NovelToon NovelToon
Sumpah Di Bawah Bayangan Kaisar

Sumpah Di Bawah Bayangan Kaisar

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Dijodohkan Orang Tua / Matabatin / Reinkarnasi / Nikah Kontrak / Mengubah Takdir
Popularitas:229
Nilai: 5
Nama Author: Laila ANT

Tabib Wi Lu mendapati dirinya dituduh meracuni Kaisar dan dipaksa menikahi Putri Yu Ming, pewaris tahta yang penuh dendam. Dengan reputasi tercoreng dan pengawasan ketat, Wei Lu harus melawan intrik licik Pangeran De, paman Kaisar, yang sebenarnya merencanakan kudeta dengan memanipulasi ilmu farmasi. Saat Yu Ming menjadikannya musuh, Wei Lu diam-diam menggunakan kejeniusan medisnya untuk membongkar konspirasi Pangeran De, menyelamatkan Kekaisaran dari wabah buatan, dan akhirnya mengungkap kebenaran di balik kematian Kaisar. Perjalanan ini memaksa Yu Ming menghadapi prasangkanya dan secara bertahap belajar mempercayai Wei Lu , mengubah pernikahan politik mereka menjadi pernikahan sejati yang di dasari cinta, kejujuran, dan penyembuhan bagi seluruh kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Inventarisasi Kaki Tangan

—dan berapa banyak kaki tangan yang telah dibeli.

Pertanyaan itu berputar di benak Wei Lu saat ia kembali duduk di meja kerjanya. Pangeran De telah pergi, meninggalkan aroma teh Chrysanthemum yang mengepul dan rasa jijik yang dingin. Gulungan sutra merah tua itu—yang diserahkan secara rahasia kepada Menteri Keuangan Lin—adalah bukti visual pertama bahwa konspirasi ini terstruktur dan meluas, melampaui kamar obat.

Wei Lu tidak membuang waktu. Sebagai Tabib Kekaisaran selama bertahun-tahun, ia telah membangun jaringan intelijen yang jauh lebih efektif daripada agen rahasia formal istana. Jaringannya terdiri dari kasim rendahan, pelayan dapur, dan penjaga gerbang yang melihat, mendengar, dan mencatat setiap pergerakan yang tidak disengaja. Mereka adalah mata dan telinga yang tidak dianggap penting oleh para menteri dan bangsawan yang sombong.

Ia mengambil selembar kertas halus dan mulai menulis dengan pena kuas kecil. Bukan dekrit atau notulen, melainkan serangkaian karakter kuno yang berfungsi sebagai kode farmasi. Pesan itu ditujukan kepada Kasim Feng, kepala pengurus persediaan medis lama, seorang pria tua yang hanya loyal kepada Wei Lu dan mendiang Kaisar.

“Infeksi telah menyebar ke arteri timur. Identifikasi tiga nodus terdekat. Resep: diam dan amati.”

Dalam bahasa istana, itu berarti: Konspirasi (Infeksi) telah mencapai Menteri Keuanganq (Arteri Timur). Identifikasi tiga menteri atau pejabat tinggi yang paling sering berinteraksi dengan Pangeran De dan Lin (Tiga Nodus). Tetaplah diam dan jangan bertindak gegabah (Resep).

Pagi berikutnya, Kasim Feng, yang bertingkah seperti membawa pesanan sarapan, menyerahkan gulungan kecil yang disembunyikan di bawah wadah bubur. Wei Lu membukanya di balik tirai kantornya.

Laporan itu rinci dan cepat. Tiga Nodus: Menteri Keuangan Lin, Jenderal Xiong (Kepala Pasukan Garda Ibukota), dan Tuan Zhao (Kepala Kementerian Ritus, yang mengontrol propaganda publik dan ritual).

"Lin mengontrol kas. Xiong mengontrol pedang. Zhao mengontrol pikiran rakyat," gumam Wei Lu, menelusuri peta mental jaringan kekuasaan.

QIni adalah strategi kudeta yang klasik, tapi dimainkan dengan sangat rapi di bawah kedok duka dan audit. Pangeran De sedang menempatkan pionnya untuk menguasai setiap aspek kerajaan, memastikan bahwa ketika audit medis palsu selesai, ia akan memiliki kekuatan untuk memaksakan tuntutan politiknya.

***

Dua hari berikutnya adalah ujian berat bagi Wei Lu, bukan sebagai tabib, tetapi sebagai Perdana Menteri. Ia harus menyeimbangkan strategi rahasianya dengan tuntutan birokrasi yang mematikan.

Pangeran De, yang kini bertindak sebagai ketua de facto Komite Audit, sering singgah di kantor Wei Lu. Kunjungan Pangeran De selalu ramah, namun penuh dengan pertanyaan menusuk.

"Perdana Menteri Wei, aku berharap kau tidak merasa tertekan oleh keributan ini," kata Pangeran De, suatu sore, berdiri di samping Wei Lu yang sedang meninjau laporan kerusakan banjir di Provinsi Selatan.

"Saya menghargai kekhawatiran Anda, Yang Mulia," jawab Wei Lu, tidak mengalihkan pandangannya dari dokumen itu.

"Tetapi tugas PM tidak menunggu. Rakyat Selatan membutuhkan respons segera."

"Tentu, tugas. Tapi jangan lupakan yang utama," Pangeran De mendekat, suaranya merendah seolah-olah bersekutu.

"Prioritas kita sekarang adalah membersihkan namamu dari bayangan kematian Kaisar. Komite Audit akan mulai memeriksa logistik bahan baku hari ini. Kami akan mengulas semua pengiriman ke Kamar Obat selama enam bulan. Sangat penting, Wei Lu, bahwa semua catatan ini transparan. Tidak ada yang boleh disembunyikan dari Yu Ming."

Wei Lu mendongak, matanya bertemu dengan Pangeran De.

"Semua catatan sudah transparan, Yang Mulia. Saya telah menjaminnya. Jika Anda menemukan ketidaksesuaian, itu berarti ada sabotase di rantai pasokan. Saya mendukung penyelidikan logistik penuh."

Wei Lu sengaja menggunakan kata 'sabotase'. Dia ingin melihat apakah Pangeran De akan bereaksi terhadap tuduhan yang diarahkan pada dirinya sendiri.

Pangeran De hanya tersenyum tipis.

"Sabotase? Tentu. Kita harus mempertimbangkan semua kemungkinan. Tetapi aku yakin, itu hanyalah kecerobohan birokrasi, bukan maksud jahat. Audit ini akan membuktikan bahwa kau hanya seorang tabib yang terlalu lelah, bukan seorang—" Dia berhenti, membiarkan kata 'pembunuh' menggantung di udara.

"Bukan seorang penghalang bagi stabilitas," Wei Lu menyelesaikan kalimatnya dengan nada tenang, tetapi penuh makna.

Pangeran De mengangguk, puas. Ia mengira Wei Lu sedang berusaha menangkis tuduhan pembunuhan dengan menyalahkan birokrasi. Padahal, Wei Lu sedang menyiapkan panggung untuk menuduh Pangeran De melakukan sabotase logistik di kemudian hari.

Wei Lu harus bertahan dalam permainan yang berbahaya ini. Ia harus menunjukkan bahwa ia bekerja dan melayani di tengah badai, sementara diam-diam ia sedang memetakan infeksi di tubuh politik istana.

***

Pada hari kedua setelah pernikahan, suasana di istana terasa seperti kaca yang retak. Semua orang menunggu ledakan. Yu Ming belum berbicara kepada Wei Lu selain di depan umum, dan menteri-menteri istana, termasuk Nodus yang diidentifikasi Wei Lu, mulai membuat aliansi kecil, menjauhi Wei Lu seperti wabah.

Sore itu, semua menteri dipanggil ke Aula Penegakan, sebuah ruang formal yang digunakan Ratu untuk mengumumkan dekrit hukum dan administrasi. Yu Ming duduk di singgasana yang dihiasi ukiran naga, jubah berkabung putihnya membuatnya tampak seperti salju yang siap membekukan.

Wei Lu berdiri di barisan depan, memperhatikan Yu Ming. Matanya tidak lagi merah karena kesedihan, melainkan tajam dan fokus. Ia telah bertransisi penuh menjadi Ratu, dan kini ia siap menggunakan kekuasaannya.

"Para Menteri," suara Yu Ming terdengar nyaring dan dingin, tanpa getaran emosi.

"Masa berkabung Yang Mulia Kaisar telah dimulai. Namun, masa transisi ini harus diiringi oleh akuntabilitas fiskal yang ketat."

Ia melanjutkan dengan membahas defisit anggaran yang diwariskan dari biaya pengobatan Kaisar yang mahal dan proyek-proyek istana yang tertunda. Menteri Keuangan Lin, Nodus pertama Wei Lu, duduk dengan wajah serius, mengangguk setuju pada setiap poin Yu Ming. Lin memainkan peran sebagai pengawas fiskal yang loyal.

"Oleh karena itu," Yu Ming berhenti, tatapannya menyapu aula, dan berhenti tepat pada Wei Lu. Tatapan itu adalah pisau yang disarungkan.

"Sebagai Ratu, saya telah meninjau kembali struktur administrasi dan menemukan bahwa beberapa posisi memiliki keistimewaan yang tidak lagi dapat dibenarkan oleh kondisi keuangan negara."

Semua menteri terdiam, menanti siapa yang akan menjadi korban pertama.

"Posisi Perdana Menteri, yang juga menjabat sebagai Tabib Kekaisaran, telah menanggung beban keuangan yang besar selama tiga tahun terakhir. Meskipun Yang Mulia Wei Lu telah menunjukkan dedikasi, kita harus memimpin dengan contoh penghematan."

Wei Lu merasakan jantungnya menegang. Ia tahu apa yang akan terjadi. Ini bukan tentang anggaran. Ini tentang penghinaan.

"Maka saya mendekritkan," Yu Ming melanjutkan, suaranya lebih keras.

"Mulai hari ini, gaji dan tunjangan pribadi Perdana Menteri Wei Lu dipotong sebesar tujuh puluh persen, efektif segera. Selain itu, semua staf pribadi yang melekat pada gelar Tabib Kekaisaran—termasuk tiga asisten senior, dua belas pelayan, dan lima penjaga istana—akan segera dipindahtugaskan ke departemen lain."

Bisikan tajam meledak di antara para menteri. Pemotongan gaji 70% adalah penghinaan yang luar biasa, merendahkan status Perdana Menteri menjadi setara dengan menteri tingkat menengah. Merampas stafnya berarti melucuti tangan dan kakinya di dalam istana, memaksanya bekerja sendirian.

Pangeran De, yang berdiri di barisan menteri senior, tersenyum kecil di balik lengan jubahnya. Rencana Yu Ming untuk mengisolasi Wei Lu telah dimulai.

Wei Lu berdiri tegak, wajahnya tetap tidak menunjukkan emosi, tetapi di dalamnya, ia menyadari bahwa Yu Ming sedang menggunakan kekuasaan barunya untuk memenjarakannya secara finansial dan logistik.

"Tindakan ini," Yu Ming mengakhiri, menatap langsung ke Wei Lu,

"adalah untuk memastikan bahwa setiap sen uang negara digunakan secara efisien, dan bahwa Perdana Menteri fokus sepenuhnya pada urusan negara yang mendesak, bukan kenyamanan pribadi. Apakah ada keberatan?"

Yu Ming menantang Wei Lu untuk melanggar etika dan menentang Ratu di depan umum.

Wei Lu membungkuk dalam-dalam, sebuah gerakan yang tampak menerima, tetapi di dalamnya penuh dengan janji perlawanan.

"Saya menerima dekret Yang Mulia Ratu," jawabnya, suaranya tegas.

"Efisiensi adalah hal yang utama. Saya akan melayani negara dengan sumber daya apa pun yang diberikan."

Wei Lu melihat sekilas Menteri Keuangan Lin menyeringai puas. Tuan Lin, yang baru saja menerima gulungan rahasia Pangeran De, kini duduk di sana, aman dengan gaji penuhnya, sementara Perdana Menteri dilecehkan secara publik.

Saat audiensi dibubarkan, Wei Lu tahu bahwa ia telah kehilangan pertarungan politik pertamanya. Yu Ming telah berhasil mengukirnya menjadi target yang sempurna, membuatnya lemah, terisolasi, dan mudah dijebak oleh Pangeran De.

Wei Lu berbalik untuk keluar dari Aula Penegakan. Ia kini harus berjalan sendirian. Ia merasa jubah Perdana Menteri yang tersisa di tubuhnya terasa seperti pakaian compang-camping. Yu Ming telah memastikan bahwa ia adalah simbol kemiskinan dan penghematan di tengah kemewahan istana. Ia harus segera menyusun ulang strateginya. Dengan sumber daya yang terbatas, ia harus menjadi lebih cerdik.

Ia baru saja melangkah keluar pintu Aula ketika suara Yu Ming memanggil, bukan dengan nada perintah, tetapi dengan nada yang terlalu tajam.

"Perdana Menteri Wei!"

Wei Lu berhenti dan berbalik, bersiap menghadapi ancaman verbal berikutnya.

Yu Ming berdiri di ambang pintu Aula, dikelilingi oleh penjaga dan ajudan yang kini tidak lagi mengenali Wei Lu sebagai atasan mereka. Tatapannya dingin.

"Kau akan segera mengosongkan semua ruang penyimpanan pribadi yang diberikan kepadamu. Inventarisasi dan serahkan kuncinya kepada Kepala Kasim sebelum matahari terbenam."

Wei Lu mengangguk kaku. Itu bukan permintaan. Itu adalah perintah untuk melucuti semua jejak privasinya.

"Dan satu hal lagi, Tabib," Yu Ming menambahkan, suaranya pelan dan menusuk.

"Aku telah memerintahkan agar semua korespondensi dan catatan yang keluar atau masuk dari kantor Perdana Menteri harus melalui persetujuanku sebagai Ratu, untuk memastikan 'efisiensi' yang kau sebut tadi."

Wei Lu merasakan serangan ini mengenai pusat sarafnya. Yu Ming baru saja memotong komunikasi rahasia Wei Lu. Ia tidak bisa lagi mengirim pesan kode tanpa berisiko Yu Ming membacanya.

"Apakah Anda sudah selesai, Yang Mulia?" tanya Wei Lu.

Yu Ming tersenyum dingin, senyum kemenangan yang kejam.

"Untuk saat ini, ya. Tapi ini baru permulaan dari penghematan yang kita butuhkan, Perdana Menteri. Aku akan memastikan, kau tidak akan punya apa-apa lagi selain udara untuk bernapas di istana ini, dan itu pun jika aku mengizinkannya."

Wei Lu membungkuk lagi, menerima pukulan itu. Dia tahu, dia tidak bisa menunjukkan frustrasi. Dia harus membiarkan Yu Ming percaya bahwa dia telah menang.

Dia berbalik, berjalan menyusuri lorong yang kini terasa sunyi dan panjang. Semua orang menatapnya, menteri yang memandang rendah, kasim yang kasihan, dan penjaga yang curiga. Wei Lu hanyalah seorang Tabib yang dipaksa menjadi PM, yang kini sedang dilucuti oleh istrinya sendiri.

Wei Lu berjalan menuju kantornya yang kini terasa lebih dingin dan kosong. Ia harus menemukan cara untuk berkomunikasi secara rahasia. Ia harus menemukan celah dalam aturan baru Yu Ming, atau Pangeran De akan—

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!