Jangan lupa untuk terus mengikut novel ini.
follow Ig ainunharahap12.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3 Bertemu
Terjadi ketegangan di ruang tamu, bagaimana tidak dua keluarga telah dipermalukan Aluna di hari pernikahannya.
Para tamu undangan sudah menunggu di taman rumah yang sudah di dekor sedemikian rupa untuk menjalankan ijab kabul yang penuh dengan kesucian. Penghulu bahkan sejak tadi sudah menunggu.
"Saya benar-benar meminta maaf atas kekacauan yang ditimbulkan adik saya. Aluna masih terlalu muda untuk mengerti situasi ini, Aluna memang tidak pernah dewasa dan saya mohon untuk memakluminya," sahut Jiya mencoba untuk membuat keluarga calon suami Aluna mengerti.
"Jika Aluna tidak siap untuk menikah dan seharusnya kalian tidak menjodohkannya dengan putra kami," sahut Risma.
"Sekarang keluarga kami yang akan menanggung semua rasa malu akibat perbuatan Aluna. Apa kalian bisa bertanggung jawab atas semua ini?" tanya Rami.
"Saya akan bertanggung jawab atas pernikahan ini," sahut Jiya membuat semua orang melihat serius ke arah Jiya.
"Apa maksud kamu?" tanya Haryono.
"Untuk menjaga nama baik dua keluarga tetap utuh dan tidak dipermalukan. Saya bersedia untuk menggantikan Aluna sebagai calon istri dari Ravindra," ucap Jiya membuat semua orang kaget dan termasuk kedua orang tua Aluna.
"Jiya, apa yang kamu bicarakan!" tegur Umi.
"Tidak apa-apa. Umi, sebagai seorang Kakak memang sudah sepantasnya untuk bertanggung jawab. Jiya tidak masalah sama sekali menanggung beban akibat perbuatan Aluna," jawabnya dengan menunduk dengan ikhlas.
Ravindra melihat ke arah Jiya dengan ekspresi tidak terbaca dan sementara kedua orang tua Ravindra tampak saling melihat satu sama lain.
*****
Bandara
Aluna berlari begitu cepat mengelilingi bandara tersebut seperti mencari seseorang, karena kesulitan dengan daunnya yang panjang membuatnya menyobek bagian gaun tersebut.
Sudah pasti penampilannya berbeda dari orang-orang yang ada di sana mencuri perhatian, orang-orang yang berpapasan dan melihat dirinya sudah dipastikan ingin bertanya tetapi hanya saja tidak berani.
"Di mana kak Firman?" tanyanya dengan wajah kegelisahan terus melihat ke sekitarnya.
Tidak menemukan pria yang baru saja berjanji untuk menemuinya dan membawanya pergi dari jeratan pernikahan yang dia inginkan.
Aluna sejak tadi memblokir nomor kedua orang tuanya dan orang-orang terdekatnya. Aluna hanya menyimpan satu nomor yaitu nomor firman dan sejak tadi nomor tersebut dia hubungi.
Tetapi tidak ada respon sampai saat ini membuat Aluna semakin panik, Aluna melihat jam pada ponselnya sudah berjalan. Karena kepanikan dengan rasa ketakutan dan pikiran kemana-mana membuat air matanya jatuh.
"Kak Firman di mana?"
"Tolong Aluna," ucapnya dengan terduduk dan menangis tak sesenggukukan.
"Kak Firman...."
"Maafkan Aluna Umi. Abi!" Aluna semakin mempermalukan dirinya dan membuat orang-orang yang melewatinya tampak kebingungan.
Lain dengan Ravindra berada di dalam mobil bersama dengan seorang pria yang sedang menyetir di sebelahnya.
Pria itu tiba-tiba saja mendengus dengan tersenyum tipis menoleh ke arah Ravindra tampak sedikit frustasi.
"Aku tidak percaya jika laki-laki setampan dirimu, sangat sempurna dan banyak wanita mengejarmu dan ternyata bisa ditinggalkan seorang wanita yang seharusnya kau nikahi," ucap Egar
"Apa kau sedang mengejekku?" tebak Ravindra.
"Aku tidak mengejek dan paling tidak aku menemukan satu celah dalam hidupmu," jawab Egar.
"Entahlah wanita seperti apa yang dijodohkan padaku, aku tidak pernah melihat wajahnya dan bisa-bisanya di lari di hari pernikahan kami," ucap Ravindra dengan menghela nafas.
"Lalu mengapa kau menolak tawaran dari keluarga itu? Bukankah Kakak pertamanya rela menggantikan adiknya, aku melihat dia juga sangat cantik dan bukankah dia juga merupakan tipe dari orang tuamu?" tanya Egar.
"Memang aku ini pria apaan, sudah dipermainkan di hari pernikahannya dan tiba-tiba harus ada pengantin wanita yang menggantikan," jawabnya memang menolak permintaan Jiya untuk menggantikan adiknya.
"Sudahlah Ravindra. Kalau jodoh juga pasti tidak kemana. Mungkin Aluna bukan jodohmu," sahut Egar memberi semangat kepada sahabatnya itu yang menjadi saksi bagaimana sahabatnya dipermalukan di hari pernikahannya.
Walau Egar sejak tadi berbicara tampak mengejek, tapi sudah pasti dia juga ikut merasakan kekecewaan yang dirasakan Ravindra.
Lain dengan Aluna ternyata harus meratapi nasibnya, mengambil keputusan untuk lari di hari pernikahannya dan ternyata sampai malam seperti ini laki-laki yang menjanjikan untuk membawanya tidak juga datang menemuinya.
..."Maaf Aluna. Aku tidak bisa menepati janjiku untuk kita hidup bersama. Aku mencintaimu tapi aku tidak berani melawan kedua orang tuamu, jika aku membawamu dan ini kami jadi petaka untuk kita berdua. Kamu kembalilah kepada kedua orang tuamu,"...
Air mata Aluna jatuh ketika beberapa waktu lalu menerima pesan dari laki-laki yang dia tunggu. Firman tidak memiliki nyali untuk membawanya kabur.
Tetapi semua sudah terlambat dan tidak mungkin Aluna kembali ke rumahnya, dia sudah mempermalukan kedua orang tuanya dan membuat kekacauan dihari pernikahannya. Aluna bisa-bisa langsung dikutuk oleh Abinya akibat semua perbuatannya.
Aluna hanya bisa merasakan kesedihan dengan air mata yang sejak tadi tidak berhenti membasahi pipinya. Untuk pulang ke rumah bukan hanya malu tetapi juga takut. Ternyata takdirnya lebih dipermainkan lagi, nasib gadis 20 tahun itu harus berakhir seperti itu.
Aluna menarik nafas dan membuang perlahan ke depan. Aluna berdiri dari tempat duduknya, tenggorokannya terasa kering, bagaimana tidak jika seharian tidak meneguk air sedikitpun.
Melihat ada penjual minuman di dekatnya membuat Aluna mengambil satu botol minuman.
"43 ribu!" ucap kasir tersebut ketika Aluna menunjukkan apa yang dia beli.
Aluna terlihat memeriksa tubuhnya, dia baru menyadari bahwa tidak memiliki saku dan juga tidak memegang tas.
"Apa saya bisa transfer?" tanya Aluna.
"Silahkan!" jawab wanita itu.
Aluna mencoba untuk melakukan pembayaran lewat transfer, tetapi ternyata ada masalah pada ponselnya yang tiba-tiba saja mati. Aluna tidak membawa ATM dan benar-benar nasibnya sangat sial.
"Bagaimana. Mbak?" tanya kasir tersebut.
"Saya tidak jadi mengambilnya," ucap Aluna.
"Tidak bisa. Mbak, saya sudah audit dan barang yang sudah diambil tidak bisa dikembalikan lagi. Mbak harus membayarnya," ucap kasir itu.
"Tetapi saya tidak punya uang," ucap Aluna memperlihatkan wajah menyedihkannya.
"Itu bukan urusan saya," jawab wanita itu.
"Sekalian bayar dengan saya saja!" tiba-tiba terdengar suara seorang pria membuat Aluna menoleh pada pria yang baru saja memberikan kartu atmnya. Pri tersebut tak lain adalah Ravindra.
"Ini punya kamu!" Ravindra mengambil botol minum tersebut diberikan kepada Aluna.
Aluna mengambilnya dengan sedikit gugup, "terima kasih," ucapnya membuat Ravindra menganggukan kepala dan kemudian langsung berlalu dari hadapan Aluna.
Ternyata Egar sedang menunggu sahabatnya dan Ravindra menghampiri sahabatnya itu.
"Siapa wanita itu?" tanya Egar karena melihat temannya tampak berbicara dengan wanita yang juga membuatnya bingung.
"Aku mana tahu dan tidak semua orang harus dikenal," jawab Ravindra.
"Aneh sekali penampilannya, memang kalau sudah wanita cantik berpenampilan seperti apapun akan tetap cantik, tetapi tetap saja di bandara tidak cocok memakai pakaian seperti itu," ucap Egar.
"Sudahlah, kenapa kamu harus mengurusi penampilan seseorang. Ayo!" ajak Ravindra merangkul bahu temannya dan meninggalkan tempat tersebut.
Tetapi ternyata Ravindra masih menoleh ke belakang dan melihat Aluna sudah kembali duduk dengan meneguk air putih yang baru saja beli.
Ekspresi Ravindra tidak terbaca dan mungkin merasa aneh pada wanita yang baru saja diajak bicara dan tanpa sepengetahuan Ravindra wanita itu adalah wanita yang lari di hari pernikahannya yang seharusnya menjadi istrinya.
Bersambung.....