Di alam semesta, eksistensi terbagi menjadi tiga: Alam Langit (Tempat para Dewa), Alam Manusia, dan Alam Bawah (Tempat Iblis dan Roh). Selama jutaan tahun, ketiga alam ini dipisahkan oleh segel kuno yang kini mulai retak.
Jiangzhu, seorang yatim piatu di desa kecil Alam Manusia, lahir dengan "Nadi Spiritual yang Lumpuh". Namun, ia tidak tahu bahwa di dalam jiwanya tersimpan Segel Tiga Dunia, artefak yang mampu menyerap energi dari ketiga alam sekaligus. Ketika desanya dihancurkan oleh sekte jahat yang mencari artefak tersebut, Jiangzhu bangkit dari kematian dan memulai perjalanan untuk menaklukkan langit, menguasai bumi, dan memimpin neraka. Ia bukan sekadar penguasa; ia adalah jembatan—atau penghancur—tiga dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Meminum Api, Menelan Luka
Gua itu kini berbau seperti jagal. Jiangzhu berdiri dengan napas yang tersengal, dadanya naik-turun dengan tidak teratur. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah benda bulat seukuran bola kasti yang memancarkan cahaya jingga redup dan denyut panas yang konsisten. Itulah Inti Beast milik Serigala Api Ekor Tiga. Benda itu masih berlumuran darah kental dan serabut daging yang menjuntai.
"Jangan hanya ditatap seperti kekasih, bocah. Telan!" suara Penatua Mo meng gelegar di dinding gua, membuat telinga Jiangzhu berdenging.
Jiangzhu melirik ke arah sosok transparan yang melayang dengan santai di atas tumpukan tulang itu. "Telan? Ini masih pana s seperti bara api, Pak Tua. Kau ingin isi perutku meledak?"
"Kau adalah pemilik Segel Tiga Dunia. Jika perutmu tidak bisa menahan energi binatang tingkat rendah ini, lebih baik kau mati sekarang dan biarkan aku menunggu pewaris lain yang lebih punya nyali," ejek Penatua Mo sambil meng elus jenggot bayangannya.
Jiangzhu mengertakkan gigi hingga rahangnya sakit. Ia tidak punya pilihan. Di luar sana, ia bisa mendengar sayup-sayup teriakan manusia dan gonggongan anjing pelacak. Para pengejar dari desa dan sekte mungkin sudah menyisir pingg iran hutan. Ia butuh kekuatan, dan ia butuh itu sekarang.
Tanpa berpikir lagi, Jiangzhu memasukkan inti panas itu ke mulutnya.
Rasanya mengerikan. Bukan hanya rasa amis darah yang pekat, tapi sens asi terbakar yang menjalar dari lidah hingga ke kerongkongannya. Saat inti itu meluncur turun, Jiangzhu jatuh berlutut. Ia mencengkeram leher nya, matanya membelalak hingga urat-urat merah muncul di bagian putih matanya.
"ARGHHH!"
Bukan teriakan heroik ya ng keluar, melainkan geraman tertahan yang penuh penderitaan. Di dalam perutnya, inti itu meledak menjadi ribuan jarum api yang mencoba menembus dinding lambungnya. Energi itu liar, tidak murni, dan penuh dengan sisa-sisa amarah sang serigala sebelum mati.
"Jangan dilawan! Biarkan energi itu merusakmu, lalu gunakan energi Iblis di nadimu untuk memakannya!" instruksi Penat ua Mo, suaranya kini terdengar serius, tanpa nada ejekan.
Jiangzhu mencoba memfokuskan pikirannya di tengah badai rasa sakit. Ia membay angkan pusaran hitam di dalam Dantian-nya sebagai sebuah lubang tanpa dasar. Perlahan, api biru yang mengamuk di perutnya mulai tersedot ke arah pusaran itu. Setiap kali api itu bersentuhan dengan energ i hitam miliknya, terjadi benturan yang membuat tubuh Jiangzhu bergetar hebat.
Keringat yang mengucur dari tubuhnya berubah menjadi uap. Kulitnya memerah, hampir melepuh. Namun, di balik rasa sak it itu, Jiangzhu merasakan sesuatu yang lain: Kekuatan.
Otot-otot lengannya yang tadinya kurus kini mulai memadat secara alami. Luk a-luka kecil akibat benturan dengan dinding gua menutup dengan kecepatan yang tidak wajar, meninggalkan kulit baru yang terasa lebih keras, lebih dingin.
Dua jam berlalu dalam siksaan meditasi itu. Ketika Jiangzhu akhirnya memb uka mata, cahaya di dalam gua terasa berbeda. Ia bisa melihat debu yang menari di udara dalam kegelap an. Ia bisa mendengar detak jantung serangga di balik dindi ng batu.
"Tingkat Pemurnian Tubu h tahap kelima... dalam satu malam," gumam Jiangzhu. Suaranya kini lebih berat, lebih tenang. "Kemarin pagi, aku bahkan tidak bisa mengangkat batu besar."
"Jangan sombong," potong Penatua Mo, muncul di depan wajahnya secara tiba-tiba. "Kau baru saja memakan samp ah untuk bertahan hidup. Di luar sana, ada jenius dari sekte besa r yang mandi dengan cairan obat surgawi sejak lahir. Kau masih tetap seekor semut, hanya saja sekarang kau adalah semut yang punya taring."
Jiangzhu bangkit berdiri, membersihkan debu dari celananya yang kini sudah compang-camping. "Semut dengan taring masih bisa membunuh seekor gajah jika dia tahu di mana harus menggigit."
Penatua Mo terkekeh, suara tawanya kering seperti daun jatuh. "Aku suka bicaramu. Sekarang, kita tidak bisa tinggal di sini. Bau darah ini akan mengundang predator yang lebih besar atau manusia yang lebih rakus. Kita harus masuk lebih dalam ke Hutan Kematian."
"Lebih dalam? Itu wilayah Binatang Tingkat Langit. Aku akan mati dalam sekejap," protes Jiangzhu.
"Kau akan mati jika tetap di sini. Pilih mana: mati sebagai pengecut yang dipojokkan di gua, atau mati sebagai pria yang mencoba menantang maut?"
Jiangzhu terdiam. Ia melihat ke arah pintu gua. Langit mulai menyingsing, memberikan semburat warna ungu di sela-sela pepohonan raksasa. Ia tahu, hidupnya yang lama sudah berakhir. Tidak ada lagi Jiangzhu si pengumpul kayu. Yang tersisa hanyalah seorang buronan yang membawa beban tiga dunia di pundaknya.
Ia mengambil gulungan sutra tua itu, melilitkannya di pinggang dengan sobekan kain, lalu mengambil sebuah tulang tajam dari bangkai serigala sebagai senjata darurat.
"Ayo pergi," kata Jiangzhu datar.
Saat ia melangkah keluar gua, udara pagi yang dingin menyapu wajahnya. Namun, indra penciumannya segera menangkap sesuatu yang asing. Bukan bau binatang, melainkan bau parfum murah dan keringat kuda.
Sekelompok pria berseragam biru—murid-murid dari Sekte Awan Biru, sekte yang sama dengan Xiao Feng—sedang menyisir semak-semak hanya seratus meter dari posisinya.
"Dia tidak mungkin jauh! Cari di setiap lubang!" teriak salah satu dari mereka, seorang pria dewasa dengan kumis melintang yang membawa pedang lebar.
Jiangzhu menyamping di balik pohon beringin raksasa. Jantungnya berdegup, tapi kali ini bukan karena takut. Ada dorongan gelap di sudut hatinya yang ingin melihat pedang tulang di tangannya menembus tenggorokan orang-orang itu.
"Sabar, Nak," bisik Penatua Mo di dalam batinnya. "Gunakan langkah 'Bayangan Trinitas' yang ada di bab kedua gulungan itu. Bergeraklah seperti angin, jangan seperti kerbau."
Jiangzhu memejamkan mata sejenak, mengingat instruksi gerakan yang terekam di kepalanya. Ia mulai mengalirkan energinya ke kaki. Tiba-tiba, berat tubuhnya seolah menghilang. Dengan satu hentakan tanpa suara, ia melesat ke dahan pohon, bergerak di antara dedaunan dengan keheningan seorang hantu.
Dari atas pohon, ia melihat para pengejar itu lewat tepat di bawahnya. Salah satu murid berhenti, mengendus udara. "Bau apa ini? Seperti bau daging terbakar..."
Pria berkumis itu menatap gua yang baru saja ditinggalkan Jiangzhu. "Di sana! Periksa gua itu!"
Saat mereka berhamburan menuju gua, Jiangzhu tidak melarikan diri lebih jauh. Ia justru berhenti di dahan yang tinggi, menatap mereka dengan mata yang berkilat dingin.
Kalian yang memaksaku menjadi monster, pikirnya. Maka jangan salahkan aku jika hutan ini menjadi kuburan kalian.
Tanpa peringatan, Jiangzhu menjatuhkan diri dari ketinggian sepuluh meter, pedang tulangnya mengarah tepat ke leher murid yang paling belakang.