JANGAN LUPA TEKAN FAVORIT AGAR TIDAK KETINGGALAN CERITANYA! Karya ini mengadakan Event. ikuti ceritanya dan menangkan hadiahnya.
Menikah muda adalah pilihan Putri Anis (18) dengan Angga Prabowo (20). Alih-alih karena beralasan tidak ingin berpacar-pacaran dan menghindari zina di jaman modern seperti ini. Akhirnya mereka memutuskan menikah tepat ketika Putri lulus sekolah.
Gosip simpang siur tentang pernikahan Putri dan Angga yang terkesan buru-buru membuat para lambe tureh memiliki cerita hangat untuk mereka gosipkan.
Kata menikah, terkadang dalam benak para muda-mudi adalah sesuatu yang mudah untuk di jalani.
Sang istri masak, mengurus rumah dan mengurus anak, dan suami bekerja di luar. Benar-benar terdengar sangat mudah.
Tetapi ... Apakah akan semudah itu?
Apakah beberapa kalian setuju dengan ku jika tidak akan semudah itu?
Mari kita simak bersama-sama cerita kelanjutannya seperti apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamaperi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bimbang
Malam ini, usai menidurkan Aurel, Putri berjalan ke arah bapak yang sedang ngopi sambil nonton berita malam.
"Pak?"
"Hem? Aurel udah tidur?"
"Udah, pak. Em, bapak?"
"Apa?" bapak menjawab Putri masih dengan fokus menatap berita yang dia lihat.
"Pak, kok bisa sih kak Ziko membelikan Aurel banyak mainan? Mana mainan di mall kan mahal-mahal pak. Harusnya bapak melarang kak Ziko membelikan mainan sebanyak itu untuk Aurel." Putri mengadu rasa tidak enak hatinya.
Bapak hanya bisa menghela nafas berat.
"Bapak juga sebenarnya gak tau kalo nak Ziko akan membelikan Aurel mainan sebanyak itu. Bapak awalnya berniat ke kamar kecil, karena mall sangat luas jadi bapak kesasar, setelah bertemu dengan Nak Ziko dan Aurel, mereka sudah selesai berbelanja."
Bapak menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi.
Putri hanya bisa memijat kepalanya yang serasa berat. Putri tidak tahu, mengapa semua keluarga sahabatnya sangat baik padanya.
Dari Shani itu sendiri, Ziko, bahkan Mico yang selama dingin kepada siapapun, dan semua keluarga Shani.
"Putri, bapak jadi merasa heran dengan sikap nak Ziko, apa jangan-jangan?"
"BAPAK!" Putri langsung menghentikan pikiran sang bapak.
"Jangan aneh-aneh ya pak! Kak Ziko adalah kakak kelas Putri. Dia orang memang baik dari dulu, di tambah dia juga adalah sepupu Shani, jadi dia juga pasti sudah mengaggap Putri ini sebagai sahabatnya." Putri mencoba menjelaskan kepada bapaknya, jika dari semua sikap Ziko padanya adalah karena pertemanan saja.
Bapak hanya mengangguk mengerti. Bapak yang masih fokus dengan berita yang ada, hanya bisa kembali fokus menatap layar yang ada di depannya.
Putri yang takut bapaknya akan berbicara kaco lagi, akhirnya memutuskan untuk kembali ke dalam kamarnya.
Di dalam kamar, Putri terus menerus memikirkan bagaimana cara menghadapi Ziko dan juga Mico. Jika Mico sudah terus terang dengan niatannya untuk masa depan mereka, tetapi Putri juga tahu jika sebenernya Ziko juga seperti sedang menyembunyikan perasaannya untuknya.
"Haaah! Kenapa mereka bersikap seperti ini kepadaku? Aku hanya janda dengan anak satu, masalahku sangat rumit dan memalukan untuk di kenang. Mereka tahu masalah yang sedang aku hadapi, tetapi mengapa?" Putri bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Sampai akhirnya, ia pun terlelap sambil memeluk anaknya yang tumbuh dengan sehat.
Di sisi lain, Shani masih mengadakan party dengan teman-temannya.
Beberapa wanita berkumpul untuk sekedar merumpi.
"Shani, aku tadi sempat melihat seorang wanita mendatangi kamu, bukankah dia Putri?" tanya salah satu teman.
"Bener, gua juga lihat. Gua pikir itu tadi Putri, tapi kayak iya kaya bukan!" imbuh teman lainnya.
"Dia memang Putri," jawab Shani terlihat lesu.
"Oh my God! Lama gak ketemu, aku sedikit pangling sama dia!"
"Bukankah dia udah nikah kan ya? Setelah acara kelulusan SMA, aku denger dia langsung nikah? Dia itu hamidun( hamil duluan) gak sih?"
"Sayang banget, padahal dia pintar dan dapet beasiswa kuliah. Tapi sayang, diam-diam gak bisa nahan napsu, sampe-sampe hamil duluan."
Para kawanan itu tertawa menertawai Putri. Shani yang sedari awal diam menahan kesal,. akhirnya ia meluapkan amarahnya sambil menggebrak meja.
BRUAK! gebrak meja.
PRANG! Gelas berjatuhan.
"Jaga ya omongan lu-lu pada! Kalo tau gak masalah orang, gak sok tau lu!" Shani melengos meninggalkan teman-temannya.
Percakapan seperti sudah sering sekali mereka bicarakan. Sudah berulang kali juga Shani menjelaskan secara pelan, jika Putri tidak hamil duluan.
Tetapi lagi dan lagi mereka terus mengambil topik pembicaraan dengan cara menjelekkan teman mereka sendiri.
Shani yang kesal berlari keluar dari acara. Dia benar-benar tidak dapat terima jika sahabatnya di perlakukan tidak adil seperti itu.
Hanya karena keputusannya menikah muda, di belakang teman-temannya selalu mengolok- oloknya.
Ketika akan mencari taksi, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan Shani.
"Kakak!?"
"Cepat masuk?" titah Mico.
"Ini sudah jam berapa? Kakak kan sudah bilang, jam 9 malam pulang!" Mico mengomeli adiknya.
"Kakak kira kamu sudah di rumah, gak taunya masih kelayapan!" lanjutnya dengan kesal.
"Maaf kak, seharusnya aku mendengarkan kata-kata kakak. Hem, sekarang aku merasa sangat kesal. Kalo aku dengerin kakak, mungkin aku tidak akan mendengarkan mereka menjelekkan Putri."
Shani dengan lesu memejamkan matanya.
Mico terdiam. Betapa sayangnya Shani kepada Putri. Meski hanya sahabatnya, tetapi Shani bisa merasakan apa yang Putri rasakan.
Mico jadi semakin yakin, jika dia melamar Putri, Shani akan merasa senang.
...........
...****************...
...****************...
...****************...
slm sukses
semoga sukses selalu untuk semua karya-karya nya 🥰
Happy Ending
My Bestie mampir