Keputusasaan yang membuat Audrey Cantika harus menandatangani perjanjian pernikahan yang dibuat secara sepihak oleh laki-laki berkuasa bernama Byakta Arsena.
"Lahirkan seorang anak untukku, sebagai tebusannya aku akan membayarmu lima miliar," ucap laki-laki itu dengan sangat arogan.
"Baik! Tapi ku mohon berikan aku uang terlebih dahulu, setelah itu aku akan melakukan apapun yang Tuan inginkan, termasuk melahirkan seorang anak," jawab Audrey putus asa.
Laki-laki itu mendengus saat Andrey meminta uang, ia berpikir semua wanita sama saja, yang mereka pikirkan hanya uang dan uang tanpa mementingkan harga dirinya.
Yuk ikuti terus!! ☺️☺️
Mohon bijak dalam memilih bacaan dan jika suka ceritanya silahkan tinggalkan like komen dan klik ♥️
Jika tidak suka bisa langsung tinggalkan, tanpa memberi komentar yang membuat penulisnya down 🙏☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifah_Musfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RLM bab 35
Mendengar kabar dari byakta yang mengatakan Audrey sudah sadarkan diri, membuat Bibi Lauren sangat senang dan antusias untuk pergi ke rumah sakit.
Ia membawa banyak sekali jenis makanan untuk Audrey dan berbagai macam ramuan tradisional agar Audrey cepat pulih dan sembuh.
Senyum yang terpancar begitu syahdu menghiasi wajah senjanya, ia tidak memikirkan apapun saat ini selain bagaimana ia akan sampai dengan cepat ke rumah sakit.
Jika bisa bersiul, wanita tua itu akan bersiul sepanjang memasuki lobi rumah sakit, koridor bahkan saat ia masuk keruangan dimana Audrey dirawat sekarang, ia akan melakukan hal konyol itu saking senangnya, jika bisa.
Ia mengabaikan tatapan orang-orang yang berpapasan dengannya, begitu banyak sekali ia menenteng plastik dan juga beberapa paper bag yang berisi makanan, ramuan tradisional, baju ganti untuk Byakta dan tidak lupa cemilan dan jus buah.
Namun, langkahnya terhenti sejenak kala melihat dari kejauhan byakta duduk di luar ruangan terlihat menyedihkan.
Bibi Lauren pun melanjutkan langkahnya, penasaran dengan Byakta yang terlihat frustasi, bukan kah Audrey sudah siuman, harusnya dia senang bukan?
"By? Kau kenapa? Apa yang terjadi?" Bibi Lauren memberondong keponakannya dengan beberapa pertanyaan terlihat khawatir.
Byakta menoleh pada suara lembut itu, laki-laki itu mengulas senyum kala melihat ternyata bibi Lauren yang datang.
"Bibi sudah datang?" Byakta mengernyit heran saat menyadari betapa banyaknya kantong yang dibawa bibi Lauren pada kedua tangannya.
"Jangan menatapku heran, kau tahu, aku ini orang jaman, jadi aku tahu apa yang baik untuk istrimu. Ini hanya beberapa jenis makanan yang harus dikonsumsi Audrey, agar cepat pulih dan sembuh," jelas bibi Lauren tanpa di minta, ia tahu Byakta akan mengejek jika tidak didahului.
Byakta menyeringai "Mengapa kau menjelaskannya, Bibi? Aku tidak bertanya bukan?" Kekeh Byakta.
"Cih! Bahkan tatapan matamu sudah memberi tatapan mengejek." Bibi Lauren memutar mata jengah, sangat tahu seperti apa keponakannya itu "Jadi sebelum ejekan itu keluar dari mulutmu, lebih baik aku terlebih dahulu mengatakannya." Bibi Lauren menoleh kanan dan kiri.
"Sudah ah, aku mau masuk menemui menantuku," bibi Lauren berlalu meninggalkan Byakta yang geleng-geleng kepala melihat tingkah bibinya yang terliha masih berenergi di usianya yang sudah terbilang tua.
"Semoga dia memperlakukan bibi dengan baik," lirih Byakta yang tidak di dengar bibi Lauren sama sekali karena sudah masuk ke dalam ruang rawat Audrey.
Sesampainya di dalam bibi Lauren mendapati Audrey sedang tertidur, namun sekejap terbangun merasakan seseorang masuk kedalam ruang rawatnya.
Audrey melihat Bibi Lauren masuk dengan wajah yang sangat bahagia, senyum yang terbit di wajah senjanya membuat Audrey merasa jengah.
Mereka semua sama saja, begitu hatinya menilai sosok yang sebentar lagi akan tua dan renta itu.
Audrey kembali memejamkan matanya, enggan untuk melihat dan bertegur sapa dengan wanita tua itu. Ingatannya kembali di hari Melisa datang, tampak bibi Lauren sangat akrab dan juga membela wanita itu saat suami dan asistennya meragu akan semua tentang kehamilannya.
Ia kesal dengan Bibi Lauren, padahal ia berharap bibi Lauren itu baik padanya, berbeda dengan keponakannya, ternyata sama saja, yang menganggapnya hanya sebuah mesin pembuat anak.
Bibi Lauren yang merasa diacuhkan kedatangannya oleh Audrey, seketika menjadi sedih dan bertanya "apa yang terjadi?" Apa kesalahannya, hingga gadis yang terbaring lemah itu tidak menegurnya, malah memperlihatkan keacuhannya pada bibi Lauren.
"Drey, kau sudah makan belum? Ini bibi bawa rendang kesukaanmu," bibi Lauren masih terus mengajak Audrey bicara walau tidak ada sahutan dari gadis itu.
Bibi Lauren menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, lalu berjalan menuju ranjang dimana Audrey terbaring lemah.
"Nak, apa terjadi sesuatu padamu?" tanya Bibi Lauren hati-hati.
"Bisa tidak, kau hanya datang dan diam di sana?"
__________________
gess maafkan aku yang lama up dan nggak nepati janji kemarin 🥺
aku sibuk banget, dan juga bergelut dengan jaringan yang hilang timbul 😩 tapi tetap di usahakan up tiap hari walau gak banyak yang kayak kalian mau 🙏🥺
selamat membaca ya gess
love sekebon sawit buat kalian semua 🤗🥰🥰😍😍😍😘😘😘