Menikah selama 12 tahun, Siti Nurmala yang begitu setia kepada suaminya sampai mengorbankan mimpinya sebagai dokter spesialis, malah dikhianati Suami dan anak-anaknya.
Yusuf Kaliandra, berselingkuh dengan Keponakan Nurmala dan menikahinya secara siri, bahkan didukung oleh anak-anaknya, Raden dan Sofia.
Nurmala yang sakit hati pergi dengan gugatan cerai.
Di tengah usahanya mencari pekerjaan, Ia bertemu dengan juniornya saat kuliah. Dewangga Pramudya!
Pria tampan pemilik rumah sakit, duda anak 1 yang kemudian dengan gigih mengejarnya!
Akankah Nurmala bisa menerima cinta baru diantara ketakutan dan ketidakpercayaan diri yang timbul akibat pengkhianatan Yusuf?
Bagaimana reaksi anak-anaknya melihat Nurmala yang begitu menyayangi putra dari Dewangga?
Selamat membaca, semoga terhibur!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maufy Izha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecemburuan Raden dan Sofia
Rombongan Nurmala dan Dewangga tiba di jakarta setelah hampir jam makan siang. Karena Retno ada urusan, jadi Retno pulang ke rumahnya terlebih dahulu, tersisa Dewangga, Nurmala dan Ergi beserta baby sitternya.
Karena tidak terburu-buru dan besoknya adalah weekend, Dewangga mengajaknya Nurmala untuk jalan-jalan di mall setelah makan siang.
Kebetulan Mall ini dekat dengan hotel yang akan Mereka tinggali sementara, letaknya juga tidak jauh dari apartemen Yusuf. Nurmala sengaja memesan hotel di dekat sini agar tidak terlalu jauh dari tempat anak-anaknya tinggal.
Penampilan Nurmala dan Dewangga yang cukup mencolok karena sama-sama goodlooking, apalagi diantara mereka ada Ergi yang sangat menggemaskan, bulat dan putih seperti bakpao kukus yang kenyal.
"Papa! Egi mau main itu!" Ergi mengarahkan telunjuknya pada wahana mandi bola yang di penuhi anak-anak seusianya.
"Boleh..." Dewangga mengangguk seraya tersenyum, lalu menoleh ke arah Nurmala yang berjalan di sampingnya.
"Ergi main sebentar disana nggak apa-apa ya Kak, kalau kak Nurma capek, istirahat aja di food court itu sambil pesen minuman" Tawar Dewangga, namun Nurmala menggelengkan kepalanya.
"Nggak apa-apa, Kamu aja yang istirahat biar Aku yang masuk ke sana nemenin Ergi"
"Ya udah kalau gitu kita sama-sama aja" Ucap Dewangga, pandangannya lurus menatap Nurmala membuat wanita itu jadi sedikit salah tingkah.
Nurmala hanya menganggukkan kepalanya dengan canggung lalu berjalan mengikuti Ergi yang tengah berlari dengan bersemangat menuju wahana permainan itu.
Selang 1 jam kemudian, Ergi sama sekali tidak tampak kelelahan atau bosan walaupun sudah bermain selama 1 jam lebih. Mungkin karena wahana permainannya ada banyak, tidak hanya mandi bola, dan juga banyak teman baru seusianya yang bisa langsung akrab dengan Ergi. Mungkin karena Ergi memang sangat mencolok dan membuat orang gemas, jadi teman-teman sebayanya pun langsung menyukainya.
*Ergi dalam khayalanku, putih, gemoy, ke bule2an kek Bapaknya Dewangga yang blasteran 🤣
Saat memandangi Ergi bermain, Dewangga dan Nurmala tampak begitu serasi sehingga orang-orang yang berada di sana maupun yang berlalu lalang, diam-diam melirik ke arah Mereka.
Dewangga tentu menyadarinya, berbeda dengan Nurmala yang tampak sangat menikmati momen bermainnya bersama Ergi, Dewangga diam-diam mengambil foto keduanya, lalu sesekali mengusap lembut pipi putranya itu, benar-benar tampak mesra.
Yang tidak mereka sadari, 2 orang anak yang tadinya berminat untuk masuk wahana itu karena ingin bermain trampolin dan panjat tebing mini kini tengah membeku di tempat dengan mata berkaca-kaca dan wajah memerah.
Yusuf yang berada di belakangnya juga tak kalah terkejut.
Pemandangan menyesakkan dada dan menyulutkan api di dadanya membuat Yusuf mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya tertancap ke dalam telapak tangannya.
"Papa... itu Mama kan? Mama sama siapa Pa?"
Sofia mulai merengek, namun Ayahnya hanya terdiam membisu dengan wajah kesal.
"Mama!!!!" berbeda dengan Sofia, Raden tidak membuang-buang waktunya, Dia berteriak memanggil Nurmala dengan keras hingga Ibunya itu sontak menoleh. Nurmala tentu saja mengenali suara Putra sulungnya itu.
Tidak hanya Nurmala, orang-orang yang sedang berada di sana pun menoleh ke arah Raden.
"Raden? Sofia?" Nurmala segera bangkit, wajahnya sama sekali tidak panik. Justru Ia merasa kebetulan karena bisa bertemu anak-anaknya di tempat ini.
"Mama jahat!!! Mama udah nggak sayang Aku sama adek!!" Teriak Raden lagi. Orang-orang pun mulai berkerumun di dekat Raden, Sofia serta Nurmala yang tengah berjalan menghampiri Mereka diikuti oleh Dewangga yang menggendong Ergi di belakangnya.
"Jahat kenapa? Mama jauh-jauh dari Bandung ke sini kan buat ketemu Kalian berdua... Kok jadi malah Mama dikatain jahat?" Tanya Nurmala seraya mencoba meraih tangan putra nya yang tengah marah tanpa sebab itu. Namun Raden dengan keras menampik tangan Ibunya.
"Mama udah punya anak baru! Mama nggak sayang lagi sama Aku, sama adek juga!" Ucap Raden seraya menunjuk ke arah Ergi, Ergi yang tengah menatap Raden pun beringsut ke pelukan Dewangga karena takut.
"Ngomong apa sih Kamu... Ergi ini anaknya beliau, namanya dokter Dewangga, teman Mama... Kamu jangan langsung marah-marah kenapa sih nak, kan bisa ngomong baik-baik?"
"Enggak mau, Mama jahat, pokoknya Mama jahat, Raden nggak mau ketemu Mama!!"
Raden pun berlari menjauhi Nurmala sambil menangis, tampak sangat patah hati.
Nurmala yang kebingungan menatap Sofia.
"Fia..." Namun Sofia juga tidak menggubrisnya, dan berlari menyusul kakaknya itu.
"Keterlaluan Kamu Nurma..."
"Keterlaluan apanya sih, memang apa yang Aku lakukan?" Tanya Nurmala, Dia juga ikut kesal karena Yusuf bukannya memberi penjelasan pada anak-anaknya, malah ikutan tantrum.
"Kamu sudah lama nggak ketemu anak-anak, tapi tega-teganya Kamu datang dengan pacar barumu dan anaknya itu. Kamu melukai hati-hati anak-anak!!" Yusuf berkata, suaranya sangat keras hingga orang-orang disana mulai berbisik-bisik dan menatap Nurmala dengan tatapan sinis.
Nurmala kesal setengah mati. Dia tidak lagi memikirkan tentang adab, yang jelas Yusuf mencoba mem-framing seolah Nurmala dan Dewangga adalah pasangan yang berselingkuh.
"Mas Yusuf, Kamu jangan lempar batu sembunyi tangan yah, Kita ini bercerai karena Kamu kawin sirih sama keponakan Aku sendiri, Kamu yang selingkuh! Anak-anak juga jadi jauh dari Aku karena Kamu. Dokter Dewangga ini atasan Aku, Beliau kesini karena ada urusan sendiri, ya emangnya salah kalau Aku dekat dengan anaknya? Lagian Kita ini udah bercerai, kalaupun Aku mau cari suami baru, itu kan nggak salah???"
Suara Nurma begitu lantang, matanya melotot tajam ke arah Yusuf.
Yusuf terperangah karena Nurmala kini membuka aibnya dengan terang-terangan di depan banyak orang.
Seolah tidak menyesal dengan perkataannya, wajah Nurmala seolah semakin menantangnya, hingga Yusuf kehilangan kata-kata.
Orang-orang yang tadinya menatap sinis ke arah Nurmala, kini berbalik menatap ke arahnya.
"Kamu memang egois. Kalau Kamu datang kesini cuma buat menyakiti anak-anak sebaiknya nggak usah ketemu sekalian"
"Mas, Kamu nggak usah main kata-kata yang seolah-olah Aku ini tersangkanya deh. Aku udah jauh-jauh datang dari Bandung atas permintaan Kamu buat ketemu anak-anak. Sebagai orang yang dewasa, harusnya Kamu yang jelasin ke Mereka, bukannya malah ngompor-ngomporin biar mereka tambah benci sama Aku"
"Aku nggak ada niat begitu ya Nurma, Kamu jangan menuduh!"
"Ya kalau gitu Kamu harusnya kejar Mereka dong, jelasin ke Mereka kalau Aku kesini buat ketemu Mereka dan menghabiskan waktu sama Mereka"
"Ya udah Kamu kan tinggal datang ke rumah buat bujuk Mereka sendiri, Kamu tahu sifat anak-anak, Aku bujuk pun bakal percuma. Lagipula, Mereka marah karena Kamu, jadi Kamu juga dong yang harus bertanggung jawab" Ucap Yusuf, kemudian berbalik dan pergi menyusul anak-anaknya yang lari entah kemana.
Nurmala membuang nafas dalam-dalam. Dia menatap Dewangga yang tampak muram, juga wajah polos Ergi yang ketakutan, mungkin karena mendengar Dia dan Yusuf saling berteriak.
Orang-orang yang berkerumun mulai membubarkan diri , sepertinya juga sambil bergosip satu sama lain. Tapi Nurmala tidak perduli. Yusuf sengaja melakukan itu untuk mempermalukannya, jadi Nurmala juga tidak bisa hanya diam saja.
"Kak Nurma mau nyusulin anak-anak sekarang?"
"Iya, mau gimana lagi. Kamu sama Ergi ke hotel aja dulu ya, kalau anak-anak udah tenang, Aku balik ke hotel"
"Ok, nanti barang-barang Kak Nurma Aku minta bagian customer servicenya buat masukin ke kamar Kak Nurma ya"
"Ok, makasih ya Dewangga.... Maaf udah bikin Kamu jadi tontonan orang, Ergi anak baik, pulang dulu sama Daddy ya, jangan takut lagi, Ok,?"
"Oke Onty...." Jawab Ergi seraya mengangguk. Wajahnya tampak pucat, sepertinya Ergi benar-benar syock melihat kejadian barusan.
Nurmala pun pamit dan pergi menyusul anak-anaknya ke apartemen Yusuf, untuk membujuknya. Kalau tidak mau di bujuk ya sudah, Nurmala juga tidak akan memaksa. Dia akan kembali ke Bandung saja besok pagi.
memang ga akan ada solusinya kalo kasus diserahkan kepihak berwajib lebih baik hukum rimba yang berjalan 😁