Ketika usia tujuh tahun, Qinara kehilangan segalanya. Ayahnya, pengusaha pertambangan yang penuh cinta, meninggal dalam kecelakaan yang mencurigakan. Tak lama setelah itu, ibunya yang sudah lama dia curigai berselingkuh, dengan terang-terangan membawa pria cinta pertamanya dan anak hasil hubungan lama ke rumah—dan menguasai semua harta ayahnya.
Perlakuan tidak adil menjadi bagian sehari-hari. Ibunya lebih membela anak tiri daripada dia, dan ketika Qinara mencoba membicarakan kecurigaan bahwa ayahnya dibunuh, dia diusir dengan kasar. Hanya membawa pakaian di tubuh dan kotak kecil yang diberikan ayahnya, dia meninggalkan rumah dengan hati hancur dan janji terukir dalam benak: aku akan mengambil kembali hak ayah dan aku.
Melalui perjalanan yang penuh kesusahan, Qinara bertahan di panti asuhan, menemukan bakatnya di bidang hukum, dan berjuang untuk pendidikan. Setiap langkahnya dipacu oleh dendam—butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan bukti, menghadapi ancaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KESEMPATAN YANG HILANG
Mentari pagi menyinari lantai kamar Qinara, tapi dia sudah bangun sejak jam empat. Dia tidak bisa tidur, memikirkan apa yang dia dengar malam sebelumnya—rencana Arman untuk menangkap Pak Santoso dan mengusirnya dari rumah. Dia harus melakukan sesuatu, dan dia harus melakukan itu cepat.
Dia membuka kotak pemberian ayahnya dan melihat bukti-buktilah yang dia kumpulkan: sepotong logam dari mobil ayahnya, nomor telepon Pak Slamet, dan surat wasiat. Dia perlu menyimpan semuanya dengan baik, agar Arman tidak menemukan itu. Dia memasukkan semuanya ke dalam tas ransel kecil yang dia dapatkan dari panti asuhan—suatu hadiah yang dia simpan rapi meskipun dia tidak pernah tinggal di sana.
Dia keluar dari kamar dan menyelinap ke dapur. Dia mencari makanan yang bisa dia bawa—beberapa roti, susu kaleng, dan sebotol air. Dia tahu bahwa dia mungkin perlu keluar rumah selama beberapa hari, dan dia harus bersiap.
Tiba-tiba, dia mendengar suara langkah di lantai atas. Dia menyembunyikan tasnya di bawah meja dan menunggu. Pak Santoso turun dari kamar tidurnya yang terletak di lantai atas, mengenakan baju kerja. Dia melihat Qinara dan tersenyum lemah. "Nak, kamu sudah bangun? Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Pak, aku mendengar apa yang Arman katakan malam ini. Dia akan menangkapmu dan mengusir ku. Kita harus pergi, Pak. Kita harus melarikan diri," kata Qinara dengan suara gemetar.
Pak Santoso menghela napas. "Aku tahu, Nak. Aku juga mendengarnya. Tapi aku tidak bisa pergi. Aku harus melindungi kamu di sini. Jika aku pergi, dia akan menyakitimu lebih banyak."
"Tidak, Pak. Kita harus pergi sekarang. Sebelum dia bangun," rayu Qinara.
Pak Santoso memikirkan sebentar, lalu mengangguk. "Baiklah, Nak. Kita akan pergi. Tapi kita tidak bisa pergi dengan mobil ayahnya. Dia akan menyadari itu. Kita akan pergi dengan sepeda motorku."
Mereka menyelinap ke garasi dan mengambil sepeda motor Pak Santoso. Qinara naik di belakang, memegang tasnya dengan erat. Pak Santoso memulai mesin dan mengemudi keluar dari rumah dengan perlahan. Mereka melarikan diri sebelum Arman dan Bu Laras bangun.
Perjalanan ke tempat yang aman terasa seperti abadi. Pak Santoso mengemudi ke kawasan pinggiran Jakarta, ke rumah sahabatnya yang bernama Pak Joko—orang yang dia percayai. Pak Joko adalah bendahara perusahaan ayahnya yang dulu, orang yang juga curiga pada kematian ayahnya.
Ketika tiba di rumah Pak Joko, mereka disambut dengan senyum ramah. Rumah itu kecil dan sederhana, terletak di tengah kebun sayuran. Pak Joko melihat wajah mereka yang khawatir dan langsung memahami apa yang terjadi. "Masuklah, keduanya. Kamu aman di sini," ucapnya.
Mereka masuk ke dalam rumah dan menceritakan semua yang terjadi. Pak Joko mendengar dengan seksama, matanya semakin serius. "Aku sudah tahu bahwa Arman itu orang jahat. Aku sudah mencurigainya sejak dia mulai berhubungan dengan Laras. Tapi aku tidak punya bukti yang cukup untuk melaporkannya ke polisi," kata Pak Joko.
"Kita punya bukti, Pak. Kita punya saksi, Pak Slamet, yang melihat bahwa kecelakaan itu disengaja. Dan kita punya surat wasiat ayahku," kata Qinara, mengambil bukti-buktilah dari tasnya.
Pak Joko melihat bukti-buktilah itu dengan hati-hati. Ketika dia melihat surat wasiat, matanya membesar. "Ini adalah bukti yang kuat, Qinara. Dengan ini, kita bisa melaporkan Arman dan Laras ke polisi. Tapi kita harus berhati-hati. Mereka memiliki kekuasaan dan uang. Mereka akan mencoba menghalangi kita."
"Kita harus melakukannya sekarang, Pak. Sebelum mereka menemukan kita," kata Qinara.
Pak Joko mengangguk. "Baiklah. Aku akan menghubungi polisi sekarang. Dan aku akan menghubungi pengacara ayahnya, Pak Rio. Dia adalah orang yang bisa kita percayai."
Dia menghubungi polisi dan Pak Rio, menceritakan semua yang terjadi. Polisi berkata bahwa mereka akan menyelidiki kasus itu, tapi mereka membutuhkan waktu. Pak Rio berkata bahwa dia akan datang ke rumah Pak Joko secepat mungkin untuk melihat bukti.
Selama menunggu Pak Rio, Qinara duduk di teras rumah, memandang kebun sayuran. Dia merasa lega karena aman, tapi dia juga merasa sedih—dia kehilangan rumah, keluarga, dan semua yang dia kenal. Dia memikirkan ayahnya dan berdoa agar semuanya akan baik-baik saja.
Setengah jam kemudian, Pak Rio tiba dengan mobilnya. Dia adalah pengacara tua dengan wajah serius tapi ramah. Dia menyambut Qinara dengan senyum lemah dan memegang tangannya. "Qinara, aku sudah mendengar tentang perjuanganmu. Aku akan membantu kamu apa yang bisa. Ayahmu adalah sahabatku, dan aku tidak akan membiarkan orang jahat itu menang," ucapnya.
Mereka masuk ke dalam rumah dan menunjukkan bukti-buktilah kepada Pak Rio. Pak Rio melihatnya dengan hati-hati, kemudian menyimpannya dengan cermat. "Ini adalah bukti yang sangat kuat, Qinara. Dengan ini, kita punya peluang besar untuk menang di pengadilan. Tapi kita perlu lebih banyak bukti. Kita perlu mendapatkan rekaman CCTV dari lokasi kecelakaan, dan kita perlu membuktikan bahwa Arman dan Laras memiliki motif untuk membunuh ayahmu."
"Kita bisa mendapatkan rekaman CCTV, Pak? Dari mana?" tanya Qinara.
"Aku tahu ada stasiun CCTV di jalan raya dekat lokasi kecelakaan. Aku akan menghubungi pihak berwenang untuk mendapatkan rekaman itu. Dan untuk motif, surat wasiat ini sudah cukup—mereka ingin mengambil hartanya ayahmu," jawab Pak Rio.
Mereka berbicara selama beberapa jam, merencanakan langkah selanjutnya. Pak Rio berkata bahwa dia akan mengajukan laporan ke polisi dan meminta agar Arman dan Laras ditahan. Dia juga akan menyusun berkas untuk mengajukan tuntutan pidana terhadap mereka.
Qinara merasa harapan kembali muncul di hatinya. Dia tahu bahwa dengan bantuan Pak Joko, Pak Santoso, dan Pak Rio, dia akan mendapatkan keadilan bagi ayahnya.
Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba, mereka mendengar suara mobil yang mendekati. Pak Joko melihat ke luar jendela dan wajahnya memerah. "Mereka sudah menemukan kita! Arman dan beberapa orang lainnya ada di luar!" teriaknya.
Qinara merasa darahnya beku. Bagaimana mereka menemukan tempat ini? Siapa yang memberitahu mereka?
Pak Rio berdiri dengan cepat. "Kamu semua harus melarikan diri. Aku akan menangani mereka. Pergi sekarang!" ucapnya.
Pak Santoso menarik tangan Qinara dan mengajaknya ke belakang rumah. Mereka melarikan diri ke kebun sayuran, menyembunyikan diri di balik pohon pisang. Qinara bisa mendengar suara teriakan dan benturan dari rumah. Dia tahu bahwa Pak Rio sedang berkelahi dengan Arman dan pengawalnya.
Mereka berjalan selama beberapa jam, melarikan diri ke hutan yang ada di dekat sana. Qinara lelah dan lapar, tapi dia tidak berani berhenti. Dia tahu bahwa Arman akan mencari dia sampai menemukan dia.
Saat matahari mulai terbenam, mereka menemukan tempat untuk beristirahat di dekat sungai. Pak Santoso membangun perkemahan sederhana dari ranting-ranting dan daun. Dia memberikan roti dan air kepada Qinara, yang langsung memakannya dengan lahap.
"Kita akan aman di sini untuk malam ini, Nak. Besok pagi, kita akan pergi ke tempat yang lebih jauh. Ke tempat yang Arman tidak akan pernah menemukan kita," kata Pak Santoso.
Qinara mengangguk, tapi dia merasa putus asa. Mereka telah kehilangan kesempatan yang baik untuk melaporkan Arman ke polisi. Semua bukti yang dia kumpulkan—surat wasiat, nomor telepon Pak Slamet, sepotong logam dari mobil ayahnya—semua itu masih ada di rumah Pak Joko. Dia tidak tahu apakah Pak Rio berhasil menyimpannya atau apakah Arman telah mengambilnya.
Dia memandang langit malam yang penuh bintang, memikirkan ayahnya. "Ayah, maafkan aku. Aku sudah mencoba, tapi aku gagal. Aku tidak bisa mendapatkan keadilan untukmu," bisik dia dengan suara lirih.
Pak Santoso mendekatinya dan memeluknya. "Jangan menangis, Nak. Kamu tidak gagal. Kita masih punya kesempatan. Kita akan menemukan cara lain untuk membuktikan kejahatan mereka. Kamu hanya perlu tetap kuat."
Qinara mengangguk, tapi dia tidak yakin. Dia merasa sendirian dan tidak berdaya. Semua yang dia miliki hanyalah harapan yang tipis dan tekad yang mulai melemah.
Namun, di dalam hatinya, dia tahu bahwa dia tidak bisa menyerah. Ayahnya telah mempercayainya untuk mencari kebenaran, dan dia akan melakukannya. Bahkan jika itu berarti dia harus melarikan diri selama bertahun-tahun, dia akan terus berjuang.
Mentari esok akan muncul, dan dengan itu, tantangan baru yang harus dia hadapi. Tapi Qinara akan tetap kuat. Dia adalah anak ayahnya, dan dia tidak akan membiarkan siapa pun merusak warisan yang ayahnya tinggalkan.